Benih Sang Cassanova

Benih Sang Cassanova
BSC 162 (S3 Part 5)


__ADS_3

"Nyonya mana?" tanya Jevian sepulangnya bekerja pada maid di kediamannya.


"Nyonya pergi, tuan."


"Sejak kapan?"


"Sejak siang, tuan," jawab Maid itu dengan kepala menunduk.


Jevian menghela nafasnya sambil merenggangkan dasinya. Kemudian ia menghempaskan tubuhnya di sofa yang ada di ruang tengah.


"Tolong bawakan aku segelas air," titahnya pada sang maid. Jevian merasa begitu lelah. Memang ia sudah mendapatkan suntikan dana yang tidak main-main dari Tobey, tapi itu tak serta merta membuat perusahaan segera membaik seperti semula. Apalagi banyak rekan bisnis mereka yang memutuskan kerja sama sehingga membuat Jevian harus ekstra kerja keras untuk mencari rekanan yang baru.


Sebenarnya rekan bisnisnya yang lama ada yang kembali mengajukan kerja sama, tapi Jevian menolak mentah-mentah. Mereka hanya mau bekerja sama saat perusahaan sedang baik-baik saja, tapi segera memutuskan kerja sama saat perusahaan sedang dalam keadaan kritis. Mereka hanya memedulikan keuntungan saja, namun tidak mau ikut menanggung kerugian di saat perusahaan dalam keadaan terpuruk. Tentu saja Jevian tak mau lagi bekerja sama dengan perusahaan seperti itu. Lebih baik ia mencari rekanan yang baru meskipun harus bersusah payah dan memulainya dari awal lagi.


"Baik, Tuan." Maid tersebut pun segera berangkat dari tempatnya untuk mengambilkan minum sesuai permintaan Jevian.


...***...


"Hai, Sayang, kau sudah lama pulang?" tanya Eve saat baru pulang. Jevian pun segera menghentikan pekerjaannya di layar laptop. Jevian menghela nafasnya saat melirik jarum jam yang menunjukkan hampir pukul 09.00 malam. Namun Jevian tetap mengulas senyum dengan manis dan menyambut pelukan sang istri.


"Lumayan," jawab Jevian singkat.


"Maaf, aku tadi pergi dengan teman-temanku. Aku sampai tak sadar kalau langit sudah mulai gelap. Kau tak papa kan?"


"Iya, aku tak papa."


"Terima kasih, Sayang. Cup." Eve mengecup pipi Jevian seraya berlalu dari hadapan Jevian menuju kamar mandi. Bahkan Eve tidak menanyakan suaminya sudah makan atau belum. Jevian hanya bisa menghela nafasnya. Ia tidak begitu mempermasalahkan. Ia pun segera melanjutkan pekerjaannya.

__ADS_1


"Sayang, kau masih sibuk?" tanya Eve yang baru saja keluar dari kamar mandi. Aroma sabun yang lembut dan segar menyeruak memenuhi indra penciuman Jevian saat Eve memeluk Jevian dari belakang.


"Hmmm ... Sebentar lagi selesai, kenapa?"


Eve tersenyum lebar, "aku ingin."


"Maksudmu?"


Eve berdecak, kemudian ia segera menggeser laptop dan duduk di meja menghadap Jevian membuat mata laki-laki itu terbelalak sebab pekerjaannya yang belum selesai.


"Eve, itu ... "


"Sayang, aku mau kamu. I want you fuc king me, now!" Mata Jevian membulat saat mendengar kalimat bernada vulgar tersebut. Jevian ingin mengumpat, tapi ditahannya. Ia tak ingin pernikahannya yang baru seumur jagung harus dihiasi dengan pertengkaran.


Jevian tersenyum, "as you wish," ucapnya dengan dada yang bergemuruh.


Entah berapa lama mereka bercinta, yang pasti saat ini keduanya telah banjir dengan peluh. Eve sebenernya belum puas dengan pelayanan Jevian sebab Eve yang terbiasa dengan bercinta dengan berbagai gaya, namun ia tidak mengatakannya pada Jevian. Sebab ia tahu, Jevian memang masih belum berpengalaman. Namun setidaknya, Jevian bisa bertahan cukup lama sehingga bisa sedikit memberinya kelegaan.


"Sayang," panggil Eve pada sang suami yang masih terengah-engah.


"Ya," jawab Jevian pendek. Sebenarnya Jevian masih merasa sedikit canggung dengan Eve. Oleh sebab itu, ia tidak banyak bicara. Apalagi setiap berbincang, Eve lebih sering menceritakan tentang dirinya dan teman-temannya. Tak pernah Eve menanyakan perihal dirinya membuat Jevian bingung harus membahas apa untuk memulai pendekatan mereka. Untung saja Eve tidak pernah mempermasalahkan sikapnya itu.


"Besok aku akan pergi dengan teman-temanku ke Australia, kau tak masalah kan?"


Jevian tentu saja terkejut. Pernikahan mereka saja baru berjalan beberapa hari, tapi Eve sudah akan pergi meninggalkannya.


"Berapa lama?" tanya Jevian.

__ADS_1


"Tidak lama kok. Paling cepat satu Minggu. Kalaupun lebih, tidak sampai satu bulan kok. Kenapa? Kau takut kau tidak punya tempat menyalurkan hasratmu, hm?" goda Eve sambil memainkan jemarinya di atas dada Jevian.


"Tidak," jawab Jevian cepat. "Pergi saja. Nikmatilah waktumu. Maaf aku belum bisa menemanimu karena aku masih sangat sibuk di kantor."


"Baguslah. Terima kasih, Sayangku," ujarnya sambil mengecup pipi Jevian. "Mau nambah satu ronde lagi?" Eve tersenyum menggoda. Tapi dengan cepat Jevian menolaknya.


"Maaf, Eve. Sepertinya lain kali saja. Aku sudah sangat lelah," ujarnya sambil menguap.


Eve tersenyum kecut. Ia pun segera merebahkan kepalanya di dada Jevian.


"Ya sudah, ayo kita tidur. Aku pun sudah lelah," ujarnya sambil memejamkan mata membuat Jevian bernafas lega.


...***...


Seperti perkataannya, keesokan harinya, Eve benar-benar berangkat dengan teman-temannya. Eve yang terlalu dimanja sang ayah membuatnya kerap berbuat semaunya. Bahkan setelah menikah pun ia tak sadar akan peran dan tugasnya sebagai seorang istri. Ia masih kerap sibuk dengan kesenangannya. Bepergian, belanja, bahkan berkeliling dunia memang sudah menjadi kebiasaan yang sulit untuk dienyahkan.


Bahkan dua Minggu telah berlalu, tapi Eve belum juga kembali. Ia hanya sesekali menghubungi. Entah apa yang dilakukan Eve di luar sana, Jevian awalnya tidak mau peduli. Namun karena statusnya sekarang merupakan seorang suami, Jevian merasa ia seperti seorang suami yang tidak berharga di mata sang istri. Ia hanya dijadikan pemuas napsu sebab mereka hanya bertemu saat Eve menginginkan dirinya. Atau kadang ia hanya dijadikan pajangan untuk dipamerkan saat Eve ada pertemuan tertentu.


Jevian sadar, tak seharusnya ia terlalu memikirkannya sebab pernikahan mereka hanyalah pernikahan bisnis. Bahkan hatinya pun masih mencintai Adisti. Meskipun ada yang mengatakan Eve sebenernya mencintainya, tapi entah mengapa ia merasa cinta Eve tak sebesar apa yang orang-orang katakan. Bila Eve benar mencintainya, mana mungkin ia mau meninggalkannya begitu saja sampai berminggu-minggu lamanya. Padahal mereka belum lama menikah.


Jevian menghela nafas panjang. Ia lantas mengambil foto Adisti yang sempat dicetaknya. Ia sengaja menyetaknya agar bisa ia nikmati kapan saja.


"Adisti, apa kabarmu di sana? Apakah kau bahagia? Ah, kau pasti sangat bahagia, bukan? Apalagi Mark sangat mencintaimu. Ah, bukan hanya dia yang sangat mencintaimu, tapi kau pun sangat mencintainya. Kalian sungguh beruntung, kalian saling mencintai. Kalian pun menikah karena cinta. Tidak seperti aku yang ... " gumamnya sambil memandang wajah cantik Adisti dalam foto tersebut. Jevian menghela nafasnya yang mulai sesak. Dadanya selalu saja sakit setiap mengingat kalau wanita pujaannya telah menjadi milik orang lain.


"Adisti, bagaimana aku bisa melupakan mu bila hatiku seolah penuh dengan namamu? Adisti, aku merindukanmu," lirih Jevian dengan mata berkaca-kaca.


...***...

__ADS_1


...HAPPY READING 🥰🥰🥰...


__ADS_2