
Seminggu telah berlalu semenjak kepergian Rhea. Tak ada tanda-tanda perempuan itu akan kembali ke apartemen itu. Theo yang memang tidak memiliki perasaan apapun pada Rhea, tampak acuh tak acuh. Meskipun kini apartemen itu jadi kian terasa sepi, tapi Theo tidak mempermasalahkan sama sekali. Justru itu lebih baik menurutnya. Tak ada lagi yang akan mengusiknya, setidaknya itulah yang ada di dalam pikirannya sekarang.
Masuk ke kamarnya, Theo segera menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang. Tatapan matanya menerawang ke langit-langit kamarnya. Sebenarnya ada sedikit perasaan bersalah pada Rhea. Bagaimanapun, ia pasti telah melukai Rhea karena menidurinya secara paksa. Tapi sayang, egonya melampaui akal sehat. Ia pikir itu wajar, salah sendiri Rhea selalu saja mengusiknya.
Seharusnya Rhea sadar, pernikahan mereka itu tanpa cinta. Setidaknya, berilah ia ruang untuk bernafas. Tidak mudah untuk melupakan perempuan yang ia cintai. Rasa itu telah tertanam begitu dalam hingga menggerus akal sehatnya. Namun Rhea seakan menutup mata. Ia seakan tidak peduli dan terus mengusiknya. Membuat Theo kehabisan kesabaran hingga melakukan hal yang terduga pada perempuan yang ternyata belum pernah terjamah itu.
Bell pintu berbunyi nyaring. Dengan malas-malasan, Theo segera beranjak menuju pintu dan membukanya. Theo mendengkus sebal setelah melihat siapa yang datang.
"Theo, Rhea belum juga kembali?" tanya sang ibu saat melihat keadaan apartemen yang masih seperti beberapa hari yang lalu. Namun kali ini terlihat lebih berdebu. Bahkan pakaian Theo yang terkapar di sandaran sofa sejak beberapa hari yang lalu pun masih berada di sana.
Theo melirik sinis dan melengos begitu saja.
"Heh, Theo, jawab pertanyaan Mommy! Jangan pergi begitu saja!" bentak ibu Theo, Emery.
"Kalau mommy sudah tahu jawabnya, kenapa masih harus bertanya? Kalau tujuan Mommy ke sini adalah perempuan itu, lebih baik Mommy pergi karena dia tidak berada di sini. Bahkan mungkin, dia takkan pernah kembali ke mari!" jawab Theo datar dan dingin. Hilang sudah Theo yang hangat dan lembut. Semua menghilang seiring cintanya yang hilang.
__ADS_1
Ingin marah, tapi entah pada siapa sebab ia pun memiliki andil atas kandasnya hubungannya dengan Shenina. Seandainya ia bisa lebih bersabar, seandainya ia mau mendengarkan penjelasan Shenina sedikit saja, seandainya ia tidak pergi begitu saja, seandainya ia tidak memutuskan hubungan dengan Shenina begitu saja, seandainya, seandainya, hanya kata seandainya saja yang terus berputar-putar dalam benaknya.
Lalu ditambah sikap ibunya yang terus menerus mencerca Shenina, membuat perasaannya begitu berantakan hingga mengambil keputusan sepihak tanpa berpikir risikonya. Seakan belum puas melihat kehancurannya, ibunya kembali memaksakan kehendak dengan menikahkannya pada perempuan yang tidak ia cintai. Bahkan mereka tidak memberi dirinya waktu sedikit saja untuk berbenah diri. Untuk menata hati yang hancur. Menuntut dan menekan, itu yang orang tuanya lakukan. Membuat Theo tidak berdaya sama sekali.
"Theo, jaga ucapanmu!" sentak Emery pada putranya. Tatapan matanya nyalang. Ia begitu kesal putranya bersikap seperti itu padanya. "Pokoknya Mommy tak mau tahu, kau harus menjemput Rhea agar kembali ke mari. Tak ada penolakan. Titik."
"Kenapa? Kenapa Theo harus menjemputnya? Kenapa?" Raung Theo dengan mata memerah.
"Karena dia istrimu."
"Theo! Kenapa kau jadi seperti ini? Apa karena jalaang itu? Kau masih mencintainya? Kau masih mengharapkannya? Jangan bodoh, Theo. Dia sudah menjadi istri laki-laki lain. Dia bahkan lebih memilih laki-laki yang lebih kaya daripada kau. Untuk apa lagi kau mengharapkannya, hah?"
Padahal beberapa waktu yang lalu, Emery sempat menyadari kesalahannya pada Shenina, tapi mungkin kesadarannya itu tidak berasal dari hati yang terdalam sehingga kini ia kembali menyalahkan Shenina atas perubahan sikap Theo.
Tangan Theo mengepal erat. Mendengar nama Shenina disebut dan dihina, membuat darahnya seketika mendidih.
__ADS_1
"Jangan pernah menghina, Shenina! Mommy tidak tahu apa-apa tentang dia jadi lebih baik Mommy menutup mulut Mommy. Dan dengar, Shenina bukan jalaang," teriak Theo dengan wajah merah padam. "Kenapa kalau aku masih mengharapkannya? Aku mencintainya, tapi Mommy lah yang membuat segalanya makin rumit sehingga akhirnya aku benar-benar kehilangannya. Aku tahu, akulah yang salah karena tidak mau mendengarkan penjelasannya, tapi Andai Mommy tidak mempengaruhiku, semua pasti takkan seperti ini. Mommy tahu bagaimana hancurnya hatiku saat ini? Benar-benar hancur, Mom. Aku ... Aku sangat mencintai Shenina, Mom. Tapi kini, semua telah benar-benar hancur. Tak ada lagi harapanku untuk memiliki Shenina. Aku ... benar-benar hancur," ucap Theo yang makin melemah.
Emery yang mendengar ungkapan hati putranya yang menyayat hati jelas saja bisa merasakan betapa sakit yang Theo rasakan. Tapi berlarut-larut dalam kesedihan pun tidak berguna. Semuanya takkan mungkin kembali seperti semula. Emery harap Theo bisa memulai menata hatinya dan menerima Rhea. Ia yakin, asal Theo mau membuka hati, Rhea pasti bisa mengobati luka hati Theo.
"Theo, maafkan Mommy yang tidak mengerti perasaanmu selama ini. Tapi ... ini tak benar, Son. Kenapa kau harus menyiksa dirimu seperti ini. Semuanya sudah terlanjur terjadi. Semua yang telah terjadi tak akan mungkin kembali seperti dulu lagi. Ikhlaskan Shenina. Bila kau memang benar-benar mencintainya, lepaskan dia. Doakan saja agar ia berbahagia dengan pasangan barunya. Cobalah buka hatimu untuk Rhea, Son. Dia perempuan yang baik. Jangan sampai kau menyesal telah menyia-nyiakan dia," ucap Emery lirih.
Sebagai seorang ibu, ia pun bisa merasakan kehancuran sang putra. Andai waktu bisa diputar, ia akan menerima Shenina dan bayi yang ada di dalam kandungannya dengan tangan terbuka. Takkan ia menolaknya mentah-mentah. Takkan ia mencercanya dengan berbagai hinaan. Emery memang tidak mengenal Shenina dengan baik. Tapi dilihat dari bagaimana putranya itu begitu mencintai Shenina, dapat ia pastikan kalau Shenina merupakan sosok perempuan yang begitu baik. Bodohnya dirinya yang tidak menyadari itu semua sedari awal. Bodohnya ia yang menjadi salah satu orang yang ikut andil membuat putranya begitu hancur seperti saat ini.
Theo jatuh terduduk. Ia menangkup wajahnya di balik kedua telapak tangannya. Kedua bahunya bergetar. Tangis Theo pecah. Emery pun tak kuasa menahan kesedihannya. Ia pun ikut menangis. Termasuk perempuan yang saat ini sedang bersembunyi di balik pintu yang belum tertutup sempurna. Perempuan itu pikir, setelah seminggu kepergiannya, Theo akan sedikit mengkhawatirkannya atau mencari keberadaannya. Tapi di luar dugaan, Theo ternyata masih saja berkutat dengan masa lalunya.
Perempuan itu meremas kertas yang ada di telapak tangannya. Lalu dengan hati yang hancur, perempuan itupun pergi meninggalkan gedung apartemen dimana ia pernah tinggal beberapa bulan ini.
...***...
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...
__ADS_1