
"Rain, aku dapat kabar dari kantor polisi kalau nyonya Ambar masuk rumah sakit karena menenggak cairan pembersih lantai. Sepertinya ia depresi setelah mendengar kabar kecelakaan Jessica sehingga ia ingin bunuh diri," ujar Axton melaporkan informasi yang didapatkannya dari temannya yang ada di kantor polisi.
Rainero yang sedang memeriksa laporan di meja kerjanya pun mendongak, "tapi dia tidak mati kan?" tanya Rainero yang sudah bertopang dagu dengan kedua telapak tangan yang disatukan di atas meja.
Axton mengangguk.
"Bagus. Apa yang ia alami belum setimpal dengan apa yang Shenina alami selama ini. Dia tidak boleh mati secepat itu. Dia harus merasakan penderitaan dan mati secara perlahan agar dia mengingat apa saja yang telah ia lakukan pada Shenina selama ini," ucap Rainero kejam.
Padahal bukan dia yang merasakan penderitaan itu, tapi mengetahui apa saja penderitaan yang Shenina alami selama ini karena ulah Ambar membuat Rainero begitu marah hingga meradang. Bisa dikata ia dendam pada Ambar. Ia tidak terima perlakuan buruk Ambar pada Shenina selama ini. Karena ulah Ambar, Shenina kehilangan ibunya. Karena ulah Ambar, Shenina diabaikan ayah kandungnya sendiri. Dan karena ulah Ambar pula, Shenina selalu mendapatkan kesedihan dan penderitaan. Rainero murka. Bila dengan Harold ia masih bisa menoleransi meskipun ia pun masih marah, tapi bila dengan Ambar, Rainero tidak bisa menoleransi sedikitpun kesalahannya. Kesalahan Ambar begitu fatal dan tak termaafkan sama sekali.
Axton mengangguk paham. Ia pun ikut marah dengan perbuatan Ambar selama ini. Tidak disangka, seorang wanita sekaligus seorang ibu bisa berbuat sejahat itu kepada wanita lainnya.
Terdengar suara pintu diketuk lalu dibuka dari luar. Shenina pun masuk dengan tersenyum seraya membawa nampan berisi dua gelas kopi. Rainero terkejut melihatnya. Ia pun gegas beranjak mendekati Shenina dan mengambil alih nampan di tangannya.
"Sweety, kenapa repot-repot kemari membawakan ku kopi? Kau kan bisa meminta pelayanan membuatkan dan mengantarkannya. Ingat, kau belum benar-benar pulih. Lebih baik kau memperbanyak istirahat. Aku tidak ingin kau kelelahan apalagi sampai luka bekas operasimu kembali terbuka," ujar Rainero panjang lebar sarat akan perhatian.
Shenina tersenyum lebar, "aku hanya membuatkan kopi, tidak berat ataupun repot sama sekali. Tak perlu berlebihan, suamiku. Aku juga bosan kalau terus berbaring di tempat tidur. Apalagi menurut yang aku baca, bekas operasi harus sering dibawa bergerak. Manfaatnya untuk membantu pemulihan, mengencangkan otot perut, dan mengurangi risiko cedera. Asalkan tidak berlebihan dan berat, tidak masalah," papar Shenina agar suaminya itu tidak khawatir berlebih. Lagipula terlalu banyak berbaring bukannya enak, justru sebaliknya membuat tubuh lelah. Apalagi untuknya yang sudah terbiasa banyak bergerak kesana dan kemari melakukan sesuatu.
Rainero menghela nafas panjang, "ya sudah, tapi ingat, kau jangan berlebihan. Jangan melakukan sesuatu yang berat-berat. Kesehatanmu yang lebih utama. Kalau kau merasa tak nyaman, segera beri tahu aku," ucap Rainero setelah duduk di samping Shenina.
Axton mendengkus, ia sudah seperti manekin yang tak dianggap di ruangan itu.
"Ah, tiba-tiba aku merindukan Gladys. Kalau begitu, aku pergi dulu," ujar Axton membuat kedua pasutri itu menoleh dan terkekeh.
__ADS_1
"Axton, nanti sore temani aku ke rumah sakit," ujar Rainero. Axton yang paham apa maksud Rainero pun mengangguk sebelum benar-benar pergi dari ruang kerja Rainero di mansionnya.
"Rumah sakit? Memangnya siapa yang masuk rumah sakit?" tanya Shenina penasaran.
Rainero pun menundukkan pandangannya sehingga bersitatap dengan Shenina. Tak lupa ia memberikan kecupan lembut di dahi Shenina, kemudian mendekapnya.
"Ambar, dia yang sedang dirawat di rumah sakit," ujar Rainero membuat Shenina merenggangkan pelukannya.
"Kenapa dia bisa masuk rumah sakit? Apa telah terjadi sesuatu padanya?"
Rainero pun mengangguk kemudian menceritakan apa yang terjadi padanya. Shenina tidak merasa iba sedikitpun. Termasuk saat Rainero menceritakan tentang apa yang Jessica alami. Terlebih setelah mengetahui niat busuk Jessica sebelumnya yang hendak mencelakainya.
"Kau mau ikut melihatnya?" tawar Rainero.
"Tentu saja. Siapa tahu dia sudah mau mati dan meminta maaf padamu. Kalau itu benar terjadi, apa kau mau memaafkannya?"
Shenina mengedikkan bahu, "entahlah. Tapi apakah mungkin seorang Ambar akan meminta maaf padaku? Entah mengapa aku merasa sangsi."
Rainero terkekeh, "tapi siapa tahu memang ia ingin meminta maaf. Jadi kau mau ikut?"
Shenina berpikir sejenak, "sepertinya boleh juga. Aku juga sudah bosan berada di rumah. Tapi ... Bagaimana dengan si kembar?"
"Kau tenang saja, ada Mommy. Bukankah kata Mommy dia akan kemari sebentar lagi?"
__ADS_1
Shenina mengangguk. Mereka pun sepakat sore nanti akan menjenguk Ambar di rumah sakit.
Sementara itu, tampak Reeves melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah sakit ditemani asisten pribadinya. Secepat diam-diam ia telah melakukan test DNA dengan Rose. Ia ingin membuktikan kalau Rose bukanlah anaknya. Agar ia tidak ragu ingin memberikan hukuman pada kedua orang yang hampir saja melenyapkan nyawa istri dan menantunya serta Gladys.
Dengan langkah panjang dan sorot mata dingin, Reeves pun masuk ke dalam ruangan dokter yang tadi menghubunginya.
"Selamat siang tuan Reeves. Silahkan duduk," ujar dokter yang melakukan pengujian sampel test DNA pada Reeves dan Rose.
"Bagaimana hasilnya?" tanya Reeves tanpa basa-basi lagi. Sepertinya ia sudah tak sabar ingin mengetahui hasil test DNA tersebut.
Dokter itupun mengangguk. Kemudian ia mengambil sesuatu dari dalam laci mejanya. Sebuah amplop berlogo rumah sakit dimana ia bekerja.
"Ini hasilnya. Semoga hasilnya sesuai harapan tuan Reeves," ujar dokter itu serayah menyerahkan amplop berwarna putih tersebut kepada Reeves.
Reeves pun mengangguk sambil meraih amplop putih tersebut. Dengan jantung yang berdegup kencang, pelan-pelan Reeves membuka amplop tersebut. Dikeluarkannya selembar kertas putih dari dalamnya dan mulai membacanya dengan hati-hati.
Senyum Reeves seketika merekah saat mengetahui kalau hasilnya sesuai dugaannya. Dari surat tersebut tertulis, 6 dari 21 alel loci marka STR dari terduga ayah Reeves Sanches tidak cocok dengan alel paternal dari anak Rose. Jelas saja hal ini merupakan kabar baik bagi Reeves. Ia pun segera berdiri dan mengucapkan terima kasih. Setelahnya, dengan langkah pasti segera menuju mobilnya. Ia akan segera melemparkan hasil test itu tepat ke wajah Rose yang sedang mendekam di penjara agar ia sadar kalau ia telah ditipu mentah-mentah oleh pamannya sendiri.
Reeves pun sebenarnya penasaran, apa motif dan latar belakang Hose menipu Rose seperti itu. Apakah Hose memiliki dendam pribadi dengannya? Tapi kenapa? Apa alasannya? Reeves pun sangat penasaran dibuatnya.
Mobil pun melaju dengan kencang. Tujuannya tentu saja ke penjara dimana Rose ditahan.
...***...
__ADS_1
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...