
"Jef tidak punya mommy," teriak Jefrey dengan dada naik turun.
"Jef, apa-apaan kau? Kau tidak mengakui mommy?" sentak Eve membuat Roseline geram dan menghardik balik.
"Kalau Anda memang mommy Jef, seharusnya Anda instrospeksi diri, kenapa anak sepolos Jefrey bisa menolak kehadiran Anda, bukannya justru membentaknya."
"Tutup mulutmu, sialan! Tak perlu ikut campur urusanku dengan anakku."
Roseline ingin membalas, tapi ia tahan sebab ia harus membawa Jefrey kembali ke kamarnya terlebih dahulu.
"Heh, berhenti, brengsekkk!" bentak Eve sambil mencengkeram pundak Roseline, namun dengan cepat, Roseline mencengkeram balik tangan itu dan menghempaskannya sehingga Eve terduduk di lantai.
"Bajingaan! Apa-apaan kau, hah? Kau tahu siapa aku?" raung Eve marah. Lalu ia memperhatikan seragam Roseline kemudian ia tertawa mengejek, "kau hanya petugas kebersihan di rumah sakit ini, tapi mau begitu sombong. Kau tahu, aku putri salah satu pengusaha besar di sini. Bahkan ayahku merupakan salah satu donatur rumah sakit ini. Bisa kau bayangkan apa yang bisa aku lakukan pada wanita sialan sepertimu? DIPECAT. Sekali aku angkat bicara, kau akan dipecat, apa kau tahu itu?"
Roseline yang sudah berada di depan ruangan Jefrey pun meminta salah seorang perawat yang kemarin membantunya masuk ke ruangan Jefrey untuk membawa Jefrey ke dalam ruangan tersebut.
Melihat hal tersebut, Eve memekik kesal. Setelah sang perawat membawa Jefrey masuk, Roseline pun segera membalikkan badannya menatap Eve dengan nyalang.
"Sepertinya kau memang mau dipecat dari sini. Kau tahu, tuan Tobey adalah ayahku. Dengan kuasanya, dia akan membuatmu tidak diterima bekerja dimana pun, kau dengar!"
Roseline berkacak pinggang kemudian tersenyum mencibir, "kau pikir aku takut? Whatever. Aku tak peduli. Kau bukan Tuhan yang bisa menentukan nasibku ke depannya jadi kenapa aku harus takut," jawab Roseline acuh tak acuh.
"Kau ... Pecundang miskin tak tahu malu. Aku yakin, kau mendekati Jefrey karena ingin mendapatkan suamiku, benarkan? Jangan harap. Kau pikir kau layak untuk Jevian, hah?"
"Sudah?" tanya Roseline tersenyum remeh.
"Nyalimu ternyata begitu besar. Rasakan ini!"
Eve lantas melayangkan tangannya untuk menampar Roseline, tapi dengan cepat Eve menangkap tangannya dan mencengkeramnya.
"Aaargh ... Apa-apaan kau, jalaang! Lepaskan tanganku, sialan! Atau aku akan membuatmu benar-benar menderita. Kau pikir kau siapa bisa berbuat seperti ini padaku, hah! Aaargh ... "
Bukannya melepaskan, Roseline justru mengeratkan cengkramannya membuat Eve menjerit kesakitan.
"Bajingaan. Lepaskan aku brengsekkk!" teriak Eve yang sudah tak tahan ternyata cengkraman Roseline benar-benar kuat dan menyakitkan.
"Lepas?"
__ADS_1
"Ada apa ini?" tanya seseorang tiba-tiba.
"Jevian," lirih Eve dengan mata berkaca-kaca. "Lihat perempuan ini, dia mencengkeram tanganku begitu kuat. Tolong aku! Ini sangat menyakitkan," lirih Eve lagi.
Mendengar suara Ev yang dibuat-buat benar-benar membuat Roseline muak. Lalu ia segera melepaskan cengkeramannya dengan sedikit kasar membuat Eve reflek mundur ke belakang.
"Huhuhu ... Tanganku. Jevian, lihat tanganku yang mulus jadi merah bahkan nyaris membiru karena ulah perempuan sialan itu. Padahal aku hanya ingin bertemu anakku, tapi dia justru memperlakukanku seperti ini. Jevian, kau tahu, perempuan ini sedang mencoba mencari simpati Jefrey untuk mendapatkan mu. Kenapa kau justru meninggalkan Jefrey dengan perempuan bar-bar seperti ini. Apa kau tak khawatir kalau ia berniat buruk pada putra kita?" lirihnya yang sudah tersedu-sedu.
Roseline yang merasa tak urusan lagi pun segera menyela, "tuan, karena saya sudah tak punya urusan lagi, saya permisi. Oh ya, segera temui putra Anda. Sepertinya ia begitu shock setelah melihat perempuan ini," ujar Roseline yang sudah menatap datar Eve.
"Heh, pelacur, tunggu saja, aku akan membuat perhitungan padamu. Aku pastikan, kau akan mendapatkan pelajaran setelah menyakitiku seperti ini," ancam Eve.
Tapi Roseline justru tersenyum remeh, "lakukan saja apa maumu. Aku tidak takut."
Setelah mengucapkan itu, Eve iyn segera berlalu sambil meraih alat-alat kebersihan yang sempat ia letakkan begitu saja saat mendorong kursi roda Jefrey tadi.
"Jevian, kenapa kau diam saja, hah? Aku itu masih istrimu. Seharusnya kau membelaku saat ada yang menyakitiku. Lihat tanganku, ini sangat menyakitkan," ujar Eve bersungut-sungut.
"Karena aku yakin Seline tidak bersalah. Awas saja kalau terjadi sesuatu pada anakku karena ulahmu. Aku takkan pernah memaafkan mu," ancam Jevian membuat dada Eve naik turun karena kesal.
"Kondisinya barusan kurang baik. Sepertinya dia shock setelah bertemu perempuan yang mengaku sebagai ibunya di luar. Untung saja ada Roseline yang segera membawa putra Anda kemari. Dia barusan meminum obatnya jadi sekarang sudah mengantuk," papar sang perawat.
Jevian mengangguk. Kemudian mengucapkan terima kasih. Perawat itupun segera keluar setelah memastikan semuanya baik-baik saja.
"Dad," panggil Jefrey lirih dengan mata yang tampak sudah begitu berat.
"Ya, boy. Oh ya, ini balon yang Jefrey mau."
Jevian mengangkat tangan kirinya yang memegang tiga buah balon beraneka warna. Tapi Jefrey justru tidak memperhatikannya.
"Dad, Jef tidak mau bertemu dia lagi. Jef tidak mau," lirihnya pelan dengan suara nyaris berbisik sebab perlahan mata Jefrey terpejam akibat efek obat yang diminumnya.
"Kau tenang saja, Boy, daddy takkan membiarkan dia menemui mu lagi," ucap Jevian dengan tangan mengepal.
Padahal sebelumnya Jefrey sangat antusias bila ingin bertemu sang ibu, tapi semenjak hari dimana ia ditinggalkan begitu saja di restoran hotel, sepertinya membuat Jefrey trauma dengan ibunya sendiri. Ada luka tak kasat mata menganga lebar di hatinya. Membuat rasa kasih itu seketika hilang dan membeku.
Hati Jevian remuk redam. Mengapa nasib sang anak tak jauh berbeda dengan dirinya. Bila dulu dirinya diperlakukan ibunya semena-mena bagai boneka dan apapun yang dikatakannya harus ia patuhi dan laksanakan, maka putranya justru awalnya tidak diakui dan dipedulikan sama sekali. Dan setelah ia menyatakan ingin berpisah, tiba-tiba saja ibunya ingin mendekatinya. Di saat luka hati putranya terlanjur berdarah dan bernanah sehingga menimbulkan trauma mendalam, ia justru datang dan mendeklarasikan dirinya sebagai seorang ibu. Sungguh menggelikan.
__ADS_1
Entah apa alasannya. Namun satu yang pasti, Jevian yakin, itu bukan karena Eve menyayangi putranya. Sebaliknya, ia memiliki motif tersendiri yang belum bisa ia tebak.
Jevian menghela nafasnya kasar. Ia mengikat balon yang dibelinya tadi di pinggir ranjang. Setelahnya, ia duduk di salah satu sofa di ruangan itu.
Jevian membuka ponselnya yang sejak tadi bergetar. Karena terburu-buru membelikan Jefrey balon, ia mengabaikan panggilan itu.
Dilihatnya, nama asisten pribadinya lah yang terpampang di sana.
"Halo."
"Tuan, Anda kemana saja? Saya sudah sejak tadi menghubungi Anda."
"Memangnya apa yang terjadi?"
"Tuan, proyek di selatan tiba-tiba dihentikan."
"Hah, memangnya apa yang terjadi?"
"Itu ... Tiba-tiba pihak perusahaan Zeft membatalkan kerja samanya dengan perusahaan kita."
"Apa? Bagaimana itu bisa terjadi?" tanya Jevian tak habis pikir.
"Itu ... Menurut informasi, tuan Tobey lah yang meminta mereka membatalkan kerja sama ini," ujar asisten pribadi Jevian terbata.
Rahang Jevian seketika mengeras dan kedua tangannya mengepal.
"Sepertinya ia sudah mulai bergerak," gumamnya menyadari kalau Tobey sudah mulai menjalankan ancamannya demi dirinya membatalkan rencana perceraiannya dengan Eve.
"Apa tuan?"
"Tidak. Ya, sudah. Lanjutkan pekerjaanmu. Nanti kirimkan berkas kerja sama pihak Zeft lewat email. Kita akan menuntut mereka untuk ganti rugi. Bagaimanapun perusahaan kita sudah mengeluarkan banyak uang untuk proyek ini. Mereka tidak bisa berlaku semena-mena seperti ini."
"Baik, tuan."
...***...
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...
__ADS_1