Benih Sang Cassanova

Benih Sang Cassanova
BSC 62


__ADS_3

Iring-iringan mobil mewah yang membawa Shenina, Rainero, kedua orang tuanya, Ranveer, dan juga Adisti kini telah memasuki gerbang mansion keluarga Sanches. Mansion itu hanya dihuni Ranveer dan para maid serta beberapa bawahan Ranveer. Rainero memiliki mansion sendiri, tapi lebih sering menghuni apartemennya. Begitu pula Delena dan Reeves memiliki mansionnya sendiri. Tapi khusus malam ini, Ranveer memang meminta keluarga serta calon cucu mantu dan Adisti menginap di mansion miliknya.


"Selamat datang tuan besar, tuan Reeves, Nyonya, dan tuan muda," seru kepala pelayan yang telah berjajar rapi menyambut kedatangan Ranveer dan keluarganya. Kepala pelayan itu sudah dikabarkan oleh asisten pribadi Ranveer tentang kepulangan tuan besar mereka. Kepala pelayan itu masih menundukkan wajahnya jadi ia belum tahu kalau akan ada anggota baru dalam keluarga itu yang kini juga telah berdiri di hadapannya.


"Merry, perkenalkan, dia Shenina, calon nyonya muda keluarga Sanches. Atau lebih tepatnya dia adalah calon istri dari Rainero," ujar Ranveer bangga sambil mendorong pelan pundak Shenina agar lebih maju ke depan.


Mendengar itu, Merry-sang kepala pelayan pun mengangkat kepalanya. Matanya mengerjap beberapa kali saat melihat wanita cantik dengan perut buncitnya telah berdiri di hadapannya dan para pelayan lainnya.


Bukan hanya karena kagum, tapi ia juga bingung dengan perut buncit Shenina sebab yang ia tahu kalau tuan mudanya itu mandul. Merry menyingkirkan pikiran anehnya itu dan segera memberikan hormat yang diikuti oleh para pelayan lainnya.


"Selamat datang di mansion keluarga Sanches, Nona. Maaf kalau penyambutan kami belum kurang memuaskan," ujarnya seraya membungkukkan sedikit tubuhnya.


Shenina mengulas senyum tak enak hati, "terima kasih. Tak perlu sungkan. Hal itu wajar karena aku pun datang tiba-tiba ke mansion ini. Tapi terima kasih atas penyambutannya," jawab Shenina ramah.


Ranveer tersenyum bangga. Ia kagum atas keramahtamahan Shenina. Rainero memang tidak salah memilih, pikirnya. Dibandingkan Delianza, memang Shenina memiliki kualifikasi yang lebih. Shenina mungkin kalah dalam hal asal usul maupun kedudukan, tapi Shenina tak kalah cantik. Ia juga wanita yang anggun, baik hati, dan ramah serta sangat sopan. Ada rasa bersalah karena pernah menolak mentah-mentah pernyataan Rainero kala ia menyatakan akan menikahi seorang wanita biasa. Tapi beruntung ia masih memiliki kesempatan untuk menebus kesalahannya.


"Oh ya Merry, mungkin kau bingung melihat perut Shenina yang sedikit ... besar. Kau tahu, ternyata Rainero tidak mandul dan ini adalah hasil mahakarya cucu kesayanganku ini. Bahkan dia sangat-sangat hebat, sekali tembak bisa jadi dua calon bayi," ujar Ranveer bangga.


Terang saja, wajah Shenina memerah saat Ranveer mengatakan hal itu dengan lantang. Ia tak menyangka kakek dari Rainero bisa berbicara seperti itu. Ya, selama bekerja dengan Rainero memang Shenina tidak pernah bertemu dengan Ranveer. Kakek dari Rainero itu tidak pernah menginjakkan kakinya di perusahaan Rainero. Mereka lebih sering bertemu di luar, berbeda dengan Delena dan Reeves, Shenina mengenal mereka karena meskipun jarang, tapi mereka beberapa kali pernah berkunjung ke perusahaan.


Mata Merry terbelalak, "maksud tuan, nona Shenina mengandung anak kembar?"


Ranveer mengangguk cepat, membuat mata Merry membulat dengan binar bahagia.


"Wah, selamat nona! Selamat tuan muda. Saya ikut berbahagia mendengar kabar luar biasa ini," serunya bahagia.


"Terima kasih bibi Merry. Terima kasih juga atas sambutannya," jawab Rainero dengan seulas senyum tipis.


"Ayo masuk! Merry, kau sudah melakukan apa yang Larry perintahkan, bukan?"


"Ah, iya, tuan. Kamar-kamar telah siap. Silahkan masuk, tuan, nyonya, nona!" Wanita paruh baya itu membuka jalan jalan untuk yang lainnya masuk ke dalam mansion yang super luas itu.


Ranveer segera menuju kamarnya. Ia benar-benar merasa lelah setelah menempuh perjalanan udara berjam-jam lamanya. Pun kedua orang tua Rainero segera menuju ke kamar yang kerap mereka tempati saat menginap di sana.


Sementara itu, Shenina sedang dibimbing Rainero masuk ke salah satu kamar di lantai tiga. Mereka naik ke lantai tiga menggunakan lift. Mata Shenina mengerjap saat masuk ke dalam sebuah kamar yang sangat luas. Bahkan luasnya berkali-kali lipat dari kamar kontrakannya. Kamar itu didominasi oleh warna abu-abu dan hitam. Sangat manly sekali.


Tiba-tiba terdengar suara pintu terkunci. Shenina pun segera membalikkan badannya.


"Kenapa kau mengunci pintunya?" tanya Shenina.


"Menurutmu?" Rainero menyeringai membuat Shenina membulatkan matanya.

__ADS_1


"Jangan bilang kau akan ... "


"Ya, kita akan tidur di kamar yang sama dan di ranjang yang sama pula," ucapnya dengan seulas senyuman yang terlihat mengerikan bagi Shenina.


"Rain, kenapa ki-kita harus satu kamar? Bukankah kamar di mansion Grandpa banyak, kenapa kau tidak tidur di kamar yang lain?" tanya Shenina gugup. Apalagi saat Rainero makin memangkas jaraknya.


"Kenapa harus pisah kamar? Pertama, sebentar lagi kau akan jadi istriku, kedua ini adalah kamarku sendiri. Masa remajaku, ku habiskan di kamar ini. Jadi ... apa kau masih ingin aku pindah kamar?" Rainero menyunggingkan senyum penuh arti.


"Ka-kalau begitu, aku saja yang pindah."


Shenina berjalan dengan cepat menuju pintu, tapi Rainero justru lebih dahulu menghentikannya. Ia menahan lengannya kemudian mendekat dan memeluknya dari belakang.


"Sudah aku bilang bukan kalau kau sebentar lagi jadi istriku jadi apa salahnya kita satu kamar," bisik Rainero membuat Shenina menegang. Bulu kuduknya sampai berdiri dengan jantung yang berdebar kencang.


"Ta-tapi tetap saja kita belum menikah. Meskipun di negara ini semua diwajarkan, tapi aku ... "


"Kau tenang saja, Sweety. Aku tahu kekhawatiranmu. Aku tidak akan menerkam mu saat ini. Aku akan bersabar, tapi ... setelah kita menikah, kau harus bersiap. Kau ingat bukan aku pernah bilang, semenjak bercinta denganmu, aku tidak pernah lagi bercinta dengan perempuan lain."


"Bohong."


"Kenapa kau bilang aku bohong? Kau tidak percaya padaku?"


Shenina mengangguk, "aku tidak lupa kau pernah meminta Axton mencarikan mu seorang wanita penghibur untuk melayani mu."


"Ya, aku memang meminta Axton mencarikan wanita untukku melampiaskan hasratku, tapi apa kau tahu? Kau seakan mengutukku. Semenjak malam itu, milikku tidak bisa bangun meskipun mereka mati-matian untuk membangunkannya. Sebaliknya, dia bisa seketika menjadi pejantan tangguh saat aku mengingatmu. Bahkan ... ehem ... hampir setiap malam aku memimpikan malam panas itu denganmu. Kau tahu, tanpa sadar kau telah menjadi pawangku. Kau bukan hanya menggenggam hati dan pikiranku, tapi kejantananku. Dan hanya kau yang mampu mengendalikannya," ucapnya tanpa filter membuat wajah Shenina seketika memerah.


"Rain," desis Rainero geram.


"Kenapa? Atau kau ingin kita mengulang malam itu lagi? Di sini? Kalau aku ... dengan senang hati akan melak- aaakh ... "


Seketika Shenina menarik lengannya dan memukul perut Rainero menggunakan sikunya.


"Ah, Rainero, kau tidak apa-apa? Mana yang sakit? Maaf, aku benar-benar tidak sengaja," seru Shenina panik saat mendengar pekikan Rainero. Shenina pun gegas menarik ke atas ujung kaos yang Rainero kenakan untuk memeriksa perutnya.


"Ahhh," lenguh Rainero membuat Shenina mendongak. Kenapa Rainero mengeluarkan suara seperti itu saat ia mengusap perutnya.


"Rain, kau kenapa?" tanya Shenina bingung tapi juga khawatir.


Rainero meringis lalu menunjuk ke arah bawah. Lebih tepatnya ke bagian celananya.


"Aku benar kan, ternyata kau memang telah menjadi pawang Rainero junior," ucapnya saat melihat celananya telah menggelembung. Mata Shenina terbelalak dengan wajah bersemu merah. Merasa heran, bagaimana bisa hanya karena sentuhan di area perut bisa membangunkan Rainoconda yang bersembunyi di balik celana?

__ADS_1


"A-aku tidak sengaja," pekik Shenina panik yang segera membalikkan badannya. Rainero terkekeh lalu mengecup pipi Shenina dari belakang.


"Sepertinya aku harus mandi lebih dahulu. Kalau kau lelah, kau bisa berbaring terlebih dahulu. Tenang saja, aku tidak akan menerkam mu malam ini," ujar Rainero dengan senyum menggoda.


Setelah mengatakan itu, Rainero pun gegas berlari masuk ke dalam kamar mandi meninggalkan Shenina yang jantungnya sudah morat-marit.


"Astaga, begini kalau berhadapan dengan mantan Cassanova! Semoga saja sudah benar-benar menjadi mantan," ucapnya sambil mengusap dadanya yang jedag-jedug. Terus terang saja, Shenina terkadang masih merasa khawatir. Apalagi Rainero telah terbiasa berpetualang dari satu wanita ke arah wanita lain. Shenina hanya takut, laki-laki itu belum benar-benar bisa melepaskan kebiasaan buruknya. Apalagi ia masih minim pengalaman di atas ranjang. Bagaimana kalau ia tidak bisa memberikan kepuasan seperti yang pernah Rainero dapatkan dari wanita-wanita bayarannya yang sudah pasti telah memiliki jam terbang tinggi?


Shenina merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Ia menatap langit-langit kamar dengan pikiran kacau. Kemudian ia menggeleng dengan cepat, ia harus memberikan kepercayaan pada Rainero. Ia harus belajar percaya pada laki-laki itu.


"Ya, aku harus belajar mempercayainya. Bukankah salah satu fondasi dalam berumah tangga adalah kepercayaan. Semoga saja memang ia dapat dipercaya," gumamnya lirih. Karena kelelahan, perlahan mata Shenina pun tertutup.


Tak lama kemudian, Rainero keluar dari kamar mandi dengan handuk berwarna abu-abu menggantung di pinggang. Rainero tersenyum sambil memandangi wajah cantik Shenina.


"Bahkan saat kau tidur pun kau terlihat sangat cantik," gumamnya yang kian hari kian mengagumi kecantikan Shenina.


...***...


Sementara itu, di tempat lain, tampak seorang pria memasuki rumah dengan penampilan yang begitu kacau.


"Theo, kau mabuk lagi?" seru seorang wanita dari ujung tangga saat berpapasan dengan Theo.


Theo melirik sinis tanpa mau menjawab pertanyaan wanita itu.


"Theo, aku bertanya padamu?" sentak wanita itu kesal.


Tiba-tiba saja Theo membalik-balikkan badannya dan mencengkeram rahang sang wanita.


"Sudah aku bilang tidak usah ikut campur urusanku," desis Theo.


"Tapi ... tapi aku istrimu, Theo. Setiap malam kau pergi dan pulang pagi dengan keadaan kacau. Kau pikir aku tahu khawatir," lirih sang wanita dengan nafas tercekat.


"Tapi aku tidak peduli. Salahmu sendiri yang mau saja menerima perjodohan ini."


"Tapi kau pun menerima," ujarnya tak terima saat Theo kembali menyalahkannya.


"Itu karena aku terpaksa, sialan. Kau pikir aku mau, hah?" pekik Theo sambil menghempaskan wanita itu begitu saja. Untung saja ia berpegangan dengan pagar tangga, bila tidak pasti wanita itu akan terjatuh terguling ke bawah tangga. "Jadi aku peringatkan padamu, tak usah ikut campur urusanku! Tak usah sok baik apalagi sok perhatian dan bersikap seolah-olah kau istri yang sebenarnya karena aku tidak butuh. Kau dengar itu!" bentak Theo dengan mata merah menyala. Kilat kebencian, kekecewaan, dan amarah terlihat begitu jelas di mata Theo membuat wanita itu tergugu.


"Kau pikir aku mau, hah? Aku pun terpaksa," lirih sang wanita yang kini telah terduduk di lantai. Dipandanginya punggung Theo yang mulai menjauh. Perempuan itu benar-benar terluka dengan sikap Theo, laki-laki yang baru 2 Minggu menyandang status sebagai suaminya itu.


...***...

__ADS_1


...HAPPY READING 🥰🥰🥰...


__ADS_2