Benih Sang Cassanova

Benih Sang Cassanova
BSC 204 (S3 Part 46)


__ADS_3

Eve menghembuskan nafas kasar. Ia kembali melangkahkan kakinya, namun saat melewati sebuah pusat perbelanjaan, mata Eve memicing tajam.


"Lynda," gumamnya dengan gemuruh di dalam dada.


Emosi seketika menyeruak. Giginya bergemeletuk tajam. Rahangnya mengeras. Kedua tangannya mengepal erat sampai buku-bukunya memutih.


Bagaimana tidak, Eve melihat Lynda sedang bergelayut mesra dengan seorang laki-laki. Tampilannya begitu elegan. Perhiasannya melingkar indah di leher, lengan, dan telinganya. Bahkan, hampir semua yang Lynda kenakan merupakan miliknya dan ada sebagian pemberian dirinya.


Setelah apa yang Eve beri. Setelah apa yang Lynda ambil darinya. Setelah segala pengorbanannya, lalu Lynda memperlakukannya seperti ini. Membuangnya. Meninggalkannya. Kurang-kurang, ia juga mengambil semua barang-barang berharganya.


Eve lantas mengikuti langkah Lynda dan kekasihnya yang masuk ke dalam pusat perbelanjaan itu. Eve berjalan santai di belakang orang lain agar Lynda tidak melihat keberadaannya. Tampaknya Lynda sedang bersenang-senang dengan membeli beberapa pakaian di sebuah toko. Setelah itu ia masuk ke toko sepatu khusus laki-laki. Eve tersenyum miris saat melihat bagaimana Lynda membayar belanjaan laki-laki itu. Tampak sekali laki-laki itu masih berumur dua puluhan. Kini Eve menyadari kalau selama ini Lynda hanya memanfaatkannya saja. Ia mengambil keuntungan dengan menjadikannya kekasih. Tidak sedikit uang yang pernah Eve berikan pada Lynda. Ia selalu meminta dengan berbagai alasan san dengan bodohnya ia memberikannya. Eve akui ia terlalu bodoh sehingga bisa tertipu oleh perempuan licik seperti Lynda.


"Kau memang benar-benar bodoh, Eve. Bagaimana kau bisa tertipu oleh jalaang licik seperti dia," gumam Eve menyesali kebodohannya selama ini.


Dulu ia adalah perempuan normal. Ia memang kerap berganti kekasih dan melakukan one night stand. Hingga akhirnya ia bertemu dengan Lynda. Ia yang mengenalkannya pada hal-hal seperti itu. Ia mengatakan melakukan dengan sesama itu lebih menantang dan menyenangkan. Eve yang penasaran pun mencoba hingga akhirnya ia pun keterusan. Apalagi Lynda selalu mencurahkan perhatian padanya. Membuat ia benar-benar lupa akan kodratnya sebagai seorang perempuan.


Selepas dari toko sepatu, Lynda dan kekasihnya masuk ke salah satu restoran mewah. Sorot mata Eve menajam saat melihat interaksi keduanya yang sangat mesra. Gemuruh di dada Eve kian menjadi-jadi. Apalagi saat ia melihat bagaimana cara Lynda memanjakan kekasihnya dengan menyuapinya makan.


Eve yang tidak tahan lagi lantas melangkahkan kakinya dengan mata berapi-api. Kilat kebencian dan amarah terlihat jelas di netra birunya.


"Wow, kalian sangat romantis sekali!" ucap Eve tiba-tiba membuat mata Lynda terbelalak. Sementara kekasih Lynda mengerutkan keningnya.


"Siapa?" tanyanya, entah pada Eve atau Lynda.


"Aku ... aku tidak mengenalnya," kilah Lynda gelagapan.


"Ah, benarkah ? Kau tidak mengenalku, Sayang?"


"Kau siapa? Apa kau sudah gila? Sekuriti!" pekik Lynda cemas.


"Setelah banyak malam panas kita lalui lantas kau tiba-tiba tidak mengenalku?" ucap Eve tajam.


"Heh, kau kemari! Usir perempuan gila ini cepat! Restoran macam mana ini, orang gila dibiarkan masuk ke mari." Tunjuk Lynda pada salah seorang waiters.

__ADS_1


Kemarahan Eve sudah sampai di ubun-ubun membuat akal sehatnya seakan musnah seketika. Mata Eve memicing saat melihat sebilah pisau untuk memotong steak terkapar di atas meja. Lalu tanpa pikir panjang ia meraih pisau itu. Lynda terkejut saat melihatnya. Ia pun segera berdiri khawatir Eve benar-benar berbuat nekad. Namun tangan Eve lebih dulu menahan tangan Lynda dan mencengkeramnya kuat.


"Setelah apa yang aku korbankan dan aku lakukan untukmu lalu kau membuangku begitu saja? Kau benar-benar brengsekkk, Lynda. Dan terimalah pembalasanku sekarang juga!" teriak Eve dengan api kemarahan dan kebencian yang menyala-nyala.


Lantas Eve pun dengan cepat mengayunkan pisau tersebut ke perut Lynda. Semua orang membelalakkan matanya.


Kekasih Lynda hendak menolong, tapi semakin ia mencoba menarik tangan Eve agar melepaskan hujaman pisau di perut Lynda, tapi bukannya ia melepaskan, Eve justru makin memperdalam hujamannya. Sekuriti yang dipanggil waiters pun tiba dan melakukan hal yang sama dengan menarik tangan Eve. Pisau itu tertarik keluar membuat Lynda memuntahkan darah. Namun seperti kesetanan, Eve mencoba memberontak dan kembali menusukkan pisaunya di perut Lynda.


"Eve ... Ukhuk ukhuk ukhuk ... Maaf, maafkan aku, tolong lepaskan aku! Tolong! ucap Lynda terbata.


Eungh ...


Lynda melenguh saat pisau kembali menusuk ke dalam perutnya. Darah segar berceceran membuat para pengunjung restoran memekik takut.


"Mati kau! Mati! Kau pantas mati. Kau harus mati. Mati. Hahaha ... Pergilah kau ke neraka, Sayang! Hahaha ... "


Eve menggila. Entah dapat kekuatan dari mana, sehingga meskipun beberapa orang mencoba menghentikannya, tapi tak bisa. Saat pisau tercabut, dengan cepat Eve kembali menusukkannya. Begitu terus hingga akhirnya tubuh Lynda pun ambruk ke lantai. Barulah Eve melemparkan pisaunya asal sambil tertawa terbahak-bahak.


"Hahaha ... Mati kau! Mati! Ini balasanku atas perbuatanmu. Sekarang kita impas kan. Hahaha ... "


...***...


Entah harus iba atau bersyukur dengan apa yang menimpa Tobey dan Eve. Bagaimanapun mereka adalah kakek dan ibu Jefrey. Saat ini mungkin anaknya tidak mengerti dengan apa yang menimpa kakek dan ibunya, tapi suatu hari nanti ia pasti akan tahu.


Pelik memang. Tapi semuanya sudah takdir. Jevian hanya bisa berharap anaknya tidak merasa terganggu dengan masa lalu kakek dan ibunya.


"Kau itu sedang sakit, tapi masih saja terus bekerja," sergah Roseline tiba-tiba membuat Jevian yang tadi sedang membaca email dari pengacaranya seketika tersentak.


"Kau mengagetkanku saja," jawab Jevian seraya mengganti slide layar laptopnya dengan grafik perusahaannya.


"Sekarang saatnya tidur siang. Berhentilah bekerja, bisa tidak?"


"Kau sudah seperti seorang istri yang perhatian pada suaminya saja," seloroh Jevian membuat Roseline mendelik tajam.

__ADS_1


"Jefrey, sekarang tidur ya! Makan sudah, minum obat sudah, sekarang waktunya tidur supaya cepat sehat. Jefrey mau cepat pulang kan?" Kesal dengan Jevian, Roseline pun beralih pada Jefrey.


"Baik, Mom. Jefrey juga sudah mengantuk. Dad, ayo tidur. Nanti mommy marah lho."


"Sebentar, Boy. Daddy masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan."


"Dad, ayolah tidur. Biar daddy cepat sehat. Jefrey sudah tidak sabar pulang ke rumah. Jefrey juga sudah tidak sabar ingin mommy memberikan jawaban. Apa daddy tidak ingin mommy jadi mommy Jefrey sebenarnya?" ucap Jefrey tiba-tiba membuat Roseline membulatkan matanya. Ia pikir setelah beberapa hari bocah itu tidak menyinggung apalagi mempertanyakan tentang keinginannya itu, artinya ia sudah lupa. Roseline yang awalnya tampak santai sontak saja gelagapan.


Apalagi saat ia menoleh ke arah Jevian yang sudah menyeringai sambil membereskan laptopnya.


"Oh ya, kau benar, Boy. Oke, Daddy akan segera istirahat," ujarnya sambil mengacungkan ibu jarinya ke arah Jefrey.


Lalu Jevian menoleh ke arah Roseline yang wajahnya tampak shock karena kekompakan ayah dan anak itu.


Jevian lantas mengerlingkan sebelah matanya. Roseline menggigit bibirnya lalu memukul dahinya sendiri.


"Oh my God, mereka ini sungguh ... Hah!"


Roseline membalikkan tubuhnya. Diam-diam ia mengulum senyum. Entah melihat sikap ayah dan anak itu seperti hiburan tersendiri baginya.


Melihat Jevian dan Jefrey sudah membaringkan tubuhnya dan memejamkan mata, Roseline pun memilih keluar. Ia ingin menyendiri dahulu seraya memikirkan apa jawaban yang harus ia berikan. Roseline dapat melihat binar harapan di netra Jefrey. Sementara Jevian, ia memang tampak begitu antusias. Tapi apa alasannya, ia pun belum tahu. Apa murni karena keinginan Jefrey, demi kebahagiaan Jefrey, atau karena ia memiliki rasa padanya.


Sungguh, Roseline pun memiliki impian membentuk sebuah keluarga kecil yang bahagia. Tapi Roseline harus sadar siapa dirinya. Bukan hanya mantan narapidana kasus percobaan pembunuhan, tapi ia juga dari keluarga yang antah berantah. Apa pantas perempuan seperti dirinya bersanding dengan laki-laki seperti Jevian? Laki-laki itu bukan hanya tampan dan kaya, tapi ia juga sangat baik dan berhati hangat.


Roseline juga ingin menikah karena cinta. Pernikahan yang didasarkan cinta saja bisa berakhir dengan ketidakbahagiaan, apalagi pernikahan tanpa cinta. Bagaimanalah rumah tangga mereka ke depannya?


Saat sibuk termenung seorang diri, tiba-tiba ada sepasang mata yang berbinar saat melihat keberadaan Roseline. Senyum tersungging di bibir tebal dan seksinya. Ia pun segera melangkahkan kakinya menuju Roseline dan memeluk pundaknya dari belakang seraya berbisik.


"Akhirnya aku menemukanmu, Sayang."


...***...


Yang cari bacaan tamat, mampir ke karya temen othor yuk kak!

__ADS_1



...HAPPY READING 🥰🥰🥰...


__ADS_2