Benih Sang Cassanova

Benih Sang Cassanova
BSC 155 (S2 Part 24)


__ADS_3

Ael melirik ke arah kamar mandi, kemudian menyeringai.


"Heh bodoh, kau dengar kan! Jadi ... Jangan salahkan aku kalau aku yang akan menggantikanmi mu sebagai suami Rhea. Aku yakin kau pasti menyadari kalau aku menyukai Rhea. Bahkan aku sudah sejak lama menyukainya. Seandainya kalian tidak pernah dijodohkan dan Rhea tidak tiba-tiba dinikahkan, sudah pasti aku lah yang saat ini akan menyandang status sebagai suaminya. Bahkan mungkin, bayi yang Rhea kandung adalah benihku. Tapi sepertinya semesta kini sedang memihak ku, hm. Kau koma lah yang lama. Kalau perlu sampai Rhea melahirkan. Lebih bagus lagi sampai baby yang Rhea kandung bisa bicara dan memanggil ku daddy. Ingat, jangan marah dan jangan salahkan aku kalau anak kalian memanggilku daddy sebab hanya aku ... akulah yang selalu ada untuk Rhea. Dan sepertinya selamanya akan selalu begitu," imbuhnya lagi bersamaan itu terdengar derit pintu terbuka.


Ael tersenyum lebar ke arah Rhea yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi. Sepertinya Rhea baru saja mencuci mukanya sehingga wajah itu jadi tampak lebih fresh.


"Ibu hamil makin hari makin cantik saja," goda Ael dengan seringai jahil.


"Berhenti mengusili ku, Ale! Ayo, kita ke obgyn sekarang. Nanti antrenya makin panjang kalau kita terlalu siang daftarnya," ujar Rhea sambil mencangklong tasnya.


"Memangnya kau tidak daftar dulu secara online?" tanya Ael sambil membukakan pintu dan mempersilahkannya keluar lebih dulu.


Rhea menggeleng, "daftar langsung saja lah. Ujung-ujung juga masih ngantri. Lagian kita juga ada di sini. Kalau kita jauh, ya mungkin lebih baik daftar online dulu seperti biasa."


Ael mengangguk-anggukkan kepalanya.


Mereka lantas berjalan bersisian menuju ruang obgyn yang ada di lantai 2 rumah sakit tersebut. Mereka masuk ke dalam lift dan dalam hitungan detik, lift pun berhenti di lantai yang dituju.


"Ael, setelah aku daftar, lebih baik kamu balik saja ke restoran. Masa' dua orang penting di sini semua. Nanti kalau ada apa-apa, siapa yang handle."


"Iya, tapi nanti. Setelah kamu diperiksa dan kembali ke kamar suamimu, baru aku balik ke restoran."


"Tapi ... "

__ADS_1


"Udah ah. Kamu duduk saja, biar aku yang ambil nomor antri."


Ael lantas melenggang pergi begitu saja setelah mematikan Rhea duduk dengan nyaman di tempatnya. Tak butuh waktu lama, Ael telah kembali dengan memegang nomor antri. Setelah antri sekitar 15 menit, nama Rhea pun dipanggil untuk mendaftarkan pemeriksaannya kali ini.


Beruntung pengobatan Theo sudah dipindahkan ke rumah sakit lain. Tepatnya di dekat mereka tinggal. Di rumah sakit itu juga tempat Rhea biasanya melakukan pemeriksaan kehamilannya jadi ia sudah memiliki dokter langganan di sana.


Kini Rhea harus kembali duduk menunggu nomor antreannya di panggil. Hari itu tampaknya lebih ramai dari hari biasanya. Tampak kursi tunggu telah padat oleh ibu-ibu hamil yang menunggu gilirannya dipanggil.


Tiba-tiba Rhea tersenyum miris. Semua wanita hamil di sana datang melakukan pemeriksaan ditemani suaminya, sedangkan ia tidak. Suaminya terbaring koma membuatnya harus melewatkan pemeriksaan ini sendiri. Ah, sebenarnya tidak benar-benar sendiri. Saat Ael tahu ia akan memeriksakan kandungannya, Ael lantas memaksa untuk menemani. Meskipun Rhea sudah menolak, tapi Ael tetap kekeh ingin menemani. Bila orang lain melihat, pasti mereka akan mengira keduanya merupakan pasangan suami istri. Memangnya ada seorang lelaki mau menemani teman perempuannya memeriksakan kandungannya? Mungkin hanya Ael saja yang mau melakukannya.


"Antreannya masih panjang. Kalau kamu lelah, kamu bisa kembali ke ruangan Theo. Kalau nama kamu sebentar lagi dipanggil, baru deh aku hubungi kamu supaya ke sini lagi," ujar Ael.


Tapi Rhea menolak. Rhea kadung malas mondar-mandir. Buang waktu dan tenaga saja. Selain itu, alangkah tidak berperasaannya dirinya, siapa yang hamil, anak siapa yang dikandung, lalu siapa yang harus repot-repot menunggu antrean pemeriksaan kandungannya.


"Anak pertama ya?" tanya seorang perempuan yang duduk di samping Rhea.


Rhea pun sontak menoleh, "eh, iya," jawab Rhea tersenyum lembut.


"Kalau saya yang kedua. Kelihatan sekali sih kalau ini pengalaman pertama kalian memiliki anak. Kalian tampan dan cantik, pasti anak kalian pun akan menurunkan gen kalian," ujar perempuan itu antusias seakan melihat Rhea dan Ael seperti seorang artis.


"Ah, kami sebenarnya bukan ... "


"Mrs. Maurine?" panggil seorang suster dari depan ruangan dokter obgyn.

__ADS_1


"Saya," sahut perempuan itu cepat. "Saya duluan ya! Selamat atas kehamilannya," imbuh perempuan itu sebelum berangkat dari tempat duduknya.


Rhea menghela nafas setelah perempuan itu beranjak dari sisinya. Beberapa detik kemudian, Ael pun terkekeh. Rhea menoleh sengit, tapi itu tak lantas membuat Ael menghentikan tawanya.


"Dari dulu setiap ada yang melihat kita berdua, pasti mengira kita adalah pasangan. Sepertinya itu doa orang-orang secara tak langsung. Bagaimana Rhea kalau kita benar-benar bersama? Aku tak masalah dengan anak itu. Aku pastikan akan menyayanginya seperti anakku sendiri," ujar Ael sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Dalam mimpimu," ketus Rhea yang selalu menganggap setiap pernyataan Ael sebagai sebuah candaan. Meskipun ia tahu kalau Ael memiliki rasa padanya, tapi Rhea lebih memilih pura-pura tidak tahu. Ia tak mau merusak pertemanan mereka dengan masalah percintaan.


Bukannya marah dengan penolakan Rhea, Ael justru makin tertawa lebar.


20 menit kemudian, akhirnya nama Rhea pun dipanggil. Dokter yang memeriksa Rhea lantas menanyakan perihal apa yang Rhea alami sebulan ini. Rhea mengatakan ia sering mengalami keram di perutnya. Kakinya juga kadang-kadang membengkak. Pun intensitas buang air kecil yang kian menjadi. Dokter meminta asistennya mencatat semua yang Rhea sampaikan. Dokter juga menjelaskan kalau semua yang Rhea alami itu wajar menjelang detik-detik hari persalinannya.


Dokter lantas meminta Rhea naik ke atas ranjang untuk melakukan pemeriksaan USG. USG diperlukan untuk melihat kondisi dan posisi janin maupun keadaan air ketuban.


Namun baru saja Rhea berbaring di atas ranjang, tiba-tiba pintu ruangan itu dibuka kasar oleh seseorang. Keempat orang yang ada di dalam ruangan itupun sontak menoleh.


Namun ada dua pasang mata yang kini justru terbelalak saat melihat siapa yang telah berada di ambang pintu tersebut. Seorang laki-laki duduk di kursi roda dengan perban di pundak dan kakinya.


Lalu laki-laki itu mendekat ke arah Ael dengan sorot mata tajamnya.


"Aku minta kau segera keluar dari sini sebab hanya aku, suami dari Rhea, ayah dari calon bayi yang dikandungnya yang berhak menemani Rhea baik saat memeriksakan kandungannya maupun menemani saat persalinannya," tegas Theo yang tidak suka melihat keberadaan Ael menemani Rhea memeriksakan kandungannya.


...***...

__ADS_1


...HAPPY READING 🥰🥰🥰...


__ADS_2