
Jevian melangkah gontai menyusuri koridor rumah sakit menuju keluar. Ia baru saja menghadiri acara pernikahan Mark dan Adisti. Meskipun pernikahan itu hanya dilangsungkan di rumah sakit, nyatanya hal tersebut tak mengurangi kesakralan pernikahan dan kebahagiaan pasangan pengantin itu. Hal itu benar-benar membuat Jevian iri.
Matanya memerah. Jevian sudah menelungkupkan wajahnya di balik kemudi.
Sakit. Rasanya begitu sakit. Dadanya benar-benar berdenyut nyeri. Sakit sekali. Namun tak ada yang bisa Jevian lakukan. Cintanya bertepuk sebelah tangan. Ditambah perbuatan sang ibu membuat peluang yang hanya sebesar lubang semut, makin tertutup hingga tak bercelah sama sekali.
Jevian memukul kemudi dengan kuat. Ia tergugu sendiri. Menangis pilu. Nyatanya, patah hati benar-benar membuatnya tak berdaya. Bahkan untuk menatap netra sang pujaan hati saja rasanya sudah tak kuasa. Belum lagi kesalahan yang telah ibunya lakukan membuat Jevian benar-benar malu luar biasa.
Jevian benar-benar marah. Ia kecewa. Namun Jevian bukanlah anak yang jahat. Ia marah, namun tak mampu membenci ibunya sendiri.
Mengapa ibunya tak pernah sekali saja memikirkan perasaannya? Seandainya cintanya hanya bertepuk sebelah tangan saja, mungkin Jevian bisa sedikit mengikhlaskan sebab ia masih memiliki kesempatan untuk melihat ataupun berteman dengan Adisti.
Tapi karena perbuatan sang ibu, Jevian rasa-rasanya sudah tak memiliki muka. Bahkan untuk menerima tawaran bantuan dari Rainero untuk mencegah perusahaannya dari kebangkrutan saja, rasanya ia teramat malu.
Ya, tadi setelah mengucapkan selamat pada pasangan pengantin Mark dan Adisti, Jevian pun gegas berlalu dari sana. Hatinya sakit luar biasa jadi ia tak mampu berlama-lama di sana. Bahkan sebenarnya Jevian tak ingin hadir, tapi demi menghormati Adisti yang pernah dekat dengannya, ia rela menahan remuk redam di hatinya untuk memberikan selamat.
Saat akan berlalu dari sana, ia berpapasan dengan Axton dan Rainero. Karena pertemanannya dengan Axton membuat ia pun jadi berteman dengan Rainero.
Namun semenjak kejadian penculikan Adisti yang dilakukan sang ibu, Jevian merasa malu luar biasa untuk bertemu dengan kedua orang penguasa perusahaan SC Company tersebut.
Namun tampaknya baik Rainero maupun Axton tidak serta merta menyalahkan dirinya atas apa yang Adisti alami. Terbukti, Rainero dengan baiknya menawarkan bantuan untuk mencegah perusahaannya dari kebangkrutan, tapi Jevian menolaknya dengan halus. Alangkah tak tahu malu dirinya bila menerima bantuan dari orang dekat Adisti tersebut. Sebisa mungkin ia akan berusaha menyelamatkan perusahaannya dengan tangannya sendiri.
Tring tring tring ...
Ponsel Jevian yang tergeletak di atas dashboard berdering nyaring, Jevian pun segera mengambilnya dan memeriksa siapa yang melakukan panggilan di malam hari seperti ini.
Dahinya berkerut saat melihat nama penelpon adalah perawat yang ia tugaskan untuk menjaga ayahnya di rumah sakit. Ayah Jevian di rawat di rumah sakit berbeda dengan Mark. Hal itu sengaja Jevian lakukan agar ia tidak sering bertemu dengan kedua orang itu. Ia tak mau membuat hatinya makin sakit dengan melihat kedua pasangan yang sedang dimabuk asmara tersebut.
__ADS_1
Jevian pun segera menepikan mobilnya untuk mengangkat panggilan. Setelah menepikan mobilnya di tempat yang aman, barulah Jevian mengangkat panggilan itu.
"Halo," ucap Jevian.
"Halo tuan Jevian, keadaan tuan Austin tiba-tiba memburuk," lapor sang perawat.
Jevian seketika panik. Ia pun meminta sang perawat terus memantau perkembangan kesehatan sang ayah. Setelahnya, Jevian segera melajukan mobilnya menuju rumah sakit di mana Ayah dirawat.
Tiga puluh menit kemudian, akhirnya Jevian pun tiba di rumah sakit yang dituju. Dengan terburu, ia melangkahkan kakinya menyusuri koridor rumah sakit menuju kamar perawatan sang ayah.
Brakkkk ...
Pintu dibuka agak kasar, namun tidak sampai menimbulkan keributan di sana. Tampak sang perawat sedang membereskan alat medis yang tadi digunakan oleh dokter saat memeriksa keadaan ayahnya.
"Sus, bagaimana keadaan ayah saya?" tanya Jevian khawatir.
Jevian mengerutkan kening, ia lantas segera mengeluarkan ponselnya untuk memeriksa berita terkini saat ini. Matanya seketika membuat saat mengetahui banyak investor mulai menarik investasi mereka.
Jevian menghela nafas berat. Ini benar-benar berat untuknya. Jevian mencengkeram rambutnya sendiri. Ia benar-benar bingung saat ini.
"Terima kasih sus sudah membantu menjaga ayah saya. Terima kasih juga sudah mengabari saya tadi."
"Tidak masalah, Pak. Itu sudah menjadi bagian tugas saya. Kalau begitu, saya permisi," ujar sang perawat sambil mendorong meja troli yang berisi berbagai perlengkapan medis.
Jevian duduk di kursi yang ada di samping sang ayah. Ia memijat pelipisnya. Semua masalah berawal dari sang ibu. Seandainya ibunya tidak pernah bersikap arogan dan menghina Adisti, seandainya ibunya tidak bertindak semaunya dengan menculik dan hendak melenyapkan nyawa Adisti, mungkin semua takkan terjadi seperti ini.
Saat Jevian sedang termenung, Austin -ayah Jevian membuka matanya. Jevian tidak menyadari itu. Pikirannya justru sedang melanglang buana, memikirkan segala masalah yang mendera hidupnya dan keluarganya. Keluarganya sekarang benar-benar hancur. Di saat seperti ini ia benar-benar sendiri. Bahkan keluarganya yang lain seolah-olah tak tahu dengan apa yang menimpa mereka. Mereka justru menghindar seolah takut terkena imbas atas perbuatan sang ibu. Bahkan tak ada satupun dari mereka yang mau membantu keluarganya.
__ADS_1
Miris memang. Seharusnya keluarga merupakan tempat pertama untuk meminta bantuan atau minimal meminta dukungan, namun jangankan bantuan, dukungan pun mereka seakan enggan memberikannya. Berkat masalah ini Jevian jadi dapat melihat, keluarganya hanya baik saat mereka sedang berada di atas dan pergi seolah tidak saling mengenal saat mereka terjatuh. Tak ada yang benar-benar tulus dengan mereka.
"Jev," panggil Austin menyentak lamunan Jevian.
"Dad, kau sudah bangun? Ada yang kau butuhkan atau inginkan?" cecar Jevian yang sudah menegakkan punggungnya.
Austin menggelengkan kepalanya.
"Jev, perusahaan kita ... "
"Daddy jangan terlalu banyak berpikir. Urusan perusahaan, pikirkan nanti. Yang lebih penting, pikirkan kesehatan Daddy. Biar perusahaan aku yang akan menanganinya."
"Bagaimana caranya?" tanya Austin lirih.
Jevian terdiam. Memang ia tidak tahu harus melakukan apa. Setelah satu persatu investor menarik modalnya, bagaimana perusahaan bisa bertahan? Ia sendiri bingung, bagaimana cara meyakinkan investor agar kembali menanamkan modalnya di perusahaan mereka. Apalagi karena ibunya, citra perusahaannya menjadi benar-benar buruk. Harga saham turun drastis jadi wajar para investor menarik modalnya. Tentu mereka tak ingin mengalami kerugian yang lebih besar lagi.
"Jev, Daddy punya caranya," ujar Austin lirih. Dahi Jevian berkerut penasaran.
"Bagaimana caranya?" Kini justru Jevian yang balik bertanya.
"Menikahlah dengan Eve. Uncle Tobey bersedia menanamkan modalnya di perusahaan kita dengan syarat kau mau menikah dengan Eve. Daddy mohon, Jev, selamatkan perusahaan kita. Kau tahu bukan, perusahaan itu dibangun mendiang kakekmu dengan susah payah. Dia pasti akan kecewa bila tahu perusahaan yang dibangunnya dengan segenap jiwa dan raganya itu hancur karena ulah menantunya. Daddy mohon, Jev, menikahlah dengan Eve. Hanya kaulah satu-satunya harapan daddy saat ini."
Jevian tercengang. Ia tidak menyangka ayahnya akan mengorbankan dirinya demi menyelamatkan perusahaan. Memang tidaklah salah. Ayahnya hanya ingin yang terbaik untuk perusahaannya. Apalagi banyak karyawan yang menggantungkan hidupnya di perusahaan keluarga mereka. Jevian juga mengenal Eve. Jevian tahu, perempuan yang masih sepupu jauhnya itu sudah sejak lama menyukai dirinya. Tapi tidak dengan dirinya. Haruskah ia mengorbankan perasaan dan masa depannya demi perusahaan keluarga mereka?
...***...
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...
__ADS_1