
Beberapa saat sebelumnya, setelah Rhea dan Ael keluar, tiba-tiba tubuh Theo mengalami kejang-kejang. Suster yang ditugaskan menjaga Theo seketika panik. Ia pun segera menekan tombol darurat yang untungnya langsung direspon dengan datangnya dokter dan tim medis lainnya.
Suster yang bertugas menjaga Theo mencoba menghubungi Rhea, tapi sayang ternyata ponsel Rhea tertinggal di atas meja nakas samping brankar. Alhasil, tim medis bergerak tanpa menghubungi Rhea lagi.
Jantung Theo sempat melemah, bahkan layar untuk memonitor pasien di samping brankar sudah menunjukkan garis tak beraturan dan nyaris lurus.
Dokter pun segera meminta timnya menyiapkan mesin defibrilator dan meletakkannya di atas dada Theo. Dokter dan timnya terus berjuang untuk mengembalikan detak jantung Theo agar kembali normal.
Setelah perjuangan selama hampir 25 menit, akhirnya detak jantung Theo kembali normal. Bahkan bukan hanya itu, mata Theo pun terbuka lebar membuat dokter dan timnya berseru bahagia. Mereka pun langsung mengecek fungsi organ vital Theo, tapi laki-laki itu justru langsung menghentikannya.
"Bisa nanti saja melanjutkan pemeriksaannya?" ucap Theo pelan.
Tenaganya masih belum pulih. Bahkan suaranya terdengar parau.
"Tapi tuan ... "
Belum sempat dokter tersebut melanjutkan kata-katanya, Theo lebih dulu menghentikannya dengan mengangkat telapak tangannya.
"Ada yang harus aku lakukan sekarang. Bisa tolong sediakan saya kursi roda?"
Dokter dan asistennya pun lantas saling pandang.
"Anda mau kemana? Kondisi Anda belum memungkinkan. Bahkan kami belum memeriksa organ vital Anda sudah berfungsi baik semua atau belum. Jadi maaf, Anda belum diizinkan pergi keluar rumah sakit ini," tolak sang dokter. Ia pikir Theo hendak pergi keluar dari rumah sakit tersebut.
"Tidak, saya tidak ingin pergi keluar dari rumah sakit ini. Saya hanya ingin pergi ke dokter obgyn rumah sakit ini. Istri saya sedang melakukan pemeriksaan kehamilannya dan saya ... " Theo terdiam.
Tidak mungkin kan ia cerita kalau ia mendengar ada laki-laki yang ingin merebut tempatnya sebagai suami Rhea dan calon ayah dari anaknya. Bisa-bisa ia dibilang terlalu posesif atau berhalusinasi sebab hanya dia sendiri yang mendengar celotehan orang tersebut dari alam bawah sadarnya. Ia tadi sempat berpikir kalau itu hanyalah halusinasi, tapi ia dapat mendengar jelas kalimat yang laki-laki itu lontarkan. Dan Theo pun mengenal jelas pemilik dari suara tersebut.
__ADS_1
Suster yang ditugaskan menjaga Theo pun maju mendekat. Ia pun terkejut kalau pasiennya yang sedang koma bisa mengetahui perihal pemeriksaan kehamilan sang istri yang akan dilakukan hari itu dan di jam itu juga.
"Dok, istri tuan Theo memang saat ini sedang memeriksakan kandungannya," ujar sang suster memberitahukan pada dokter yang masih menatap Theo bingung.
Matanya sontak terbelalak, ia lantas segera memberikan izin dengan syarat Theo tidak melakukan apapun yang dapat membahayakan kesehatan.
Lalu Theo pun segera dibantu suster dan asisten dokter duduk di kursi roda. Lalu suster itu pula yang mendorongnya menuju ruang obgyn dimana Rhea tengah melakukan pemeriksaan.
...***...
Brakkk ...
"Aku minta kau segera keluar dari sini sebab hanya aku, suami dari Rhea, ayah dari calon bayi yang dikandungnya yang berhak menemani Rhea baik saat memeriksakan kandungannya maupun menemani saat persalinannya," tegas Theo yang tidak suka melihat keberadaan Ael menemani Rhea memeriksakan kandungannya.
Mata Ael dan Rhea sontak terbelalak. Bahkan Rhea sampai mengucek-ngucek kedua matanya untuk memastikan apa yang ia lihat benar-benar suaminya.
"Theo ... " ucap Rhea dengan mata berbinar-binar bahagia. Ia bahkan segera mendudukkan tubuhnya untuk memastikan lagi kalau suaminya lah yang sedang duduk di kursi roda tersebut.
"Kenapa masih diam di situ? Apa kau tuli tidak bisa mendengar perkataanku?" ketusnya sedikit lemah. Namun Theo tetap berusaha menunjukkan wajah tegasnya agar tidak terlihat lemah di hadapan Ael.
Alis Ael terangkat ke atas. Kemudian sebuah smirk terbit di sudut bibirnya, "akhirnya kau bangun, hm? Apa karena ... "
"Tutup mulutmu dan segera keluar dari sini sebelum aku menghajar wajahmu itu!" desis Theo yang tak mau Rhea sampai mendengar kelanjutan kata-kata Ael.
Bukannya marah, Ael justru terkekeh, "ternyata kau bisa posesif juga, hm? Tapi aku suka. Justru itu bagus. Untung saja kau sadar di waktu yang tepat, kalau tidak mungkin ... " Ael mendekat ke sisi telinga Theo dan berbisik, " ... aku akan benar-benar mengambil Rhea dan calon bayinya dari tanganmu."
Wajah tampan Theo seketika masam. Ia menatap kesal pada Ael yang ditanggapi laki-laki itu dengan kekehan.
__ADS_1
"Rhea, suamimu sudah datang. Tugasku sudah selesai. Kalau begitu, aku pamit ya! Kalau ada apa-apa atau butuh sesuatu, silahkan hubungi aku. Kau tahu kan, aku akan selalu ada untukmu, kapanpun itu," ujarnya sambil mengerlingkan sebelah mata.
Rhea yang biasa mendapatkan perlakuan itu hanya mengangguk. Ia masih duduk di ranjang, menunggu waktunya melakukan pemeriksaan USG.
Sebelum keluar, Ael menepuk pundak Theo sambil berkata, "aku titip Rhea padamu. Tolong jaga dan sayangi dia. Jangan pernah sakiti dia lagi. Kalau sampai kau menyakitinya, aku bersumpah akan membawanya pergi yang jauh. Sejauh-jauhnya sampai kau tidak bisa menemukan keberadaannya sama sekali. Ah, bukan hanya Rhea, tapi juga calon anaknya. Camkan itu!" ucap Ael pelan, namun dari penuh penekanan. Dari sorot mata Ael, Theo bisa melihat kesungguhannya. Theo bisa memastikan kalau Ael tidak main-main dengan kata-katanya.
"Kau tak perlu khawatir. Rhea dan calon anak kami adalah tanggung jawabku. Aku akan menjaga mereka dengan segenap jiwa dan ragaku. Aku memang tidak akan berjanji, namun akan aku buktikan dengan kesungguhanku," ucapnya penuh keyakinan.
Ael tersenyum lebar, kemudian ia pun segera berlalu dari sana dengan perasaan yang lebih tenang. Entah mengapa, ia bisa merasakan kesungguhan kata-kata Theo. Ia bisa melihat kalau Theo sebenarnya sudah memiliki rasa yang sama pada Rhea. Meskipun Ael akui ia masih mencintai Rhea, tapi ia bukanlah seseorang yang senang memaksakan kehendak. Tingkat tertinggi dari mencintai adalah merelakan seseorang yang kau cintai untuk bersama seseorang yang dicintainya.
Theo lantas meminta suster tadi mendorong kursi rodanya mendekati Rhea yang matanya telah berkaca-kaca.
"Bisa acara tangis-tangisannya dilanjut nanti? Kita melakukan USG dulu. Kasihan dokternya sudah sejak tadi memperhatikan kita tanpa bisa melakukan tugasnya," ujar Theo lembut sambil menggenggam tangan Rhea.
USG pun dilakukan. Rhea dan Theo merasa bahagia sebab calon buah hati mereka tumbuh dengan baik di rahim Rhea. Sejak awal pemeriksaan, Rhea tak dapat memalingkan wajahnya dari Theo. Apalagi saat Theo mengusap sudut matanya yang basah setelah melihat penampakan calon buah hatinya di layar. Theo yang merasa kalau ia sedang diperhatikan pun menoleh. Ia tersenyum lalu mengangkat tangan Rhea dan mencium punggung tangannya.
Wajah Rhea tersipu, terlihat manis di mata Theo.
"Terima kasih, Rhea. Terima kasih karena telah berjuang hingga sampai titik ini. Terima kasih kau tetap bertahan di sisiku dan terima kasih karena kau sudah menjaga calon buah hati kita sepenuh hati. Mari kita buka lembaran baru dengan perasaan baru. Mari kita rangkai kisah cinta kita bersama. Mengukir bahagia bersama. Saling menjaga, bersama selamanya," ucap Theo sungguh-sungguh.
Mata Rhea bukan hanya berkaca-kaca, tapi telah benar-benar basah akibat linangan air mata penuh haru dan suka cita.
Mendengar kalimat itu terucap dari bibir Theo membuat perasaannya membuncah bahagia. Tak ada kata yang mampu Rhea ucapkan. Hanya ada rentangan tangan sebagai jawaban. Rhea pun segera membungkukkan tubuhnya memeluk sang pujaan hati yang akhirnya mau membalas perasaannya.
...***...
Huhuhu ... Othor terhura eh terharu, akhirnya Theo dan Rhea bersatu. ❤️❤️❤️
__ADS_1
...***...
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...