
"Selamat ya atas pernikahannya," ujar seorang laki-laki yang mengenakan jas bernuansa pink, senada dengan gaun sang istri. Ia mengulurkan yang disambut Mark dengan tersenyum lebar.
Melihat penampilan tak biasa laki-laki di depannya sesungguhnya membuat Mark merasa takjub. Bagaimana laki-laki yang biasanya tampil manly itu justru terlihat lebih feminim malam ini. Meskipun ia baru mengenal Rainero dan Axton beberapa bulan ini, tapi sedikit banyak ia sudah mengetahui kepribadian keduanya yang tegas, berwibawa, setia, dan juga penyayang. Sedikit banyak pula tanpa orang sadari, ia belajar pada keduanya mulai dari arti tanggung jawab, bekerja keras, dan bagaimana cara bersikap terhadap pasangan.
"Selamat atas pernikahannya, Mark. Semoga pernikahan kalian dilimpahi kebahagiaan," timpal Rainero yang ikut bergabung dengan Mark dan Axton. Sedangkan kaum perempuan sudah membentuk kumpulannya sendiri di sisi lain taman.
"Terima kasih, terima kasih, tuan Rainero, telah bersedia hadir di pernikahan kami," ujar Mark dengan senyum merekah. "Terima kasih juga tuan Axton. Saya benar-benar tidak menyangka, orang penting seperti kalian bersedia meluangkan waktu untuk menghadiri pernikahan kami," imbuhnya lagi setelah bersalaman dengan keduanya.
"Tak perlu sungkan, bagaimanapun, kau pernah berjasa bagiku meskipun hanya beberapa bulan saja. Selain itu, tidak mungkin kami tidak hadir, apa kau lupa siapa wanita yang kau nikahi itu? Dia sudah seperti saudara bagi Shenina dan Gladys, tentu saja meski sesibuk apapun, kami pasti akan mengusahakan untuk datang," ucap Rainero.
"Kenapa kau menatapku seperti itu?" ucap Axton dengan mata menyipit saat Mark kedapatan memperhatikan dirinya sejak tadi.
Mark sontak gelagapan. Rainero yang paham pun jadi tertawa, "bagaimana menurutmu? Dia semakin tampan, bukan?" Entah yang diucapkan Rainero itu sebuah pujian atau ejekan, tapi Axton justru tersenyum lebar.
"Ternyata penglihatan mu masih cukup jeli, Rain. Padahal aku paling tidak suka warna merah muda, tapi entah mengapa sekarang aku menyukai apa-apa saja yang berwarna merah muda."
Mark terperangah, merasa bingung dengan apa yang Axton alami.
Kenapa bisa begitu, pikirnya.
"Tak perlu bingung, ini merupakan pengaruh kehamilan Gladys. Kau pun aku yakin akan mengalaminya kelak. Istilahnya itu couvade sindrom. Kalau kau mau tahu dengan jelas apa itu couvade sindrom, cari saja di internet, banyak."
Mendengar penuturan Rainero, Mark mengangguk paham. Ternyata ini efek kehamilan istrinya. Ternyata ada istilah seperti itu dan Mark baru mengetahuinya.
"Ngomong-ngomong, bagaimana kau akan melakukan malam pertama dengan keadaanmu yang seperti ini?" celetuk Axton tiba-tiba. "Kau tidak mungkin kan menyuruh Adisti berada di atas?" imbuh Axton lagi tanpa filter.
Mark mendengkus. Kenapa sikap Axton 11 12 dengan sikap ibunya? Bahkan pertanyaannya pun sama.
"Memangnya kenapa? Tidak masalah kan?" cetus Mark jengkel.
"Kau benar juga, tidak masalah sih. Justru itu lebih nikmat. Hahaha ... "
"Kau benar, Axton. Hahaha ... " timpal Rainero membuat wajah Mark jadi masam. Bagaimana ia belum bisa menyuruh Adisti berada di atas, berada di bawah pun belum pernah. Keadaan kakinya yang belum pulih membuatnya harus berpuasa. Apalagi menurut dokter, ia harus mengikuti terapi kurang lebih 3 bulan, artinya ia baru akan pulih setelah 3 bulan lamanya. Sanggupkah ia menahan hasratnya selama itu?
...***...
__ADS_1
Para tamu undangan telah pulang. Karena Mark masih harus dirawat di rumah sakit itu, jadi Mark belum bisa pulang ke rumah. Begitu pula Adisti, Mark memintanya menemaninya selama di rumah sakit. Adisti yang tak kuasa menolak keinginan Mark pun mengiyakan. Sesuai permintaan Mark, Eleanor pun telah mengganti ranjang Mark dengan ukuran yang lebih besar agar Adisti bisa ikut berbaring dengannya.
Sementara itu, di perjalanan pulang, tiba-tiba Shenina meminta Rainero menghentikan mobilnya di sebuah supermarket.
"Memangnya kau mau membeli apa, Sweety?" tanya Rainero yang sudah membelokkan mobilnya ke pelataran parkir sebuah supermarket.
"Pisang. Stok pisang di kulkas sudah habis. Tadi aku lupa meminta Morena membelinya," tukas Shenina.
Rainero menganggukkan kepalanya, "kenapa repot-repot ke supermarket, bukankah suamimu ini sudah punya pisang. Pisang yang takkan pernah habis dimakan, bisa memuaskan mu juga," jawab Rainero seenaknya.
"Aku mau pisang yang kulitnya kuning, bukan kecoklatan," sahut Shenina yang tahu kemana arti perkataan sang suami.
"Bukankah yang kecoklatan itulah yang terbaik. Kalau yang kekuningan hanya memberi rasa kenyang. Manisnya pun hanya sekedar di mulut. Berbeda dengan pisang kecoklatan, yang manis luar dalam. Bisa membuatmu menjerit nikmat. Sungguh paket komplit, bukan?"
Shenina merasa dongkol, ia lantas menghadiahkan sebuah pukulan ke lengan Rainero membuat laki-laki itu terkekeh.
"Berhenti membahas pisang kecoklatan mu. Yang aku mau itu benar-benar pisang, bukan pisang berurat milikmu," ketus Shenina membuat Rainero tergelak. Mereka lantas segera turun setelah mobil terparkir sempurna di tempatnya.
Namun baru saja kaki keduanya ingin melangkah masuk ke dalam, tiba-tiba ponsel Rainero berdering nyaring. Rainero pun gegas mengangkat setelah tahu siapa sang penelpon.
"Ada apa?" tanya Shenina saat melihat raut wajah Rainero yang menegang.
"Minimarket ayahmu mengalami perampokan," ujar Rainero membuat Shenina terkejut setengah mati.
"Apa? Lalu ... Bagaimana daddy? Rain, antar aku ke sana?" pekik Shenina panik.
Rainero pun mengangguk. Mereka pun gegas kembali ke dalam mobil dan dalam hitungan detik, mobil pun sudah ikut bergabung di jalan raya menuju minimarket yang jaraknya kurang lebih satu jam perjalanan.
Shenina panik bukan main. Bahkan tangan dan kakinya telah dingin karena dilanda kecemasan.
"Rain, bisa lebih cepat lagi?" pinta Shenina dengan tatapan memelas. Rainero pun mengangguk dan mempercepat laju kendaraannya hingga jarak tempuh yang seharusnya makan waktu satu jam jadi hanya tiga puluh menit saja.
Melihat minimarketnya telah dikelilingi mobil kepolisian, membuat Shenina makin panik. Ia khawatir terjadi sesuatu pada ayahnya. Bagaimanapun, Harold tetaplah ayahnya. Meskipun ia belum bisa benar-benar melupakan kesalahan sang ayah, tapi sebagai seorang anak, ada sisi kerinduan akan kasih sayang orang tua. Ia tak ingin terjadi sesuatu yang tak diinginkan pada sang ayah.
"Dad, daddy," pekik Shenina panik sekeluarnya dari dalam mobil.
__ADS_1
"Shen, tenang. Aku yakin, ayahmu tidak apa-apa. Tenanglah," ujar Rainero seraya menahan tangan Shenina.
"Bagaimana aku bisa tenang, Rain. Lihat, kaca-kaca itu semuanya pecah. Aku ... aku ... "
"Tenanglah. Kau tahu siapa orang yang menghubungiku tadi? Mereka adalah orang-orang ku. Mereka pun takkan diam saja bila ada yang mencoba menyakiti ayahmu."
Shenina berusaha untuk tenang, meskipun dadanya tengah berdebar kencang.
Hingga akhirnya ia melihat sesosok pria dengan beberapa memar di wajahnya tengah berdiri di hadapan seorang polisi. Shenina pun segera menyerukan namanya membuat laki-laki itupun segera menoleh.
"Daddy," seru Shenina dengan mata memerah.
"Shenina," seru Harold dengan mata membulat. Ia pun gegas berlari mendekati sang anak yang sedang berjalan cepat ke arahnya. Lalu tanpa aba-aba, Shenina menubrukkan tubuhnya membuat Harold nyaris terhuyung. Beruntung ia masih bisa menahannya hingga tidak terjatuh.
"Daddy ... Huhuhu ... " Shenina menumpahkan tangisnya. Harold mematung. Ini pertama kali Shenina memeluknya setelah bertahun-tahun lamanya.
"She-Shenina," gumam Harold masih bingung. Bahkan tangannya masih menggantung di sisi tubuh Shenina.
"Daddy, Daddy tidak apa-apa kan?"
Shenina merenggangkan sedikit tubuhnya. Memandang lekat wajah sang ayah dan menyentuh lembut wajah Harold yang tampak membiru karena bekas pukulan.
Melihat ekspresi penuh kecemasan di wajah Shenina, membuat mata Harold seketika berkaca-kaca. Setelah sekian lama, ia kini dapat melihat kembali cinta sang putri untuknya.
Harold pun menggeleng dengan embun yang mulai menetes di pipi kiri dan kanannya.
"Daddy, tidak apa-apa. Beruntung orang-orang suamimu segera membantu daddy jadi daddy tidak apa-apa," ucap Harold terbata.
Shenina tersenyum lega meskipun air mata masih mengalir deras di pipinya. Ia lantas kembali memeluk sang ayah. Harold pun m membalas pelukan itu dengan perasaan bahagia yang membuncah. Akhirnya, setelah sekian lama, ia dapat kembali mendekap tubuh sang putri. Harold bersyukur masih diberikan kesempatan untuk memperbaiki hubungannya dengan Shenina, putri yang selama ini ia sia-siakan.
Keduanya lantas menangis bersama. Rainero tersenyum penuh haru. Akhirnya, istrinya bisa mulai berdamai dengan masa lalu. Meskipun kesalahan yang ayahnya lakukan tak mungkin dapat dilupakan begitu saja, tapi setidaknya setelah ini Shenina dapat hidup dengan lebih tenang sebab Shenina telah bisa berdamai dengan masa lalunya yang kelam. Satu persatu orang-orang yang pernah melukai Shenina pun telah menuai akibatnya. Begitu juga Harold telah menyadari dan menyesali kebodohannya selama ini. Rainero hanya bisa berharap, ke depannya ia bisa terus membahagiakan Shenina. Sudah cukup penderitaannya selama ini. Kini saatnya Shenina berbahagia dengan dirinya dan anak-anaknya yang mungkin akan bertambah jumlahnya.
...***...
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...
__ADS_1