
Beberapa jam sebelumnya, Rainero mendapatkan kabar kalau Jessica telah meminta seseorang mencari kamar dimana Shenina rawat. Jessica memang tahu dimana Shenina di rawat, tapi hanya sebatas nama rumah sakitnya, tidak dengan kamarnya. Oleh sebab itu, Jessica meminta seseorang mencari kamar Shenina di rawat. Setelah itu, ia pun memesan seragam perawat secara online untuk menjalankan aksinya.
Jessica menyeringai, setelah semua persiapannya komplit, ia pun bergegas untuk menjalankan aksinya.
Namun, saat baru saja Jessica membuka pintu kamar hotel, tiba-tiba telah berdiri dua orang perempuan berbeda usia. Sepertinya kedua orang itu merupakan ibu dan anak sebab wajah keduanya mirip.
"Maaf, kalian ... "
Brakkk ...
Bruukkk ...
Tiba-tiba kedua perempuan itu mendorong kasar tubuh Jessica hingga kembali masuk ke dalam kamar. Kemudian perempuan yang usianya sepertinya tak jauh berbeda dengan Jessica itu menutup rapat pintu sambil menyeringai.
"Heh, brengsekkk! Siapa kalian, hah! Kenapa kalian bersikap kasar padaku, hah?" teriak Jessica tak terima ia didorong kasar oleh sang wanita paruh baya hingga ia terjatuh dengan posisi terduduk di lantai.
Kedua wanita berbeda usia itupun menyeringai, "dasar jalaang tak tahu diri. Masih belum sadar dengan kesalahanmu, hah?" cibir sang wanita muda.
Jessica mendengkus kasar, "apa maksudmu, hah? Jangan bertele-tele. Aku tidak memiliki banyak waktu untuk meladeni jalaang seperti kalian," sentak Jessica geram.
Plakkkk ...
Tiba-tiba wanita paruh baya itu menampar pipi Jessica sekuat tenaga membuat sudut bibir Jessica berdarah seketika.
"Apa katamu? Jalaang? Hei perempuan binal, tidak sadarkah kau siapa yang jalaang di sini? Aku apa kau? Perempuan tak tahu malu yang mau aja tidur dengan suami orang hanya demi uang." Wanita itu terkekeh sinis membuat gigi Jessica bergemeletuk.
"Kenapa? Suka-suka aku dong. Lagian mereka yang mau dengan tubuhku jadi terserah aku. Mereka sendiri yang mendekat, bukan aku yang menjajakan, artinya aku ini terlalu cantik dan memikat dibandingkan istri-istri mereka," jawab Jessica jumawa membuat anak dari wanita paruh baya itu menggeram marah. Ia lantas mendekat dan langsung menjambak-jambak rambut Jessika. Jessica menjerit kesakitan seraya mencoba melepaskan jambakan di rambutnya, tapi ternyata sulit.
"Ada apa ini? Kenapa ribut-ribut?" seru seseorang yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi.
"Honey, please tolong aku! Ada wanita gila yang menjambak rambutku," pekik Jessica membuat laki-laki yang bersuara tadi segera berlari ke arah pintu masuk.
"Mom-my, Shera," gumam laki-laki itu terkejut dengan wajah yang sudah pucat pasi.
__ADS_1
Jessica membulatkan matanya saat menyadari kalau kedua wanita itu merupakan keluarga sugar Daddy-nya. Jadi kemungkinan besar, wanita paruh baya itu adalah sang istri dan wanita yang usianya seumuran dirinya adalah putri dari dua orang itu.
"Hallo, Sayang. Kenapa? Terkejut kenapa aku tiba-tiba bisa berada di sini?" tanya sang wanita setengah mengejek.
"Mommy, ini ... tidak seperti yang ... "
"Yang aku pikirkan? Begitu? Memang seperti apa yang aku pikirkan? Bukannya justru apa yang ada di pikiranmu itu justru yang sebenarnya?"
"Mom, Shera, sungguh, ini tidak seperti yang kalian pikirkan. Aku ... aku hanya ... dia ... dia yang sudah menjebakku. Ya, perempuan jalaang ini sudah menjebakku. Kau harus percaya itu, Sayang."
Mendengar hal ini, jelas saja membuat Jessica marah.
"Sayang, apa yang kau katakan? Kenapa kau justru menuduhku seperti itu. Heh kamu, kamu pasti istri Mr. Ramond, bukan? Kau pasti sudah tahu kalau aku kekasih Mr. Ramond. Dia mengatakan kalau ia sudah bosan denganmu. Wajar sih, ternyata istrinya sudah tua. Tidak seperti aku yang masih muda, cantik, dan yang pasti pintar memuaskan Mr. Ramond, tidak seperti kain usang sepertimu."
"TUTUP MULUTMU, JALAANG! Jangan berbicara sembarangan dengan istriku!" pekik Ramond membuat Jessica terkesiap.
Sang wanita muda yang tidak terima penghinaan Jessica atas ibunya pun segera menampar pipi kiri dan kanan Jessica dengan sekuat tenaga.
"Aaaargh ... **** you, bit ch!" pekik Jessica dengan amarah yang sudah membuncah. Padahal ia ingin segera ke rumah sakit untuk menjalankan rencananya, tapi kedatangan kedua perempuan itu membuat waktunya terbuang sia-sia.
"Kalian benar-benar menjijikan!" pekik sang wanita paruh baya. "Dan kau, beraninya kau melakukan ini di belakangku, hah? Dasar bajingaan. Segera keluar dari hotel ini dan pergi dari rumahku. Jangan tampakkan lagi wajahmu di hadapanku. Mulai saat ini, Kuta bercerai. Aku akan segera mengurus surat perpisahan kita," tegas wanita paruh baya yang merupakan istri Ramond tersebut.
"No, Mom, jangan lakukan itu! Mommy dengarkan penjelasan daddy dulu. Daddy benar-benar tidak sengaja. Jalaang inilah yang lebih dulu menjebak-"
"Shut up! Kau pikir aku bodoh, hah! Aku sudah mengetahui perselingkuhanmu sudah sejak lama, tapi selama ini aku diam. Aku pikir kau akan berubah, tapi ternyata tidak. Kau justru makin menjadi. Jadi lebih baik kita berpisah agar kau bisa puas bercinta dengan jalaang peliharaanmu ini," desis wanita itu dengan sorot mata tajam penuh intimidasi.
"Mom,-"
Wanita paruh baya itu mengangkat tangannya untuk menghentikan ucapan sang laki-laki.
"Shera, please tolong daddy!" melas Ramond pada sang anak.
Sang anak hanya tersenyum sinis, "apa? Tolong? No way. Aku tak sudi memiliki ayah bajingaan seperti dirimu," ucap sang anak. Kemudian ia mengajak sang ibu keluar, meninggalkan Ramond berdiri mematung.
__ADS_1
"Semua ini gara-gara kau, sialan! Seharusnya kau tidak mengatakan hal itu tadi," sentak Ramond pada Jessica.
"Lalu kau ingin mengkambinghitamkan aku, begitu? Brengsekkk!"
Tiba-tiba laki-laki itu mendekat dan menjambak rambut Jessica yang belum sempat dirapikan. Jessica menjerit sebab jambakan kali ini lebih menyakitkan dari jambakan anaknya.
"Lepaskan tanganmu, brengsekkk!" pekik Jessica yang diabaikan Ramond.
"Gara-gara kau, istriku ingin menceraikanku. Jadi rasakan ini!"
Ramond pun membenturkan kepalanya di dinding. Jessica menjerit karena dahinya yang sudah bocor dan mengeluarkan banyak darah.
Seperti belum puas, Ramond pun menghempaskan tubuh Jessica ke lantai sekuat tenaga.
Ramond yang biasanya bersikap manis seketika menjelma seperti iblis.
Khawatir Ramond makin berbuat nekad, Jessica pun gegas keluar dari dalam kamar yang kebetulan pintunya masih terbuka lebar. Bahkan Jessica sampai melupakan perlengkapan menyamarnya tadi. Yang Jessica pikirkan saat ini hanyalah keselamatannya.
Namun Jessica salah bila ia bisa melarikan diri begitu saja. Saat ia sudah berada di pinggir jalan, tiba-tiba ada pengendara motor yang melaju kencang kemudian segera menyiram wajah Jessica dengan sebuah cairan. Jessica menjerit kesakitan saat rasa panas menjalar di seluruh wajah hingga ke leher.
Jessica yang kesulitan membuka matanya karena cairan itu juga masuk ke dalam matanya lantas berjalan tak tentu arah hingga sampai ke tengah jalan. Di saat yang sama, ada sebuah mobil melaju kencang dan menyerempet tubuh Jessica hingga terjatuh dan kakinya terlindas.
Jessica menjerit kesakitan, tapi tak ada satupun orang yang berniat membantunya. Bukan tak mau, hanya saja mereka khawatir bila ikut campur, maka mereka akan dijadikan saksi atau bahkan pelaku. Jadi mereka memilih aman, tapi ada juga yang memilih menghubungi pihak kepolisian dan juga rumah sakit untuk membantu Jessica yang sudah terkapar di tengah jalan dengan wajah yang terbakar dan kaki yang bisa dikatakan tidak baik-baik saja.
Jessica hanya bisa menangis dalam diam karena rasa sakit yang ia rasakan benar-benar menyiksa. Tak ada satupun orang yang berusaha menolong membuatnya benar-benar frustasi. Belum sempat ia melaksanakan niatnya untuk menyakiti Shenina, tapi justru dirinya lah yang lebih dulu mengalami hal tak terduga.
Sementara itu, di sebuah mobil, tampak seorang wanita muda menyeringai puas saat orang yang disuruhnya menyiramkan air keras ke wajah Jessica telah berhasil menjalankan perintahnya.
"Kini kau tidak bisa lagi memanfaatkan wajah cantikmu itu. Rasakan. Itu hadiah yang pantas kau dapatkan atas segala perbuatanmu."
...***...
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...
__ADS_1