
"Apa? Calon istri? Jadi kau ingin menikahi anak sialan ini? Apa kau tak salah?" Harold justru menertawakan Shenina dan Rainero. Rainero benar-benar tak habis pikir, bagaimana ada seorang ayah yang bisa begitu tega bukan hanya membenci, tapi juga merendahkan anaknya sendiri.
"Suamiku benar, tuan, apa Anda tak salah? Apa Anda tahu siapa perempuan ini? Di darahnya mengalir darah seorang pengkhianat sehingga membuatnya pun jadi seorang pengkhianat. Benar-benar perempuan murahan. Dia sudah memiliki kekasih, tapi ia justru hamil anak orang lain yang entah siapa dia sendiri pun tidak tahu. Lihat perutnya yang buncit itu, betapa bodohnya Anda bila masih saja mau menikahi perempuan seperti dia yang entah hamil anak siapa. Dia tidak pantas untukmu, tuan. Lebih baik Anda batalkan niat Anda itu. Anda pantas mendapatkan perempuan yang lebih baik dari Shenina," timpal Ambar mencoba memengaruhi Rainero agar melepaskan Shenina.
Rainero benar-benar tak menyangka, perempuan sebaik Shenina bisa tumbuh di tengah-tengah keluarga toxic seperti ini. Hal ini justru membuat Rainero makin kagum dengan Shenina sebab meskipun keluarganya memiliki sifat yang buruk, tapi Shenina tetap tumbuh menjadi perempuan baik dan berhati lembut. Entah ayah macam apa yang Shenina miliki. Seharusnya ia bangga memiliki seorang anak yang baik, berhati lembut, mandiri, dan pintar. Tapi keegoisan ternyata lebih mendominasi membuatnya benar-benar menutup mata hati pada putrinya sendiri.
"Oh, ya?" Alis Rainero terangkat, seolah mempertanyakan kebenaran perkataan Ambar.
"Apa yang aku katakan tadi benar, tuan. Masih banyak perempuan lain yang lebih baik dari perempuan licik dan murahan ini. Kalau dia tidak memiliki sifat yang buruk, mana mungkin ayah kandungnya sendiri membencinya, tidak mungkin bukan."
"Jadi, kalau dia tidak pantas untukku, lalu siapa yang lebih pantas?" Shenina yang sejak tadi terdiam, mendelik tajam. Tapi Rainero lebih dahulu melingkarkan lengannya di pinggang Shenina seakan mengisyaratkan tenanglah.
Senyum Ambar merekah, apalagi saat melihat kedatangan seseorang yang sejak tadi dinantikannya.
"Dia ... dia yang pantas untukmu. Dia adalah putriku, namanya Jessica. Jessi, kemari, Sayang!" panggil Ambar pada Jessica yang baru pulang.
Jessica yang awalnya sedang terpesona dengan mobil yang terparkir di depan pekarangan rumahnya, seketika menoleh. Ia pun bergegas mendekati kedua orang tuanya.
Saat tiba di depan Shenina dan Rainero, mata Jessica seketika terbelalak.
"Shen, ini benar kau? Shen, kau kemana saja selama ini? Kau tahu, aku sangat merindukanmu. Aku mencoba mencari-carimu kemana-mana, tapi kau menghilang bagaikan ditelan bumi," seru Jessica dengan seolah begitu bahagia melihat kepulangan Shenina. "Ayo masuk, kau mau kembali ke rumah kan! Kau tenang saja, aku akan membujuk mommy dan daddy agar memaafkanmu dan menerima kau di rumah ini lagi," imbuhnya membuat Shenina benar-benar muak.
"Tak usah berpura-pura baik di hadapanku. Sekali busuk tetaplah busuk. Bersikaplah sebagaimana kau lakukan di belakang Daddy-mu itu. Tak perlu berpura-pura baik lagi karena itu sungguh sangat memuakkan," sentak Shenina yang segera menghempas tangan Jessica yang sempat menggenggamnya.
"Dasar anak kurang ajar! Ku pikir setelah ku usir bisa mengubah perangai mu, ternyata tidak. Kau justru makin liar dan kurang ajar!" bentak Harold dengan jari telunjuk mengacung di depan wajah Shenina.
Tapi Rainero dengan cepat menangkap jari itu dan menurunkannya.
"Jaga sikap Anda, tuan! Jangan coba-coba bersikap kurang ajar dengan calon istriku!" desis Rainero dengan rahang mengeras.
Harold pun sama, ia pun mengetatkan rahangnya. Merasa tersinggung dengan sikap Rainero yang menurutnya kurang ajar.
__ADS_1
"Kau hanya calon suami, tapi aku ... aku ayahnya. Kau yang lebih berhak atas anak kurang ajar ini!"
"Hak? Kau tahu, hakmu atas Shenina telah hilang semenjak kau mengusirnya. Jadi dia tidak memiliki kewajiban apapun terhadapmu."
"Daddy, cukup! Jangan bertengkar!" lerai Jessika.
"Lihat, betapa baik sikap Jessi! Aku benar-benar menyesal, mengapa bukan Jessi saja yang menjadi putri kandungku."
"Suamiku, tenang!" timpal Ambar sambil mengusap lengan Harold membuat Shenina tersenyum masam. "Shenina, tidakkah kau bisa lihat ketulusan Jessica padamu? Padahal dia begitu menyayangimu meskipun kau bukan saudara kandungnya."
"Sudahlah Nyonya Ambar, hentikan sandiwaramu itu!" desis Shenina yang kian muak dengan sikap sok baik Ambar.
"Kau lihat sendiri kan tuan, Shenina tidak layak untuk menjadi pendampingmu, Jessica lah yang lebih pantas. Dia bukan hanya baik, lemah lembut, penyayang, dan cerdas. Tidak seperti anak pengkhianat ini yang begitu kurang ajar bahkan terhadap ayahnya sendiri," ucap Ambar berapi-api.
"Kau memang anak kurang ajar. Seharusnya kau ikut mati menyusul pengkhianat itu!" sentak Harold dengan wajah merah padam.
"Tutup mulut kalian! Jangan pernah bicara macam-macam tentang Shenina sebab mau bagaimanapun aku akan tetap menikahinya. Dan kau, kau mengatakan Shenina anak pengkhianat, ya, memang dia anak pengkhianat dan pengkhianat itu adalah kau. Berselingkuh dengan pembantu sendiri, cuih! Sangat menjijikkan!" ucap. Rainero membuat mata Harold dan Ambar terbeliak karena terkejut Rainero mengetahui masa lalu mereka.
"Sudahlah Sweety, kau tak perlu meladeni mereka lagi. Padahal kami datang kesini secara baik-baik. Kami hanya ingin menyampaikan kabar bahagia mengenai pernikahan kami yang akan diadakan sebentar lagi. Tapi tenang saja, kami tak berniat sedikitpun mengundang kalian karena memang kalian tak pantas untuk menghadiri acara penting itu. Toh kalian telah membuang Shenina, bukan," desis Rainero yang berhasil membuat mata mereka terbelalak karena ucapan tajam Rainero. "Oh ya, hampir saja lupa, dengar ini, anak yang Shenina kandung bukanlah anak laki-laki yang tak jelas. Anak ini adalah anak-anakku. Mereka adalah anak-anak keturunan keluarga Sanches. Dan satu lagi, Shenina bukanlah perempuan murahan seperti yang kalian katakan." Lalu Rainero melirik Jessica dengan tatapan menjijikan yang membuatnya tampak salah tingkah, "justru sebaliknya, perempuan yang kalian puja-puji inilah yang merupakan wanita murahan."
"Suamiku benar. Jangan mudah percaya dengan kata-kata Shenina, tuan. Dia itu sejak dulu memang tidak menyukai Jessica. Shenina, sampai kapan kau akan terus membenci Jessica, padahal ... "
"Berhenti bersandiwara kataku karena itu sangat memuakkan," bentak Shenina berang.
Dengan wajah merah padam, Shenina pun membalikkan badannya dan berjalan menuju mobil yang terparkir di depan pagar rumah tempat ia dibesarkan dulu diikuti Rainero di belakangnya.
"Dasar anak tak tahu diri, aku sumpahi kau takkan pernah merasakan bahagia! Mati saja kau sana!" pekik Harold membuat Rainero berang. Ia pun segera membalikkan badannya dan bugh ...
Tanpa basa-basi, Rainero memukul wajah Harold hingga laki-laki paruh baya itu terjatuh dengan hidung yang berdarah.
"Daddy ... "
__ADS_1
"Suamiku ... "
Pekik Jessica dan Ambar terkejut.
"Jaga mulut sialan mu itu! Jangan pernah mengatakan yang tidak-tidak tentang Shenina kalau kau tidak mau aku buat hancur berkeping-keping!" ancam Rainero yang kemudian segera berbalik dan masuk ke dalam mobil.
Shenina melihat apa yang Rainero lakukan, tapi ia tidak mempedulikannya sama sekali. Rasa sakit yang ayahnya torehkan di sepanjang usianya telah membekukan hatinya. Ia telah mati rasa pada ayahnya sendiri.
Setelah memasangkan seat belt pada Shenina, Rainero pun segera melajukan mobilnya pergi dari kediaman Harold.
...***...
Sementara itu, di kediaman Delianza, tampak wanita itu sedang mengamuk. Ia benar-benar marah dan kecewa dengan sikap Rainero. Apalagi di depan matanya, Rainero bersikap begitu manis pada Shenina.
"Aku yakin bayi itu bukan milik Rainero. Tapi kalau benar, bagaimana bisa? Bukankah hasil pemeriksaan waktu itu menyatakan kalau Rainero itu mandul."
"Ada apa ini?" seru seseorang dari ambang membuat Delianza terlonjak. Mata laki-laki itu melotot saat melihat keadaan kamar yang kacau balau. "Kenapa kau menghancurkan barang-barang di kamar ini, hah?" serunya kesal.
"Tak perlu ikut campur urusanku!" desis Delianza membuat Justin murka dan menyentak tangannya.
"Apa? Bukan urusanku? Sepertinya makin hari kau makin kurang ajar saja. Huh, menarik!" desis Justin yang langsung menyeret Delianza ke atas ranjang.
"Mau apa kau? Lepaskan aku, brengsekkk!" pekik Delianza dengan mata melotot.
Bukannya melepaskan, Justin justru melepaskan dasinya dan melemparkannya asal. Ia juga mulai melucuti kemejanya membuat Delianza menelan ludahnya.
"Ja-jangan lakukan itu! Kau lupa kalau kandunganku ... hmmmppp ... " Bukannya melepaskan, Justin justru melahap bibir Delianza kasar. Lalu ia pun menuntaskan hasratnya dengan liar membuat Delianza terkapar tak berdaya.
...***...
Halo para kakak pembaca yang baik hati dan tidak sombong, terima kasih ya atas dukungannya terhadap karya othor. Terima kasih juga sama yang sudah kasih rate 5 bintang. Othor benar-benar terharu atas dukungan kakak-kakak semua, baik yang kasih like, komen, vote, nonton iklan, dan kasih hadiah. Dukungan kalian adalah mood booster bagi Othor. 🤩🤩🤩
__ADS_1
Othor juga ucapkan terima kasih sama yang sudah berusaha menjatuhkan karya othor dg kasih rate bintang satu tanpa membaca. Entah apa tujuannya, othor pun tak mengerti. Semoga hatinya tetap baik-baik saja. 🥰
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...