Benih Sang Cassanova

Benih Sang Cassanova
BSC 160 (S3 Part 3)


__ADS_3

"Ini kamarmu. Kamarku ada di sana," ucap Jevian setelah mengantarkan Eve ke kamarnya.


Jelas saja mata Evelyn membelalak tak percaya dengan apa yang dilakukan calon suaminya itu.


"Kamu serius?" tanya Eve memastikan.


Dahi Jevian berkerut, "maksudmu?" tanyanya bingung.


"Maksudku, kamu serius kita pisah kamar?"


Jevian mengangguk pasti, "kenapa?" tanyanya heran.


"Jev, kita sebentar lagi menikah. Bukankah tak masalah kita satu kamar? Bukankah hal itu biasa. Bahkan, kita bisa bebas bercinta kalau kau mau. Pasangan kekasih saja bisa bebas bercinta, masa' kita yang sebentar lagi menikah justru pisah kamar. Sungguh tidak masuk akal," ujar Eve menyampaikan keheranannya.


Jevian menghela nafas berat, "itu orang lain, tapi tidak denganku. Mau tak mau, suka tak suka, kita pisah kamar. Aku tidak mau kita berhubungan terlalu intens sebelum kita menikah. Terserah kau mau menilai ku seperti apa, tapi beginilah aku apa adanya. Aku tidak seperti orang lain yang bisa berhubungan se ks dengan orang lain tanpa hubungan yang jelas. Meskipun kita sebentar lagi menikah, tapi tetap saja, kita belum menikah. Aku harap kau mengerti," ujar Jevian memberikan penjelasan. Setelah itu ia segera membalikkan badan dan berlalu dari hadapan Eve yang sudah terbengong-bengong dengan sikap Jevian yang sungguh di luar ekspektasi.


"Jev, tunggu!" seru Eve yang segera menghentikan langkah Jevian. Jevian pun membalikkan badannya menatap Eve.


"Ya."


"Boleh aku tanya sesuatu?"


"Ya, silahkan!" ujar Jevian.


"Ekhem ... Jev, kau ... bukan gay kan?" tanya Eve memastikan. Bagaimana tidak, di negaranya bahkan remaja baru menginjak usia 16 - 17 tahun saja rata-rata sudah melakukan hubungan se ks, bagaimana mungkin Jevian yang notabene laki-laki dewasa bahkan usianya hampir 30 tahun belum pernah melakukan hubungan itu. Bahkan dengan dirinya sendiri yang merupakan calon istrinya pun ditolaknya mentah-mentah.


Mata Jevian membulat sempurna, "apa? Gay?" beo Jevian kemudian tergelak. "Kau tenang saja, aku laki-laki normal. Aku menyukai perempuan," pungkas Jevian yang segera berlalu dari hadapan Eve yang kembali termangu dan setelahnya tersenyum menyeringai.


"Sungguh laki-laki langka dan laki-laki itu adalah milikku," ucap Eve penuh bangga sambil tersenyum lebar.


2 Minggu telah berlalu, pesta pertunangan antara Jevian dan Eve pun baru selesai dilangsungkan. Para tamu undangan pun satu persatu mulai membubarkan diri menyisakan beberapa kolega dan keluarga saja.


"Bagaimana dengan kemajuan perusahaan mu, Jev?" tanya Tobey dengan segelas whiskey di tangan kirinya.


"Masih saya upayakan yang terbaik, Uncle," jawab Jevian sopan.


"Uncle? Ayolah Jevian, sekarang kau sudah menjadi calon menantu Daddy. Sebentar lagi kau akan menjadi suami dari putri kesayangan daddy jadi sudah seharusnya kau memanggilku daddy, bukan uncle," ujar Tobey membuat Jevian kikuk sendiri.


"Ba-baik, un ah maksudku daddy," ucap Jevian.

__ADS_1


Tobey dan Eve tertawa mendengarnya.


"Kau terlalu kaku, Jevian. Aku harap kau dapat membahagiakan putriku sebab hanya dia yang ku miliki saat ini. Dia adalah hartaku. Aku harap, kau dapat menjaganya dengan baik. Ingat ini, bila kau sampai menyakitinya, maka nyawamu yang akan menjadi taruhannya," ujar Tobey dengan tatapan tajam membuat Jevian terperanjat mendengarnya.


"Baik, dad." Hanya itu yang mampu Jevian ucapkan.


"Dad, jangan menakuti calon suamiku. Aku yakin, dia akan menjagaku dengan baik. Kau tahu dad, selama aku menginap di apartemennya pun, ia tak mau menyentuh ku. Dia sangat menjagaku dengan baik. Dia benar-benar laki-laki yang hebat. Eve merasa bangga sekaligus beruntung bisa mendapatkan laki-laki seperti Jevian. Terima kasih, Dad, berkat daddy aku bisa mendapatkan laki-laki yang aku cintai," ucap Eve dengan mata berkaca-kaca.


"Jangan berterima kasih, Sweetheart. Apapun akan daddy lakukan demi kebahagiaanmu," ujar Tobey yang memang begitu menyayangi sang putri.


Tobey memang terkenal kejam dalam dunia bisnis, tapi di belakang sikap kejamnya itu, ia adalah ayah yang sangat baik. Tobey sangat mencintai putrinya. Ia bahkan rela melakukan apapun demi kebahagiaan sang putri. Apalagi putrinya sudah kehilangan ibunya sejak kecil.


Tobey membesarkan Eve seorang diri. Meskipun istrinya sudah lama tiada, tapi Tobey tidak pernah berusaha mencari pengganti. Ia justru memilih fokus membesarkan anak dan perusahaannya. Tobey memang tipe laki-laki setia. Baginya tak ada yang bisa menggantikan posisi sang istri. Baginya menikah itu cukup satu kali. Satu untuk selamanya.


...***...


Hari ini adalah hari pernikahan Jevian. Namun hari ini juga merupakan hari resepsi pernikahan Mark dan Adisti. Dua keluarga hebat di dua negara secara bersamaan mengadakan pesta pernikahan secara besar-besaran. Hampir di setiap portal berita memberitakan tentang pesta pernikahan dua keluarga itu.


Bila Mark dan Adisti menyambut pesta pernikahan mereka dengan suka cita. Apalagi Mark akhirnya bisa sembuh lebih cepat sehingga pesta pernikahan yang ditunggu-tunggu pun bisa dilangsungkan lebih cepat dari rencana semula, maka di belahan negara lain Jevian justru merasa hidupnya makin menyedihkan karena harus menikah dengan perempuan yang sangat jauh dari kriterianya. Apalagi ia juga tidak memiliki perasaan sama sekali dengan Eve. Namun Jevian menutup rahasia itu rapat-rapat. Ia tak ingin membuat Eve terluka karena di hari bahagianya ia justru sedang memikirkan perempuan lain.


Di pesta pernikahan Mark, tampak Rainero dan Shenina mendekat ke arah Mark dan Adisti yang tengah berdiri bersisian dengan tangan saling bertautan.


"Mbak Bule, mbak bule sama Mas bule akhirnya datang. Disti senang. Kirain karena pestanya di negara lain, kalian tidak akan datang."


"Sayang, kau lupa siapa Mrs. Shenina sekarang? Dia adalah istri dari pengusaha muda nomor 1 di negaranya. Kalau hanya untuk pergi ke negara kita, urusan gampang. Mereka memiliki jet pribadi yang bisa mereka gunakan kapanpun," ujar Mark menjelaskan.


"Oh iya, kau benar."


"Kau pun akan merasakan hal yang sama. Aku tak menyangka, sopir yang kerap mengantar aku kemana saja ini justru seorang putra pengusaha ternama," timpal Shenina.


"Mbak Bule benar. Aku pun sampai sekarang tidak menyangka. Aku pikir, Mark benar-benar seorang sopir, tapi tahunya ia anak konglomerat."


"Oh ya, ini hadiah untuk kalian." Shenina memberikan sebuah amplop pada Adisti. Dahi Mark dan Adisti berkerut.


"Nggak usah mbak Bule. Kan aku sudah bilang, aku tidak butuh kado. Yang aku butuhkan doa dan restu kalian."


"Ck, buka saja kenapa sih!" celetuk Rainero membuat Adisti seketika gugup.


Adisti menoleh ke arah Mark, lalu laki-laki itu mengangguk dan menggestur agar Adisti segera membuka amplopnya. Saat isi amplop itu keluar, dahi Mark dan Adisti berkerut samar.

__ADS_1


"Ini ... " Mark kebingungan dengan apa yang ia lihat.


"Itu kartu akses masuk ke resort ku yang ada di Bali. Bukankah menyenangkan bisa berbulan madu ke Bali?" ujar Rainero dengan alis menukik ke atas.


Adisti membulatkan matanya dengan mulut menganga.


"Ini beneran, Mas Bule?" tanya Adisti mencoba meyakinkan sekali lagi.


Rainero mengangguk cepat membuat Adisti memekik senang dan reflek memeluk Mark. Bagaimana ia tidak senang, ia sudah begitu merindukan tanah kelahirannya dan hadiah yang Rainero dan Shenina berikan merupakan hadiah terindah yang benar-benar tak terduga.


"Rain, bisa kau bantu aku?" panggil Axton dengan wajah paniknya.


Shenina, Rainero, Mark, dan Adisti lantas menoleh.


"Kau kenapa?" tanya Rainero heran.


"Gladys ... Dia ingin melahirkan. Tolong bantu aku antar kamu ke rumah sakit segera," minta Axton membuat mata mereka berempat terbelalak.


Bila Shenina, Mark, dan Adisti menatap tak percaya kalau Gladys akan segera melahirkan, maka Rainero justru menatap tak percaya karena Axton memintanya mengantarkan ke rumah sakit. Bila biasanya Axton lah yang menyopiri dirinya bila tidak ada sopir, maka kali ini Axton justru memintanya menyopiri mereka.


"Kau ingin menjadikanku sopir?" tanya Rainero memastikan.


"Ck ... sesekali, tak masalah kan. Ayo buruan."


Rainero pun gegas membantu Axton membawa Gladys ke rumah sakit.


Sementara itu, setelah pesta pernikahannya usai, Jevian segera masuk ke kamar, mengambil ponselnya. Lalu ia mengetikkan berita tranding di negara sebelah.


Jevian tersenyum sendu saat di ia mendapati wajah cantik Adisti di layar ponselnya.


"Semoga kau bahagia, Adisti," lirih Jevian.


Jevian juga membaca berita perihal salah satu tamu undangan yang juga merupakan istri penguasa nomor 2 di SC Company yang hendak melahirkan di tengah acara yang sedang berlangsung. Jevian yang membaca itu hanya bisa memberikan selamat dalam hati.


"Semoga aku pun bisa menjemput bahagia ku seperti kalian."


...***...


...HAPPY READING 🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2