
Hari ini merupakan hari yang ditunggu-tunggu Rainero dan Shenina. Hari pernikahan yang akan menyatukan dua insan dalam satu ikatan yang sakral. Menjadikan dua raga, dua hati, dan dua pemikiran menjadi satu-kesatuan yang saling melengkapi.
Tampak gedung hotel super megah itu telah ramai didatangi para tamu undangan. Para tamu yang diundang rata-rata merupakan kalangan atas yang terdiri dari rekan bisnis, relasi, keluarga, teman, dan para kenalan.
Tampak Shenina berada di ruang khusus sambil menatap cermin. Dirinya sedang dirias oleh make up artist ternama. Ia terpaku dengan benak yang tak henti meringis pilu. Hari ini hari bahagianya. Meskipun rasa cinta itu belum ia sadari sepenuhnya telah tumbuh atau masih bertunas, tapi Shenina telah bertekad untuk menyerahkan segenap jiwa dan raganya untuk calon suaminya itu. Ia akan membaktikan diri, menjadi istri yang terbaik, berharap keutuhan rumah tangganya kelak tetap terjaga hingga hanya sang maut sebagai pemisah.
Akan tetapi, ada satu hal yang mengganjal balam benaknya. Bilamana seorang calon pengantin menyambut hari bahagianya didampingi oleh keluarga terdekat, tapi tidak dengannya. Ia sendirian. Tidak ada satu keluarga pun yang akan mendampinginya ke altar. Padahal ia memiliki seorang ayah, tapi ayahnya justru membuangnya. Tak mempedulikannya. Tak ada gandengan dan rangkulan dari orang terkasih. Berjalan sendiri, meniti lembaran baru seorang diri. Sungguh sangat menyedihkan.
"Wow, you are so beautiful! Tidak salah kalau tuan Rainero sampai tergila-gila padamu," ucap sang make up artist membuyarkan lamunan Shenina. Mata Shenina mengerjap. Kemudian selarik senyum tipis terukir di bibir merahnya.
"Eh, emmm ... kau terlalu berlebihan," ucap Shenina sekenanya. Shenina sadar dirinya memang cantik, tapi ia yakin, di luar masih banyak yang lebih cantik lagi daripada dirinya. Jadi ia tidak akan terlalu membanggakan diri dengan apa yang ia miliki. Cantik itu relatif, tapi kecantikan hati itu yang jauh lebih penting.
"Bahkan sifat mu pun sungguh rendah hati. Aku yakin, kalau perempuan lain yang berada di posisimu, pasti mereka akan meninggi. Membangga-banggakan dirinya ke semua sosial media. Tapi kau justru sebaliknya. Ah, andai tuan Rainero batal menikahi mu, maka aku akan bersedia jadi pengantin penggantinya," ujar make up artist yang merupakan seorang lelaki tampan dan gagah. Tak jarang sekarang ditemui make up artist yang merupakan seorang laki-laki. Pekerjaan yang biasanya digeluti kaum hawa itupun kini banyak diminati para laki-laki. Semua tak masalah. Asalkan pekerjaan itu baik dan halal, semuanya akan baik-baik saja.
"Ekhem ... " terdengar dehaman dari arah pintu masuk membuat kedua orang itu sontak melebarkan bola matanya. Shenina membulatkan mata sambil menatap ke arah cermin yang memantulkan visual Rainero yang tampak tampan dan gagah dengan setelan tuxedo putih tulangnya. Dada Shenina seketika berdebar hebat. Netra Shenina sampai tak mampu berpaling pun berkedip, hanya terpaku pada satu sosok yang sedang berjalan mendekat dengan kedua tangan berada di dalam saku celananya.
"Ah, ternyata Anda tuan Rainero. Anda mengejutkan kami saja," ujar sang make up artist berusaha santai.
Mata Rainero memicing tajam, seolah ingin mengintimidasi lawannya. Jelas saja saja sang make up artist bernama Vero itu menelan ludahnya kasar.
"Apa kau sudah bosan hidup, hm?" ucap Rainero seraya memiringkan sedikit kepalanya. "Sepertinya kau memiliki stok nyawa yang banyak sampai bisa-bisanya kau menggoda calon istriku?" Sebuah smirk terbit di bibir Rainero. Vero benar-benar khawatir. Bagaimana kalau Rainero benar-benar mewujudkan perkataannya.
"Maaf, maaf tuan, saya hanya bercanda. Sungguh," ucapnya pias. Lalu Vero pun dengan segera angkat kaki dari sana. Tak ingin melihat kemarahan Rainero kian menjadi nantinya.
"Nona, make up-nya telah selesai. Kalau begitu saya permisi," ucap Vero cepat-cepat. Lalu ia meminta asistennya segera membereskan perlengkapannya. Kemudian ia pun segera pergi dari sana disusul sang asisten setelahnya.
Rainero mengedikkan bahunya. Jika ditanya apakah perkataannya tadi serius, maka jawabannya iya. Tapi karena Vero memilih jalan damai dan meminta maaf, maka Rainero pun mengampuninya. Namun bukan berarti setiap orang yang membuat kesalahan dan meminta maaf akan ia maafkan. Ada hal yang masih bisa ia toleransi dan maafkan, tapi ada juga yang tidak.
Rainero lantas menghampiri Shenina yang masih saja menatapnya melalui pantulan cermin.
"Aku tahu aku sangat tampan, tapi kau tidak perlu memandang ku sampai seperti ini. Karena mulai hari ini dan seterusnya, wajah ini hanya akan jadi milikmu. Kau bebas untuk menikmatinya kapanpun kau mau," ucapnya penuh percaya diri membuat Shenina mendengkus dan terkekeh geli.
"Ternyata si tuan datar dan dingin ini pun bisa bersikap narsis, sungguh tak ku duga," ejeknya membuat Rainero terkekeh.
"Kau cantik sekali. Ini benar calon istriku atau bidadari yang jatuh ke bumi?"
"Gombal." Shenina terkekeh. Meskipun hanya gombalan receh ternyata mampu membuat pikirannya yang tadi kacau sedikit tenang.
"Sebenarnya apa yang kau pikirkan tadi, hm? Apakah ada sesuatu yang mengganjal dalam pikiranmu? Katakan saja, tak perlu ragu. Ingat, kau memiliki aku, kau bisa menceritakan apapun padaku," ujar Rainero yang kini telah memutar kursi Shenina sehingga mereka sudah saling berhadapan.
Awalnya Shenina ragu untuk bercerita, tapi tak ada salahnya bukan menceritakan kegelisahan hatinya.
"Jadi apa kau mau ayahmu datang untuk mendampingimu naik ke atas altar?" tanya Rainero setelah Shenina mengungkapkan kesedihan hatinya.
__ADS_1
Namun Shenina menggeleng tegas, "mereka telah membuang ku jadi untuk apa aku mengharapkan mereka. Aku tak ingin mereka makin merendahkan ku. Bahkan bisa saja mereka justru akan melakukan hal-hal yang tak terduga bila sampai mereka diundang kemari," ujar Shenina menolak ide Rainero.
Sebenarnya Rainero pun tidak setuju bila Shenina mengharapkan kedatangan ayahnya, tapi ia tidak bisa egois. Ia akan bertanya terlebih dahulu sebelum memutuskan. Rainero senang ketika Shenina memutuskan tidak akan meminta bantuan ayahnya untuk mendampingi berjalan ke altar. Meskipun ayahnya tidak mendampingi, tapi Rainero telah mempersiapkan hal lain yang ia yakini akan membuat Shenina senang.
"Kau benar. Cukup sekali aku melihat mereka berbuat semaunya tanpa memedulikan perasaanmu, tapi tidak untuk lain kali. Boleh dibilang, aku ini pendendam. Dan aku takkan memaafkan orang yang berusaha menyakiti orang-orang yang ku cintai, termasuk mereka yang telah menyakitimu," ucapnya dengan wajah menggelap. "Kini saatnya kau untuk membuktikan pada mereka kalau kau bisa dan kau mampu bangkit menjadi lebih baik. Dan aku ... akan selalu jadi garda terdepanmu yang akan selalu mendampingimu di setiap langkah hidupmu," imbuh Rainero sambil menggenggam tangan Shenina. Shenina tersenyum kemudian mengucapkan terima kasih atas segala cinta dan perhatian yang telah Rainero beri.
Tak lama kemudian, Delena datang untuk meminta Rainero segera naik ke atas altar. Setelah Rainero pergi, dua orang masuk ke dalam kamar dimana Shenina tengah bersiap untuk keluar menuju altar. Saat dua orang itu masuk, Shenina langsung berseru girang.
"Adisti, Gladys ... " serunya bahagia saat melihat dua sahabatnya dari Indonesia masuk ke sana menggunakan gaun yang sama berwarna merah muda. Sepertinya mereka akan menjadi Bridesmaids yang akan mengantarkan Shenina menuju altar. "Gladys, kapan kau datang? Adisti, kenapa kau tidak bilang Gladys datang kemari?"
Adisti terkekeh, "tanyakan sendiri pada calon suamimu itu. Dia yang atur semua ini," ujar Adisti terkekeh.
"Serius?"
Gladys mengangguk, "Axton datang menjemputku. Andai tidak dijemput, mungkin aku tidak bisa datang sebab aku sendiri sebenarnya sedang ada masalah di Indonesia," ujar Gladys.
"Masalah? Masalah apa?"
"Ah, bukan apa-apa. Ayo, pengantin pria telah menunggu mempelai wanitanya! Jangan sampai, ada mempelai lain yang mendahuluimu," seloroh Gladys membuat mata Shenina melotot.
Gladys San Adisti hanya terkekeh. Kemudian mereka melingkarkan tangan di lengan Shenina dan membimbingnya keluar dari dalam kamar untuk menuju altar dimana janji suci kedua pengantin itu akan diambil.
Sementara itu, di tempat parkir hotel super megah itu, tampak Jessica, Ambar, dan Harold baru saja turun dari dalam mobil. Mereka merapikan pakaian terlebih dahulu. Setelahnya mereka berjalan menuju lift di lobi yang akan mengantarkan mereka ke ballroom hotel.
Setibanya di depan pintu ballroom yang tertutup, tampak Jessica dan Ambar terkesima. Sepanjang dari depan hotel sampai di depan area ballroom, tampak jajaran papan reklame ucapan selamat atas pernikahan Rainero dan Shenina.
Ambar mendengus, "iya, Mommy pun heran. Mommy pikir dia akan kembali sambil mengemis-ngemis ke rumah, jadi Mommy bisa memanfaatkan dia menjadi pelayan di rumah kita lagi, tapi yang terjadi justru sebaliknya. Sebenarnya trik apa yang perempuan sialan itu gunakan sampai-sampai laki-laki tergila-gila padanya. Apa kau tidak bisa berusaha mendekatinya?"
Jessica tersenyum kikuk. Bagaimana ia bisa mendekati, meliriknya saja Rainero enggan. Bahkan mungkin ia makin jijik padanya setelah insiden di club malam waktu itu.
"Bagaimana Jessi bisa mendekatinya, Mom, tidak ada celah satu pun untukku mendekat."
"Ayo, cepatlah! Kalian kenapa bisik-bisik terus dari tadi?" dengus Harold.
Ambar dan Jessica pun segera menyusul sang ayah yang telah berdiri di depan pintu masuk ballroom.
"Heh, kamu, bukakan kami pintu, cepat!" ucap Ambar berlagak seperti tamu agung.
"Mana undangannya?" pinta salah seorang petugas keamanan yang bertugas menjaga pintu masuk ballroom.
"Undangan?"
"Ya, hanya yang memiliki kartu undangan yang diizinkan masuk. Jadi silakan tunjukkan undangan kalian?"
__ADS_1
"Heh, apa kau tak salah? Kami ini keluarga calon mempelai pengantin perempuan jadi lebih baik kalian segera menyingkir dan biarkan kami masuk!" sentak Jessica kesal karena tidak diperbolehkan masuk.
"Mau kalian tamu, teman, keluarga, tetap saja kalian harus menunjukkan undangan kalian baru kalian diizinkan untuk masuk. Kalau tidak punya lebih baik segera menyingkir, kalian menghalangi jalan masuk tamu tuan muda Rainero," seru petugas tersebut membuat Harold naik pitam.
"Heh, jangan sok kalian! Kalian tidak tahu aku ini siapa Aku adalah Harold, ayah dari Shenina, calon pengantin dari majikan kalian. Jadi jangan halangi kami. Cepat menyingkir karena acara akan segera dimulai," bentak Harold marah.
"Maaf tuan, mau Anda ayah, kakek, maupun kakek buyut Nona Shenina sekalipun, kami tidak akan mengizinkan Anda masuk karena kalian tidak membawa undangan yang merupakan akses untuk masuk. Jadi silakan kalian menyingkir dari sini sebelum kami mengambil tindakan tegas."
"Kalian ... "
"Heh, kalian bilang apa tadi? Keluarga calon pengantin wanita tuan muda Sanches? Jangan mengada-ada kalian. Mana mungkin perempuan seanggun nona Shenina memiliki keluarga seperti kalian. Kalian pasti penipu, kan?" ujar salah satu tamu yang hendak masuk.
"Kalian lihat, undangan ini merupakan kartu akses untuk masuk ke dalam, tapi kalian tidak punya, sudah dapat diartikan kalau kalian cuma penipu."
"Pak, lebih baik kalian usir mereka sebelum mereka membuat kekacauan di dalam. Saya yakin, mereka ini hanya komplotan penipu yang ingin memanfaatkan nama calon mempelai pengantin perempuan."
"Heh, jangan sembarang bicara kau! Kau belum tahu aku siapa? Aku, Jessica, aku adalah saudara Shenina. Kami ini keluarga jadi wajar saja tidak memiliki undangan, tidak seperti kalian, jadi tamu saja bangga." Jessica telah maju dan menunjuk-nunjuk wajah perempuan yang telah mengejek mereka tadi.
"Hahahaha ... kalau kalian memang keluarga nona Shenina, kenapa kalian justru ada di sini? Bukan di dalam mendampingi calon mempelai? Hahaha ... penipu tetap saja penipu. Ya sudahlah, lebih baik kita masuk. Katanya acara telah dimulai," ujar salah satu dari mereka. Mereka pun segera masuk setelah menyerahkan undangan ke petugas penyambut tamu.
Wajah Harold, Ambar, dan Jessica menggelap. Mereka tidak terima. Lantas Jessica pun berteriak-teriak membuat keributan di depan ballroom.
"Heh, kalian, jangan kurang ajar ya! Kami ini keluarga Shenina. Saya ibunya, dia saudarinya, dan laki-laki itu ayahnya. Lihat saja, setelah di dalam nanti, kami akan melaporkan kalian semua atas tindakan kurang ajar kalian," pekik Ambar.
"Shenina, Shen, ini aku, Jessi, saudarimu. Minta mereka bukakan pintu, Shen!"
"Shen, ini Mommy, bukakan pintu, Shen. Mommy, Daddy, dan Jessi datang, Shen."
Mereka berteriak tanpa rasa malu. Petugas keamanan telah mencoba mengusir mereka baik-baik, tapi mereka justru membuat keributan. Alhasil, petugas pun terpaksa menyeret mereka semua keluar dari hotel dengan kasar.
"Lepaskan, lepaskan aku brengsekkk!"
"Lepaskan kami brengsekkk! Kami ini keluarga Shenina."
"Kalian jangan kurang ajar, sialan! Lepaskan istri dan anakku, bajingaan!" teriak Harold marah saat Jessica dan Ambar diseret paksa. Tapi petugas itu tidak menggubris. Mereka tetap menyeret paksa mereka dan melemparkannya keluar dari pintu lobby hotel.
Jessica dan Ambar terus berteriak tidak terima atas perlakuan petugas keamanan itu. Mereka kembali berusaha untuk masuk ke dalam hotel, tapi para petugas telah terlebih dahulu menghadang membuat mereka tidak bisa berkutik.
"Aaaarghhh ... sialan! Tunggu saja kalian semua dan terutama kau Shen, kami pasti akan membalas perlakuan buruk ini!" teriak Jessica murka.
Segala sumpah mereka keluarkan. Mereka benar-benar marah. Rasa dendam di hati mereka kian membara dan mereka menyalahkan Shenina atas apa yang mereka alami. Padahal mereka telah mengeluarkan uang yang banyak untuk berpenampilan sebaik mungkin, tapi apa yang mereka dapat, bukannya bisa masuk dan bergabung dengan para tamu orang-orang kaya, mereka justru diusir dan diseret bagai sampah. Mereka pun bersumpah akan melakukan pembalasan sepulangnya dari hotel ini.
...***...
__ADS_1
Beeewww panjang banget ini. Malam entar nggak janji ya bisa update lagi nggak. Udah lebih dari 2k kata ini. 😂
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...