Benih Sang Cassanova

Benih Sang Cassanova
BSC 81


__ADS_3

Mata Shenina mengerjap, tubuhnya menggeliat dengan telapak tangan meraba ke sisi tempat tidurnya. Shenina segera membuka matanya saat menyadari sisi tempat tidurnya kosong. Matanya bergulir kesana kemari, mencari sosok yang semalam mendekapnya dengan erat hingga tanpa sadar matanya terpejam dengan begitu nyaman.


Shenina pun segera menegakkan punggungnya. Ia menelisik ke sekitar hingga akhirnya ia mendengar sayup-sayup percakapan dua orang dari luar kamarnya. Shenina lantas menurunkan kakinya dan melangkah menuju pintu, lalu membuka sedikit celahnya hingga ia bisa melihat jelas siapa yang bercakap-cakap di sana.


"Axton," gumamnya saat melihat Axton yang tengah menertawakan Rainero. Entah apa yang mereka bicarakan sehingga Axton tampak begitu senang menertawakan Rainero. Laki-laki itu sampai terpingkal-pingkal dengan ekor mata yang basah.


"Sepertinya mereka asik sekali," ucapnya tak mau terlalu ikut campur urusan dua lelaki itu.


Shenina yang belum sadar sekarang jam berapa pun segera menuju nakas untuk melihat ponselnya. Matanya terbelalak saat tahu kalau sekarang sudah hampir pukul 10. Tak pernah selama ini ia bangun begitu siang. Shenina sekali bangun sebelum matahari terbit dan


mulai mengerjakan segala pekerjaan sebagai rutinitasnya sehari-hari.


Tanpa memedulikan banyaknya pesan masuk ke ponselnya sejak semalam, Shenina pun bergegas masuk ke kamar mandi. Ia pikir Rainero pasti masih lama mengobrol dengan Axton jadi ia ingin berendam terlebih dahulu.


Memasuki kamar mandi, Shenina berjalan pelan dan hati-hati. Ia mengingat pesan Rainero agar selalu berhati-hati. Apalagi saat di kamar mandi yang lantainya rentan licin meskipun setiap hari dibersihkan.


Shenina segera menuju bathub dan mengisinya dengan air hangat. Tak lupa ia menambahkan wewangian aroma terapi agar tubuhnya menjadi lebih relaks. Setelahnya, ia pun masuk dan mulai berendam sambil memejamkan mata. Pikirannya terasa begitu tenang dan damai.


Dengan mata terpejam, Shenina tersenyum. Ia tak pernah bermimpi bisa merayakan pesta pernikahan dengan begitu mewah seperti semalam. Semua bagaikan mimpi. Meskipun tidak ada seorang pun perwakilan dari pihak keluarganya untuk mendampingi dirinya, tapi ia masih dikelilingi oleh orang-orang yang menyayanginya dengan tulus. Diusapnya perutnya yang kian membuncit. Baginya, kehadiran huah hatinya ini merupakan anugerah yang sangat luar biasa sebab sejak kehadirannya, perlahan Shenina bisa merengkuh bahagia.


"Apa yang kau pikirkan, Sweety?" tanya seseorang saat melihat Shenina tersenyum dengan mata terpejam.


Shenina tersentak saat mendapati Rainero telah berdiri menjulang di hadapannya dengan hanya mengenakan segitiga pengamannya saja.


"Rain, kapan kau masuk?" tanya Shenina dengan pipi bersemu merah. Ia benar-benar tidak menyadari Rainero telah masuk ke kamar mandi. Bahkan celana boksernya telah teronggok di lantai.


Rainero tersenyum kecil, "kau terlalu asik melamun sampai tidak menyadari kehadiranku," cibir Rainero sambil mencebikkan bibirnya.

__ADS_1


"Rain, apa yang kau lakukan?" jerit Shenina saat Rainero masuk ke dalam bathtub di belakangnya dan memeluk dirinya.


Shenina tidak dapat berbuat apapun sebab ia dalam keadaan polos saat ini. Tak ada sehelai benangpun yang melekat di tubuhnya.


Rainero tidak peduli, ia justru mengangkat tubuh Shenina ke atas pangkuannya dengan sekali hentakan. Shenina sampai menahan nafas karena ulahnya.


"Rainero Sanches," pekik Shenina. Tetapi laki-laki nakal itu justru terkekeh dan menciumi pipi serta tengkuknya.


"Hmmm ... wangi mu aku suka," ucap Rainero seraya menyusuri kulit pipi Shenina hingga ke leher.


"Rain, aku mau mandi," lirih Shenina yang mulai menegang. Apalagi saat ia merasakan tonjolan di bawah sana yang mulai menggelembung semakin besar. Seketika wajah Shenina memerah bagai tomat masak.


Shenina bukan perempuan bodoh yang tidak tahu benda apa yang menggelembung di bawah sana. Sebuah benda yang konon katanya dapat membawa seorang perempuan terbang melayang dalam pusaran kenikmatan. Sebuah benda yang mampu mengobrak-abrik kewarasan. Dan sebuah benda yang membuat hadirnya twins di dalam perutnya.


"Rain," lirih Shenina saat tangan nakal Rainero mulai menjelajahi setiap inci kulitnya, dari perut lalu naik ke gundukkan kembarnya. Nafasnya memburu, tubuhnya menegang, jantungnya berdebar kencang. Shenina seakan sedang menjalani uji adrenalin, benar-benar mendebarkan. Tak dapat digambarkan dengan kata-kata. Meskipun ia pernah melakukannya dengan Rainero, tapi kali ini rasanya benar-benar berbeda. Malam itu Rainero melakukannya dengan paksa dan tanpa kesadaran. Ia tidak sedikitpun menikmatinya. Sedangkan kali ini, Rainero melakukannya dengan begitu lembut, membuatnya terbuai, melayang hingga ke langit entah yang ke berapa.


"Rain, kau dengar aku tidak sih?" desis Shenina.


"Iya, tapi tangan dan bibir kamu nakal."


"Tapi kamu suka kan?" lirih Rainero sambil menyedot kulit lehernya. meninggalkan jejak-jejak kemerahan yang begitu aesthetic di mata Rainero.


"Ayo udahan, kamu kan sedang sakit?"


"Aku sudah baikan kok. Bahkan sangat-sangat sehat dan bertenaga."


"Tapi aku mau mandi."

__ADS_1


"Mandinya udahan dulu ya. Ada hal yang lebih penting daripada mandi saat ini," ujar Rainero dengan suara yang kian berat. Hasratnya telah naik ke ubun-ubun, tak mampu ia tahan lagi. Sudah cukup ia berpuasa selama berbulan-bulan karena Rainocondanya yang tak mau bangun kalau bukan dengan pawang sebenarnya.


"Maksudnya?"


Lalu Rainero menggerak-gerakkan pinggulnya membuat Rainocondanya yang telah bangun sejak tadi menggesek bolong Shenina. Mata Shenina terbelalak. Kedua tangannya berpegangan erat pada pinggiran bathtub. Tanpa sadar, Shenina mengerang saat merasakan sesuatu yang luar biasa di bawah sana.


"Rainocondanya sudah bangun. Dia sudah begitu merindukan masuk ke goa cintanya. Aku pun sudah tak tahan lagi menahannya, boleh aku melakukannya, Sweety? Please!"


Shenina menoleh ke samping membuat matanya bersirobok dengan netra


Rainero yang telah diselimuti kabut gairah.


Kepala Shenina pun reflek mengangguk. Tak ada alasan untuk menolak lagi, bukan? Dirinya telah resmi menjadi istri dari Rainero. Sudah sepatunya ia melayani suaminya itu dan memberikannya kepuasan.


Apalagi ia tahu predikat Rainero sebelum ini. Ia sudah bertekad ingin mempertahankan Rainero di sisinya. Menurutnya Rainero merupakan laki-laki sempurna dan pantas untuk dipertahankan. Untuk itulah ia harus melakukan sesuatu agar Rainero terus bertahan di sisinya dan menjadikannya hanya satu-satunya. Dan salah satu jalannya ialah memberikan kepuasan pada Rainero agar laki-laki itu tidak kembali melakukan kebiasaan lamanya.


Melihat anggukan Shenina, Rainero tak dapat menyembunyikan kebahagiaannya. Ia pun bergegas berdiri dan keluar dari dalam bathtub. Ia mengulurkan tangannya membantu Shenina berdiri dan keluar dari dalam sana.


Rainero segera mengambil handuk dan mengusap tubuh basah Shenina dengan nafas yang memburu. Bagaimana tidak, di hadapannya terpampang tubuh polos Shenina yang begitu indah. Tubuh yang selama ini hanya menjadi fantasinya itu kini terpampang nyata tanpa penghalang sedikitpun. Sudah tak sabar rasanya Rainero ingin menjamah tubuh wanita kesayangannya itu.


Setelah memastikan tubuh Shenina dan dirinya kering, ia pun segera melepas segitiga pengamannya dan melemparnya asal. Rainocondanya sepertinya sudah tak sabar ingin membebaskan diri. Shenina hanya bisa pasrah sambil menutup wajahnya yang kian memerah karena aksi sang suami yang sungguh terlalu mengejutkan baginya yang masih awam.


Shenina seketika tersentak dan segera mengalungkan tangannya di leher Rainero saat laki-laki itu tiba-tiba membawanya dalam gendongannya.


Rainero menyeringai, ia yang sudah terbakar gelora pun segera meraup bibir Shenina sambil berjalan menuju ranjang untuk segera menuntaskan hasratnya yang tak bisa lagi di cegah.


"It's time to make love, Sweety," ujarnya seraya seringai penuh gairah.

__ADS_1


...***...


...HAPPY READING 🥰🥰🥰...


__ADS_2