
Karena sudah tak tahan menahan buncahan rasa penasaran pun kerinduan, Jevian hari ini memilih pulang lebih awal. Namun sebelum pulang, Jevian lebih dulu mampir ke rumah sakit untuk melihat keadaan Matson.
"Tuan Jevian," ucap Matson seraya mendudukkan tubuhnya saat melihat Jevian masuk ke ruangannya.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Jevian yang sudah berdiri di samping brankar.
"Saya baik, Tuan. Saya juga sudah diizinkan pulang esok siang. Namun maaf, saya belum bisa bekerja sebab ... " Matson berusaha menggerakkan lengannya, tapi masih terasa sakit.
"Tidak perlu terlalu dipikirkan. Beristirahatlah dengan baik agar kau lekas pulih. Besok aku akan mengirim sopir kantor untuk menjemput kalian," ujar Jevian sambil melirik ke arah istri Matson yang duduk di ujung sofa.
"Terima kasih, Tuan. Maaf, tidak bisa membantu Anda. Padahal sekarang sedang sibuk-sibuknya dengan projek baru perusahaan kita," ujar Matson penuh sesal.
"Karena itu, beristirahatlah dengan baik. Tidak perlu banyak pikiran agar tubuhmu lekas pulih. Jujur, aku sedikit kerepotan tidak ada dirimu. Apalagi projek kali ini berskala multinasional, cukup menyita waktu, tenaga, dan pikiran. Kalau kau sudah sanggup bekerja, segera beri kabar."
"Baik, Tuan. Sekali lagi, terima kasih."
Setelah urusannya di rumah sakit usai, Jevian pun segera kembali ke kediamannya. Ia memacu Maybach hitam miliknya dengan kecepatan cukup tinggi agar bisa segera tiba di mansionnya.
"Jefrey dan Seline dimana?" tanya Jevian pada kepala pelayan di mansion miliknya. Ia berjalan masuk sambil melepaskan dasi dan jasnya. Ia juga membuka kancing lengan kemejanya dan menggulungnya hingga sebatas siku.
"Nona Seline dan Tuan muda Jefrey ada di taman belakang, Tuan."
"Apa ada sesuatu yang ingin kau laporkan?" tanya Jevian sebab setiap pulang ia memang menunggu laporan dari kepala pelayannya tersebut tentang apa saja yang terjadi di mansionnya pun kegiatan dua kesayangannya. Ia tak mau seperti dulu, saat bersama Eve. Ia tertipu mentah-mentah, ia pikir Eve sering di rumah, nyatanya ia selalu pergi saat ia tak ada.
"Tadi siang ada seorang laki-laki memaksa masuk ingin bertemu nona Seline, Tuan."
Jevian pun tiba-tiba menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap sang kepala pelayan. Kepala pelayan ikut berhenti sambil menundukkan kepala.
"Laki-laki?"
"Iya, tuan."
"Siapa?"
"Dia tidak memberitahukan namanya, Tuan. Dia hanya bilang teman dekat."
Mata Jevian membelalak. Tiba-tiba saja ia merasa kesal saat ada seorang laki-laki yang hendak menemui Roseline. Apalagi ia mengaku-ngaku teman dekat Roseline.
"Tapi saat berteriak, ia sempat menyebut namanya Bastian, Tuan."
Mata Jevian kian membulat. Kedua tangannya mengepal. Ternyata sebelum menemuinya, Bastian menemui Roseline terlebih dahulu.
__ADS_1
"Apa Seline menemuinya?" tanya Jevian khawatir. Bagaimana kalau Roseline masih ada rasa pada laki-laki itu dan berniat kembali padanya?. Jevian mendadak resah.
"Tidak, Tuan. Laki-laki itu pergi setelah lebih satu jam tidak dihiraukan, Nona Seline," ujarnya membuat Jevian menghela nafas lega seraya tersenyum sumringah. Tanpa menunggu penjelasan lebih mendetil, Jevian pun melangkahkan kakinya ke arah taman belakang untuk menemui putra dan calon istrinya.
Jevian sudah berada di taman belakang. Ia dapat melihat Roseline sedang memperhatikan Jefrey yang sedang menggambar.
"Hai, Boy, hai, Baby," ujar Jevian membuat kedua orang itu sontak menoleh bersamaan.
"Daddy, yeaa, daddy pulang," seru Jefrey yang langsung berhambur ke pelukan sang ayah.
"Kau tidak ingin ikut memelukku juga?" goda Jevian pada Roseline yang justru mendelikkan matanya.
"Jef, mommy salah makan ya?"
"Salah makan?"
"Iya, tuh mommy sejak pagi wajahnya cemberut terus setiap lihat daddy. Apa mommy salah makan? Atau daddy ada salah?" tanya Jevian seraya melirik Roseline yang sudah melengos.
"Jefrey tidak tahu, Dad. Mommy, mommy salah makan ya? Atau daddy ada salah sama mommy?" tanya Jefrey polos membuat Roseline melebarkan senyumnya. Tapi hanya pada Jefrey, tidak pada Jevian. Saat kedua matanya bertemu, Roseline justru langsung membuang muka.
"Mommy tidak salah makan kok. Ayo, lanjutkan menggambarnya!" ajar Roseline yang membuat Jefrey segera kembali ke kursinya semula.
"Jefrey gambar apa?" tanya Jevian yang sudah mendekat. Ia berdiri di belakang kursi tempat Jefrey duduk sembari menggambar.
...***...
Jevian duduk di ruang tengah dengan perasaan tidak tenang. Ia pikir sikap Roseline hanya aneh pagi tadi saja, tapi nyatanya hingga malam ini pun sikap Roseline tetap saja dingin. Tak ada senyum. Tak ada sapaan. Bahkan kopi yang biasa ia buatkan untuknya pun tidak ada.
"Ck, dia kenapa sih? Kenapa jadi bersikap aneh seperti itu? Apa itu pengaruh kehadiran Bastian? Ah, tidak mungkin. Bukankah katanya ia sudah tidak memiliki perasaan apa-apa dengan bajingaan itu, tapi kalau bukan, lantas apa dan kenapa?" gumam Jevian sambil mengacak rambutnya sendiri.
Tak lama kemudian, terdengar suara pintu yang dibuka kemudian tertutup. Setelah itu, terdengar terhadap langkah kaki yang menuruni tangga. Jevian pun tersenyum lebar saat matanya bersirobok dengan netra Roseline. Namun bukannya membalas senyumannya, Roseline justru melengos membuat Jevian terperangah melihatnya.
"Seline, tunggu!" teriak Jevian. Tak peduli kalau para maid di kediamannya akan terkejut dan merasa heran mendengar teriakkannya, yang penting ia harus segera menyelesaikan permasalahannya dengan Roseline.
"Apa?" ketus Roseline.
Alis Jevian bertaut, makin heran dengan sikap Roseline.
"Kamu kenapa?"
"Aku tidak kenapa-kenapa," jawab Roseline masih dengan nada ketusnya.
__ADS_1
"Kalau tidak kenapa-kenapa, kenapa kamu seperti marah begitu sama aku?"
"Marah? Aku tidak marah. Cuma sebal."
"Sebal? Sebal kenapa? Memangnya aku ada buat salah sama kamu? Kalau iya, maafin aku."
"Ya, kamu memang buat salah. Kamu bilang kamu mau menikah denganku, tapi ... "
Tiba-tiba ponsel di genggaman tangan Jevian berbunyi. Jevian pun segera melihat nama yang tampil di layar ponselnya.
Melihat nama itu kembali muncul di ponsel Jevian, membuat amarah Roseline seketika menggelegak. Matanya mendelik tajam dengan gigi bergemeletuk.
"Lebih baik kita batalkan rencana pernikahan kita. Kau menikah saja dengan MISS SASYA CANTIKMU ITU!" desis Roseline membuat Jevian mengangkat wajahnya dengan alis yang menyatu.
"Apa maksudmu?"
"Bukankah Miss Sasya itu cantik? Jadi menikah saja dengannya," sentak Roseline membuat mata Jevian membulat.
"Tunggu-tunggu," Jevian mengejar Roseline yang hendak terlalu dengan kaki menghentak. "Tunggu, Seline!" panggil Jevian sambil mengejar langkah Roseline.
Roseline nyatanya tak mau berhenti jadi Jevian pun dengan cepat meraih tubuh Roseline ke dalam gendongannya. Roseline memekik kaget. Ia melotot hingga bola matanya nyaris keluar.
"Jevian, turunkan aku! Nanti ada yang lihat!"
"Terserah. Yang penting kita harus selesaikan permasalahan kita. Aku tidak tahan terus kau diamkan. Kau membuatku bekerja tak nyaman, makan tak kenyang, bahkan buang air pun tersendat-sendat. Kau sukses menjungkirbalikkan kewarasanku. Jadi pokoknya kita harus meluruskan permasalahan kita. Segera. Tidak ada bantahan apalagi penolakan."
"Tapi kenapa kau bawa aku ke kamarmu? Turunkan aku!"
"Baik!"
Dugh ...
Dengan tanpa merasa bersalah, Jevian melemparkan Roseline ke atas ranjangnya. Mata Roseline sudah melotot tajam, tapi Jevian justru bersikap acuh tak acuh.
Dari sikapnya ini, Jevian bisa menebak kalau sudah terjadi sesuatu.
"Kau ... kau mau apa?" desis Roseline saat Jevian sudah mengungkung tubuhnya di bawahnya.
"Apa kau cemburu padaku, hm?" tanya Jevian to the point membuat mata Roseline mengerjap sambil menelan ludahnya.
...***...
__ADS_1
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...