Benih Sang Cassanova

Benih Sang Cassanova
BSC 215 (S3 Part 57)


__ADS_3

Jevian berada di negara A hanya selama 2 hari 1 malam saja. Malam harinya ia bergegas memesan tiket untuk pulang. Namun karena kondisi cuaca yang buruk, penerbangan pun delay dan ditunda keesokan harinya.. Dengan terpaksa, Jevian pun menghubungi Roseline untuk mengabarkan kepulangannya yang tertunda.


"Selamat malam Mommy Jefrey," ujar Jevian melalui panggilan video.


"Selamat malam juga, Daddy Jefrey," sahut Roseline.


"Mana Jefrey?" tanya Jevian.


"Sudah tidur. Sepertinya dia kesal karena kau tidak jadi pulang malam ini."


"Maaf, aku pun tidak tahu kalau cuaca akan berubah begitu drastis."


"Ya, kita juga tidak mungkin menyalahkan cuaca, right!" ujar Roseline yang kini sudah berpindah duduk di sofa kamar Jefrey. "Sudah makan?"


"Sudah. Kau?"


"Sudah juga."


"Tapi kok aku tiba-tiba lapar lagi, ya?" ucapnya ambigu.


"Hah, tumben? Kalau lapar, makan saja dulu. Nanti kita bisa sambung lagi video call-nya," saran Roseline.


"Tapi makanan yang aku mau tidak ada di sini," ujar Jevian sambil menghela nafasnya. Namun sorot matanya hanya terpusat pada satu titik, yaitu wajah cantik Roseline. Wajah itu tampak polos. Tanpa make up sama sekali. Dengan senyum lembut membuat jantung Jevian seakan digoyang musik dangdut.


"Bukankah kau sekarang di hotel Shenro Hotel, aku yakin chef di sana bisa memasakkan menu apapun yang kau inginkan."


"Tapi nyatanya memang makanan itu tidak ada di sini. Makanan yang ku inginkan hanya ada di sana," ujar Jevian seraya menggestur ke arah ponsel membuat dahi Roseline berkerut bingung campur penasaran.


"Memang kamu mau makan apa sih?"


"Kamu," ujar Jevian santai membuat mata Roseline terbelalak dengan degup jantung yang sulit dikondisikan.


***


Usai melakukan video call, Roseline pun merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Tapi ia tidak bisa tidur barang sejenak. Ia justru selalu terbayang-bayang wajah Jevian pun kata-kata lembutnya tadi.


"Makan aku? Memangnya aku makanan?" gumamnya sambil menahan senyum. Sebenarnya ia paham maksud perkataan Jevian, hanya saja ... ia malu. Baginya kata-kata itu cukup vulgar, apalagi mereka belum menikah. Yah, walaupun sebagian orang di negaranya menganggap hal itu biasa, tapi tidak bagi Roseline.

__ADS_1


Sebenarnya sifat Roseline pun tak jauh berbeda dari Shenina, Adisti, dan Gladys. Mereka bahkan memiliki prinsip yang nyaris sama. Meskipun di negaranya s e x before married itu hal yang biasa, tapi tidak bagi mereka.


Oleh sebab itu, saat Jevian mengatakan ingin memakannya, Roseline tak mampu menutupi rasa malunya. Pipinya sontak memerah. Dengan jantung bertalu-talu. Ingatan saat Jevian mencumbunya berkelebat dalam otaknya. Tiba-tiba saja ia menelan ludah. Hal iya-iya pun seketika melintas dalam benaknya.


"Astaga, aku mikirin apa sih? Stop berpikiran kotor, Roseline! Kalian belum menikah jadi jangan berpikiran macam-macam. Nanti setelah menikah, baru kau eksplor apa saja yang membuatmu penasaran. Eh ... Memangnya aku penasaran ya?"


Roseline terkekeh sendiri sambil menggaruk-garuk kepalanya. Ia lalu menutup wajahnya saat bayangan Jevian saat menciumnya kembali melintas di netranya.


"Astaga, sepertinya otakku sudah terkontaminasi otak mesyum si duda hot nyaris kadaluarsa itu," gumamnya sambil terkekeh sendiri.


Ternyata bukan hanya Roseline yang tengah memikirkan Roseline, di negara tetangga Jevian pun melakukan hal yang sama. Otaknya yang dulu bersih dari hal-hal berbau mesyum kini justru sering membayangkan hal yang iya-iya. Maklumlah, ia seorang duda. Ia pernah mencicipi yang namanya surga dunia. Meskipun ia dulu tidak begitu menikmatinya, hanya sekadar melakukan apa yang seharusnya ia lakukan sebagai seorang suami, tapi kini justru ia jadi selalu terbayang hal tersebut.


"Heh Jeviconda, kenapa kau bangun di saat yang tidak tepat? Ayo tidur! Hibernasi lagi, sana! Pawang mu belum bisa kita pekerjakan saat ini. Kau bersabarlah dulu, oke! Tidak lama kok. Tenang saja," ucapnya sudah seperti orang gila mengajak senjatanya sendiri berbicara. Bahkan tangannya saat ini sedang mengusap-usap Jeviconda seperti mengusap kepala seekor anak kucing yang menggemaskan.


***


Pagi ini Roseline sedang menemani Jefrey sarapan. Saat sedang memperhatikan Jefrey, tiba-tiba saja ia teringat pada Jevian.


"Ah otakku, kenapa akhir-akhir ini selalu saja terbayang pada laki-laki itu! Hei calon suami, apa yang sudah kau lakukan pada otakku? Kenapa aku jadi makin sering memikirkan mu?" batin Roseline sambil tersenyum-senyum sendiri.


Jefrey yang tengah menguyah sandwichnya mengerutkan kening,erasa heran dengan sikap Roseline yang tersenyum-senyum sendiri.


"Mom, mommy tidak apa-apa kok. Mommy hanya ... ya, mommy jadi ingat film yang Mommy tonton semalam, sangat lucu. Kamu sudah selesai sarapannya?"


Jefrey mengangguk. Kemudian ia pun segera turun dari kursinya setelah menenggak habis susu.


Roseline pun gegas menghabiskan sarapannya. Setelah itu ia pun segera beranjak untuk membantu Jefrey bersiap ke sekolah.


Di mobil, Jefrey terus mengajak Roseline bercerita. Ia sudah tidak sabar untuk tiba di sekolah dan bertemu teman-temannya.


"Oh ya, Mom, kemarin Miss Sasya nanya Jefrey."


"Nanya apa, Sayang?" jawab Roseline sambil mengusap puncak kepala Jefrey.


"Miss Sasya tanya, Mommy itu beneran calon istri Daddy? Terus Jefrey jawab iya, terus Jef juga bilang mommy itu mommy Jefrey."


"Benarkah?"

__ADS_1


Jefrey mengangguk antusias. "Miss Sasya juga tanya apa mommy baik terus Jefrey bilang mommy sangaaaat baik. Mommy juga sayang Jefrey dan Daddy. Terus Miss Sasya tersenyum," tutur Jefrey membuat Roseline tersenyum kecil.


Sepertinya Miss Sasya mencari tahu bagaimana sikap dirinya pada Jefrey. Tak mau berburuk sangka, Roseline pikir Miss Sasya melakukan itu karena menyayangi Jefrey. Mungkin ia khawatir Jefrey memiliki seorang ibu yang tidak menyayanginya.


"Oh ya mom, Miss Sasya kemarin juga tanya bagaimana kabar mommy? Jefrey bilang tidak tahu. Memangnya mommy kemana ya, Mom? Kenapa Mommy tidak pernah muncul lagi? Apa mommy benar-benar tidak pernah menyayangi Jefrey?" tanya Jefrey sendu.


Roseline bisa melihat cinta Jefrey pada sang ibu. Meskipun sang ibu tidak pernah menyayangi Jefrey, tapi rasa sayang itu tumbuh sendiri dan tak bisa dicegah. Bagaimanapun, Jefrey pernah tumbuh di rahim Eve, jelas saja ia memiliki ikatan batin pada sang ibu.


"Kata siapa mommy tidak sayang, Jefrey? Mommy sayang kok. Hanya saja, Mommy mungkin sibuk dan mommy tidak tahu bagaimana caranya menunjukkan kasih sayangnya pada Jefrey. Mommy tidak muncul juga mungkin mommy sangat-sangat sibuk. Doakan saja mommy ya, Sayang, semoga dimanapun mommy berada mommy baik-baik saja," ujar Roseline tak ingin Jefrey terus menganggap buruk sang ibu. Bagaimanapun perangai Eve selama ini, ia tetaplah ibu kandung Jefrey. Apalagi sekarang Eve sudah mendekam di penjara, ia harap selama di penjara Eve merenungi kesalahan-kesalahannya dan bisa berubah lebih baik. Ia harap, ia pun bisa menyadari kesalahannya pada Jefrey.


Sesampainya di sekolah, Roseline turun untuk mengantarkan Jefrey ke kelasnya. Saat berjalan, ia berpapasan dengan Miss Sasya. Miss Sasya tersenyum ramah yang dibalas Roseline tak kalah ramah.


Siang harinya, Roseline diantar sang sopir pun pergi menjemput Jefrey di sekolah. Namun saat perjalanan pulang, tiba-tiba beberapa mobil menghadang mobil yang ditumpangi Roseline dan Jefrey. Roseline terkejut. Ia pun segera memeluk Jefrey khawatir terjadi sesuatu padanya.


Lalu dari beberapa mobil tersebut, turun orang-orang berpakaian serba hitam. Mereka mengetuk-ngetuk kaca mobil dengan sorot mata mengancam. Sang sopir cemas, tapi Roseline memberi aba-aba agar ia menurunkan kaca untuk bertanya apa tujuan mereka.


"Apa mau kalian? Mengapa kalian menghadang mobil kami?" tanya sang sopir.


"Kami tidak ada urusan denganmu," ucapnya datar. Lalu laki-laki yang mengetuk kaca tadi menoleh ke arah Roseline, "kau ... silahkan turun dan ikut kami sekarang juga!"


"Aku? Kenapa aku harus ikut kalian?"


"Ikutin saja perintah kami sebelum kami melakukan hal yang tidak kalian inginkan!" tegasnya dengan nada mengancam.


Jefrey yang melihat orang tersebut melotot sontak saja ketakutan. Ia memeluk erat lengan Roseline sambil menyembunyikan wajahnya di balik punggung Roseline.


"Kalau aku tidak mau?"


Brakkkk ...


Salah satu dari mereka lantas memukul keras kaca depan mobil hingga retak membuat Jefrey makin ketakutan. Dengan rasa kesal yang membuncah, Roseline pun akhirnya terpaksa menuruti keinginan mereka.


"Jefrey tunggu di sini bersama pak sopir ya! Mommy ingin bicara dengan mereka terlebih dahulu."


"Tapi, Mom ... "


"Ssst ... jangan khawatir, mommy tidak akan kenapa-kenapa," ujarnya mencoba menenangkan sebelum akhirnya ia pun turun dari dalam mobil untuk menghadapi para pecundang itu.

__ADS_1


...***...


...HAPPY READING 🥰🥰🥰...


__ADS_2