Benih Sang Cassanova

Benih Sang Cassanova
BSC 50


__ADS_3

"Uh, lelahnya!" gumam Shenina yang baru pulang dari berjualan. Sudah sejak tadi ia ingin merebahkan tubuhnya, tapi karena berjualan, ia tak mungkin merebahkan tubuhnya sembarangan.


Setelah lima belas menit beristirahat, Shenina pun segera mendudukkan tubuhnya. Ia ingin segera mandi, tapi belum sempat Shenina beranjak, ponsel Rainero pun berdering. Senyum lebar terpatri di bibirnya. Entah mengapa, melihat nama Rainero yang terpampang di layar ponselnya, membuat hatinya seketika bahagia.


"Hallo."


"Hallo, Sweety. How are you?" ucap Rainero tiba-tiba.


"Ehm ... aku ... baik," ucap Shenina pelan kemudian menggigit bibirnya. Entah mengapa ia merasa dadanya bergemuruh salah tingkah.


"Kenapa suaramu kecil sekali?"


"Ah, itu mungkin perasaanmu saja."


"Shen ... "


"Hemmm ... "


"I Miss you."


Shenina bergeming. Ia tak tahu harus merespon seperti apa.


"Shen ... "


"Ya."


Dipanggil seperti itu oleh Rainero membuat jantung Shenina berdegup kencang. Suara yang biasanya terdengar bariton itu terdengar lembut dan meresahkan.


"Apa kau belum memiliki jawaban atas permintaanku waktu itu?" tanya Rainero penuh harap.


"Maaf," cicit Shenina yang merasa bersalah sekaligus bingung.


Rainero terdiam membuat Shenina gelisah, "Rain ... " panggilnya setelah beberapa saat berlalu Rainero tidak kembali bersuara.


"Ya, Sweety."


"Kau marah?" tanya Shenina was-was.


"Apa kalau aku marah kau akan segera memberikan jawaban?"


"Tentu saja tidak. Marah mu itu menyeramkan," ucap Shenina terdengar manja membuat senyum yang tadi sempat surut di bibir Rainero kembali terbit.

__ADS_1


"Tapi tetap tampan kan?"


"Ck ... narsis," ejek Shenina. "Oh ya, kamu udah makan?" Shenina ingat, Rainero tidak bisa makan makanan yang bukan buatan dirinya. Tiba-tiba rasa khawatir menelusup di dadanya.


"Emmm ... sudah."


"Makan apa? Jangan bilang cuma buah?"


Rainero tersenyum merasa diperhatikan, "ya, mau bagaimana lagi. Daripada tidak makan sama sekali."


"Coba kau makan di tempat lain atau ... atau ... yah, cari solusi lah. Jangan terus-terusan tidak makan, ingat, kau punya penyakit lambung."


"Kau mengkhawatirkan ku?"


Shenina terdiam, ia malu untuk mengaku.


"Shen ... Jawab! Apa ... kau mengkhawatirkan ku?"


"Ck ... masih nanya." Shenina berdecak kesal membuat Rainero terkekeh.


"Kalau kau memang mengkhawatirkan ku, kenapa kau tidak datang ke sini? Pulanglah, Shen! Menikahlah denganku!" bujuknya lagi.


"Tapi ... "


Shenina terdiam, cukup sebagai jawaban.


"Apa kita perlu membuat surat perjanjian, kalau aku kembali menyakitimu apalagi mengkhianatimu, maka kau bebas melakukan apapun. Kalau perlu, aku akan mengalihkan semua asetku atas namamu, bagaimana?" ucap Rainero serius. Rainero tidak mengada-ada. Kalau hal itu bisa membuat Shenina mau menerimanya, tentu ia akan melakukan dengan senang hati. Itu sebagai bukti akan kesungguhannya.


"Beri aku waktu sebentar lagi ya! Kau mau kan?" Shenina sebenarnya bisa melihat kesungguhan Rainero, hanya saja ... ia belum bisa yakin 100%. Kalaupun ia menerima, apa keluarga laki-laki itu mau menerimanya?


Rainero terdiam. Ia menghela nafas panjang, "baiklah. Aku akan menunggumu, meski harus menunggu seribu tahun, aku akan tetap menunggu."


"Memangnya kau sebangsa jin bisa berumur segitu panjang?" ejek Shenina membuat Rainero terkekeh.


"Asal demi mendapatkanmu, meski harus menjadi jin, aku rela."


"Gila," ketus Shenina membuat Rainero tergelak. "Aku maunya nikah sama manusia, bukan jin."


"Oh, jadi kamu mau nikah sama aku? Begitu? Wow, i'm really happy," seru Rainero seraya tergelak.


"Dih, siapa bilang? Jangan ngarang!"

__ADS_1


"Kan kamu yang bilang." Rainero merasa lelahnya lenyap seketika saat bisa berbicara santai seperti ini dengan Shenina.


"A-aaakh, udah ah! Kamu menyebalkan." Shenina menggembungkan pipinya sambil menahan senyum. "Di sana udah larut malam kan, buruan tidur sana. Aku juga mau mandi."


"Mau ditemenin nggak? Entar aku bantuin gosokkin punggung kamu. Gosok yang lain juga boleh. Dengan senang hati aku akan ... " goda Rainero.


"Rainero Sanches!" teriak Shenina membuat Rainero makin terpingkal-pingkal. "Ya udah, kamu mandi gih! Jangan lupa makan malam dan minum susunya, ya, Sweety. Love you," ucapnya lembut.


Hati Shenina berdesir hebat mendapatkan perlakuan dan perhatian semanis itu. Dulu Theo lah yang kerap memperhatikannya, tapi semenjak hari itu, ia benar-benar memutuskan komunikasi dengan Theo. Ia tak mau lagi berhubungan dengan laki-laki yang bukan hanya tidak mau mempercayai dirinya, tapi juga tidak mau mendengarkan penjelasannya.


Shenina sebenarnya tidak menyangka kalau hubungan yang telah terjalin bertahun-tahun lamanya itu akan kandas dengan cara seperti itu. Theo tidak mempercayainya jadi ... untuk apa ia mempertahankannya. Sebenarnya seandainya ia mau mendengarkan penjelasannya sedikit saja, ia tidak terlalu kecewa Theo meninggalkan dirinya. Tapi sikap Theo saat itu benar-benar mengecewakannya.


"Hmmm ... " Lidah Shenina seketika kelu, ia tak mampu membalas ucapan Rainero. Rainero paham dan tidak mempermasalahkannya.


Menjelang malam, Shenina sedang memasak untuk makan malamnya sendiri. Hanya tumis brokoli campur udang dan telur dadar. Menu yang sederhana, tapi cukup meningkatkan selera makan Shenina.


Menu makan malamnya sudah siap. Saat akan menyendokkan nasi ke dalam piring, tiba-tiba saja ada yang mengetuk pintu kontrakannya. Shenina pikir itu mungkin Adisti atau Gladys, jadi ia langsung saja membukakan pintu tanpa memeriksa siapa yang datang.


Saat pintu terbuka lebar, senyum di bibir Shenina seketika surut berganti dengan mata yang terbelalak saat melihat siapa yang berdiri di hadapannya saat ini.


"Nyo-Nyonya Sanches?" gumamnya benar-benar terkejut.


Delena yang melihat sosok Shenina hanya memandangnya datar. Nyaris tanpa ekspresi. Hanya Shenina saja yang memandangnya dengan penuh keterkejutan.


Tanpa dipersilahkan masuk, Delena masuk begitu saja ke dalam kontrakan Shenina membuat Shenina seketika panik. Sementara asisten pribadinya berdiri di ambang pintu. Shenina yang melihatnya menelan ludah dengan benak yang bertanya-tanya Apa tujuan kedatangan Delena kemari. Ada rasa takut dan khawatir, bagaimana kalau Delena datang untuk memakinya karena telah berani mengandung anak Rainero.


Delena berjalan masuk ke dalam kontrakan Shenina. Ia memeriksa kamar, dapur, dan kamar mandi. Delena menghela nafas kasar saat mendapati tempat tinggal Shenina yang menurutnya sangat tak layak.


Setelah memeriksa semuanya, ia kembali mendekati Shenina dan mengusap perut Shenina tiba-tiba membuat Shenina reflek memundurkan tubuhnya. Ia takut dan cemas, bagaimana kalau Delena datang untuk memintanya menggugurkan kandungannya?


Shenina reflek memeluk perutnya yang membuncit sebagai bentuk perlindungan.


Delena tiba-tiba tertawa kecil, "kau takut, hm?"


Melihat tawa Delena bukannya menghilangkan kecemasan Shenina, ia justru kian ketakutan. Hingga tiba-tiba Delena memeluknya dan mengusap punggungnya pelan.


"Jangan khawatir! Mommy takkan menyakiti kalian," ucapnya sambil tersenyum geli.


"Mom-Mommy?" beo Shenina bingung.


"Yes, Mommy, bukannya kau sedang mengandung buah hati Rainero yang artinya juga mengandung calon cucu-cucuku?" ucapnya sambil mencubit sebelah pipi Shenina. Shenina yang selama ini telah kehilangan figur seorang ibu jelas saja menitikkan air matanya. Ia ... terharu.

__ADS_1


...***...


...HAPPY READING 🥰🥰🥰...


__ADS_2