
Masuk ke dalam mobil, Rhea menjalankan mobilnya dengan kecamuk yang luar biasa di dalam dada. Hatinya hancur. Ia pikir, setelah kepergiannya seminggu ini, ada sedikit saja perubahan dari diri Theo. Bukan mengharap cinta, tapi setidaknya ada sedikit saja rasa bersalah atau menghargai hubungan mereka sebagai pasangan suami istri.
Rhea menghela nafas berat. Dadanya benar-benar sesak. Ini semua berawal dari kebodohannya sendiri. Tanpa mencari tahu tentang Theo sama sekali, ia menerima begitu saja perjodohan antara kedua orang tuanya dengan orang tua Theo.
Rhea memang sudah lama mengenal Theo, tapi tidak dengan Theo. Sejak dulu, memang mereka digadang-gadang akan dijodohkan. Oleh sebab itu, Rhea tidak pernah membuka hatinya untuk laki-laki manapun sebab ia tahu percuma. Dirinya telah dijodohkan jadi tak ada celah untuk dirinya mencari tambatan hati sendiri. Daripada berakhir sia-sia, lebih baik ia memupuk rasa pada laki-laki yang telah dijodohkan padanya.
Rasa itu makin hari makin membesar. Apalagi setiap Emery datang ke rumahnya, ibu dari Theo tersebut sering membangga-banggakan putranya. Putranya yang tampan, mapan, pekerja keras, berbakti, dan sebagainya membuat decak kagum perlahan tumbuh di dalam dada. Lalu berkembang menjadi rasa cinta meskipun mereka paling beberapa kali bersua.
Namun rasa cinta itu seketika terguncang saat tahu kalau sebenarnya Theo memiliki wanita yang ia cintai. Mantan kekasihnya sendiri. Sayangnya ia terlambat tahu. Ia justru mengetahui fakta itu setelah mereka resmi menikah. Bahkan Theo tak sudi menyentuhnya.
Berbagai cerita tentang Shenina Emery sampaikan padanya. Ibu mertuanya mengatakan wanita yang Theo cintai itu bukan perempuan baik-baik. Seorang pengkhianat. Bahkan ia hamil anak laki-laki lain, tapi meminta Theo menikahinya.
Namun setelah pertemuan tanpa disengaja hari itu, dapat Rhea lihat kalau sosok yang dicintai Theo itu bukanlah perempuan biasa. Bukan hanya cantik, tapi memiliki kepribadian yang baik pula. Perlahan, Rhea akhirnya tahu alasan Theo begitu mencintai mantan kekasihnya tersebut.
Tapi ... apakah tak ada kesempatan sedikit saja bagi Rhea untuk mendapatkan cinta Theo? Suaminya sendiri? Terlebih kini ia sedang mengandung anak laki-laki tersebut?
Rhea mencengkeram setirnya kuat. Matanya mengabur. Rinai air mata turun makin deras membasahi pipi. Sepertinya harapannya terlalu tinggi. Jangankan mendapatkan cinta, sedikit pengakuan saja sepertinya tidak ada. Kesempatan itu sepertinya sampai kapanpun takkan pernah ada.
...***...
Hari berganti Minggu. Minggu berganti bulan. Tanpa terasa satu bulan telah kembali berlalu, tapi tak ada sedikitpun keinginan Theo untuk mencari tahu keberadaan istrinya.
"Theo, kau belum juga mencari Rhea?" tanya Emery yang datang kembali ke apartemen Theo malam itu. Theo yang tampak bersiap-siap keluar justru hanya mengedikkan bahunya acuh.
"Theo, apa tak ada sedikit saja perasaanmu pada Rhea? Bagaimanapun dia istrimu. Beberapa hari yang lalu memang Rhea menelpon Mommy dan mengatakan tidak baik-baik saja, tapi tetap saja perasaan Mommy tidak enak. Kasihan Rhea, Theo. Bagaimanapun dia istrimu. Meskipun kau tidak mencintainya, setidaknya perlakuan dia dengan baik," ucap Emery membuat langkah kaki Theo seketika terhenti.
Lalu ia berbalik menghadap sang ibu.
"Apa Mommy kasihan padaku yang saat itu terpuruk? Apa Mommy kasihan saat aku terpaksa menerima perjodohan itu? Apa Mommy juga kasihan padaku yang terpaksa menikahi perempuan yang tidak aku cintai? Tidak. Mommy bahkan tidak memikirkan perasaanku sedikit saja. Mommy dan Daddy justru bersikeras memaksaku melakukan apa yang kalian mau. Seolah aku ini bukanlah putra kalian. Atau ... memang sebenarnya aku bukanlah putra kandung kalian, makanya kalian tidak pernah memikirkan perasaanku? Benar begitu?"
Plakkk ...
Sebuah tamparan singgah di pipi Theo. Tangan Emery bergetar hebat setelah melakukannya.
Theo terkekeh miris. Ia tidak merasakan sakit sedikitpun di pipinya. Namun hatinya, hatinya lah yang begitu sakit. Setiap datang, yang ibunya tanyakan hanyalah Rhea, Rhea, dan Rhea saja. Tidakkah mereka khawatir dengan keadaan dirinya saat ini.
"Theo, Mommy ... "
Belum sempat Emery menyelesaikan kata-katanya, Theo justru lebih dulu menghentikannya dengan mengangkat telapak tangan. Setelah itu, dengan pandangan lurus ke depan, Theo pergi begitu saja dari apartemennya.
Emery terduduk. Hatinya pun sakit melihat ekspresi sang putra yang tampak sekali tidak baik-baik saja. Namun waktu tak mungkin diputar kembali. Semua telah terlanjur terjadi. Kini yang ia harap hanya agar Rhea mampu bertahan dan Theo bisa segera membuka hatinya.
...***...
__ADS_1
"Theo, perusahaan kita akan mengajukan proposal kerja sama dengan SC Company, kau diminta Presdir ikut serta ke pertemuan di perusahaan SC Company. Bersiaplah. Kurang lebih dua jam lagi, kalian akan segera berangkat ke sana," ujar kepala divisi perencanaan.
"SC Company?" gumamnya dengan dada bergemuruh.
Bagaimana tidak, ia tahu siapa pemilik SC Company tersebut. Bahkan ia dulu sering datang ke sana untuk menjemput Shenina.
Satu jam kemudian, mobil yang membawa Theo dan timnya pun berangkat. Setibanya di sana, mata Theo seketika memerah. Sekelebat ingatan tentang perjalanan cintanya dengan salah satu karyawan SC Company lewat di pelupuk matanya. Rasa sakit itu kian terasa. Tapi sebisa mungkin ia tutupi dengan senyuman.
Hingga saatnya mereka melakukan pertemuan, matanya bersirobok dengan netra Rainero. Sorot mata penuh kebencian Theo berikan pada Rainero, tapi tidak dengan Rainero. Ia justru tampak tenang. Seolah ia tidak terganggu dengan keberadaan Theo di sana.
Presentasi berjalan lancar. Theo dan timnya pun segera berpamitan undur diri. Namun saat setibanya di lobby, ia melihat Shenina sedang berjalan hendak masuk ke dalam lift. Tanpa memedulikan siapapun, Theo pun segera mengejarnya.
"Shen, Shenina," teriak Theo.
Shenina seketika terpaku. Matanya terbelalak. Ia tidak menyangka akan melihat keberadaan Theo di perusahaan suaminya tersebut.
"Shen," panggil Theo lagi mencoba menghentikan Shenina yang hendak menutup pintu lift.
Tapi Shenina menggeleng. Baginya hubungannya dan Theo telah berakhir. Tak ada lagi yang bisa dipertahankan. Bahkan untuk berteman pun rasanya tidak mungkin. Apalagi ia tahu orang tuanya Theo tidak menyukainya. Jadi untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, Shenina memilih menghindar. Rasa itu telah mati untuk Theo.
"Kau mengenal istri tuan Rainero?" tanya Presdir perusahaan tempat Theo bekerja.
Ditanya seperti itu, Theo hanya bisa tersenyum getir.
Malam harinya, karena frustasi tidak bisa menemui Shenina, Theo pun kembali mabuk-mabukkan. Di saat yang sama, teman Rhea melihat Theo yang mabuk dan dikelilingi banyak wanita.
"Rhe, cepat datang ke club malam tempat kita biasa kumpul dulu. Suamimu mabuk berat. Dia dikelilingi perempuan. Khawatirnya dia ..."
Tanpa menunggu temannya menyelesaikan kata-katanya, Rhea pun segera menutup telepon dan bergegas ke club malam yang dimaksud.
"Rhea," teriak temannya saat melihat kedatangan Rhea.
"Len, dimana Theo?"
"Di sana," ujar teman Rhea. Mata Rhea membulat saat melihat Theo yang mabuk dan beberapa perempuan tampak mencari kesempatan untuk mendekati Theo.
"Minggir. Minggir kalian. Pergi sana," usir teman Rhea membuat para perempuan itu mendelik marah.
"Heh, kamu siapa, hah pakai usir-usir kita. Kalian pasti ingin mendekati laki-laki ini kan! Jangan harap! Dia mangsa kami. Pergi sana. Jangan mengganggu kesenangan kami," jawab perempuan itu lantang. Nyatanya hingar bingar musik tidak membuat suaranya teredam. Rhea dan temannya masih bisa mendengar suaranya dengan begitu jelas.
"Sebaiknya kalian segera pergi. Laki-laki ini adalah suamiku. Jangan sampai aku berbuat nekat karena perbuatan kalian ini," desis Rhea dingin.
Perempuan berpakaian sangat seksi itupun berdiri, "mana buktinya kalau dia suamimu?" tantang perempuan itu yang tidak mempercayai perkataan Rhea.
__ADS_1
Rhea bingung. Bahkan mereka saja tidak memiliki foto bersama sebagai bahan bukti. Tapi untung saja temannya ternyata pernah mengabadikan pernikahan Rhea dan Theo dalam ponselnya. Setelah melihat itu, barulah perempuan tadi percaya dan segera pergi dari sisi Theo.
"Kamu nggak papa bawa suamimu naik ke atas sendiri?" tanya teman Rhea setibanya di apartemen Theo. Teman Rhea mengantarnya sampai ke sana sebab kasihan melihat Rhea kesusahan membawa Theo yang benar-benar mabuk menggunakan taksi.
"Aku bisa sendiri. Terima kasih ya, Len atas bantuannya," ujar Rhea.
Teman Rhea mengangguk. Kemudian ia segera menyalakan mobilnya dan pergi dari sana. Sementara itu, Rhea tampak kesulitan memapah Theo menuju apartemennya yang ada di lantai 10. Tapi setelah bersusah payah, akhirnya ia berhasil membawa Theo ke kamarnya.
Di kamar Theo, Rhea segera melepaskan sepatu dan jaket Theo dengan hati-hati. Sesekali Theo menggumamkan nama Shenina membuat hati Rhea makin perih bagai teriris. Apalagi setelah Rhea memperhatikan sekeliling kamar itu. Hampir semua celah dinding terisi foto-foto Shenina. Baik yang berukuran besar, sedang, maupun kecil.
"Segitu cintanya kamu pada Shenina? Apakah tak ada sedikitpun diriku di hatimu?" gumam Rhea sembari memperhatikan wajah laki-laki yang dirindukannya dengan telapak tangan mengusap perut.
"Theo, aku hamil. Apakah dengan keberadaan anak ini bisa meluluhkan sedikit saja hatimu yang beku?"
Tak ingin hatinya kian terluka karena mendengar Theo yang tak anti-henti mengucapkan nama Shenina, Rhea pun memilih pergi dengan membawa luka yang kian menjadi.
Keesokan harinya, mata Theo mengerjap. Ia bingung saat menyadari kalau ia telah berada di apartemennya.
"Siapa yang membawaku kemari?"
Seingat Theo, hanya ia dan Rhea lah yang mengetahui password apartemen itu.
"Tidak mungkin dia kan?" gumam Theo.
Saat sedang melamun, tiba-tiba ponsel Theo yang telah berada di atas nahas berdering. Tanpa melihat sang penelpon, Theo pun segera mengangkat panggilan itu.
"Hallo."
"Hallo, Theo. Ini mommy."
"Mommy?" gumam Theo bingung sebab suara sang Ibu terdengar berbeda. Lantas ia segera melihat nama penelpon di ponselnya. Matanya mengerjap saat saat mengetahui ternyata ibu mertuanya lah yang telah menelponnya.
"Iya, mommy," jawab Theo serak suara khas baru bangun tidur.
"Kau baru bangun, Son?" tanya ibu Rhea seraya terkekeh. "Jangan-jangan Rhea pun belum bangun, hm? Pantas saja teleponnya tidak aktif-aktif. Ternyata kalian masih tidur. Maaf kalau mommy telah mengganggu tidur kalian. Ya sudah, kalau begitu mommy tutup dulu. Tapi nanti tolong sampaikan pada Rhea untuk menghubungi kami sebab sudah lama dia tidak menghubungi kami. Sepertinya kalian begitu sibuk sampai lupa menghubungi kami," celoteh ibu Rhea sebelum menutup panggilan itu.
Theo tampak terpaku. Ia pikir Rhea pulang ke kediaman orang tuanya, tapi ternyata tidak.
"Kemana dia?" gumam Theo yang mulai merasakan khawatir.
...***...
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...
__ADS_1