Benih Sang Cassanova

Benih Sang Cassanova
BSC 231 (S3 Part 73)


__ADS_3

Semenjak mengetahui kehamilan Roseline, Jevian menjadi suami yang siaga dan protektif. Saat Eve hamil dulu pun ia sebenarnya menjadi suami yang siaga, tapi saat Roseline yang hamil kesiagaannya naik berkali-kali lipat alias siaga 1. Bahkan agar Roseline tidak kepayahan naik turun tangga, Jevian sengaja merenovasi kediamannya dengan memasang lift.


Kini keluarga kecil itu sedang menikmati semburat senja di kebun belakang. Ketiganya memakai piyama bergambar strawberry. Terlihat seperti keluarga bahagia, hangat dan harmonis.


"Jefrey tidak mau cicip jus strawberry Daddy?" tawar Jevian.


Jefrey menggeleng tegas sambil menutup mulut.


"No, masam!" Serunya membuat Jevian dan Roseline terkekeh.


"Tidak asam kok. Manis malah. Kan dikasih susu dan madu, ya kan Mom?" Bila Jevian menjadi penggila buah berwarna merah cerah itu, maka Roseline sebaliknya. Ia tidak tertarik sedikitpun. Untung saja ia tidak alergi melihat segala pernak-pernik berbentuk maupun bergambar strawberry. Bila iya, entah bagaimana cara menyatukan keinginan keduanya. Apa mungkin mereka akan bertengkar?


"Benarkah, Mom?"


"Mommy tidak tahu. Silahkan cicip sendiri."


Jefrey pun dengan perlahan menerima sodoran jus strawberry itu. Tampak sekali Jefrey ragu-ragu menerimanya. Jevian lantas mengambil satu sendok dan menyodorkannya ke bibir Jefrey. Tiba-tiba mata bocah laki-laki itu berbinar. Ia seakan mendapatkan mainan baru. Ia lantas merebut jus strawberry Jevian dan langsung menghabiskannya.


Mata Jevian membulat. Padahal ia baru minum beberapa teguk, tetapi Jefrey sudah menghabiskannya hingga tak bersisa.


"Ah, enak!" seru Jefrey sambil menyeka sisa jus di bibirnya. Jevian mencebik, lalu menoleh ke arah Roseline.


"Mom, liat anak kesayangan Mommy, dia habiskan jus strawberry Daddy. Mommy buatkan yang baru ya?" bujuk Jevian dengan mata berbinar-binar.


Roseline terkekeh, kemudian mengangguk.


"Dasar anak nakal ya, kan daddy suruh cicip, bukan habiskan," omel Jevian yang dibalas gelak tawa oleh Jefrey.


"Habisnya enak. Hahaha ..."

__ADS_1


"Kamu ya!" Jevian lantas meraih tubuh Jefrey ke atas pangkuannya dan menggelitiknya hingga tergelak kencang.


Tiba-tiba saja Roseline yang baru masuk beberapa menit yang lalu kembali lagi.


"Kok cepat sekali, Mom? Jusnya mana? Apa strawberry nya habis?"


Roseline menggeleng, "ada tamu di depan."


"Siapa?"


"Lihat saja sendiri," ujar Roseline acuh tak acuh.


Jevian pun segera beranjak. Sambil menggandeng tangan Jefrey, ia pun berjalan menuju ruang tamu.


"Wow, ada daddy strawberry?" pekik Axton dengan mata terbelalak. Kemudian ia tergelak kencang. Rainero yang tadi menunduk sambil menatap ponsel pun segera menoleh. Matanya pun ikut membulat dan ikut tergelak kencang.


Sebenarnya keduanya sudah merasakan aura yang berbeda saat masuk ke mansion itu. Bagaimana tidak, di luar banyak sekali pot-pot berisi tanaman strawberry. Pun di dalam mansion hampir semua sisi dihiasi dengan pernak-pernik aka strawberry, seperti gorden, sarung bantal sofa, hiasan dinding, lukisan, dan masih banyak lagi.


"Sesama laki-laki yang pernah mengalami sindrom couvade dilarang saling mengejek dan menertawakan," sembur Jevian.


"Memangnya kenapa? Memangnya ada larangan?" cibir Axton dengan bibir yang masih sibuk tertawa.


"Ah, sudahlah. Terserah kalian mau tertawa atau apa yang penting, kita semua satu sama. Sama-sama pernah merasakan nikmatnya morning sickness menggantikan istri masing-masing. Itu artinya kita benar-benar mencintai istri kita, benar kan?"


"Kau benar sekali. Aku justru bangga pernah mengalaminya. Hal itu bisa menjadi bukti kalau cintaku pada istriku bukanlah main-main. Seharusnya kita juga bersyukur bisa mengurangi perasaan tak nyaman istri kita. Istri kita tetap bisa makan dengan nyaman, yah meskipun kita jadinya sedikit kesulitan, tapi bagiku itu tidak masalah," ujar Rainero.


Jevian melirik ke arah Axton, "aku masih ingat bagaimana kau selalu mengenakan barang-barang serba pink. Jadi tak perlu menertawakan aku," kesal Axton karena terus-menerus tertawa. Sepertinya senang sekali melihat sahabatnya berpenampilan aneh.


"Kau tahu, itu terjadi karena dia menertawakan ku. Jadi aku bilang, lihat saja, saat istrimu hamil, kau pasti akan merasakan yang lebih lagi. Tapi dia tidak percaya karena saat itu dia memang masih sendiri. Tapi lihat, apa yang aku katakan akhirnya benar-benar terjadi."

__ADS_1


Kini berganti wajah Axton lah yang masam. Semasam strawberry. Tapi biarpun rasanya asam, tapi tetap nikmat dan menarik.


...***...


Waktu terus berganti, tak terasa kehamilan Roseline sudah menginjak usia 5 bulan. Untuk pertama kalinya Jevian pun mengajak Roseline bertemu dengan sang ibu yang masih ditahan di penjara.


"Jevian," lirih Christina saat melihat sang anak yang datang mengunjunginya. Ingin rasanya memeluk, tapi dinding kaca membatasi pergerakan mereka. Christina hanya bisa memandang dan meraba wajah sang putra dari kaca pembatas tersebut. Mata Jevian tampak berkaca-kaca. Roseline yang melihat itupun segera menggenggam tangan Jevian erat.


Mereka lantas bertukar kabar. Lalu Jevian juga memperkenalkan Roseline kepada sang ibu.


"Mom, perkenalkan ini adalah Roseline, istriku. Dan dia sekarang sedang mengandung anakku," ujar Jevian membuat derai air mata Christina kian membanjir.


"Jadi kau sudah menikah lagi? Syukurlah. Mommy senang akhirnya kau bisa bangkit dari keterpurukan. Halo Nak, mommy tidak bisa banyak berkata-kata, mommy hanya bisa berpesan, tolong jaga putra mommy ya. Dia laki-laki yang baik. Semoga kalian bisa berbahagia selamanya," ucap Christina tulus.


"Mommy tenang saja. Aku pasti akan menjaganya. Terima kasih sudah mendoakan kami. Semoga mommy selalu sehat dan bisa segera bebas dari sini sehingga kita bisa berkumpul bersama," ucap Roseline tak kalah tulus.


Setelah dari penjara, Jevian dan Roseline pun bertolak ke perusahaannya. Namun saat di perjalanan, Roseline mendapatkan telepon dari Miss Sasya. Semenjak Jevian menikah dengan Roseline, guru Jefrey itu tak pernah lagi menghubungi Jevian. Bila ada yang ingin dibicarakan mengenai Jefrey, ia pasti akan menghubungi Roseline. Roseline senang sebab guru Jefrey tersebut ternyata sadar diri. Ia bukan tipe perempuan pengganggu hubungan orang lain.


Roseline pun segera mengangkat panggilan itu. Raut wajah Roseline tiba-tiba berubah setelah mendengar penuturan Miss Sasya. Jevian bisa merasakan apa yang Miss Sasya sampaikan itu bukanlah kabar baik, sebaliknya. Jevian pun segera menepi untuk menanyakan apa yang terjadi.


"Baby, ada apa? Apa sudah terjadi sesuatu pada Jefrey?" tanya Jevian gugup.


Dengan perasaan bergemuruh, Roseline mengangguk.


"Aku tahu berita ini mengejutkan, tapi ingat kau harus tenang. Ayo, kita segera ke rumah sakit untuk mengetahui apa yang sebenarnya sudah terjadi. Sayang, tolong tenangkan dirimu! Mengemudilah dengan baik dan hati-hati. Ingat, ada 3 nyawa yang ada di dalam mobil ini dan ada Jefrey yang sedang menunggu kedatangan kita," ujar Roseline berusaha mengingatkan Jevian agar tenang. Ia yakin, bila tidak diingatkan seperti ini, Jevian pasti akan mengemudi secepatnya, bahkan bisa jadi ugal-ugalan. Tentu ia tak ingin terjadi risiko akibat berkendara dengan kecepatan tinggi.


Jevian menarik nafas dalam-dalam. Sebenarnya ia benar-benar panik dan penasaran dengan apa yang terjadi pada putranya, tapi benar apa yang Roseline katakan, ia harus tenang. Ada 3 nyawa yang menjadi tanggung jawabnya. Dua bersamanya dan satu menunggunya di rumah sakit. Ia harus tenang dan hati-hati. Ia tak mau akibat sikap grasa-grusunya berakibat fatal pada anak dan istrinya.


...***...

__ADS_1


...HAPPY READING 🥰🥰🥰...


__ADS_2