
"Daddy, mommy," pekik Jefrey saat melihat kedua orang tuanya datang. Kini ia sedang berada di restoran hotel yang menempati salah satu ruangan VVIP yang cukup besar. Disana bukan hanya ada Jefrey, tapi juga keluarga besar Rainero, Axton, dan Mark.
Hap ...
Jefrey Oun segera melompat ke dalam gendongan Jevian. Lalu Jevian menciumi pipi Jefrey dengan gemas. Pun Roseline ikut menciuminya.
"Anak daddy tidak nakal kan! Tidak merepotkan emmm ... " Jevian bingung untuk menyebutkan panggilan panggilan Adisti dan Mark.
"Tidak kok.. Jefrey tidak nakal..Benarkan Momdre, Daddre?" Jefrey menoleh ke arah Adisti dan Mark. Jefrey kini mengikuti Arquez dengan memanggil Mark dan Adisti Momdre dan Daddre. Jevian hanya bisa menggaruk pelipisnya, kenapa putranya bisa secepat itu dekat dengan Mark dan Adisti. Bahkan menganggap keduanya seperti orang tuanya sendiri. Alangkah lucunya hidup ini. Di masa lalu ia sempat bersitegang dengan Mark untuk memperebutkan Adisti, tapi kini mereka justru seperti orang tua asuh anaknya.
"Tenang saja, putramu anak yang baik dan penurut. Kami senang ia ikut kami," sahut Mark.
Jevian tersenyum lega. Ya, putranya memang anak yang penurut dan Jevian bangga akan hal itu.
Sarapan pagi pun dimulai dengan penuh kehangatan. Bagi Jevian dan Roseline jelas saja hal ini sangat berkesan dan berharga. Meskipun mereka pernah memiliki keluarga sebelumnya, tapi sikap keluarganya tidaklah sehangat ini.
Tanpa mereka sadari, sebenarnya hampir dari mereka semua memiliki masa lalu yang hampir sama. Khususnya masalah dengan keluarga. Shenina yang tak pernah dianggap sang ayah dan selalu dalam tekanan ibu tirinya, Adisti yang memang sejak kecil sudah tidak memiliki orang tua, Jevian yang selalu dalam tekanan orang tua dan orang tua yang selalu sibuk dengan dunianya sendiri, lalu Roseline yang memiliki keluarga tapi seperti hidup sebatang kara.
Kini mereka berkumpul bersama. Saling bercanda tawa bersama. Seolah mereka memang benar-benar satu keluarga.
Dalam hati masing-masing, mereka mengucapkan syukur tak henti-henti karena dipertemukan satu sama lain sehingga mereka akhirnya bisa merasakan bagaimana itu kehangatan sebuah keluarga.
"Mom, apa di perut Mommy sudah ada adik bayinya?" celetuk Jefrey tiba-tiba membuat Roseline yang sedang memakan buah anggur seketika tersedak.
Jevian seketika panik. Ia lantas menepuk-nepuk punggung Roseline kemudian menyerahkan segelas air putih padanya. Roseline pun menenggak air itu hingga tandas.
Setelah Roseline tidak lagi tersedak, mereka berdua lantas menatap sang putra yang memasang wajah polos. Semua orang dewasa di sana menatap mereka sambil menahan tawa. Entah bagaimana cara kedua pasangan pengantin baru itu menjawab pertanyaan sang putra.
"Adik bayi?"
"Ya, adik bayi. Bukankah semalam mommy dan Daddy membuatkan Jefrey adik bayi?"
Jevian dan Roseline saling menatap. Lalu mereka mengarahkan tatapannya ke arah Mark, Axton, dan Rainero. Bukankah biasanya laki-laki lah yang mengajarkan hal aneh-aneh pada anak kecil.
__ADS_1
Ketiga laki-laki dewasa itu memalingkan wajah mereka sambil menahan tawa. Dugaan Jevian dan Roseline memang benar sekali. Kemarin sore mereka berenang bersama di kolam renang hotel. Di saat itulah para ayah muda memulai keisengan mereka.
"Wah, sebentar lagi berarti Jefrey akan memiliki adik bayi," cetus Rainero saat melihat Jefrey berenang ke arah mereka.
"Adik bayi?"
"Iya."
"Jefrey pernah meminta adik bayi tapi kata mommy, mommy baru bisa kasi adik bayi kalau mommy sudah menikah dengan daddy."
"Nah, kan, itu mommy sudah bilang, bukankah sekarang mommy dan daddy sudah menikah?" timpal Axton.
"Iya, jadi pasti saat ini mommy dan daddy sedang membuatkan Jefrey adik bayi. Apa Jefrey suka?" timpal Mark.
"Wah, yang benar Daddre? Jadi sebentar lagi di perut Mommy akan ada adik bayi seperti di perut momdre?" tanya Jefrey antusias.
"Ya, seharusnya seperti itu."
"Yeay, Jefrey akan punya adik bayi. Jefrey juga akan punya adik seperti Arquez. Yeay ... " pekik Jefrey girang.
Mata Jevian menyipit, "kalian ini benar-benar ... "
Tawa Rainero, Axton, dan Mark pecah. Para ibu-ibu mendelik tajam karena mereka pun terkejut dengan pertanyaan Jefrey yang mereka yakini bersumber dari ajaran ketiga papa muda tersebut.
"Kenapa kalian menatap kami seperti itu? Kan memang benar kalau Rose dan Jevian semalam membuatkan adik bayi untuk Jefrey. Tidak mungkin kan mantan duda nyaris karatan itu menunda sesuatu yang menyenangkan?"
"Suamiku, kau mau tidur di kamar lain malam ini?" ancam Shenina pada Rainero.
"Sepertinya itu ide yang bagus," timpal Gladys.
"Aku sebenarnya ingin melakukan hal yang sama, tapi itu tidak mungkin aku lakukan. Karena kehamilanku ini aku jadi sulit tidur kalau tidak ... " Adisti tersenyum malu-malu. Ia tidak mungkin kan memaparkan sejelas-jelasnya apa yang ia butuhkan sebelum tidur.
Mark tersenyum penuh kemenangan. Tapi itu hanya sementara. Saat Adisti kembali melanjutkan kalimatnya membuat mata Mark membulat seketika.
__ADS_1
"Tapi kalau kita tidur di kamar yang sama bagaimana, Mbak bule, Gladys? Seperti yang kita lakukan dulu di Bali? Sepertinya itu mengasikkan. Aku yakin, kalau aku bersama kalian, pasti tidurku akan tetap nyenyak seperti biasa?"
"It's good idea. Aku setuju denganmu," jawab Gladys sambil mengacungkan media jempolnya.
"Aku pun setuju. Baiklah. Malam ini kita akan tidur bersama. Kita titipkan anak-anak pada ayahnya. Saatnya kita me time. Kembali jadi single," seru Shenina kegirangan.
"NO!!!" pekik Rainero, Axton, dan Mark bersamaan. "Kami tidak setuju," imbuh mereka lagi.
"Terserah mau setuju atau tidak. Yang penting malam ini kami tidak ingin diganggu," tegas Shenina membuat nyali Rainero ciut. Begitu pula Axton dan Mark.
"Sayang, kau tidak benar-benar serius dengan kata-katamu tadi kan?' ucap Axton dengan tampang memelas.
"Aku serius. Aku sudah lama merindukan tidur bersama sahabat-sahabat baikku."
"Sweet heart, kamu ... "
"Aku serius, Daddre. Jadi jangan ganggu kamu, oke!"
Melihat tampang nelangsa ketiga papa muda itu membuat Jevian tersenyum penuh kemenangan.
Rainero, Axton, dan Mark mendelik melihat Jevian tersenyum mengejek ke arah mereka.
"Jevian, bagaimana kalau malam ini kita ... "
"Ooops, sorry, pengantin baru tidak ikut-ikutan. Selamat bersenang-senang, kawan!" tukas Jevian dengan senyum yang makin merekah lebar.
"Daddy, kenapa dari tadi pertanyaan Jefrey tidak dijawab sih?" rajuk Jefrey membuat Jevian seketika mengendurkan senyumnya.
"Em, Jefrey doakan saja ya, Sayang, semoga adik bayinya segera tumbuh subur di perut Mommy."
"Bagaimana kalau kita kasih pupuk saja, Dad, perut mommy, biar adik bayinya tumbuh subur. Seperti bunga yang ada di taman kan sering dikasi pupuk supaya tumbuh subur?" ucap Jefrey polos.
Meledaklah tawa semua orang, kecuali anak-anak sebab mereka pun tidak mengerti apa yang lucu dengan kalimat tersebut. Bukankah sesuatu agar tumbuh subur itu memang mesti dipupuk seperti tanaman?
__ADS_1
...***...
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...