Benih Sang Cassanova

Benih Sang Cassanova
BSC 90


__ADS_3

Sepulang dari rumah sakit, Rainero segera membersihkan dirinya. Ia sudah tak sabar untuk menyambangi sang istri tercinta yang telah duduk di tepi ranjang sambil menunggunya. Tak butuh waktu lama, Rainero keluar dari kamar mandi dengan handuk berwarna biru menggantung di pinggangnya. Titik-titik air mengalir di sekujur tubuhnya yang berotot membuat kesan seksi pada laki-laki itu.


Melihat Shenina menatapnya penuh minat, Rainero lantas melangkahkan kakinya menuju Shenina. Wanita yang tengah hamil cukup besar itu sontak berdiri. Dengan tatapan tak luput dari tubuh sang suami, Shenina lantas mengalungkan lengannya di leher sang suami. Alis Rainero menukik, sungguh ini merupakan hal luar biasa bagi Rainero. Kini Shenina perlahan mulai menunjukkan ketertarikannya padanya. Bahkan Shenina sudah tidak begitu canggung lagi untuk berinteraksi secara intim dengannya.


"Mengapa kau memandangku seperti itu? Apa karena aku tampan? Tubuhku seksi?" goda Rainero sambil menarik pinggang Shenina sehingga kini bagian depan tubuh mereka sudah saling merapat tanpa jarak.


Shenina memainkan jemarinya di atas dada bidang Rainero dengan wajah tersipu.


"Apa masih perlu ku jawab?" Shenina menundukkan kepalanya. Rainero tak dapat menyembunyikan senyumannya melihat sikap sang istri yang kian melunak.


Rainero lantas menarik tubuh Shenina dan mendekapnya.


"Kau tahu, seharian ini aku tidak bisa berkonsentrasi bekerja," ujar Rainero.


"Mengapa? Apa kau sakit?" tanya Shenina cemas. Bahkan Shenina telah merenggangkan pelukannya dan memegang dahi Rainero. "Tidak panas. Apa tubuhmu yang sakit? Atau kamu masuk angin lagi? Mau aku kerok lagi?" berondong Shenina.


Bukannya menjawab pertanyaan Shenina, Rainero justru menarik tengkuk Shenina dan melu mat bibirnya. Mata Shenina melotot, tapi perlahan ia memejamkan matanya. Menikmati setiap cumbuan Rainero maupun permainan lidahnya yang selalu saja membuat Shenina mabuk kepayang.


"Aku tidak sakit, Sweety. Justru aku tidak bisa berkonsentrasi karena terlalu merindukanmu. I Miss you, Sweety," ujarnya sesaat sebelum kembali mencumbu Shenina.


Shenina tidak tinggal diam, ia pun membalas cumbuan itu tak kalah panas. Bahkan salah satu tangannya kini sudah bergerak memegang Rainoconda yang ternyata telah mencuat dari balik handuk Rainero. Tak mau membuang waktu, Rainero melepaskan handuk yang melingkari pinggangnya, pun Shenina mulai melucuti pakaiannya sendiri sehingga keduanya kini telah sama-sama polos.


Sore yang syahdu karena hujan baru saja mengguyur sang bumi membuat suasana kian mendukung bagi keduanya untuk melepaskan hasrat. Hingga kini, hanya suara desa han dan lenguhan yang menjadi senandung dalam ruangan itu. Saling memberi saling menerima. Shenina tidak pernah menyangka ia akan menjalani kehidupan pernikahan yang begitu indah seperti ini.


"Huh hah huh hah ... " Nafas keduanya tersengal setelah mereka berhasil mencapai puncak kenikmatan yang kesekian kalinya setelah mereka menikah.


Rainero begitu bahagia. Ia pikir dunianya benar-benar runtuh setelah kandasnya hubungannya dengan Delianza, tapi sebaliknya, ia justru berhasil menemukan kebahagiaan yang jauh lebih besar. Mungkin inilah maksud istilah, habis badai, terbitlah pelangi. Habis gelap, terbitlah terang. Oleh sebab itu, jangan pernah merasa berputus asa saat ujian besar menimpa kita. Bisa jadi ujian itu merupakan awal dari kebahagiaan yang sesungguhnya.


"Aku tak pernah tahu memilikimu akan semembahagiakan ini. Kalau saja aku tahu sejak awal, mungkin sudah lama aku menikahi mu," ujar Rainero sambil menatap lekat wajah cantik Shenina.


"Tapi saat itu baik aku maupun kau masih menjadi milik orang lain," jawab Shenina diplomatis.

__ADS_1


Rainero menganggukkan kepalanya, "kalau begitu aku yang akan lebih dahulu memutuskan dia," ucap Rainero menyebut kata 'dia' merujuk satu nama yang tak lagi bertahta di hatinya. "Lalu ... "


"Lalu apa?"


"Aku akan memaksa meniduri mu agar kau jadi milikku seperti ini," ucapnya membuat Shenina melotot tajam sehingga cubitan maut pun mendarat di pinggang Rainero. Rainero tergelak kencang, senang rasanya melakukan deep talk seperti ini.


Beberapa saat saat kemudian, Rainero dan Shenina baru saja menyelesaikan makan malam. Rainero yang tak ingin menutupi apa yang terjadi sore ini pun segera menceritakan temuannya mengenai Ambar.


"Yang benar? Astaga, aku benar-benar tidak menyangka kalau dia bisa berbuat sekejam itu pada mantan suaminya sendiri," ujar Shenina speechless.


Rainero mengedikkan bahunya, "bahkan semua perbuatan buruknya terekam jelas di mini kamera yang Julian letakkan di kamarnya. Sepertinya Julian hendak merekam aktifitas panas mereka, tapi siapa sangka kalau kamera itu juga merekam aksi wanita itu yang hendak melenyapkan Julian dengan racun."


Rainero lantas mengeluarkan ponselnya dan memutar video panas antara Ambar dan Julian. Mata Shenina melotot, kemudian memalingkan wajahnya ke samping. Pipinya bersemu saat melihat sesuatu yang tak seharusnya dipertontonkan di hadapan orang lain itu.


"Apa kau tadi menontonnya sampai habis?" selidik Shenina membuat mata Rainero melotot.


"Astaga, mana mungkin aku melakukannya. Tidak menarik sama sekali. Sebaliknya, itu tampak menjijikan," ucapnya jujur.


"No, aku tidak suka menonton hal seperti itu. Bukankah aku pernah bilang kalau aku bahkan tidak pernah mencumbu mereka. Mereka hanya bertugas menuntaskan hasratku, tak lebih. Bahkan aku melarang mereka menyentuh tubuhku. Ya ... kecuali Rainoconda," ucapnya seraya meringis.


Tiba-tiba saya Shenina mencengkeram Rainoconda membuat mata Rainero terbelalak, "awas kalau Rainoconda mu ini kembali macam-macam, maka aku tak akan segan-segan memutilasinya dan melemparkannya ke kolam Albert kesayanganmu itu," ujar Shenina dengan nada mengancam.


Glek ...


Rainero menelan ludahnya kasar, kemudian menggeleng dengan cepat.


Bila biasanya ia yang mengancam Axton dengan menggunakan Albert, tapi kini dirinya lah yang mendapatkan ancaman dari Shenina. Dan yang lebih parah, Shenina mengancam akan memutilasi Rainoconda lalu melemparkannya ke dalam kolam Albert.


"No, kamu tidak perlu khawatir, Sweety, sejak malam itu, Rainoconda telah hak paten milikmu seorang. Jadi kau tak perlu cemas, mana mungkin dia mencari sarang lain yang belum tentu seorisinil milikmu," ujar Rainero mencoba meyakinkan Shenina. Mendengar kata-kata Rainero, Shenina tak mampu menyembunyikan senyumannya. Hingga sebuah panggilan membuat Shenina akhirnya diam.


"Siapa?" tanya Shenina.

__ADS_1


"Bams, katanya kondisi Julian kian kritis. Aku akan ke rumah sakit dulu ya. Jangan tunggu aku. Kamu tidur saja lebih dahulu. Setelah urusanku selesai, aku pasti akan segera kembali," ucap Rainero sambil mengusap puncak kepala Shenina.


Shenina mengangguk. Tak lama kemudian, Rainero pun segera mengemudikan mobilnya menuju rumah sakit.


"Bagaimana keadaannya?" tanya Rainero. Kalau bukan karena ingin mengorek informasi mengenai kejadian di masa lalu mendiang ibu mertuanya, mana mungkin ia mau repot-repot datang ke rumah sakit. Lebih baik dia bermesraan dengan Shenina yang kemudian berakhir dengan mengunjungi baby Twins mereka.


"Dokter masih berupaya menanganinya, tuan," ujar Bams.


Rainero mengusap wajahnya kasar. Selang beberapa waktu kemudian, pintu ruangan ICU terbuka. Dokter keluar dengan raut tak terbaca.


Rainero pun segera mendekat, "dia minta orang yang menyelamatkannya masuk ke dalam. Sepertinya dia ingin mengatakan sesuatu sebelum ... "


"Sebelum apa?"


"Sebelum ... lebih baik Anda segera masuk," ujarnya tak sanggup mengatakan yang sebenarnya. Mereka bisa melihat keadaan pasien itu sendiri nanti.


Rainero dan Bams pun segera masuk. Di sana, tampak Julian dengan nafas yang terputus-putus.


"Tolong aku!" ucap Julian tanpa bisa menggerakkan kepalanya. Hanya bola matanya saja yang bergerak. Bahkan gerakan bibirnya pun sangat pelan karena syaraf-syarafnya yang telah banyak tak berfungsi.


"Apa? Kau minta tolong apa?"


"Tolong rekam pengakuanku. Aku ingin mengatakan sesuatu dan serahkan rekaman ini ke pihak kepolisian. Ambil mini kamera di kamarku. Aku yakin, apa yang perempuan ular itu lakukan telah terekam di mini kamera itu."


Bams menoleh pada Rainero, Rainero mengangguk. Ia harap apa yang Julian katakan ini merupakan kebeneran mengenai masa lalu ibu Shenina. Dan benar saja, apa yang Julian tuturkan membuat tangan Rainero mengepal dan darahnya benar-benar mendidih. Ia pun bersumpah akan memberikan pelajaran yang menyakitkan pada Ambar. Tepat setelah rekaman disimpan, Julian pun menghembuskan nafas terakhirnya. Karena Julian tidak memiliki keluarga lagi, Rainero lantas meminta Bams untuk mengurus pemulasaraannya.


...***...


Othor ucapkan banyak-banyak makasih sama kakak-kakak yang baik hati, yang udah kasi tips koin, ada juga yang nonton iklan, like, komen, dan kasi hadiah. Othor benar-benar terharu. Semoga suka dengan ceritanya ya kak. Sampai jumpa besok ya untuk update selanjutnya. 🥰🥰🥰


...HAPPY READING 🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2