
Eve masuk ke dalam rumahnya dengan langkah santai. Senyum indah merekah sempurna di kedua sudut bibirnya karena akhirnya ia bisa menikmati kebebasannya dengan begitu memuaskan. Beberapa bulan ini Eve selalu kucing-kucingan dengan Jevian. Demi agar tidak terjadi perdebatan lagi antara dirinya dengan Jevian, Eve sampai rela kebebasannya sedikit berkurang. Eve masih kerap bepergian sesukanya, tapi waktunya tentu tidak bisa sebebas dulu. Ia akan pergi setelah Jevian pergi bekerja dan pulang sebelum Jevian pulang ke rumah.
Dan akhirnya hari ini pun tiba. Berkat urusan bisnis Jevian di luar kota yang pasti akan memakan waktu cukup lama, bahkan bisa jadi ia pulang larut, akhirnya Eve memiliki kesempatan untuk pergi dengan lebih puas.
Tangan kanan dan kiri Eve sudah penuh dengan kantong belanjaan dari berbagai toko merk ternama, tentu membuat hati Eve begitu bahagia. Padahal baru beberapa bulan saja ia tidak bersenang-senang seperti ini, tapi rasanya sudah seperti bertahun-tahun. Mana sanggup Eve menjalani hari membosankan seperti itu. Eve merupakan perempuan yang bebas. Bahkan sang ayah selalu membebaskan dirinya. Asalkan ia bahagia, maka Tobey akan melakukan apapun. Termasuk menjerat laki-laki yang disukainya.
Beruntung saat itu perusahaan Jevian dalam keadaan tidak baik-baik saja, sehingga hal tersebut bisa memberi celah bagi Tobey untuk menjerat Jevian. Jevian juga tidak bisa menceraikan Eve sesuka hatinya sebab mereka sudah memiliki kesepakatan hitam di atas putih. Salah satu bunyi kesepakatan itu adalah bila sampai Jevian menceraikan Eve, maka dia harus bersiap membayar kompensasi yang nilainya setara 3 kali lipat modal yang disuntikkan oleh perusahaan Tobey. Hal tersebut juga yang membuat Eve makin jumawa dan merasa di atas angin. Ia pikir, mau melakukan apapun itu, Jevian tidak akan bisa berbuat apapun sebab Jevian sangat bergantung pada perusahaan sang ayah.
"Kenapa kau lihat-lihat?" ketus Eve pada kepala pelayan di kediaman Jevian. Kepala pelayan memang harus selalu siaga, apalagi bila ada salah satu anggota keluarga yang belum pulang. Maka ia harus menunggu meskipun sampai larut malam sekalipun.
Kepala pelayan itupun gelagapan. Ia ingin membuka suara kalau Jevian sudah pulang sejak tadi, tapi ia tak berani. Apalagi Jevian sudah mengingatkan mereka agar tidak ada seorangpun yang memberitahukan pada Eve atas kepulangannya.
Kepala pelayan itu hanya menunduk dalam kemudian berkata, "tidak, Nyonya. Maaf," ujarnya.
Eve lantas melengos begitu saja menuju kamarnya di lantai 2. Eve masuk begitu saja ke dalam kamarnya. Kamarnya nampak begitu gelap. Saat Eve menutup pintu, tiba-tiba lampu kamarnya menyala membuat Eve terperanjat. Eve pun segera membalikkan badannya dan ia terkesiap saat melihat keberadaan Jevian yang sudah duduk santai di sofa kamar mereka.
"Sa-sayang, kau sudah pulang?' tanya Eve berusaha untuk bersikap santai.
"Puas jalan-jalannya?" sarkas Jevian membuat Eve sedikit terkejut. Namun sebisa mungkin Eve bersikap tenang seolah tidak terjadi apa-apa. Ia bahkan menunjukkan sikap seolah tidak bersalah sama sekali di hadapan Jevian.
"Emmm ... Ya, begitulah. Kau tahu kan, beberapa bulan ini aku selalu mengurung diri di rumah nan sepi ini. Tapi tenang saja, aku hanya pergi sebentar kok. Hanya sekedar cuci mata, tak masalah kan?"
"Sebentar?" Jevian menukikkan sebelah alisnya dengan satu sudut bibir terangkat.
"I-iya.. Hanya sebentar. Bahkan tidak sampai 2 jam. Iya, lebih kurang 2 jam lah aku pergi," dustanya membuat Jevian tergelak kencang.
"Ya, 2 jam. Sampai-sampai aku melewatkan makan siang dan makan malamku demi menunggumu," ucapnya sarkas, namun mampu membuat mata Eve terbelalak.
__ADS_1
"Melewatkan makan siang dan makan malam? Apa maksudmu kau ... "
"Ya, aku tidak jadi pergi melakukan perjalanan bisnis. Bahkan aku sudah berada di rumah sejak pukul 10 pagi. Ku pikir kau ada di rumah, tapi nyatanya ... "
Jevian terkekeh miris. Ia tak menyangka Eve selama ini hanya berpura-pura berubah saja. Nyatanya ia masih sama seperti yang dulu. Eve tidak bisa sama sekali meninggalkan kebiasaannya untuk bersenang-senang.
Jevian sebenarnya tidak melarang sang istri untuk bersenang-senang. Namun seharusnya Eve bisa sedikit mengatur waktu. Apalagi ia sedang hamil saat ini. Setidaknya, pikirkan kesehatan dirinya dan calon buah hatinya.
Eve pun melemparkan begitu saja barang belanjaannya. Setelah itu, ia menarik lengan Jevian dan menggenggamnya.
"Jev, maaf. Maafkan aku. Aku ... Aku tidak bermaksud untuk ..."
Tiba-tiba Jevian mengangkat tangan untuk menghentikan kata-kata Eve
"Sudahlah, Eve. Aku tak ingin banyak bicara lagi denganmu. Sebab segalanya percuma. Mau aku memohon bagaimana pun, kau tetap dengan pendirianmu dan kebiasaanmu itu. Lebih baik kau segera membersihkan diri. Sebentar lagi pelayan akan mengantarkan susu untukmu."
...***...
Hari demi hari kini dijalani Jevian makin dalam kehampaan. Bukannya sadar akan kelakuannya yang salah, Eve justru kembali bersikap semaunya seperti sedia kala. Jevian merasa tak ada guna menasihati Eve sebab ia akan apapun yang ia katakan, Eve tak peduli.
Saat sedang mengerjakan pekerjaannya di ruang kerjanya yang ada di rumah, tiba-tiba ponsel Jevian berdering. Saat melihat nama yang tertera, Jevian mendengkus. Namun saat panggilan itu kembali berdering untuk kesekian kalinya barulah Jevian mengangkat.
"Halo," ucap Jevian datar sebab nomor yang menghubunginya adalah nomor sang istri.
"Halo tuan Jevian, saya teman Eve. Saya hanya ingin mengabarkan kalau Eve masuk rumah sakit. Tiba-tiba perutnya sakit jadi kami membawanya ke rumah sakit."
"Apa? Jadi Eve di rumah sakit?"
__ADS_1
"Benar."
"Kirimkan lokasinya. Aku akan segera ke sana."
Mau sekesal apapun Jevian terhadap Eve, tapi tetap saja ia tidak bisa tidak peduli pada Eve dan anak yang ada di dalam kandungannya. Setelah mengetahui lokasi Eve dirawat, Jevian pun segera meluncur ke sana.
"Apa yang terjadi?" tanya Jevian pada teman Eve setibanya di sana.
"Itu ... Eve tiba-tiba mengalami kontraksi setelah ia menenggak beberapa gelas alkohol."
"Apa? Apa perempuan itu sudah gila? Bagaimana ia bisa meminum alkohol padahal ia tahu dirinya sedang hamil. Benar-benar keterlaluan," umpat Jevian dengan tangan terkepal.
"Keluarga pasien?" panggil dokter.
Jevian pun segera mendekat.
"Saya suaminya, dok."
"Begini, istri Anda harus segera menjalani operasi Caesar untuk menyelamatkan janinnya. Bila tidak ... "
"Lakukan saja yang terbaik, dok! Aku akan segera menandatangani persetujuannya."
Tdk ingin membuang waktu lagi, Jevian pun segera mengurus perizinan agar Eve segera menjalani operasi.
Beberapa jam kemudian, akhirnya bayi berjenis kelamin laki-laki berhasil Eve lahirkan secara Caesar. Namun sayang, akibat gaya hidup Eve yang tidak sehat membuat tubuh bayi malang itu tidak baik-baik saja. Bayi yang masih mungil itu terlahir dengan kelainan jantung. Alhasil hal tersebut membuat jiwa Jevian terguncang. Eve yang sudah sadarkan diri, bukannya merasa bersalah. Ia justru memaki bayinya sendiri karena membuat dirinya mengalami kesakitan luar biasa membuat Jevian benar-benar kecewa padanya.
...***...
__ADS_1
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...