Benih Sang Cassanova

Benih Sang Cassanova
BSC 98


__ADS_3

Justin bingung harus berbuat apa. Di saat bersamaan, kedua orang yang ia sayangi sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja. Ia ingin melihat kondisi anaknya, tapi ia juga tak kuasa meninggalkan istrinya yang sedang berjuang untuk hidup.


Dengan tertatih, Justin bangkit dan berdiri di depan ruangan Delianza. Dari tempatnya, ia bisa melihat perjuangan dokter untuk kembali menormalkan detak jantungnya yang kian melemah. Dokter meletakkan defibrillator atau yang lebih sering dikenal dengan alat kejut jantung di dada Delianza membuat tubuh lemah Delianza melenting.


Justin tak dapat membohongi dirinya kalau dirinya pun tersiksa melihat keadaan Delianza seperti itu. Namun untuk merelakan, dia belum sanggup. Apalagi selama hidup bersama, Justin belum pernah sekalipun memberikan perhatian dan kasih sayang layaknya seorang suami pada Delianza. Semua yang dilakukannya hanya sekadar formalitas dan akting semata untuk menunjukkan kemesraannya di hadapan orang-orang. Padahal nyatanya hubungan mereka tidak semanis itu, tidak seharmonis itu. Semuanya tak lebih dari sekadar sandiwara belaka.


"Aku mohon Anza, berjuanglah, bertahanlah. Aku berjanji, aku akan berubah menjadi laki-laki yang lebih baik lagi, aku akan menjadi suami dan seorang ayah yang baik asalkan kau bangun dari tidur panjangmu. Aku mohon, Anza, jangan tinggalkan aku dan anak kita. Aku lebih baik mati bila harus kehilangan kalian. Aku mohon," ucapnya dengan mata yang telah basah.


Justin menyeka kasar air matanya. Ia ingin melihat keadaan putranya. Dalam hati ia berdoa, semoga anaknya baik-baik saja.


Sesampainya di depan ruangan dimana anaknya berada, Justin langsung melihat keadaan sang putra. Tubuhnya terlihat sangat lemah dan makin pucat. Menurut dokter, tekanan darah dan detak jantungnya melemah, tentu saja hal itu sangat mengkhawatirkan dan bisa berakibat fatal. Dokter terus berupaya menstabilkan tekanan darah dan detak jantung sang bayi. Tampak beberapa alat medis menempel di tubuh mungil bayinya. Sakit dan sesak, itu yang Justin rasakan.


"Kenapa harus mereka Ya Tuhan, kenapa harus mereka yang menanggung segala salah dan dosaku? Aku mohon ya Tuhan, selamatkan mereka, aku mohon dengan amat sangat."


Lalu Justin meminta izin dokter untuk mendekati sang anak. Anak yang sejak lahir ia abaikan. Padahal anak itu lahir dengan keadaan yang memprihatinkan. Jantungnya lemah. Organ pernafasannya tidak berkembang dengan baik. Oleh sebab itu, sejak lahir, bayi itu masih membutuhkan alat bantu pernafasan dan terus mendapatkan penanganan serius. Bahkan sampai saat ini, anak itu belum pernah mengeluarkan suara tangisnya. Benar-benar anak yang malang.


Bila selama Delianza terbaring tak sadarkan diri, Justin hanya melihat bayi mungil itu dari balik kaca, maka kini ia benar-benar berdiri di samping sang anak. Digenggamnya salah satu jari mungil sang bayi sambil terisak.


"Hai baby, maaf sampai saat ini Daddy belum memberikanmu nama. Entah mengapa, Daddy merasa tak berhak untuk memberikan nama padamu. Ada mommy mu yang lebih berhak. Tapi my lovely baby, mommy sedang sakit. Dia sedang berjuang untukmu. Oleh sebab itu, Daddy mohon, bertahanlah, berjuanglah, sembuhlah, untuk mommy dan ... Daddy. Jangan menyerah, Sayang. Daddy mohon. Daddy menyayangimu, Sayang. Sangat menyayangimu," ujarnya dengan suara bergetar dan tenggorokan tercekat. Sesak, amat sangat sesak rasanya.

__ADS_1


Justin tergugu pilu. Ia menutup mulutnya, meredam suara tangisnya. Dokter dan perawat yang ada di ruangan itu ikut menitikkan air mata saat melihat sisi rapuh seorang Justin ketika melihat orang-orang terkasihnya dalam keadaan yang tidak baik-baik saja.


Tiba-tiba saja Justin merasakan pergerakan jari mungil di tangannya. Justin tersentak. Ia pun segera mengalihkan perhatiannya pada sosok bayi mungil itu. Kelopak matanya tampak bergerak-gerak lamban, tak lama kemudian, kelopak mata itu pun terbuka diiringi sebuah tangisan melengking membuat mata Justin terbelalak.


Dokter dan perawat yang melihatnya pun tampak terkejut. Mereka pun segera melakukan pemeriksaan. Binar mata bahagia tak dapat mereka tutupi.


Setelah melewati serangkaian pemeriksaan, dokter pun berkata, "Ini benar-benar mukjizat. Selamat tuan, anak Anda telah melewati masa-masa kritis. Bayi Anda sepertinya merespon sentuhan dan kata-kata Anda. Kami akan melakukan observasi sekali lagi, semoga saja dalam waktu dekat, anak Anda sudah bisa dibawa pulang," ujarnya dengan senyum mengembang.


Justin sampai tak dapat berkata-kata. Hanya selarik senyum diiringi air mata yang tumpah ruah. Bukan karena bersedih, tapi air mata itu mewakili perasaan bahagianya yang membuncah. Diusapnya pelan dahi dan pipi bayinya dengan ujung jarinya. Tapi saat mengingat kondisi Delianza yang masih kritis membuat dadanya kembali sesak.


Tiba-tiba ponsel Justin berdering nyaring. Tak ingin membuat bayinya terganggu dengan suara berisik dari ponselnya, Justin pun segera beranjak ke luar dan mengangkat panggilan itu dengan dada berdegup kencang sebab panggilan itu berasal dari perawat yang bertugas memantau keadaan istrinya.


"Tuan, maaf, kami ingin mengabarkan kalau Nyonya sudah tidak ada. Kami sudah berupaya semaksimal mungkin, tapi detak jantung Nyonya tiba-tiba berhenti berdetak ... "


Justin tidak memedulikan lagi suara itu. Apa yang perawat itu sampaikan benar-benar membuat dunianya seakan runtuh. Justin jatuh terduduk dengan nafas yang tersengal.


"Tidak, tidak, itu tidak mungkin. Kau tidak boleh pergi, Anza. Tidak boleh. Aku tidak mengizinkanmu, Anza. Sampai kapanpun kau tidak boleh meninggalkanku. Tidaaak ... " raung Justin sambil mencengkram kedua sisi kepalanya.


...***...

__ADS_1


Theo hari ini pulang lebih awal. Entah mengapa kepalanya terasa amat sangat berat. Saat naik ke atas tangga, Theo berpapasan dengan Rhea. Namun yang membuat dahinya mengernyit adalah apa yang ada di tangan Rhea.


"Kau mau kemana?" tanya Theo saat melihat Rhea yang menarik koper cukup besar di tangannya menuruni tangga satu persatu.


"Apa peduli mu," jawab Rhea dingin. Bahkan tatapannya tampak datar, tak sehangat dulu saat awal pertemuan dan pernikahan mereka.


"Jawab saja pertanyaanku, tak perlu berkelit!" tegas Theo tak suka saat Rhea menanggapinya dengan dingin.


"Bukan urusanmu aku mau kemana. Bukankah selama ini kau tak peduli dengan keberadaan ku," sahutnya masih dengan nada datar dan dingin. Bahkan kini Rhea kembali melangkahkan kakinya membuat Theo berdecak kesal.


"Kau itu istriku jadi wajar aku bertanya kau mau kemana. Kau tahu bukan, Mommy sering mencarimu kemari. Aku hanya tak ingin mommy marah-marah padaku saat tidak menemukanmu."


Rhea terkekeh miris. Tadi awalnya ia pikir Theo bertanya karena mengkhawatirkan dirinya, namun kenyataan tak sesuai ekspektasi. Ternyata Theo hanya khawatir ibunya marah karena tidak menemukan keberadaannya.


"Tak usah khawatir. Nanti aku akan mengatakannya sendiri pada Mommy. Yang penting aku sudah tak ingin lagi berada di sini. Satu atap denganmu sama seperti berada di neraka," desis Rhea membuat Theo tertegun dengan perkataannya.


Setelahnya, Rhea pun melangkahkan kakinya keluar dari apartemen itu. Saat dirinya telah berada di luar pintu, Rhea menyeka air matanya kasar dan mengusap perutnya yang rata sambil melambungkan doa kepada sang pencipta agar ia dikuatkan di setiap langkahnya.


...***...

__ADS_1


...HAPPY READING 🥰🥰🥰...


__ADS_2