
Hari ini adalah hari penandatanganan perjanjian kerja sama antara J Company dengan Admark Investments. Perwakilan dari kedua perusahaan telah menandatangani surat perjanjian dengan disaksikan beberapa pihak terkait. Perjanjian kerja sama itu disiarkan secara langsung di televisi membuat nama J Company akhirnya melejit tinggi.
"Terima kasih tuan Marquez Alvernon, semoga kerja sama kita bisa saling menguntungkan," seru Jevian dengan bibir melengkung indah. Karena mereka sedang dalam acara formal dan ditayangkan di televisi, jadi Jevian pun memanggil Mark dengan panggilan formal.
"Sama-sama. Semoga kerja sama kita bisa terus terjalin tanpa hambatan," balas Mark. Mereka bersalaman. Kilatan blitz memenuhi ruangan itu.
Semenjak kerja sama itu terjalin, saham perusahaan Jevian pun naik drastis. Beberapa mantan kolega Jevian pun kembali mendekati. Tak peduli kalau hal itu sama saja menentang Tobey, tapi yang jelas mereka tak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk ikut menaikkan nilai perusahaan mereka.
"Kurang ajar!"
Prang ...
Tobey menghempaskan vas bunga yang harganya tak murah itu ke dinding. Ia marah sekaligus kesal sekali sebab tanpa bantuannya, kini perusahaan Jevian kembali bangkit. Bahkan kebangkitannya begitu mengejutkan. Proyek-proyek yang sempat ia sabotase hingga akhirnya mangkrak pun kembali berjalan. Bagaimana ia tidak marah dan kesal. Seakan usahanya selama ini untuk menjatuhkan Jevian berakhir sia-sia. Yang ada justru Jevian kian sukses setelah ia memutuskan kerja sama dengannya.
...***...
Jevian tampak mengerutkan keningnya. Ia memasang wajah masam sekaligus kebingungan saat menatap layar laptop.
"Anda kenapa, Tuan?" tanya Roseline yang baru saja masuk ke ruang kerja Jevian seraya membawa secangkir kopi dan sepiring cemilan.
Jevian menoleh, kemudian menghela nafas.
"Tidak. Tidak apa-apa. Terima kasih kopinya," ujar Jevian seraya melepaskan kacamata yang menggantung di atas hidungnya. Kemudian ia mengangkat cangkir kopi dan menyesapnya perlahan.
Roseline yang penasaran pun berjalan ke arah Jevian kemudian melirik laptopnya. Ia manggut-manggut, mengerti apa kesulitan Jevian.
"Mau aku bantu?"
"Hah?"
"Mau aku gant?"
"Kau bisa?"
__ADS_1
Roseline mengangguk, "tapi tidak gratis."
Jevian terkekeh, "tidak masalah. Aku akan membayarmu. Kau minta berapa z sebutkan saja. Asal kau tidak meminta dengan nominal fantastis agar aku segera bangkrut, tak masalah," seloroh Jevian.
"Aku tidak meminta uang."
"Jadi ... "
"Aku hanya ingin kau meluangkan waktu untuk jalan-jalan dengan Jefrey. Seminggu lagi dia akan menjalani operasi. Ada baiknya kau mengajaknya jalan-jalan agar perasaannya lebih tenang dan bahagia. Perasaan bahagia bisa membuat operasi berjalan lancar tanpa hambatan," ujar Roseline serius.
Jevian terdiam. Ia membenarkan apa kata-kata Roseline.
"Besok aku ada persidangan perceraian, bagaimana kalau lusa?"
"Deal?"
Roseline mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.
"Deal." Sambut Jevian.
Jevian menumpu satu lengannya di sisi kursi yang Roseline duduki. Kemudian tubuhnya ia sedikit condongkan ke depan sembari memperhatikan layar laptopnya. Pundak mereka saling bersenggolan. Jevian tersenyum lebar saat melihat hasil kerja Roseline yang menurutnya sempurna.
"Kau benar-benar perempuan cerdas. Bahkan kau lebih cerdas dari Matson. Apa kau tertarik jadi asisten pribadiku? Sayang bila bakatmu kau sia-siakan seperti ini," ujar Jevian sambil melirik ke arah Roseline. Wajah cantik yang tegas, namun bila sekali tersenyum, begitu manis.
"Sayangnya aku tidak berminat," jawab Roseline acuh tak acuh.
"Kenapa?"
Lalu Roseline menoleh ke arah Jevian yang menatapnya lekat. Jarak mereka begitu dekat membuat mereka saling terpukau dengan tatapan masing-masing. Namun dengan cepat Roseline kembali mengalihkan perhatiannya ke arah layar laptop.
"Karena lebih menyenangkan mengurus anak-anak. Apalagi anak itu semanis Jefrey. Sungguh menyenangkan," ujar Roseline sambil tersenyum lebar.
Jevian dapat melihat kejujuran dari perkataan Roseline. Padahal ia memiliki bakat yang luar biasa, tapi ia justru lebih suka mengurus anak-anak, aneh. Padahal bagi perempuan lain, apalagi di negara barat, kebanyakan dari mereka lebih suka merintis karir. Bagi mereka pernikahan dan anak hanya penghalang bagi mereka untuk meraih kesuksesan. Namun Roseline yang jelas-jelas berbakat justru lebih suka mengurus anak-anak. Sungguh calon istri idaman.
__ADS_1
Eh!
"Apa kau mau benar-benar menjadi Mommy-nya Jefrey?" tanya Jevian tiba-tiba dengan tatapan masih terarah ke Roseline.
"Hah, maksud Anda?"
Bukannya menjawab, Jevian justru tersenyum penuh arti. Entah apa yang ada di otak tampannya itu, Roseline tidak bisa menebaknya.
Merasa urusannya sudah selesai, Roseline pun kembali ke kamarnya.
...***...
"Jadi, laki-laki ini CEO J Company. Lalu anak ini anak kandungnya dengan putri pemilik T Company. Dan sekarang, mereka sedang proses perceraian? Begitu?" tanya Bastian pada detektif swasta sewaannya.
"Benar, Tuan. Dan perempuan yang Anda minta cari tahu tempat tinggalnya itu ternyata tinggal di mansion milik tuan Jevian. Ia bekerja di sana sebagai Nanny," papar detektif swasta tersebut membuat mata Bastian terbelalak. Kemudian ia terkekeh sinis.
'Kau ingin membohongiku, hm? Jangan harap kau bisa!'
Bastian menyeringai setelah mendapatkan informasi mengenai Roseline yang ternyata hanyalah seorang nanny dari anak Jevian.
Sementara itu, karena akses ke apartemen pribadinya pun telah ditutup, pun kartu-kartu debit dan kreditnya dibekukan oleh Tobey membuat Eve dengan terpaksa pulang ke mansion sang ayah. Ia pikir, ayahnya tak mungkin mengusirnya dari sana. Mana mungkin ia tega membuatnya seperti seorang tuna wisma karena berkeliaran di tengah jalan. Hal itu tentu saja bisa membuat dirinya malu. Tak mungkin kan ia ingin mempermalukan dirinya sendiri di hadapan orang lain.
Selama tinggal di mansion, Tobey bersikap dingin pada Eve. Ia pikir semua masalah yang ia hadapi bersumber dari Eve itu sendiri.
Eve menghela nafas panjang. Ia kesal karena sikap ayahnya benar-benar dingin padanya. Padahal sebelumnya, mau sesalah apapun perbuatannya, Tobey akan selalu membela dan membenarkannya.
Keesokan harinya, persidangan pun dimulai dengan agenda pembacaan permohonan perceraian serta meminta keterangan alasan perceraian antara keduanya.
Sebagai penggugat, Jevian pun menjelaskan permohonan gugatannya. Ia pun menjelaskan alasan perceraian karena adanya ketidakcocokan selama berumah tangga.
Eve sebagai tergugat menolak keputusan untuk bercerai. Ia masih bersikukuh untuk mempertahankan rumah tangga. Hingga akhirnya hakim mengetuk palu untuk menunda sidang dan melanjutkannya bulan depan. Sebenarnya bisa saja Jevian langsung mengeluarkan kartunya, tapi Jevian masih menghargai Eve, bukan hanya sebagai seorang perempuan, tapi juga ibu dari putranya. Ia tidak ingin mempermalukan Eve yang mana akhirnya bisa berdampak pada Jefrey. Namun bila Eve sampai berbuat sesuatu yang di luar dugaan, jangan salahkan kalau Jevian bertindak.
...***...
__ADS_1
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...