
Waktu bergulir begitu cepat, tak terasa sudah satu Minggu semenjak hari pernikahan Shenina dan Rainero. Bahkan Rainero dan Shenina telah menempati mansion Rainero yang baru selesai direnovasi sesuai keinginan Shenina.
Gladys telah pulang ke Indonesia, sedangkan Adisti menempati apartemen yang tak jauh dari restoran milik Delena sebab telah beberapa hari ini ia mulai bekerja di sana.
"Sweety, aku pergi bekerja dulu ya!" ujar Rainero seraya mengusap pipi Shenina.
Shenina mengangguk lalu meraih telapak tangan Rainero yang berada di pipinya dan menciumnya.
Lalu Rainero berjongkok dengan wajah berhadapan dengan perut buncit Shenina, "twins, jangan nakal ya! Jaga Mommy. Daddy pergi kerja dulu, ya. Love you, twins," ujarnya. Lalu ia mengecup perut Shenina dengan penuh sayang. Shenina tersenyum bahagia melihat bagaimana Rainero begitu menyayangi calon buah hati mereka.
Rainero lantas kembali berdiri, "kamu jadi mampir ke restoran Mommy?" tanya Rainero.
Shenina mengangguk, "hmm ... kenapa?"
"Tidak. Nanti aku minta Mark antar kamu kesana, ya."
"Tidak perlu. Aku bisa naik ... "
"Tak ada bantahan, Sweety. Ingat, kau sedang hamil sekarang dan aku tidak ingin terjadi sesuatu pada kalian, mengerti?"
Shenina paham kalau Rainero mengkhawatirkan dirinya, Shenina pun lantas mengangguk.
Shenina melambaikan tangan saat mobil Rainero mulai bergerak menjauh.
...***...
Harold baru saja berangkat ke minimarket. Sudah seminggu ini, minimarket begitu sepi. Harold benar-benar kelimpungan dibuatnya. Alhasil, bila biasannya ia pergi ke minimarket agak siang, maka sudah beberapa hari ini ia berangkat lebih pagi. Ia juga mengurangi pegawainya. Hanya tinggal sang kasir, sementara untuk menyusun barang dan memeriksa stok, ia dibantu sang kasir.
Setelah Harold benar-benar menghilang, Ambar pun masuk ke dalam kamarnya. Rencananya ia berbelanja di supermarket. Ambar pun segera berangkat setelah mengambil tas dan kunci mobil.
Tak butuh waktu lama, Ambar pun akhirnya tiba di sebuah pusat perbelanjaan terbesar di kota itu. Ambar segera turun dari mobil dan masuk ke dalam pusat perbelanjaan itu. Supermarket ada di lantai 3 gedung itu, Ambar pun masuk ke dalam lift untuk menuju lantai 3. Saat lift mulai bergerak tiba-tiba lift berhenti dan pintu pun terbuka. Seseorang masuk, tapi Ambar mengabaikannya. Ia justru lebih fokus ke layar ponselnya. Hingga tiba-tiba terdengar suara seorang pria yang sangat familiar di telinganya. Ambar tersentak dan segera mengangkat wajahnya. Matanya terbelalak saat melihat siapa laki-laki yang telah berada di sampingnya itu.
"Kau ... Julius?" gumamnya dengan mata terbelalak.
"Hai, Ambar, aku tak menyangka bisa bertemu denganmu lagi di sini," ujarnya dengan seringai di bibir.
Ambar menelan ludahnya, ia pun tak menyangka akan kembali dipertemukan dengan sosok dari masa lalunya.
...***...
Theo baru saja bersiap untuk pergi bekerja. Saat berjalan menuju dapur, diliriknya meja makan yang biasanya terhidang aneka masakan itu tampak kosong. Theo memang tidak pernah menyantap sarapan itu, tapi ia justru merasa aneh saat melihat meja yang kosong. Theo lantas mengambil air minum dari dalam kulkas dan menenggaknya.
Setelah minum, Theo pun bergegas pergi. Saat melintasi ruang tamu, tampak Rea yang bersikap acuh tak acuh padanya. Tidak ada lagi Rea yang peduli padanya, yang ada justru Rea yang dingin. Semenjak malam itu, Rea memang berubah. Tidak hangat dan perhatian seperti biasanya. Tapi Theo masa bodoh. Walaupun terbesit rasa bersalah sebab ia telah menggaulinya dalam keadaan pengaruh alkohol, tapi Theo merasa gengsi untuk meminta maaf. Salahkan dia sendiri yang memancing emosinya. Tanpa bertegur sapa sama sekali, Theo pun segera pergi dari sana.
Rea mengusap dadanya yang benar-benar sakit melihat sikap Theo yang tak sedikitpun ingin meminta maaf padanya. Padahal, bila Theo meminta maaf, ia pasti akan memaafkan. Meskipun ia sakit hati, tapi ia iklhas sebab apa yang Theo ambil darinya memang merupakan haknya. Tapi melihat sikap Theo, hatinya kian sakit.
__ADS_1
"Sabar Rea, sabar. Bertahanlah sebentar lagi," ujar Rea sambil mengusap kasar air mata yang jatuh di pelupuk matanya.
...***...
"Disti," panggil Shenina saat melihat Adisti baru selesai mengantarkan pesanan pelanggan.
"Mbak Bule," seru Adisti girang. Baru saja Adisti hendak memeluk Shenina, tapi ia urungkan sebab ia masih di jam kerja sekarang. Ia tak enak hati bila terlihat sok dekat dengan istri tuan mudanya.
Delena yang tahu menantunya akan datang pun segera keluar dari ruangannya.
"Kau sudah datang, Sayang?" ujar Delena sambil memeluk dan mencium pipi kiri dan kanan Shenina.
"Iya, Mom. Maaf kalau kedatanganku mengganggu," ujar Shenina.
"Jangan berpikir macam-macam. Mommy justru senang melihat kedatanganmu. Oh ya, Disti, temani Shenina dulu ya. Sebentar lagi saya kedatangan tamu," ujarnya sambil menatap Adisti.
"Baik madam."
"Shen, kau tidak apa-apa kan mommy tinggal sebentar? Mommy ada pertemuan penting dengan seseorang sebentar lagi?"
"Aku tidak apa, Mom. Apalagi ada Disti yang menemani di sini." Delena mengangguk seraya tersenyum. Kemudian ia pun segera masuk ke ruangannya saat melihat kedatangan tamunya.
"Duh, mbak Bule, makin cantik aja. Jadi pingin nikah juga kayak mbak Bule, tapi sayang belum ada calonnya," seloroh Adisti seraya menghidangkan jus alpukat pesanan Shenina.
Shenina terkekeh, "bukannya kau sedang dekat dengan Jevian ya?"
"Jevian sudah memperkenalkan kamu sama ibunya?"
Adisti mengangguk, "tapi nggak sengaja sih. Nggak sengaja ketemu saat di cafe. Habis aku mbak diomeli mommy Jevian. Belum juga kenal dekat, udah dimarahin, apalagi kenal dekat, terus pacaran gitu, uuu aku nggak bisa bayanginnya, Mbak," ujar Adisti membuat Shenina terkekeh.
Adisti yang kebelet pun izin dengan Shenina ke belakang. Saat baru saja hendak keluar, tiba-tiba ada sebuah tangan yang menariknya begitu saja ke sebuah lorong yang sepi.
"Lepaskan! Siapa kau?" pekik Adisti, tapi mulutnya justru langsung dibungkam oleh tangan Mark.
"Ini aku."
"Mark? Kenapa kau membawaku ke sini? Pergi, aku tidak mau bicara dengan," ketus Adisti.
"Maaf," ujar Mark tiba-tiba.
Mata Adisti memicing, "maaf? Untuk apa?" ketus Adisti.
Mark menarik nafas dalam-dalam, "maaf untuk yang tempo hari. Aku ... benar-benar lupa."
Adisti terkekeh, "sudah?"
__ADS_1
Mark terperangah saat mendapatkan respon tak dingin dari Adisti.
"Baiklah, aku maafkan. Sudah bukan? Kalau begitu, aku pergi."
"Dis." Mark menahan tangan Adisti dan merapatkannya ke dinding, lalu mengungkungnya.
"Kau ... apa yang ingin kau lakukan?"
Mark yang kesal karena perubahan sikap Adisti kepadanya pun segera menciumnya. Mata Adisti terbelalak. Lalu Adisti mendorong kasar Mark hingga kungkungannya terlepas. Adisti mengusap kasar bibirnya dengan mata memerah.
"Dasar bajingaan!" teriak Adisti yang segera berlalu dari sana.
Malam harinya, selepas makan malam, Rainero mengajak Shenina berbicara.
"Ada apa, Rain? Apa ada hal yang penting?"
Rainero mengangguk, "ya, ini sangat penting."
"Apa itu? Apa kau sudah mendapatkan petunjuk mengenai masa lalu ibuku?"
"Untuk itu, aku masih menyelidikinya, Sweety. Tapi kau tak perlu khawatir, sebentar lagi semuanya pasti akan terungkap."
"Lalu, hal penting apa yang ingin kau katakan?"
Rainero menghela nafasnya, "Sweety, apa kau tahu pemilik rumah dan minimarket ayahmu itu adalah ibumu? Atau yang lebih tepatnya, semua itu diwariskan oleh nenekmu untuk ibumu. Karena ibumu meninggal, jadi otomatis hal waris jatuh ke tanganmu."
Mata Shenina terbelalak, "benarkah? Tapi ... aku tidak pernah tahu akan hal tersebut."
Rainero menggenggam tangan Shenina, "tapi itulah kenyataannya."
"Lalu ... apa yang harus aku lakukan?"
"Apa kau rela hakmu diambil mereka?"
Shenina menggeleng tegas, "tentu saja tidak. Aku ingin mengambilnya kembali, tapi bagaimana caranya? Surat-suratnya pasti disimpan Daddy di tempat rahasia."
Rainero menggeleng, "kau salah, Sweety. Berkas-berkas kepemilikan rumah dan minimarket itu tidak berada pada Daddy-mu. Aku sudah menyelidikinya dan ternyata berkas-berkas itu disimpan di bank. Hanya ahli waris yang bisa mengambilnya dan itu adalah kau. Jadi ... "
Mata Shenina membulat dengan senyum merekah, "benarkah? Artinya ... kita bisa mengambil alih semua itu?"
Rainero mengangguk, "bagaimana? Kau siap berperang dengan ayah kandungmu sendiri?" tanya Rainero menunggu keputusan Shenina.
Dengan tegas, Shenina pun mengangguk, "aku sangat siap, Suamiku. Sudah cukup mereka bersenang-senang dengan harta peninggalan nenek dan ibuku. Kini saatnya mereka merasakan kehancuran sebagaimana aku yang dulu merasa begitu hancur saat orang yang seharusnya jadi pelindungku justru menjadi penyebab utama penderitaanku. Akan aku ambil semua milikku dan membuang mereka semua ke jalanan," tekad Shenina yang didukung penuh oleh Rainero. Tak peduli meski harus membuat ayahnya sendiri menderita, bukankah selama ini Harold tak pernah sama sekali mempedulikannya. Jadi kini giliran Shenina yang membalas kekejian mereka selama ini padanya. Jangan salahkan Shenina yang merasa dendam sebab mereka sendiri lah yang membuat Shenina menjadi seperti ini. Sebenarnya Shenina tidak ingin membalas dendam, tapi saat tahu apa yang menjadi haknya justru dikuasai oleh orang-orang yang tidak berperasaan itu, sementara untuk bersekolah pun ia harus berusaha sendiri, benar-benar membuatnya sakit hati.
...***...
__ADS_1
Mulai besok, kisah figurannya dikurangi ya, entar akan diselesaikan di ending ( extra part or season 2. Biar bisa fokus ke kisah couple Rain-Shen.) Paling diselip-selip sedikit. 😄
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...