
Tengah malam Rainero terbangun dari tidurnya. Perutnya lagi-lagi lapar, tapi ia tidak berselera makan apapun selain bakso krispi yang dibelinya siang tadi. Rainero lantas berjalan menuju sofa. Di atas meja masih terdapat kantong berisi bakso krispinya tadi. Rainero membeli sebanyak seratus ribu. Kata sopirnya tadi jumlahnya 50 buah. Diangkatnya kantong berisi bakso krispinya, ternyata isinya tinggal 5 biji saja.
"Astaga, ternyata aku makan sebanyak itu. Tapi wajar sih, dari siang, sore, malam, yang aku makan hanya ini," gumamnya sendirian. Lalu ia melahap kembali bakso krispinya yang sebenarnya tidak krispi lagi. Tapi Rainero tak peduli, ia terus menyantapnya hingga ludes tak bersisa. Bahkan saosnya pun ikut habis dan hanya menyisakan bungkusnya saja.
"Duh, perutku kok masih lapar aja sih? Aku ini ngidam atau cacingan sih?" Omelnya pada diri sendiri.
"Kok bisa ya orang buat makanan seenak ini? Mana masih pingin. Apa aku keluar saja ya beli lagi? Nunggu besok, kelamaan," gumamnya lagi. Dipikirnya bakso krispi itu dijual di restoran 24 jam jadi ia bisa membeli kapan saja seperti di negaranya.
Lantas Rainero menelpon sopirnya. Sekali, dua kali, hingga lima kali panggilan, tapi panggilannya tak kunjung diangkat. Rainero melempar asal ponselnya kemudian mengusap perutnya yang terdengar bunyi kerucuk-kerucuk.
"Astaga, sepertinya aku memang harus memeriksakan perutku ke dokter! Jangan-jangan isinya bukan hanya cacing, tapi anaconda," gumamnya ngelantur sendiri.
Rainero menguap kemudian ia merebahkan tubuhnya kembali ke atas ranjang. Pandangannya teralih ke langit-langit kamar kemudian ia bergumam, "hai calon mommy, kau mendengarku? Aku sangat merindukanmu, kau tahu. Mungkin kau sangat membenci ku saat ini, tapi anehnya aku tak bisa membendung kerinduanku padamu. Aku memang laki-laki tak tahu diri, ya," gumamnya seraya terkekeh. "Hai my baby, sebentar lagi Daddy yakin kita akan bertemu. Tunggu Daddy ya. Daddy sudah dekat. Daddy mohon, bantu Daddy untuk meminta maaf pada mommy, okay. Miss you too, my baby," ucapnya lirih sebelum kesadarannya perlahan menghilang ditelan kegelapan malam menjelang pagi itu.
"Aaakh ... " Shenina yang tadinya tertidur lelap seketika terbangun saat ia merasakan perutnya kembali mengencang.
Diusapnya perutnya yang telah mulai membukit itu dengan lembut. Ada desiran aneh yang tiba-tiba merambat di dadanya. Shenina sendiri tak mengerti, apa yang sebenarnya mengganggu pikirannya saat ini.
...***...
Pagi-pagi sekali Rainero tampak telah rapi dengan setelan kerjanya. Kemarin ia gagal bertemu dengan pihak Kenz Company jadi pertemuan diundur hari ini.
Pertemuan yang menghabiskan waktu hampir 3 jam itu berjalan lancar. Kedua belah pihak setuju dengan kesepakatan dan persyaratan yang terjalin antara mereka. Setelah berbincang sejenak, berbagi ilmu dan pengalaman, mereka pun saling berpamitan. Mereka akan bertemu satu Minggu lagi untuk penandatanganan perjanjian kerja sama.
"Mark, kau masih ingat dimana membeli makanan kemarin?" tanya Rainero. Kini mereka telah berada di dalam mobil.
"Kau belum puas makan makanan sebanyak itu?" tukas Axton heran dari bangku depan.
__ADS_1
"Ck ... aku lagi bertanya dengan Mark, bukan kau."
"Aku kan hanya bertanya," jawab Axton acuh tak acuh.
"Kenapa makin hari kau makin cerewet sih?" Omel Rainero kesal.
"Cerewet? Perasaanmu saja kali yang sedang sensitif akut. Dasar calon bapak."
"Dan kau pun tak akan lama lagi jadi calon bapak juga."
Keduanya terus saling sahut-menyahut. Mark menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Kenapa kedua atasannya itu sangat suka bertengkar? Mungkin ini cara mempererat persahabatan mereka kali ya, pikir Mark dalam hati.
"Mark, jawab pertanyaanku tadi! Bukan bengong seperti orang kurang makan," omel Rainero lagi.
Axton hanya bisa terkekeh. Memang beberapa waktu ini mereka makin cerewet saja. Entah apa sebabnya. Kalau Rainero jadi cerewet mungkin faktor kehamilan Shenina, tapi kalau dirinya? Axton pun tak mengerti. Padahal mereka tidak secerewet ini sebelumnya.
"Sepertinya sifat cerewet pun bisa menular," gumamnya seorang diri.
Rainero tersenyum lebar, "ayo kita segera ke sana. Saya sudah kelaparan sejak semalam. Kau juga, kenapa tidak diangkat telepon saya? Padahal sudah saya telepon berulang kali, tapi kau kunjung angkat," omel Rainero membuat Mark meringis.
"Maaf bos, saya tidak tahu. Mungkin saya tidurnya terlalu nyenyak. Tapi bos, kalaupun saya angkat telepon bos, percuma juga, kita tidak bisa membeli makanan seperti kemarin malam-malam."
"Kenapa bisa begitu?" tanya Rainero heran.
"Ya, karena kalau malam jualannya tutup."
"Hah? Kenapa tidak tutup selamanya saja sekalian? Buka kok cuma siang hari. Restoran apa itu?"
__ADS_1
Mark menghela nafas panjang. Beginilah orang kaya yang hanya tahu makan di restoran mahal, jualan pinggiran mana mengerti. Mampir aja Mark sangsi Rainero pernah melakukannya.
"Ini bukan restoran, bos. Hanya jualan kecil-kecilan."
"Jualan kecil-kecilan? Jualan macam mana itu?"
Axton yang mendengar ocehan Rainero ikut menghela nafas panjang. Dia mewajarkan sikap Rainero sebab dia sudah kaya raya sejak masih berada di awang-awang. Jadi mana paham kehidupan orang kecil. Sekolah Oun di sekolah elit taraf internasional. Lingkungan dan teman-temannya pun orang-orang kelas atas semua. Saat terjun ke dunia bisnis pun ia langsung memegang jabatan penting di perusahaan, jadi mana tahu dia ada usaha kecil-kecilan seperti yang Mark katakan.
"Jualan kecil-kecilan itu jualan seadanya dengan modal seadanya. Maklum, mereka melakukan itu untuk menyambung hidup, bukan seperti orang-orang kelas atas yang memiliki modal besar sehingga bisa membangun perusahaan. Jualan kecil-kecilan pun hanya memakai tempat yang seadanya dan tenaga semampunya. Ada yang berjualan di pinggir jalan, nah contohnya seperti itu ... " Axton menunjuk ke arah warung kecil yang ada di pinggir jalan dan sebuah gerobak penjual gorengan.
Rainero pun mengalihkan perhatiannya pada pedagang kecil itu.
"Apa mereka tidak kepanasan berdagang di tempat seperti itu? Dan ... apakah mereka bisa mendapatkan keuntungan dengan berjualan seperti itu?"
"Kepanasan sih sudah pasti, tapi mau bagaimana lagi. Modal mereka terbatas, mereka tidak bisa membeli lahan dan membangun tempat yang lebih bagus dan nyaman. Kalau masalah untung, ya pastinya ada, hanya saja keuntungannya sangat terbatas. Biasanya sih hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari," papar Axton lagi.
"Sepertinya kau sangat paham masalah seperti itu."
"Apa kau lupa, aku pun dulu salah satu dari mereka. Hanya saja aku lebih beruntung bisa mendapatkan beasiswa dan melanjutkan sekolah di tempat yang sama denganmu. Aku juga beruntung karena memiliki teman sepertimu yang selalu membantuku di saat susah," ucap Axton yang dilanjutkannya dalam hati.
"Bos, jadi, kita sudah sampai," sela Mark saat mobilnya telah terparkir di seberang gerobak yang bertuliskan Bakso Krispi Mbak Bule.
Rainero pun lantas menoleh ke arah gerobak yang sepi itu sebab jam istirahat belum lama berakhir. Mata Rainero memicing saat melihat sosok yang ia kenali sedang duduk bersantai di kursi yang ada di sana.
...***...
...Hayo, siapa itu???...
__ADS_1
...***...
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...