
Berita tentang persiapan pernikahan Rainero dan Shenina tampak hampir setiap jam memenuhi layar kaca. Jelas saja hal itu membuat para wanita yang iri dengan keberuntungan Shenina berang, khususnya ibu Theo, Ambar, dan Jessica.
"Sialan. Aku kira yang akan menikah itu Shenina yang lain, taunya perempuan sialan itu. Sebenarnya apa sih yang mereka lihat dari perempuan itu. Pasti dia yang menggoda tuan muda Sanches itu. Mana mungkin laki-laki setampan, sekaya, dan sesempurna tuan muda Sanches bisa tergila-gila dengan perempuan seperti dia kalau bukan karena dia yang pandai menggodanya," gerutu ibu Theo dengan wajah masamnya.
Rea, istri Theo yang menemani ibu mertuanya menonton pun menyela, "sepertinya nona Shenina perempuan baik-baik, Mom. Justru aku melihat, tuan muda Sanches lah yang tergila-gila dengan nona Shenina. Mana mungkin tuan muda Sanches dan ... Theo bisa begitu mencintainya kalau bukan karena dia wanita yang baik. Keluarga Sanches pun pasti akan menolaknya kalau tau nona Shenina bukan perempuan baik-baik," Rea mengeluarkan unek-uneknya. Ia jadi teringat pertemuannya pada Shenina 2 hari yang lalu.
Flashback on
"Heh, jalaang, ku kira kau sudah mati bunuh diri setelah gagal menikah dengan putraku, tapi ternyata kau masih hidup. Hebat juga kau," sembur ibu Theo pada Shenina yang sedang menyantap avocado float miliknya.
Shenina tersentak dan mengalihkan pandangannya pada ibu Theo yang telah berdiri sambil berkacak pinggang.
"Rea, kau mau tau siapa perempuan murahan ini? Dia adalah mantan kekasih Theo. Kau tahu, dia ini wanita yang benar-benar murahan. Pengkhianat. Mommy, Daddy, dan Theo rela datang jauh-jauh untuk melamarnya, dan kau tahu apa yang terjadi? Di hari itu juga dirinya ketahuan sedang mengandung anak laki-laki lain, benar-benar jalaang. Mommy sudah mendapatkan firasat kalau dia perempuan binal. Untung saja Theo langsung mengambil keputusan meninggalkan jalaang ini, kalau tidak, huh mana sudi Mommy membiarkan Theo mengurus anak tak jelas itu," tunjuknya ke arah kandungan Shenina.
"Mom," Rea memegang tangan Ibu Theo, berharap ibu Theo menghentikan ucapannya itu. Apalagi karena perbuatan sang ibu mertua, banyak pasang mata beralih padanya.
"Jangan hentikan, Mommy, Rea. Dia ini pantas mendapatkan hinaan seperti ini," sergah ibu Theo yang masih belum puas ingin menghina Shenina. "Heh, jalaang, kau lihat perempuan cantik di sampingku ini, dia adalah Rea, istri Theo. Dia 180° lebih layak jadi pendamping Theo dibandingkan jalaang sepertimu. Kau itu perempuan murahan, mana pantas mendapatkan laki-laki seperti putraku." Ibu Theo terus menghina Shenina.
Shenina merasa malu dengan ucapan ibu Theo. Ia seakan disiram dengan air kotoran, membuatnya benar-benar malu.
"Sudah?" tanya Shenina tenang. Ia tak ingin bersikap bar-bar dengan marah-marah. Apalagi ia akan segera menjadi anggota keluarga Sanches dan ia tidak ingin mempermalukan keluarga Sanches.
Mendengar pertanyaan yang begitu tenang dari bibir Shenina benar-benar membuat ibu Theo berang. Berbanding terbalik dengan Rea yang justru menatapnya kagum. Apalagi wajah Shenina ternyata lebih cantik daripada di foto. Wajar saja kalau hingga sekarang Theo sukar untuk melupakannya.
Ya, Rea mengenal Shenina. Bukan mengenal secara langsung, tapi wajah Shenina sangat familiar di matanya. Sebab hampir di setiap sudut kamar Theo dipenuhi oleh foto-foto Shenina, baik foto berdua maupun foto yang sepertinya diambil Theo secara diam-diam. Hal itu bisa menunjukkan betapa Theo sebenarnya mencintai Shenina.
Ibu Theo memang pernah menceritakan tentang Shenina, tapi ia belum mengetahui dengan jelas apakah Shenina memang mengkhianati Theo atau ada hal lain yang terjadi.
__ADS_1
"Dasar jalaang murahan!" Ibu Theo mengangkat tangannya hendak menampar Shenina, tetapi sebuah tangan lebih dahulu menghentikannya.
"Jangan coba-coba menyentuh Shenina meskipun seujung kukumu kalau kau tak mau kehilangan tanganmu ini untuk selamanya," desis Rainero yang telah berdiri di samping ibu Theo sambil mencengkram tangannya. Kemudian Rainero menghempas kasar tangan ibu Theo.
Jelas saja ibu Theo dan Rea terperangah, sedangkan Shenina justru bernafas dengan lega setelah melihat kedatangan Rainero. Artinya ia tak perlu bersusah payah untuk menghadapi ibu Theo.
"Kau ... siapa?" desis ibu Theo yang tidak mengenali Rainero. Setelah dilihat-lihat lagi, matanya terbelalak. "Bukankah Anda tuan muda keluarga Sanches? Maaf tuan, tapi Anda tak perlu membela perempuan murahan ini. Dia ini adalah ... "
"Dia adalah calon istriku dan tarik kata-katamu itu! Dia bukan perempuan murahan. Dia terlalu mahal untuk pria picik seperti putramu itu!" ucap Rainero dengan rahang mengeras dan mata menyorot tajam.
"A-apa? Calon istri? Bagaimana mungkin?" cicit ibu Theo tak percaya.
Rea terperangah saat disadarinya nama calon pengantin wanita keluarga Sanches adalah Shenina yang artinya mantan kekasih suaminya inilah yang akan menjadi istri dari Rainero. Di pemberitaan, memang tidak disebarkan foto-foto Shenina. Hanya namanya saja yang disebutkan. Hal ini dilakukan untuk menjaga privasi Shenina. Apalagi ia saat ini sedang hamil. Pasti bila orang-orang khususnya media akan gencar mengejarnya kesana kemari membuat kegiatan mempersiapkan pernikahan mereka akan terganggu. Namun bukan berarti Rainero akan menutupi kebersamaan mereka.
"Tentu saja mungkin. Dia berharga. Dia terlalu baik untuk masuk menjadi anggota keluarga perempuan picik dan tidak berhati nurani seperti Anda. Anda hanya bisa menilai dari kurangnya, bukan lebihnya. Anda tidak layak jadi ibu mertua dari wanita sebaik Shenina. Padahal Anda seorang wanita sekaligus seorang ibu, tapi Anda malah mencaci maki seorang wanita dan ingin mempermalukannya. Padahal Anda juga dapat melihat Shenina sedang hamil, tapi dengan tak ada hati nurani Anda ingin memukulnya. Cepat pergi dari hadapanku sekarang sebelum aku menghancurkanmu juga putra kesayanganmu itu!" desis Rainero dengan jari telunjuk mengarah ke wajah ibu Theo.
Flashback off
Mendengar pembelaan sang menantu pada Shenina membuat ibu Theo mendengus. Baru saja ia hendak mendebat pembelaan sang menantu pada Shenina, tapi kedatangan Theo justru membuat atensi keduanya teralihkan.
"Theo, kenapa kau sudah pulang secepat ini? Apa kau sakit?" tanya ibu Theo khawatir, tapi Theo tidak menggubrisnya sama sekali. Ia justru segera masuk ke dalam kamarnya di apartemen itu. "Rea, cepat susul suamimu. Jangan-jangan Theo benar-benar sakit," titahnya pada Rea.
Dengan ragu, Rea menuruti perintah ibu mertuanya. Rea mengetuk pintu kamar Theo, tapi Theo tidak merespon. Bukan tanpa alasan ia mengetuk pintu sebab selama menikah memang mereka pisah kamar tanpa sepengetahuan orang tua mereka.
Dengan hati-hati, Rea masuk ke dalam kamar Theo dan didapatinya Theo sedang tergugu dengan tatapan kosong ke arah foto Shenina. Hati istri mana yang tak sakit saat sang suami justru masih terkekang dalam masa lalunya.
"Theo," panggil Rea sambil menyentuh pundak Theo yang bergetar. "Apa yang terjadi? Apa kau ... sakit?" tanya Rea pelan.
__ADS_1
"Pergi!" titah Theo pelan. Tapi Rea masih bergeming di tempatnya.
"Aku bilang pergi ya pergi! Apa kau tuli, hah!" sentak Theo membuat Rea terlonjak.
"Ba-baiklah," cicit Rea yang segera pergi dari kamar itu dengan membawa hati yang terluka.
Ibu Theo yang sedari tadi bersembunyi di balik pintu pun segera beranjak dengan membawa gemuruh di dadanya, "apakah langkah yang ku ambil ini salah?"
Ada rasa sesal dan sesak di hatinya. Ia pikir menikahkan Theo dengan wanita pilihannya akan berdampak baik bagi putranya, tapi yang terjadi justru sebaliknya. Bukan hanya putranya yang kini tenggelam dalam kesedihan, tapi juga menantunya yang ia yakini terluka dalam karena sikap Theo yang belum mampu menerima keberadaannya.
Sementara itu, di kediaman Harold tampak Jessica sedang membujuk Harold agar mau datang ke pesta pernikahan Shenina. Kalau ia tidak bisa mendapatkan Rainero, setidaknya ia bisa memanfaatkan nama keduanya untuk menaikkan popularitas dan menggaet para laki-laki kaya yang ada di sekitar Rainero.
"Ayolah Dad, mau datang ke pesta pernikahan Shenina?" bujuk Jessica.
"Tidak. Daddy takkan pernah mendatangi pesta pernikahannya. Bagi Daddy, dia telah mati," tolak Harold.
"Dad, bagaimanapun Shenina tetaplah putri Daddy. Di dalam darahnya mengalir darah Daddy. Apa kata orang kalau tahu Daddy sebagai seorang ayah justru tidak mendatangi pesta pernikahannya? Yang ada justru nama baik Daddy akan buruk. Daddy akan dianggap ayah yang tidak bertanggung jawab oleh orang-orang," bujuk Jessica lagi.
"Apa yang Jessi katakan benar, suamiku. Apalagi orang-orang mengetahui kalau Jessica dan Shenina bersaudara, apa yang akan mereka katakan kalau tahu Jessi tidak ada di sana? Aku tidak mau nama baik Jessi dianggap buruk oleh orang-orang," timpal Ambar ikut membujuk Harold.
Apalagi ini merupakan kesempatannya untuk memamerkan kalau ia telah menjadi anggota keluarga Sanches. Keluarga konglomerat, keluarga ternama, keluarga yang kaya raya yang hartanya takkan habis tujuh turunan. Tak peduli hubungannya dengan Shenina tidak baik, kalau mereka sudah berada di sana, mana mungkin keluarga Sanches bisa menolak keberadaan mereka, itu pikirnya. Semua orang pasti akan kagum dan memuji-mujinya karena bisa masuk ke dalam keluarga Sanches. Meskipun bukan Jessica yang menjadi istri Rainero, tapi banyak orang yang mengenalnya tahu kalau Shenina juga merupakan putrinya. Meskipun hanya seorang putri tiri. Itu yang ada dipikirannya saat ini. (halu.com)
Harold menghela nafas panjang. Ia tampak berpikir. Ambar dan Jessica pun terus merengek membujuk Harold agar mau mewujudkan keinginan mereka. Hingga dengan terpaksa, Harold pun setuju. Ambar dan Jessica tersenyum kegirangan. Maka sore itu juga Ambar dan Jessica mendatangi sebuah butik yang cukup ternama untuk membeli pakaian terbaik menurut budget mereka. Tentu mereka takkan menyiakan kesempatan untuk tampil yang terbaik agar mereka bisa mendapatkan apa yang mereka inginkan.
...***...
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...
__ADS_1