Benih Sang Cassanova

Benih Sang Cassanova
BSC 38


__ADS_3

Tercium aroma yang sangat menyengat di indra penciuman Rainero. Rainero yang matanya terpejam pun seketika mengerjapkan matanya. Bola matanya berputar, kemudian dalam sekali sentakan ia langsung terduduk. Ditolehnya ke arah samping, Rainero pun langsung berseru saat melihat Axton.


"Ton, kau tahu, aku barusan bermimpi bertemu Shenina. Aku lihat, perutnya ... perutnya telah membesar," ucap Rainero sambil tersenyum lebar. "Dia makin cantik dengan perutnya yang membesar, tapi ... tapi dia tidak mau aku mendekatinya. Bahkan dia tidak mau bicara denganku. Dia ... dia sepertinya begitu membenciku. Akibat kebodohanku, dia ... "


Wajah Rainero seketika berubah sendu. Ia tergugu. Matanya memerah dan dada yang kian terasa sesak.


"Tapi ada yang lucu, kau tahu Ton, di mimpi aku tersesat tak tentu arah saat mencarinya. Tau-tau aku sudah berada di area kandang kambing. Karena baunya yang begitu menyengat, aku pingsan. Dan kau tahu, sebelum pingsan, aku bisa merasakan belaian lembut tangan seseorang. Shenina, di dalam mimpi dia menemukanku. Dia memanggilku dan mencoba membangunkan ku sambil menepuk-nepuk pipiku. Sungguh, biarpun mimpi itu terasa aneh, tapi rasanya begitu nyata," ucap Rainero dengan pandangan menerawang.


Plakkk ...


Tiba-tiba saja Axton memukul kepala Rainero dengan botol minyak angin freshpeduli pemberian Adisti setelah Axton berhasil membawa Rainero ke dalam mobil. Kemudian ia pun membawa Rainero kembali ke hotel tempat mereka menginap.


"Itu bukan mimpi, bodoh. Itu nyata. Itu benar-benar Shenina. Dasar bodoh!" ejek Axton membuat Rainero membelalakkan matanya.


"A-apa katamu? Itu nyata?"


Axton mengangguk dengan seringai mencibir membuat Rainero seketika berdiri dan melompat-lompat girang.


"Yes, yes, yes, akhirnya ... aku menemukan Shenina. Yuhuuu, akhirnya aku berhasil menemukannya. Huaaaa ... Axton, i'm so happy. Hahahaha ... "


Axton menepuk jidatnya melihat tingkah kekanakan Rainero yang baru kali ini dilihatnya.


Beberapa saat sebelumnya,


Axton yang merasa heran karena Rainero yang tiba-tiba keluar pun lantas melongokan kepalanya keluar jendela kaca mobil. Matanya terbelalak lebar saat mendapati Rainero berhasil menemukan Shenina. Ia kira, Rainero hanya berhalusinasi saja melihat Shenina di kota itu. Tapi nyatanya, Rainero berhasil membuktikan kata-katanya. Bahkan anak buahnya saja belum dikerahkan untuk mencari Shenina, tapi dengan keyakinan Rainero, laki-laki itupun berhasil menemukan.


Dipandanginya Rainero saat mencoba mengejar Shenina. Ia lantas ikut turun dan mencoba mencari tahu tentang Shenina dengan Gladys. Gladys menceritakan bagaimana Shenina bisa sampai di kota itu. Di saat sedang mengobrol, Adisti pun datang ikut menimbrung.


"Mark,.coba kau ikuti Rainero!" titah Axton.


Mark pun segera menjalankan perintah Axton dan mengikuti Rainero. Tak lama kemudian, Mark kembali lagi dengan membawa kerumunan bocah. Di belakang mereka ada segerombolan ibu-ibu yang sebenarnya mereka lah provokator anak-anak itu agar meminta uang dengan Rainero. Tentu saja mereka adalah orang tua anak-anak itu. Kapan lagi pikir mereka bisa minta duit dari bule kaya raya.


Axton benar-benar terkejut mendengar penuturan Mark. Untung saja, setibanya di Indonesia, ia langsung pergi ke money changer untuk menukar mata uang mereka dengan mata uang Indonesia. Axton lantas masuk kembali ke dalam mobil dan mengambil segepok uang merah dari dalam tas kerjanya.


Lalu iia dibantu Adisti dan Gladys membagi-bagikan uang itu. Di saat bersamaan, Shenina pun muncul kembali, tapi tidak dengan Rainero. Shenina sampai menutup mulutnya saat melihat kerumunan bocah bahkan orang-orang tua pun juga ikut-ikutan meminta uang. Tapi Axton hanya akan memberi uang pada anak-anak tegasnya.


Setelah selesai, kerumunan pun bubar. Axton langsung menghampiri Shenina dan menanyakan kabarnya.


"Sebenarnya kalian kenapa ada di sini?" tanya Shenina setelah bertukar kabar.


"Kau lupa, ada tender pembangunan Colloseum of Art yang diadakan di sini?" Axton mengingatkan Shenina sebab ia pun turut membantu mengembangkan proposal saat masih menjabat sebagai sekretaris. Shenina pun menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Wah, mbak Bule kenal sama Mas-mas Bule ini ya? Wow, hebat! Mana ganteng-ganteng lagi," seru Adisti heboh. Axton yang tak paham apa yang dikatakan Adisti hanya tersenyum tipis.


"Tapi selain itu, Rainero memiliki misi di sini?"


"Misi apa?" tanya Shenina bingung.


"Misi menemukan ibu dari calon anaknya," ucap Axton seraya tersenyum penuh arti.


Shenina bungkam. Ia tidak terpikirkan kalau yang dicari itu adalah dirinya. Ia tidak mau besar kepala. Apalagi mengingat bagaimana Rainero tidak mau mengakui anaknya dan mengusirnya meninggalkan luka yang cukup besar.


"Mbak Bule, kok Mbak Bule nggak bilang pas nonton tempo hari kalau mbak Bule kenal sama Mas bule pengusaha kaya raya itu?" Adisti mengerucutkan bibirnya. Axton jadi gemas sendiri melihatnya.


"Hanya tau, bukan kenal," jawab Shenina singkat.


"Kalau nggak kenal, mana mungkin Mas Bule sampai kejar-kejar Mbak Bule. Eh, tapi ngomong-ngomong Mbak Bule udah di sini, terus Mas Bule nya kemana? Jangan-jangan tersesat lagi?" seru Adisti membuat mata Shenina dan Gladys terbelalak.


"Ada apa?" tanya Axton saat melihat ekspresi tak biasa di wajah ketiga perempuan itu.


"Mas Bule ... "


Dddrrrtt ...


Mark calling ...


"Ada apa mister Bule?" tanya Adisti yang penasaran.


"Ada apa, Axton?" Shenina kini ikut menimpali, sementara Gladys terdiam, menunggu Axton menjelaskan.


"Mark kehilangan jejak Rainero. Shen, tadi Rainero mengejarmu. Dimana terakhir kali kau melihatnya?"


Shenina terdiam. Ia pun menceritakan kalau tadi Rainero berada tak jauh dari tempat mereka. Mereka pun segera mencari keberadaan Rainero. Axton meminta Shenina menunggu saja sebab ia khawatir dengan kehamilan Shenina. Tapi Shenina tetap memaksa ikut mencari. Mereka pun menyebar mencari keberadaan Rainero. Mereka juga bertanya kepada warga sekitar. Tapi hingga satu jam berlalu, Rainero tak berhasil ditemukan. Entah mengapa langkah kaki Shenina justru tertuju ke area kandang kambing. Matanya seketika terbelalak saat mendapati Rainero yang tampak seperti tidak baik-baik saja. Shenina pun segera mendekat dan di saat bersamaan Rainero tumbang jatuh ke pelukan Shenina.


"Pak Rainero," seru Shenina panik.


"Pak, bangun!" Shenina menepuk-nepuk pipi Rainero agar tidak benar-benar pingsan.


Rainero lantas mengerjapkan matanya, "Shen, ini benar kau? Shenina, akhirnya aku menemukan---"


"Pak Rainero," pekik Shenina saat Rainero akhirnya benar-benar pingsan.


Shenina lantas menghubungi Adisti bertanya apa Axton ada bersamanya. Setelah itu, Shenina pun memberi tahu keberadaan Rainero.

__ADS_1


Axton dan Adisti, Gladys dan Mark pun muncul bersamaan setelah tahu dimana keberadaan Rainero. Sebenarnya Axton meminta Shenina agar mengizinkan membawa Rainero ke rumahnya sampai ia sadarkan diri, tapi Shenina tidak memberikan izin. Alhasil Axton pun terpaksa membawa Rainero pulang ke hotel tempat mereka menginap.


"Ton, apa kau sudah tahu dimana rumah Shenina?" tanya Rainero antusias.


Pluk ...


Axton menepuk jidatnya, "sorry, Rain, aku lupa."


Brugh ...


Rainero yang tadi melompat kegirangan seketika menjatuhkan tubuhnya di atas kasur.


"Aaaakh ... lantas bagaimana kita bisa tahu alamat rumahnya? Oh ya, mana makananku?"


Rainero menengadahkan tangannya. Perutnya sudah benar-benar lapar dan ia hanya ingin makan bakso krispi Mbak Bule.


Mata Axton terbelalak, "kau tunggu di sini ya, aku dan Mark akan kembali ke sana membelikannya," seru Axton seraya berlari kencang. Ia yakin, Rainero akan segera memukulnya bila ia tidak segera melarikan diri.


"Dasar anak buah sialan. Rasakan ini!"


Dengan kesal, Rainero mengambil botol minyak angin freshpeduli di atas nakqs dan melemparkannya tepat mengenai kepala Axton membuat laki-laki itu menjerit kesakitan. Tak ingin meladeni, ia dengan cepat membuka pintu dan segera pergi dari sana meninggalkan Rainero yang tengah bersungut-sungut sambil memegang perut karena kelaparan.


Di tempat berbeda, tampak Shenina sedang dicecar banyak pertanyaan oleh Adisti dan Gladys mengenai siapa itu Rainero. Sebenarnya mereka bisa menebak kalau Rainero merupakan ayah dari anak yang Shenina kandung, tapi mereka memang tidak tahu apa yang menimpa Shenina sehingga membuatnya kabur sampai sejauh ini. Tapi karena Shenina tetap bungkam, mereka pun tak mau kembali mencecarnya. Mereka tak mau membuat Shenina jadi tak nyaman.


"Shen, gorengan mu gosong," pekik Gladys saat melihat gorengan Shenina yang nyaris gosong sempurna.


Shenina yang tadinya termenung seketika tersentak dan segera mengangkat bakso krispinya yang telah menghitam.


"Shen," panggil Axton yang baru saja tiba.


"Kau, kenapa kau kemari lagi, Axton? Apa terjadi sesuatu pada Pak Rainero?" tanyanya yang sedikit panik.


Axton tersenyum kecil, kemudian menggangguk membuat Shenina kian khawatir tanpa sadar.


"Dia kelaparan dan hanya mau makan itu," tunjuknya pada bakso krispi buatan Shenina. Axton benar-benar tidak menyangka kalau Shenina akan banting setir dari sekretaris menjadi pedagang bakso krispi.


"Jadi, yang beli bakso krispi sebanyak ini itu pak Rainero?" tanya Shenina dengan mata membulat. Meskipun ia sudah tahu kalau yang membeli jualannya kemarin adalah Rainero, tapi ia tak menyangka kalau Rainero akan membeli sebanyak itu untuk dirinya sendiri.


Axton terkekeh, "dia nggak bisa makan dan hanya bisa makan ini. Bahkan beberapa bulan ini dia hanya bisa mengkonsumsi buah-buahan. Dia mengalami sindrom cauvade."


Shenina sudah tahu itu. Tapi yang ia pikir, itu karena kekasih Rainero yang tengah hamil. Wajah Shenina seketika murung. Entahlah apa yang ada dipikirannya saat ini. Yang ia tahu, dadanya sesak membayangkan Rainero menimang anaknya yang lain, sedangkan anaknya ... tidak diakui.

__ADS_1


...***...


...HAPPY READING 🥰🥰🥰...


__ADS_2