
Rainero pun lantas menoleh ke arah gerobak yang sepi itu sebab jam istirahat belum lama berakhir. Mata Rainero memicing saat melihat sosok yang ia kenali sedang duduk bersantai di kursi yang ada di sana.
"Dia ... "
"Kau mengenalnya?" tanya Axton.
Rainero menggeleng, "tidak kenal. Tapi dia yang sudah membantuku membelikan makanan itu."
Lalu Rainero tampak memindai gerobak jualan Shenina.
"Apa jualannya higienis?" tanya Rainero tiba-tiba.
"Kalau tidak, kenapa? Apa kau tidak jadi membelinya?"
Rainero berdecak, "aku hanya bertanya. Tapi sepertinya orang yang berjualan bersih."
"Bos mau aku yang turun atau bos sendiri yang turun?" tanya Mark.
"Kau sajalah. Aku mau di sini saja."
Mark pun mengangguk kemudian menengadahkan tangannya.
"Apa?" Rainero lupa memberikannya uang.
"Uang bos, uang."
Bukannya mengeluarkan uang, Rainero justru mengeluarkan kartu debitnya dan menyodorkannya pada Mark.
Axton sampai geleng-geleng kepala melihatnya pun Mark yang terpelongo.
"Heh bodoh, kau kira itu restoran ada mesin EDC untuk menerima pembayaran dengan kartu debit? Dasar, CEO bodoh," ejek Axton membuat Mark menahan tawanya.
"Kau berani mengejekku?"
"Kalau iya, kenapa?"
Tak mau banyak berdebat, Rainero mengambil ponselnya dan menghubungi salah satu kontak yang ada di sana.
"Halo, tuan," sambut seseorang dari seberang sana.
"Rico, keluarkan Kimberly dari kandangnya lalu ... "
"STOPPP!" seru Axton saat tahu apa yang akan Rainero lakukan.
Rainero menyeringai, "lalu ... "
"Ya, ya, ya, i'm so sorry. Maaf telah menyebutmu bodoh. Oke, jangan apa-apakan Kimberly, please!" Axton tampak memelas membuat Rainero tersenyum sinis.
"Lalu apa, tuan?" tanya seseorang di seberang sana.
"Bawa Kimberly ... "
"Rainero," seru Axton kesal saat Rainero sepertinya masih hendak melakukan apa yang ada di pikirannya. "Kau jangan macam-macam dengan Kimberly, atau ... "
"Bawa Kimberly ke taman samping. Kasihan dia terkurung beberapa hari ini karena majikannya sedang sibuk di luar negeri," putus Rainero membuat Axton dapat bernafas lega sekaligus kesal terhadap Rainero.
Melihat wajah kesal Axton, Rainero terkekeh sambil memasukkan kembali kartu debitnya ke dalam dompet dan mengeluarkan 2 lembar uang berwarna merah yang sempat Axton tukarkan di money changer.
__ADS_1
"Beli sebanyak ini, bos?" Mata Mark melotot saat Rainero menyuruhnya membeli dua ratus ribu bakso krispi yang artinya ia harus membeli sebanyak seratus buah.
Rainero mengangguk, "kenapa? Kau mau juga?" tawar Rainero yang kemudian mengambil selembar lagi uang dari dalam dompetnya. "Itu belilah untuk kalian. Yang tadi khusus untukku," putusnya membuat mata Mark membeliak. 'Seratus buah, untuk dia sendiri?'
Mark lantas turun dari dalam mobil dan menyambangi perempuan yang sedang duduk itu.
"Hai, nona, boleh aku membeli jualannya?" ucap Mark seraya tersenyum membuat Gladys yang awalnya fokus ke layar ponselnya seketika mendongak.
"Anda?" gumam Gladys yang langsung berdiri.
"Hmmm ... bisa aku membeli jualannya?"
"Tentu. Tentu saja bisa. Mau beli berapa? 50 buah lagi seperti kemarin?"
Mark menggeleng, "tidak. Tapi 150 buah. Tapi dipisahkan. Satu kantong berisi 100 buah, satunya lagi berisi 50 buah."
"Apa? Banyak sekali? Apa ini untuk bos bule mu itu?"
Mark mengangguk, "iya. Tapi ... penjualnya kemarin mana ya?"
"Oh, itu, dia sedang ada urusan di kontrakannya. Sebentar, aku hitung dulu jumlahnya, cukup atau tidak."
Gladys lantas segera menghitung bakso krispi yang tersisa kemudian ia menghela nafas, "bakso krispinya kurang. Hanya ada 97 buah. Kamu mau tunggu sebentar nggak, tunggu temanku, biar dia goreng lagi."
Mark pun mengangguk, "tak masalah."
Sambil menunggu, keduanya mengobrol. Sementara itu di dalam mobil, Rainero tampak cemberut karena harus menunggu lama. Sedangkan Axton justru sibuk bermain game cacing di dalam ponselnya.
"Ck, lama sekali sih? Niat jualan nggak sih?" gerutu Rainero. Perutnya sudah berbunyi. Tak sabar rasanya ingin menyantap bakso krispi itu. Seandainya dia tidak benar-benar ingin, sudah ia tinggalkan tempat itu. Sayangnya, Rainero bukan hanya ingin, tapi hanya makanan itu saja yang bisa diterima di dalam perutnya selain buah. Rainero pun tak mengerti, seistimewa apa makanan itu sampai-sampai ia hanya bisa memakan bakso krispi saja untuk mengisi perutnya.
Saat asik mendumel, Rainero menangkap siluet seseorang yang dikenalnya. Bukan sekedar dikenalnya, namun sedang ia cari-cari beberapa waktu ini. Matanya seketika memanas. Apalagi saat melihat perut Shenina yang telah sedikit membesar. Dadanya seketika bergemuruh. Rasa tak biasa membuat batinnya meronta-ronta. Apalagi tampak perempuan itu berjalan sambil membawa sesuatu di tangannya. Sebuah baskom yang cukup besar yang entah isinya apa sebab perempuan itu tampak kesulitan membawanya.
"Apa, Rain? Kau mengatakan sesuatu?" Axton tidak mendengar jelas gumaman Rainero sebab ia terlalu fokus pada permainan di layar ponselnya.
Tak peduli pada pertanyaan Axton, Rainero justru bergegas turun untuk mendekati Shenina yang beberapa langkah lagi sampai di gerobak jualan bakso krispi.
Mark yang melihat tuannya turun mengira ia akan menghampiri gerobak jualan itu, tapi ternyata dugaannya salah.
"Bos," panggil Mark, tapi Rainero tak menggubris. Ia justru langsung mendekati Shenina yang baru saja meletakkan baskom yang ternyata berisi adonan bakso krispinya yang baru.
"Shen-Shenina, ini ... benar-benar kau?" lirih Rainero yang beberapa langkah lagi mendekat ke arah Shenina. Mendengar namanya disebut, Shenina pun mendongakkan kepalanya. Matanya seketika terbelalak saat melihat siapa yang telah berdiri di hadapannya.
"A-Anda," gumamnya penuh keterkejutan.
Seketika, ingatan akan perdebatan mereka terakhir kali memenuhi kepalanya. Dadanya seketika memanas. Shenina pun segera membalikkan badannya dan berusaha menjauh dari Rainero.
"Shen, berhenti! Shenina, izinkan aku bicara padamu, sebentar saja," panggil Rainero, tapi Shenina tak menggubris. Ia justru mempercepat langkahnya menjauhi Rainero.
"Shenina, jangan cepat-cepat, ingat kau sedang hamil!" teriak Rainero dengan raut wajah khawatir.
Shenina lantas memelankan langkahnya, kemudian menoleh ke arah Rainero dengan sorot mata tajam.
Rainero tertegun saat melihat sorot mata penuh luka di netra biru safir Shenina.
"Jangan mendekat! Pergi! Pergi dari sini. Tak ada yang mesti kita bicarakan," ucap Shenina tegas namun terdengar lirih.
Rainero menggeleng, "aku takkan pergi. Please, Shen, izinkan aku bicara padamu. Aku mohon. Aku tahu, kau pasti sangat membenci diriku, tapi tidakkah kau bisa memberiku kesempatan untuk bicara. Aku mohon," melas Rainero tak peduli kalau sudah banyak mata yang memperhatikan mereka. Mereka sudah seperti artis layar kaca yang sedang beradu akting dalam sebuah cerita. Apalagi wajah mereka bukanlah wajah-wajah orang lokal alias bule. Banyak warga sampai celingak-celinguk mencari dimana keberadaan kamera sebab mereka mengira Shenina dan Rainero memang tengah beradu akting.
__ADS_1
"Sudah aku bilang tak ada yang perlu kita bicarakan lagi. Semua sudah usai tepat saat kau mengusirku, mengerti!" sentak Shenina dengan wajah merah padam.
Belum sempat Rainero menjawab, Shenina sudah membalikkan badannya terlebih dahulu meninggalkan Rainero yang berwajah nelangsa.
"Eh, itu bule yang viral itu kan?"
"Iya, iya, dia bule yang diserang warga kemarin."
"Iya, dia yang masih duit ke neng Gladys itu kan? Wah, kebetulan banget."
Baru saja Rainero hendak mengejar Shenina, tiba-tiba saja segerombolan anak-anak menghadang Rainero sambil menengadahkan tangannya.
"Om bule, minta duitnya Om Bule."
"Iya, Om. Om Bule kan banyak duit, bagi kita dong?"
"Om Bule, Om Bule, bagi duit dong, Om?"
Rainero yang tidak mengerti bahasa Indonesia jelas saja kebingungan. Ia hendak menghindari anak-anak itu dan melanjutkan langkahnya mengejar Shenina, tapi ternyata sulit. Anak-anak yang mengerumuninya makin banyak. Rainero benar-benar kebingungan saat ini. Saat Rainero tengah dilanda kebingungan, tiba-tiba saja Mark muncul.
"Mark, mereka kenapa?" tanya Rainero bingung.
"Mereka minta uang, Bos."
"Hah, uang?"
"Mungkin mereka melihat bos memberi uang ke Gladys kemarin, jadi mereka berharap bos pun mau memberi mereka uang."
"Gladys?" beo Rainero yang tak sampai 5 detik paham kalau gadis yang membantunya kemarin bernama Gladys.
Rainero yang tak mau ambil pusing karena ada yang harus ia lebih prioritaskan pun meminta Mark memanggil Axton untuk mengatasi mereka.
"Panggil Axton dan minta ia beri mereka semua uang. Serahkan saja semuanya pada Axton, saya harus pergi dulu."
Mark yang sebenarnya tak paham atas yang terjadi pun meminta anak-anak itu mengikutinya. Sementara itu, Rainero segera berlari setelah anak-anak itu memberinya jalan. Ia pun kembali melanjutkan mencari Shenina. Tapi kenyataan tak sesuai harapan. Ia pikir tidak sulit mencari Shenina di tempat tersebut, tapi nyatanya ia malah kebingungan karena daerah itu dipadati rumah. Terlalu banyak jalan kecil dan berliku membuatnya sampai tersesat sendiri.
"Ini dimana?" gumam Rainero saat kakinya memasuki area yang menguarkan aroma tak sedap. Rainero terus melangkahkan kakinya dan terkejut saat mendapati banyak kandang yang berisi ayam putih.
"Oh my God, Axton, Mark, help me!" teriaknya sambil menahan gejolak di dalam perutnya.
Rainero mencoba mencari jalan keluar, tapi yang ia dapati adalah padang rumput. Lalu ia memutar lagi langkahnya, yang ia temui kali ini justru kandang kambing. Rainero menjambak rambutnya sendiri.
Rainero lantas hendak mengambil ponselnya, tapi ia justru tak menemukannya. Rainero baru ingat, ponselnya ternyata tertinggal di jok mobil.
Rainero menjambak rambutnya, "Shenina, please, help me!" raungnya seraya membayangkan wajah cantik Shenina.
Wajah Rainero sudah pucat. Sedari semalam ia menahan lapar. Ia berharap bisa makan bakso krispi siang ini, tapi belum sempat makan sebiji pun, Rainero sudah harus berakhir di sini, di tempat yang di penuhi rerumputan dengan suara kambing sebagai instrumennya.
Mbeeekkkk ...
Brakkkk ...
"Pak Rainero ... "
...***...
Ayo, tebak, siapa yang muncul itu? 😄
__ADS_1
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...