
Malam pun tiba, keluarga besar Rainero tampak telah berkumpul semua. Tak lama kemudian, Rainero pun turun dari tangga sambil menggandeng Shenina yang malam itu tampak sangat anggun dengan gaun berwarna soft blue. Gaun sepanjang lutut dan lengan sebatas siku itu membuat Shenina terlihat memukau. Belum lagi perutnya yang membuncit membuat semua mata terbelalak.
Di negara itu, orang-orang tidak menjudge perempuan yang hamil di luar nikah. Justru mereka terbelalak karena mengetahui kalau Rainero merupakan lelaki mandul. Sebenarnya baik orang tua Rainero maupun sang kakek sangat menjaga rahasia itu, tapi entah dari mana kabar itu menyebar begitu saja di keluarga besarnya. Hal itulah yang membuat Rainero makin enggan berkumpul dengan keluarga besarnya sendiri.
Delena lantas ikut meraih tangan kanan Shenina yang bebas dari genggaman Rainero. Ia mengajak calon menantunya itu bergabung dengan keluarganya yang lain.
"Jadi ini calon menantumu? Cantik," puji salah seorang bibi Rainero. Rainero tersenyum lebar mendengar pujian itu.
"Iya, namanya Shenina."
"Tapi katanya kau mantan sekretaris Rain? Apa kau tidak bisa mencari pengganti yang lebih baik dari Anza, Rain?" cetus salah seorang sepupu Delena.
Rainero yang mendengar nada penuh ejekan itupun menggeram kesal, "jaga mulutmu bi Hayley! Jangan pernah membandingkan Shenina dengan siapapun itu karena bagiku Shenina adalah yang terbaik," tegas Rainero dengan sorot mata tajam dan rahang mengeras.
"Terbaik? Terbaik dari mana? Bahkan keluarganya pun pasti tak jelas. Sangat berbeda dengan Anza yang di atas segalanya."
Anza yang berdiri tak jauh dari mereka pun hanya menyimak. Ia tidak memiliki keinginan untuk ikut campur.
"Hayley, tutup mulutmu. Aku mengundangmu ke sini untuk berbagi kabar bahagia, bukan untuk menjadi biang kerusuhan," tegur Delena kesal dengan sikap sepupunya itu.
"Aku hanya mengatakan fakta, kenapa kalian harus kesal? Lalu lihat, perempuan ini sedang hamil, mengapa kalian mau menerima perempuan yang hamil anak orang lain. Kalian hanya merusak nama baik keluarga Sanches saja!" Belum puas, Hayley terus berusaha menyerang Shenina. Sebenarnya ia melakukan itu karena kesal sebab Rainero tidak pernah menoleh putrinya. Padahal ia sangat ingin putrinya berjodoh dengan Rainero, tapi sayang Rainero tidak pernah merespon sama sekali.
"TUTUP MULUT KOTORMU ITU NYONYA HAYLEY YANG TERHORMAT SEBELUM AKU MENYEBARKAN KEBURUKANMU YANG GEMAR BERMAIN GILA DENGAN LELAKI MUDA!" bentak Rainero dengan wajah menggelap. "DAN ASAL KAU TAHU, ANAK YANG SHENINA KANDUNG ADALAH ANAKKU. ANAKKU, APA KAU DENGAR!"
Hayley terkesiap mendengar bentakan itu. Pun Shenina yang tidak menduga Rainero akan membelanya sampai seperti itu.
"A-apa yang kau katakan? Jangan memfitnahku sembarangan!" ujarnya gelagapan. Apalagi saat melihat sorot mata tajam penuh intimidasi Rainero membuat tubuhnya benar-benar bergetar.
Terdengar kasak-kusuk di belakang sana membuat Hayley kian ketakutan.
Rainero tersenyum miring, "fitnah? Baiklah, akan lebih baik aku bongkar sekarang bukan, supaya kau ... "
"JANGAN! Baiklah, baiklah, aku takkan bicara apa-apa lagi. Aku mohon jangan bicara apa-apa lagi."
Setelah mengucapkan itu, Hayley pun segera menjauh.
__ADS_1
Sejak tadi Delianza hanya bisa menatap interaksi Shenina dan Rainero. Hatinya berdenyut sakit saat melihat perlakuan Rainero yang begitu lembut dan penuh perhatian. Rasa cinta itu sebenarnya masih ada, tapi semuanya tiada gunanya lagi sebab Rainero telah benar-benar melupakannya.
"Cantik," ucap seseorang yang berdiri di samping Delianza. Delianza terlonjak saat melihat sosok laki-laki itu telah berdiri di sampingnya.
"Maksudnya?" Delianza sebenarnya mendengar kata-kata yang laki-laki itu ucapkan, tapi ia tidak tahu untuk siapa pujian itu.
"Wanita yang bersama Rain benar-benar cantik. Tapi apakah benar anak yang wanita itu kandung adalah anak Rainero? Bukannya dia mandul?" ucapnya membuat bola mata Delianza memutar jengah.
"Itu bukan urusanku," ketus Delianza yang segera berlalu dari hadapan suaminya itu. Justin mengedikkan bahunya kemudian berjalan mendekati Shenina.
Rainero yang melihat Justin mendekat pun memasang wajah datar dan dingin.
"Hello brother, selamat akhirnya kau bisa move on juga," seru Justin membuat Rainero memutar bola matanya.
"Tak perlu basa-basi, apa maumu, hah?"
"Slow brother, aku hanya ingin memberikan selamat. Ah, aku sampai lupa pada wanita cantik di sebelahmu. Hai, cantik, salam kenal. Aku Justin, sepupu Rainero. Suami dari mantan terindah calon suamimu ini," ujar Justin sambil mengedipkan sebelah matanya.
Shenina hanya tersenyum tipis. Sebenarnya malas sekali menanggapi orang seperti Justin, tapi ia tidak boleh mempermalukan Rainero di depan keluarga Sanches lainnya.
"Hai juga," jawab Shenina singkat membuat alis Justin menukik.
"Tak perlu banyak bicara. Mau ini anakku ataupun bukan, bukan urusanmu. Lebih baik kau urus urusan dirimu sendiri," desis Rainero. Lalu Rainero merengkuh pinggang Shenina menuju meja makan sebab makan malam akan segera dimulai.
Makan malam pun dimulai. Makan malam itu tampak ramai dari biasanya karena keluarga besar Sanches yang tengah berkumpul.
Saat makan malam berlangsung, tiba-tiba datang seorang tamu yang tidak diundang membuat Rainero mendengus.
"Aunty, maaf kalau kedatanganku mengganggu makan malam keluarga kalian," ujar Bianca sambil meringis.
Delena yang tidak mungkin mengusir tamunya pun mempersilahkan Bianca ikut bergabung.
"Hai Rain, apa kabar? Lama tak jumpa denganmu," ucapnya sambil tersenyum malu-malu. Tapi Rainero mengabaikan keberadaan Bianca. Ia justru sibuk memperhatikan Shenina dan melayaninya dengan penuh perhatian membuat Bianca menahan kesal.
"Sepertinya wanita di sampingmu itu sangat istimewa, sampai kau terus-terusan melayaninya," ujarnya lagi tak peduli pada keberadaan keluarga Sanches yang ada di sana.
__ADS_1
"Dia calon istriku. Berhenti mengajakku berbicara. Lebih baik segera selesaikan makan mu dan pergi dari sini karena kau tidak diundang ke sini," ketus Rainero membuat wajah Bianca merah padam karena menahan malu.
"Rain," tegur Delena tak enak hati. Bagaimanapun, Bianca adalah anak salah satu teman ia dan Reeves. Jadi Delena tentu saja merasa tak enak hati atas sikap Rainero.
Rainero yang sedang kesal makin kesal saat melihat tatapan penuh minat Justin pada Shenina. Makan malam yang seharusnya diwarnai aura kebahagiaan justru terasa memuakkan bagi Rainero.
"Kau sudah selesai makannya, Sweety? Kalau sudah, kita segera pergi dari sini."
"Aku ... "
"Rain, tunggu sebentar. Grandpa ingin menyampaikan sesuatu pada keluarga besar kita," sergah Ranveer saat Rainero baru saja berdiri. Rainero pun terpaksa menghentikan gerakannya.
Lalu Ranveer pun mulai berbicara, "aku tahu kalau kalian telah mendengar desas-desus mengenai Rainero yang mandul. Aku pun yakin, sebagian dari kalian ada yang meragukan kehamilan calon cucu menantuku," ucap Ranveer membuat keriuhan di meja makan itu seketika hening.
"Aku tegaskan kalau berita mengenai kemandulan Rainero tidaklah benar dan anak yang Shenina kandung adalah benar-benar anak Rainero. Pokoknya aku tidak mau tahu, kalau sampai ke depannya aku masih mendengar desas-desus tidak bermutu ini lagi, maka jangan salahkan kalau aku akan mengambil tindakan tegas."
Rainero tersenyum lebar saat mendengar ketegasan sang kakek. Bahkan Bianca yang tadinya datang ke sana dengan penuh percaya diri karena keyakinan kalau orang tua Rainero pun kakeknya akan mendukung hubungannya dengan Rainero, kini ikut terdiam. Matanya benar-benar membulat apalagi saat Ranveer mengatakan pernikahan Rainero akan diadakan dalam beberapa hari lagi.
Sementara itu, berita mengenai pernikahan konglomerat di negara itu dengan kekasihnya pun telah diumumkan di semua media massa, baik elektronik maupun cetak.
Theo yang mendapatkan kabar itu pun benar-benar terkejut. Ia tak menyangka kalau Shenina akan menikah dengan laki-laki yang telah memperkosanya.
"Tidak. Ini tidak boleh terjadi. Shenina tidak boleh menikah dengan laki-laki itu Hanya aku, hanya aku yang pantas menjadi suami Shenina. Aku yakin, laki-laki itu telah memaksa Shenina. Takkan aku biarkan. Tunggu aku Shenina, aku akan menyelamatkanmu," gumamnya sambil meremas gelas berisi alkohol di tangannya hingga pecah.
Bukan hanya Theo yang terkejut, Harold, Ambar, dan Jessica pun benar-benar terkejut. Mereka tidak menyangka Shenina akan menikah dengan salah seorang putra konglomerat sekaligus pemilik perusahaan besar di negara mereka.
"Mom, ini tidak boleh terjadi. Shenina tidak boleh menikah dengan laki-laki kaya itu. Hanya aku yang pantas menjadi pendamping Rainero, Mom. Ayo Mom, pikirkan caranya agar kita bisa membatalkan pernikahan mereka," seru Jessica panik saat Ambar memasuki kamarnya.
"Sebaiknya kau tenang dulu, Jessi. Mommy pun bingung memikirkan cara menggagalkan pernikahan itu. Mereka tidak boleh menikah. Tapi ... apa yang harus kita lakukan untuk menghentikannya?" bingung Ambar.
Di sisi lain rumah itu, tampak Harold mengepalkan tangannya. Ia benar-benar marah karena Shenina akan menikah tanpa menghiraukan keberadaan mereka. Harold yang egois tetap merasa seharusnya Shenina menghargai dirinya sebagai ayahnya. Shenina seharusnya meminta restunya untuk menikah, tapi Shenina justru telah mengumumkan hari pernikahannya tanpa membicarakannya lagi padanya.
"Dasar anak sialan!"
Brakkk ...
__ADS_1
Harold pun melemparkan gelas berisi alkohol miliknya dengan amarah yang memuncak.
...***...