
Melihat ekspresi ketakutan di wajah Rainero sontak membuat Shenina tergelak.
"Kenapa kau malah tertawa, Sweety? Apa kau senang aku cepat mati? Apa kau ingin kembali pada si Beo, Telo, eh Telolet siapa namanya itu?" gerutu Rainero dengan wajah cemberut.
Shenina tergelak mendengar gerutuan Rainero yang terdengar tidak masuk akal. Apalagi saat Rainero seenaknya menyebutkan nama Theo, benar-benar menggelikan.
"Kalau iya, kenapa?" tanya Shenina sambil berjalan menuju kopernya yang tergeletak di samping lemari. Lalu ia membukanya dan mengambil tas kecil yang ada di dalamnya.
"Shen," rengek Rainero membuat Shenina geli sendiri. Sepanjang mengenal Rainero, baru kali ini ia mendengar rengekan yang justru terdengar manja di telinganya dan ia ... suka.
"Kenapa sih?" Shenina pura-pura ketus.
"Jadi ... penyakitku ini benar-benar berbahaya? Berapa persentase lama aku bertahan? Aku ingin menghabiskan sisa usia ku dengan membahagiakanmu dan twins," ucap Rainero pedih. Seumur hidupnya baru kali ini ia mendengar nama penyakit 'masuk angin'. Apalagi Shenina mengucapkan menggunakan bahasa Indonesia. Ya, karena Shenina memang hanya tahu istilah itu. Baik Gladys maupun Adisti memang hanya pernah mengucapkan itu. Tidak mungkin juga mereka menyebutkan nama penyakit wind inside , bisa tambah bingung dong Shenina. Dan akan lebih bingung lagi bayi yang menjelaskan.
"Besok aku akan memanggil pengacara."
"Pengacara? Untuk apa?" tanya Shenina sambil membawa 3 buah benda di tangannya.
"Bukankah aku pernah mengatakan akan mengalihkan semua asetku padamu. Sebelum aku benar-benar mati, maka aku akan ... "
"STOP!!!" teriak Shenina tiba-tiba membuat Rainero terlonjak seketika. "Jangan bicara macam-macam, Rain! Aku tidak suka itu. Kau pikir kau akan aku izinkan pergi begitu saja? Setelah membuatku luluh lalu kau ingin meninggalkanku, jangan harap aku akan membiarkannya," sentak Shenina yang tiba-tiba emosi.
Melihat Rainero tercengang membuat Shenina menghela nafas panjang.
"Maaf, aku tidak sengaja bicara kasar padamu," ucap Shenina dengan mata berkaca-kaca.
Dengan langkah gontai, Rainero berjalan menuju Shenina dan memeluknya.
"Tidak. Kau tidak perlu meminta maaf. Akulah yang bodoh karena menyerah begitu saja. Kalau begitu, besok pagi aku akan mencari dokter terbaik untuk menyembuhkan penyakitku ini," ujar Rainero yakin. "Aku berjanji, akan segera sembuh. Aku pun ingin memiliki umur yang panjang agar aku bisa mendampingi mu untuk ... "
Tiba-tiba Rainero mendengar Shenina terkekeh. Ia pun segera mengurai pelukannya sambil menatap heran pada Shenina.
"Kamu kok ketawa lagi sih?"
"Soalnya kamu itu lucu, Rain."
__ADS_1
"Apanya yang lucu?" dengus Rainero sambil berjalan menuju ranjang dibantu Shenina.
"Soal penyakit masuk angin itu, itu bukan penyakit parah kok. Cuma salah satu penyakit biasa. Cara ngobatinnya pun gampang."
"Oh ya?" Dahi Rainero berkerut, tapi dalam hati ia merasa lega.
Shenina mengangguk, "kamu cuma perlu minum obat ini, namanya tolak semeriwing. Terus punggung kamu aku kerokin pake ini," Shenina mengangkat tangannya dan menunjukkan sebuah botol kecil yang merupakan minyak angin freshpeduli dan sebuah koin.
"Tolak semeriwing? Kerok? Pakai koin dan apa ini ... minyak freshpeduli?" beo Rainero kian bingung melihat benda asing yang ada di tangannya.
Shenina mengangguk, "daripada bingung, mending langsung praktek aja yuk. Aku dapat ilmu ini dari orang-orang saat di Bali. Dan ... emang seampuh itu," ujar Shenina sambil mengingat momen saat ia pertama kali merasakan masuk angin, yaitu saat pertama kali menginjakkan kakinya di Indonesia. Salah satu penyebabnya adalah jetlag. Belum lagi karena ia baru saja melewati perjalanan cukup panjang membuatnya masuk angin. Ia kira mual, muntah, tak enak badan, kepala pusing, dan menggigil yang dialaminya karena faktor kehamilannya, tapi ternyata itu karena masuk angin. Beruntung ia mengenal Gladys dan setelahnya Adisti, dan dari mereka berdualah ia tahu istilah masuk angin dan kerokan.
Awalnya Shenina meringis saat merasakan punggungnya dikerok pertama kali, tapi semakin lama, rasa aneh itu justru menjadi nyaman dan menenangkan. Setelahnya, tidurnya jadi lelap, setelah bangun pun tubuhnya jadi terasa lebih baik dari sebelumnya.
Melihat raut kebingungan Rainero, Shenina pun segera beranjak mengambil gelas berisi air hangat. Lalu ia menyobek salah satu ujung sachet tolak semeriwing dan memberikannya pada Rainero.
"Minum ini!" titah Shenina. Dengan patuh, Rainero menuruti perintah Shenina.
"Bagaimana rasanya?" tanya Shenina dengan wajah geli saat melihat ekspresi Rainero yang lucu.
"Terima kasih," ujar Rainero setelah menandaskan segelas air hangat itu.
Shenina mengangguk kemudian berkata, "sekarang buka bajumu?"
"Hah, apa? Kamu mau mengajakku ritual malam pertama after married, Shen?" tanyanya dengan mata berbinar. Namun dalam hitungan detik, wajah itu ditekuk, "sebenarnya aku pun ingin sekali melakukannya, Sweety, bahkan sejak kita tidur satu ranjang. Tapi tubuh aku sekarang benar-benar lemas, Shen. Aku takut tidak bisa memuaskan kamu dengan kondisi fisik aku kayak gini," ujar Rainero frustasi. "Besok aja gimana?"
Bukannya dapat respon yang baik, Rainero justru mendapatkan keplakan dipundaknya, "otakmu ini sepertinya hanya berisi hal-hal yang berbau mesyum. Siapa yang mau ritual malam pertama. Aku juga sedang lelah sekali," sungut Shenina, tapi bibirnya justru menahan tawa karena ekspresi nelangsa sang suami.
"Terus kamu minta aku buka baju untuk apa?" tanya Rainero bingung.
"Kan aku udah bilang mau kerokin kamu, Rain. Jadi cepat buka bajunya. Aku pun udah capek ini, mata aku udah ngantuk. Mau tidur. Jadi buruan, jangan lelet," seru Shenina mendadak kesal melihat Rainero belum juga membuka bajunya.
"Emang harus buka baju, ya?"
"Astaga, Rain, kau mau aku urusin atau tidak sih?" pekik Shenina membuat Rainero kalang kabut dan segera membuka baju kaosnya, kemudian melemparnya asal.
__ADS_1
Shenina mendengus, kemudian ia memaksa Rainero tengkurap. Rainero menelan ludahnya dengan benak bertanya-tanya, kenapa ia harus tengkurap seperti ini?
Hingga saat Shenina mengusap punggungnya sesuatu yang sedikit lembab, tak lama kemudian rasa hangat menjalar. Disertai sentuhan jemari Shenina membuat Rainero terbuai, tapi itu hanya sementara. Hingga sebuah benda logam bulat dan pipih ditempelkan di punggungnya kemudian digerakkan secara perlahan dengan sedikit ditekan membuat Rainero menjerit-jerit antara geli bercampur sakit.
"Aaaa .... hentikan, Shen! Kamu sebenarnya ngapain aku sih?" pekik Rainero khawatir saat Shenina terus menggerakkan koin di punggungnya . "Aduh ... ahhh ... awwww ... aaaargh ... sshhhhh ... ampuuun, ampun Shen!" pekik Rainero, tapi Shenina tak kunjung menghentikan gerakannya. Ia terus membuat garis-garis khas kerokan di punggung Rainero.
Tubuh Rainero tidak bisa diam. Ia terus menggeliat sampai-sampai perempuan hamil itu terpaksa menduduki bokong Rainero sambil terus menggerakkan koinnya.
"Aaaa ... hentikan, Sweety, aku tak tahan. Uuuuu ... aaaarghhh ... Shenina, Sweety, geli. Awww ... sakit! Sheeeennnn ... "
Shenina terus mengerok punggung Rainero. Setelah dirasanya cukup, Shenina menghentikan kerokannya. Kemudian, Shenina memberikan sedikit pijatan di punggung Rainero membuat laki-laki itu merasa sangat nyaman.
"Aaah, tanganmu benar-benar ajaib, Shen. Buktinya tubuhku kini terasa lebih nyaman," ujar Rainero yang sedang keenakan karena pijatan Shenina di punggungnya.
Hingga adegan pijatan itu selesai dan Shenina sudah mencuci tangannya, tampak Rainero sudah duduk sambil bersandar di kepala ranjang.
"Sweety, sepertinya apa yang kau lakukan tadi benar-benar ampuh. Buktinya, badanku sudah terasa lebih baik. Sepertinya ini saat yang tepat untuk ... "
Rainero terus menceracau sehingga tidak sadar kalau istrinya yang baru saja membaringkan tubuh di sampingnya itu telah terlelap.
Hingga sebuah dengkuran halus tertangkap indra pendengarannya barulah ia menyadari kalau wanita pujaan hatinya itu telah terlelap.
"Astaga, sepertinya malam ini Rainoconda memang ditakdirkan belum boleh masuk ke sarang impiannya," desah Rainero frustasi. "Kamu tenang ya Rainoconda, masih ada hari esok. Kamu tidur saja lagi. Jangan ajak aku mandi malam dulu, ya! Kita harus menjaga stamina kita agar besok kita bisa menjelajahi gua kenikmatan Shenina. Kamu sabar ya, Rainoconda! Ingat, orang sabar, kesempatannya menjelajahi gua kenikmatan lebih lebar. Jangan sampai kita gagal lagi melakukannya. Kamu tidak mau kan muntah karena sabun lagi?" oceh Rainero seperti orang gila.
Tangannya tampak mengusap sesuatu yang tadinya sempat terbangun karena pijatan Shenina di punggung. Namun, ia tetap tak akan memaksa Shenina untuk melayaninya. Apalagi ia sadar, sepertinya Shenina sedang benar-benar kelelahan. Padahal sejak tadi Shenina merasa lelah dan mengantuk, tapi ia masih menyempatkan diri mengurus Rainero. Hal itulah yang membuatnya makin mencintai wanita hamil di sampingnya.
Lalu ia mengecup kening Shenina dengan sayang. "Selamat tidur, Sweety. I'm really love you," ucapnya lembut. Kemudian Rainero beralih ke perut buncit Shenina, "hai twins, selamat tidur. Besok kalian mau kan Daddy jenguk?" Tiba-tiba Rainero melihat perut buncit itu bergerak. Gerakan tipis, tapi Rainero menyadarinya. Apalagi saat ia menempelkan telinganya di perut buncit Shenina, malam yang sunyi membuatnya ia bisa mendengar pergerakan di dalam sana.
Rainero seketika tersenyum lebar, "sepertinya kalian pun tak sabar Daddy jenguk, hm? Sama, Daddy pun juga begitu. Sampai jumpa besok, twins."
Rainero menyunggingkan senyum lebarnya. Kemudian ia membaringkan tubuhnya di samping Shenina dan menarik selimut sampai menutup ke bagian dada mereka berdua. Setelahnya, Rainero menarik Shenina masuk ke dalam pelukannya. Shenina reflek mendekap dada Rainero, membuat laki-laki itu kian tersenyum lebar. Rasa hangat dan nyaman menyeruak memenuhi dadanya. Perlahan, kelopak mata itupun menutup, menyusul lelapnya tidur Shenina.
...***...
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...
__ADS_1