
Kini Roseline sudah dibawa ke rumah sakit. Setelah mendapati Roseline ternyata mengalami luka tusuk di bawah punggungnya, Jevian pun panik. Lantas ia segera membawa Roseline menuju rumah sakit untuk menjalani perawatan.
"Dokter, bagaimana keadaan Seline?" tanya Jevian saat dokter yang menangani Roseline keluar dari ruang ICU.
"Beruntung luka tusukannya tidak begitu dalam hingga mengenai organ vital. Keadaan pasien saat ini sudah baik-baik saja. Tapi tetap saja, lukanya harus mendapatkan perawatan ekstra untuk mencegah terjadinya infeksi. Mungkin dalam waktu 2-3 hari, pasien sudah bisa dibawa pulang," ujar dokter tersebut membuat Jevian akhirnya dapat bernafas dengan lega.
"Terima kasih, dok, atas bantuannya."
Dokter tersebut pun mengangguk kemudian segera berlalu dari hadapan Jevian.
Jevian kini sedang duduk di sofa yang ada di ruang perawatan Roseline. Setelah menjalani operasi kecil, Roseline pun dipindahkan ke ruang perawatan VIP. Jevian memijat pelipisnya, ia tidak mengerti, mengapa Eve bisa berbuat nekat seperti itu. Kalau ia melakukannya karena menyayangi Jefrey dan ingin memperjuangkannya, mungkin tindakannya bisa dimaklumi. Tapi Jevian amat sangat tahu kalau Eve tidak pernah sedikitpun menyayangi putra kandungnya itu.
Sayangnya saat ini rencananya belum bisa dijalankan dengan baik sebab ternyata hari itu Eve hanya check in hotel beberapa jam sehingga tidak memungkinkan untuk melaksanakan rencananya. Lalu beberapa hari ini Eve dan Lynda juga tidak bertemu sebab Eve sedang gencar mencari cara untuk mendekati Jefrey maupun membujuk dirinya untuk membatalkan perceraian.
Belum lagi sikap Tobey yang makin memuakkan. Ia mendekati investor maupun rekan bisnis Jevian untuk membujuk mereka agar menarik kerja samanya. Jevian benar-benar bingung saat ini.
...***...
T Company
Plakkkk ...
"Dad," pekik Eve saat ayahnya lagi-lagi menamparnya. Bila dihitung ini kali kedua ayahnya menampar dirinya. Segila-gilanya perbuatannya selama ini, tidak pernah ayahnya menyakitinya. Namun karena masalah dengan Jevian, ia sudah dua kali mendapatkan tamparan. Hal ini membuat Eve makin membenci Jevian.
"Kau benar-benar gila, Eve! Apa sebenarnya yang ada di otakmu itu? Membuat kerusuhan di mansion Jevian, apa kau kira dengan kau melakukan itu dia akan membatalkan rencananya untuk menceraikanmu? Tidak. Ia justru akan makin membulatkan tekadnya untuk bercerai," maki Tobey kesal.
"Semua karena Daddy. Andai Daddy tidak memaksaku membujuk Jevian agar tidak membatalkan perceraiannya, aku takkan nekat seperti ini. Daddy pikir aku tidak pusing, hah? Sudahlah Dad, jujur, aku sudah benar-benar muak dengan semuanya."
"Kau muak? Daddy lebih dari muak daripada kau. Kau pikir Daddy tidak muak dengan kelainan mu itu? Daddy menikahkan kau dengan laki-laki yang baik berharap kau dapat berubah, tapi apa? Kau bukannya berubah, tapi justru makin menggila. Daddy benar-benar muak. Apalagi dengan perempuan sialan itu. Baiklah kalau kau muak dengan pernikahanmu, tapi jangan salahkan kalau daddy menarik segala fasilitas dan yang paling utama ... jangan salahkan daddy kalau daddy melenyapkan perempuan sialan itu," ancam Tobey membuat mata Eve membulat.
"Daddy jangan macam-macam! Kalau daddy melakukannya, maka aku akan ... "
"Akan apa? Kau ingin mengancam Daddy?"
"Dad ... "
"Keluar!" usir Tobey yang segera membalikkan badannya.
"Dad, aku mohon jangan begitu! Baiklah, aku akan membujuk Jevian dengan baik-baik. Tapi aku mohon, jangan sakiti Lynda," mohon Eve sebelum berlalu dari ruangan Tobey.
Tobey memijat pelipisnya. Ia tidak habis pikir dengan jalan pikiran putrinya.
__ADS_1
"Lexy," panggil Tobey.
"Ya, tuan." Lexy, asisten pribadi Tobey pun mendekat.
"Besok segera jalankan rencanaku!"
"Baik, tuan."
...***...
Malam harinya, Roseline akhirnya sadar. Jevian pun membantu Roseline untuk minum maupun menyiapkan makan malamnya.
"Sebaiknya tuan pulang saja. Kasihan Jefrey bila Anda tidak pulang ke rumah. Saya tidak apa-apa di sini sendiri," ujar Roseline yang tidak enak hati ditunggui oleh majikannya.
"Tidak apa-apa. Aku tadi sudah menelpon Jefrey dan ia tidak masalah aku tidak pulang. Lagipula ada Lora yang selalu setia menjaganya," ujar Jevian sambil membereskan bekas makan Roseline.
Roseline menghela nafasnya. Ia tidak bisa memaksa kalau Jevian ingin tetap berada di sana. Jadi setelah makan, ia duduk sebentar, kemudian setelah merasa sudah cukup, ia pun kembali berbaring. Ia tidak tahu harus bersikap bagaimana terhadap Jevian.
Jevian pun hanya diam. Namun ia ingat, ia belum berterima kasih pada Roseline yang mana sudah menjaga putranya dengan baik.
"Oh ya Seline, terima kasih kau sudah menjaga Jefrey dengan baik. Bahkan kau rela terluka demi menjaganya. Terima kasih," ucapnya.
Hening ...
Ruangan itu kembali hening sebab Jevian sudah kehilangan kata. Ia tidak tahu harus membicarakan apa lagi untuk mengusir keheningan jadi Jevian pun memilih membaringkan tubuhnya di atas sofa dan menutup mata. Sebab sebenarnya ia sudah benar-benar lelah.
Keesokan harinya,
Dddrt ...
Ponsel Jevian berdering nyaring. Ternyata itu adalah asisten pribadinya. Jevian pun gegas mengangkat panggilan tersebut.
"Ya, halo."
"Tuan, ada kabar buruk," ujar Matson, asisten pribadi Jevian.
Dahi Jevian berkerut, "apa yang terjadi?"
"Tuan, tadi asisten pribadi tuan Tobey datang. Ia menyampaikan pesan dari tuan Tobey kalau tuan Tobey akan menarik investasinya. Ia juga membawa pengacaranya untuk menuntut uang ganti rugi sesuai kesepakatan yang dibuat. Mereka memberi kita waktu satu Minggu untuk mempersiapkan segalanya," ujar Matson membuat kepala Jevian kian berdenyut nyeri.
Setelah mendengarkan jelaskan Matson, Jevian pun menutup panggilan itu.
__ADS_1
Investor terbesar perusahaan Jevian memang dipegang oleh T Company, perusahaan milik Tobey. Meskipun saat ini satu persatu investor mulai menarik kerja sama mereka, tapi karena Tobey belum menarik investasinya, jadi saat ini perusahaannya masih aman. Jevian pun sebenarnya sudah mempersiapkan sejak lama dana cadangan bilamana Tobey menarik investasinya. Jadi sebenarnya ia tidak bingung untuk mengganti rugi dana investasi Tobey.
Namun yang menjadi persoalan, bila Tobey menarik investasinya, maka perusahaannya pasti akan goyah. Bila investor terbesar saja menarik kerja samanya, bisa jadi investor kecil pun akan mengikuti jejak Tobey demi menghindari kerugian. Apalagi ia harus mengganti rugi dengan nominal yang tidak sedikit. Bisa dipastikan perusahaannya akan goyah karena mengalami kekurangan modal. Belum lagi banyak proyek yang mangkrak karena ulah Tobey. Jevian benar-benar kalut saat ini.
Jevian menghela nafas kasar. Diam-diam, Jevian sebenarnya sudah menyiapkan proposal untuk mencari investor baru. Tapi sejauh ini, belum ada yang tertarik. Seperti ada yang kurang dari proposalnya.
"Kau sudah makannya?" tanya Jevian pada Roseline yang sepertinya hendak turun sambil memegang piring di tangannya.
"Sudah, tuan."
"Tetaplah di situ! Berikan saja piringnya padaku." Jevian pun segera meletakkan laptopnya yang sedari tadi ia pangku ke atas meja.
"Tidak perlu repot-repot, tuan. Saya sudah tidak apa-apa. Saya bisa meletakkan piring saya sendiri," tolak Roseline yang sudah lebih dulu turun dari atas brankar.
Jevian menghela nafas panjang. Ia mengedikkan bahu dan membiarkan Roseline melakukan apa yang ingin ia lakukan.
Jevian kini terpaku sambil menangkup dagunya di atas kedua telapak tangannya yang bertaut. Sorot matanya terpusat ke arah laptop yang menampilkan proposal yang baru saja diperbaiki timnya. Namun Jevian masih saja merasa ada yang kurang. Ia bingung, sebenarnya apa yang kurang.
Karena terlalu terpaku, Jevian sampai tidak menyadari kalau Roseline sudah berada di sampingnya, ikut memperhatikan apa yang menjadi fokusnya saat ini.
"Sepertinya poin ini sebaiknya dirubah, tuan," sela Roseline sambil menunjuk ke salah satu poin isi proposal kerja sama Jevian.
Jevian lantas menoleh ke arah Roseline dengan dahi berkerut.
"Mengapa?" tanya Jevian meminta alasan Roseline. Sebenarnya ia pun jadi penasaran, apa Roseline pernah bekerja di sebuah perusahaan sebelumnya sehingga ia bisa memberikan saran.
Lantas Roseline pun menjelaskan alasannya dari sudut pandangnya. Jevian tampak mendengar dengan seksama. Seketika mata Jevian pun membulat, setuju dengan ide dari Roseline.
Mata Jevian pun kini berbinar. Proposal yang tadinya terasa kurang itu, kini justru terlihat sempurna.
"Bagaimana kau bisa memiliki pemikiran seperti itu? Kau sepertinya orang yang sangat berpengalaman dengan hal-hal seperti ini. Jangan-jangan kau sebelumnya pernah bekerja di sebuah perusahaan besar?"
Roseline mengedikkan bahunya. Ia merasa tidak perlu menjelaskan apapun pada Jevian meskipun kini ia sudah bekerja dengannya. Toh, ia hanya ingin membantu sebab sejak tadi Roseline memerhatikan kalau Jevian sedang kebingungan.
Jevian mendengkus saat melihat Roseline mengabaikan pertanyaannya. Padahal ia adalah bawahannya, tapi Roseline bisa bersikap seperti itu padanya. Benar-benar berani. Ia jadi penasaran siapa Roseline sebenarnya. Tapi untuk sementara waktu, ia abaikan rasa penasaran itu sebab saat ini ada hal yang lebih penting lagi.
Mencari investor baru yang harus ia pastikan lebih kuat. Sebenarnya bisa saja ia meminta bantuan pada Rainero sebab di negaranya juga ada anak perusahaan SC Company. Tapi ia masih terlalu segan. Jadi ia akan mencari investor lain yang semoga saja bisa segera ia dapatkan dalam waktu dekat ini.
...***...
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...
__ADS_1