Benih Sang Cassanova

Benih Sang Cassanova
BSC 94


__ADS_3

Waktu terus bergulir, tanpa terasa kehamilan Shenina telah memasuki bulan ketujuh.


"Sweety, pemeriksaan kehamilanmu jam berapa?" tanya Rainero seraya memasang kancing di lengan kemejanya.


Memang hari ini merupakan jadwal kontrol kandungan Shenina dan Rainero tentu tak ingin melewatkan sekali saja pemeriksaan kehamilan istrinya itu. Sudah cukup baginya di awal-awal masa kehamilan Shenina ia tidak di sisi wanita cantik itu, tapi tidak untuk setelahnya. Ia ingin selalu menemani tumbuh kembang janin-janin mungil di kandungan sang istri. Bahkan Rainero sendiri telah menjadwalkan cuti menjelang kelahiran sang istri. Ia ingin menjadi suami siaga dan menjadi orang pertama yang tahu kalau istrinya akan segera melahirkan.


"Jam 1 siang, selepas makan siang. Kenapa? Kamu bisa kan?"


Rainero berpikir sejenak, selepas makan siang sebenarnya ia ada meeting, tapi demi menemani sang istri memeriksakan kehamilannya, ia akan mengundur waktu meeting.


Rainero berjalan menuju Shenina yang duduk di tepi ranjang sambil memegang dasi. Shenina segera berdiri dan mulai melingkarkan dasi itu di leher Rainero dan mulai membuat simpul saat laki-laki itu telah menjulang tinggi di hadapannya.


"Tentu, Sweety. Aku sudah bilang, aku takkan pernah melewatkan satupun pemeriksaan kehamilanmu. Kau dan anak-anak adalah tanggung jawabku jadi sudah semestinya aku mendampingimu selalu," ujar Rainero sambil terus menatap wajah cantik sang istri.


"Kamu kenapa melihatku sampai segitunya? Aku gemukan ya?" Shenina mencebikkan bibirnya. Akhir-akhir ini ia merasa insecure dengan tubuhnya sendiri yang terlihat sangat gemuk.


"Gemuk? Kalau iya, kenapa?" Rainero tidak peka kalau Shenina sedang merasa tidak percaya diri dengan bobot tubuhnya yang naik drastis.


"Apakah kau akan meninggalkanku?"


"Hah? Maksudnya?"


"Tubuhku sekarang sangat gemuk, apa kau akan meninggalkanku nanti setelah melahirkan?"


"Kenapa aku harus meninggalkanmu?" tanya Rainero bingung.


"Ya karena aku gemuk. Tidak cantik apalagi seksi. Pasti kamu akan ilfil dengan tubuhku yang semakin gemuk, iya kan?"


Rainero terkekeh, lalu mengecup singkat bibir Shenina. Sebenarnya ia ingin menciumnya lebih dalam, tapi ia takut Rainocondanya tiba-tiba terbangun dan menuntut untuk masuk ke sarangnya, jadi ia memilih aman dengan mengecupnya saja.


"Kau tahu, sesuatu yang mustahil bagiku untuk kulakukan?" tanyanya dan Shenina menggeleng. "Meninggalkanmu. Sesuatu yang mustahil kulakukan adalah meninggalkanmu. Kau adalah hidupku dan aku berharap kita bisa sehidup semati selamanya," ujar Rainero penuh kesungguhan. Shenina sampai tertegun mendengar pernyataan Rainero yang tak pernah terduga dan sungguh di luar ekspektasi. Dari kalimat sederhana itu saja Shenina bisa menyimpulkan kalau Rainero ingin bersama dirinya untuk selamanya.

__ADS_1


...***...


Siangnya, Rainero menjemput Shenina di mansion. Mereka akan makan siang dulu, setelahnya baru memeriksakan kandungan.


"Bagaimana dok keadaan anak saya?" tanya Rainero pada dokter yang baru saja memeriksa kandungan Shenina.


Dokter itu tersenyum lembut, "pertumbuhan dan perkembangan anak-anak tuan sangat baik. Air ketubannya bagus, posisinya juga bagus. Berat badan dan organ-organ lainnya pun bagus. Tak ada yang perlu dikhawatirkan. Seperti biasa, nyonya terus jaga pola makan. Untuk sementara, kurangi makan makanan yang manis ya sebab bobot bayi Anda tergolong besar untuk anak kembar,* ujar dokter itu memaparkan keadaan kandungan Shenina.


Shenina dan Rainero tersenyum lega. Kemudian mereka pun berpamitan dari dokter. Sebelum pulang, mereka menembus vitamin terlebih dahulu. Setelah selesai, barulah mereka berjalan melintasi koridor menuju lobi.


"Rain," tegur seseorang membuat langkah Rainero yang sedang memapah Shenina agar berjalan hati-hati seketika berhenti. Ia mendongak dan menatap datar perempuan yang berdiri di hadapannya.


"Hai Za, apa kabar?" sapa Shenina pada perempuan yang menyapa suaminya itu. Ya, dia adalah Delianza. Perutnya tidak lagi membuncit sebab 2 Minggu yang lalu ia baru saja melahirkan. Tapi kondisi bayinya kurang baik sehingga harus melakukan perawatan di rumah sakit sampai keadaannya benar-benar membaik.


"Oh, hai, Shen. Em, kalian baru melakukan pemeriksaan kandungan?"


"Iya. Dan kau?"


"Ah, aku ingin melihat keadaan anakku."


"Beberapa hari ini keadaannya mulai membaik. Semoga saja secepatnya ia bisa dibawa pulang. Terima kasih atas doanya."


"Tak masalah."


"Kalian mau pulang?" tanya Delianza. Tatapannya sendu. Sesekali ia melirik Rainero yang tak acuh padanya.


"Ya. Kami sudah selesai. Kalau begitu, kami pamit."


Delianza mengangguk. Ia menatap kepergian Shenina dan Rainero dengan hati yang bergemuruh.


"Sepertinya kau telah benar-benar melupakanku, Rain," gumamnya seraya memandang punggung Rainero yang kian menjauh. Delianza menghela nafas kasar. "Apakah aku juga harus mulai melupakanmu? Tapi ... apakah mungkin, sedangkan Justin saja menikahiku hanya untuk membuatmu terpuruk." Delianza terkekeh miris. Tak tahu apa yang harus ia lakukan.

__ADS_1


Kemudian, ia melangkahkan kakinya menuju kamar rawat khusus bayi di rumah sakit itu. Setibanya di depan inkubator sang anak, Delianza menitikkan air mata.


Lalu ia mengulurkan tangannya menyentuh jari kecil bayinya.


"Hai baby, apa kabarmu, Sayang? Mommy harap kau segera sehatnya, Sayang. Mommy tak sabar ingin memeluk dan menggendong mu," gumamnya sambil tersenyum kecil.


Kemudian pikirannya kembali terlempar pada masa lalunya, saat awal-awal ia meninggalkan Rainero. Seandainya ia tidak mengambil keputusan salah, mungkin kini dia telah bahagia dengan Rainero.


Tapi kini, semuanya telah terlambat.


"Haruskah aku mencoba mempertahankan rumah tanggaku dan melupakan Rainero?"


Setelah berpikir sejenak, Delianza pun berniat menemui Justin. Ia ingin mempertanyakan nasib rumah tangga mereka. Ia harap, Justin mau mempertahankan rumah tangga mereka. Ia berjanji akan membuka pintu hati untuk laki-laki tersebut bila ia mau mempertahankan rumah tangga mereka.


Delianza pun segera pergi dari ruangan itu. Ia masuk ke dalam mobil dan melajukan dengan harapan Justin pun mau berubah dan berusaha memperbaiki hubungan mereka. Ya, selama ini mereka hanya menjalin hubungan simbiosis mutualisme. Delianza berharap bisa memiliki keturunan dan keluarga Sanches, sementara Justin ingin membuat Rainero sakit hati dan terpuruk. Alhasil, tak ada cinta sama sekali dalam hubungan mereka.


Setibanya di depan perusahaan milik Justin, Delianza pun segera keluar dari dalam mobil dan berjalan menuju ruang kerja Justin. Semua orang telah mengetahui siapa itu Delianza jadi tak heran lagi saat melihat kedatangan Delianza ke perusahaan itu.


Tapi yang tidak Delianza sadari, ia datang di waktu yang salah. Saat Delianza membuka pintu, mata Delianza seketika memanas. Bagaimana tidak, di depan matanya ia melihat Justin sedang duduk di sofa dengan celana yang melorot setengah. Sementara itu, di atas pangkuannya ada seorang perempuan tanpa busana yang terus bergerak aktif di atas Justin.


Hati Delianza hancur. Bila selama ini ia hanya mendengar tentang perselingkuhan Justin, tapi kini untuk pertama kalinya ia melihat sendiri dengan mata kepalanya. Dan wanita itu, Delianza mengenalinya sebagai wanita yang sempat viral tempo hari.


"Justin ... " lirih Delianza dengan air mata berderai.


Justin yang awalnya sedang menikmati pergerakan sang wanita seketika membuka matanya setelah sorot mata tak terbaca. Wanita yang diatasnya pun ikut menoleh dengan wajah yang pias.


Dengan menahan gemuruh di dada, Delianza pun pergi dari ruangan itu. Justin hendak mengejar, tapi keandalannya sedang tak memungkinkan.


Delianza melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Baru saja ia berniat memperbaiki hubungan mereka, tapi yang terjadi justru sesuatu yang tak terduga. Hati yang sakit membuat Delianza kehilangan konsentrasi. Pandangannya memburam, alhasil ia kehilangan kendali dan menabrak mobil yang melaju kencang dari arah berlawanan.


Brakkkk ....

__ADS_1


...***...


...HAPPY READING 🥰🥰🥰...


__ADS_2