
Namun Rose memandangnya datar, "maaf tuan, Anda salah orang," jawab Roseline acuh tak acuh sambil kembali duduk di tempatnya.
"Tidak. Jangan berkilah, Rose. Kau pikir aku bodoh bisa kau bohongi begitu saja," laki-laki itu bersikukuh kalau Roseline adalah Rose yang dikenalnya.
Namun Roseline tampak acuh tak acuh membuat laki-laki itu geram.
"Rose, jangan berlagak bodoh. Aku tahu itu kau. Lihat, aku. Ini aku, Bastian."
Laki-laki bernama Bastian itu sampai menarik pundak Roseline agar menghadap padanya. Namun dengan cepat, Roseline menahan tangan Bastian lalu menghempaskannya begitu saja.
"Jaga batasanmu, tuan."
"Rose ... "
"Kalau aku Rose, memangnya kenapa?"
"Rose, kenapa kau jadi seperti ini? Apa kau sudah melupakanku?" tanyanya dengan wajah sedih.
Roseline menghela nafas panjang, "kalau aku bilang iya, kenapa? Ingat, kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi. Tolong jangan ganggu hidupku lagi. Kau sudah menikah dan aku ... sudah memiliki seorang kekasih. Kau paham maksudku kan?" ucap Roseline tenang. Namun sebelum mengucapkan itu, ia melirik sekilas pada Jevian yang sudah berdiri memperhatikan mereka. Jevian pun menangkap tatapan itu.
"Kekasih?" gumamnya seraya terkekeh. "Jangan bercanda, aku tahu kau hanya berbohong."
"Siapa yang bercanda? Apa yang Seline katakan benar. Sekarang Seline adalah kekasihku. Jadi aku harap, kau tidak mengusik Seline lagi baik hari ini maupun di masa yang akan datang," sela Jevian tiba-tiba. Bahkan ia sudah melingkarkan lengannya di pundak Roseline.
Roseline mengerjapkan matanya sambil menelan ludah. Ia tidak menyangka Jevian akan menolongnya seperti ini. Ia lantas kembali mengalihkan pandangannya pada Bastian yang memasang wajah kesal.
"Kau ... Siapa kau? Jangan berbohong. Aku tidak percaya kalau kau adalah kekasih Rose karena ... "
"Mommy, Daddy, pulang. Jef mengantuk," ucap Jefrey tiba-tiba membuat atensi ketiga orang itu teralihkan pada Jefrey.
Roseline pun tersenyum dengan lebar dan beranjak menuju Jefrey kemudian menggendongnya.
"Ya sudah, ayo. Mommy juga sudah lelah," ucapnya membuat Bastian membelalakkan matanya. Apalagi saat melihat Jefrey yang kini sudah menyandarkan kepalanya di dada Roseline.
"Di-dia ... Putramu?"
"Kalau iya, kenapa?" Jevian yang menjawabnya. Dia putra kami.
"Tidak, tidak mungkin. Kau pasti bohong."
__ADS_1
Bastian sudah lama mencari Roseline. Tapi tak kunjung menemukannya. Roseline menghilang tiba-tiba setelah ia menikah. Ia menikah karena paksaan dari kedua orang tuanya. Ia tidak bisa menentang sebab orang tuanya mengancam akan mencabut segala fasilitas yang diberikan bila ia menolak. Padahal ia sangat mencintai Roseline. Ia bermaksud tetap menjalin hubungan dengan Roseline. Saat tiba waktunya dan ia berhasil mendapatkan apa yang ia inginkan, ia berencana menceraikan istrinya dan kembali pada Roseline. Tapi belum sempat Bastian menyatakan rencananya, Roseline sudah lebih dulu menghilang.
Namun tidak disangka, saat melakukan perjalanan bisnis kemari, ia justru bertemu dengan Roseline kembali. Jujur saja, sampai saat ini ia masih mencintai Roseline. 10 tahun bukan waktu yang sebentar, tapi selama itu pula tak pernah sekalipun ia melupakan sosok Roseline. Ia masih bertahta di hatinya meskipun ia sudah menikah, bahkan memiliki dua orang anak.
"Mengapa tidak mungkin? Kami saling mencintai, jadi apa salahnya kalau kami memiliki seorang anak. Bahkan kami sudah berencana membuat adiknya dalam waktu dekat. Jadi aku harap, kau tidak menganggu Roseline lagi sebab ia sudah menjadi milikku," tegas Jevian dengan raut wajah tegas dan sorot mata tajam.
Bastian terhenyak.
"Rose, aku ingin bicara denganmu. Rose, sebentar saja, bicaralah denganku," pekik Bastian, tapi Roseline tak menggubris.
Jevian lantas merangkul pinggang Roseline menjauh dari Bastian. Ia membawa Roseline menuju kasir untuk melakukan pembayaran. Setelah selesai, Jevian kembali merangkul pinggang Roseline menuju mobilnya.
Setelah berada di depan mobil, Jevian lantas melepaskan tangannya dari pinggang Roseline. Keduanya tampak kikuk saat ini. Namun saat mereka kembali melihat Bastian yang berjalan ke arahnya, ia segera membantu Roseline masuk ke dalam mobil dengan penuh perhatian. Bahkan saat melihat Bastian kian mendekat, Jevian memberanikan diri mengecup pipi Roseline.
Jantung keduanya berdebar. Apalagi wajah Roseline, kini sudah bersemu merah. Jevian sampai terpaku melihat rona merah yang justru mempercantik wajah Roseline.
Hal itu ternyata masih menjadi bahan perhatian Bastian. Ia masih belum percaya dengan apa yang Roseline dan Jevian katakan. Ada sisi hatinya yang tidak terima. Sebab bagi Bastian, Roseline hanyalah miliknya.
Tangan Bastian mengepal erat. Apalagi saat melihat Jevian mengecup pipi Roseline sehingga membuat wajah mantan kekasihnya itu bersemu merah.
Dadanya terasa terbakar. Jantungnya berdegup kencang. Udara disekitarnya tiba-tiba terasa panas. Ia benar-benar marah dan tidak terima.
Sementara itu, di dalam mobil tampak kecanggungan antara dua orang manusia yang tidak lain adalah Jevian dan Roseline. Keduanya tampak sibuk dengan pikiran masing-masing.
Hening.
Keduanya bungkam. Tak tahu harus mengatakan apa.
Jevian melirik Jefrey yang sudah tidur. Ia ingin berbicara dengan Roseline, tapi ia khawatir justru mengganggu tidur sang putra. Jadi Jevian memilih diam sampai mereka akhirnya tiba di kediaman Jevian.
"Tetap di situ!" titah Jevian setelah mobilnya berhenti. Jefrey sedang tertidur. Ia tahu, Roseline pasti merasa kesulitan untuk keluar sambil menggendong Jefrey. Meskipun tubuh Jefrey kecil dan cenderung kurus, tapi ia tetap saja memiliki bobot yang cukup berat.
Roseline menurut. Ia tetap di dalam mobil sampai Jevian akhirnya membuka pintu untuknya lalu mengambil alih Jefrey dari pangkuan Roseline.
Saat Jevian mencondongkan tubuhnya ke arah Roseline, lagi-lagi ia mencium aroma khas Roseline yang selalu saja mampu menenangkannya. Jarak yang terlalu dekat membuat Jefrey mampu melihat jelas wajah Roseline yang juga sedang terpaku menatapnya. Sadar akan posisinya, Jevian pun segera meraih Jefrey dan beranjak dari sana.
"Setelah ini, temui aku di ruang kerjaku," ucapnya sebelum benar-benar beranjak dari sana.
Setelah membaringkan Jefrey dan melepaskan sepatu serta mengganti pakaiannya, Jevian pun gegas menuju ruang kerjanya. Saat membuka pintu, aroma kopi sudah menyeruak memenuhi ruangan itu. Roseline sepertinya sudah hafal akan kebiasaannya.
__ADS_1
"Maaf lama. Aku mengganti pakaian Jefrey lebih dulu," ujar Jevian seraya melepaskan dasi yang melingkari lehernya dan meletakkannya begitu saja di pegangan sofa.
"Tidak masalah, Tuan. Tapi kenapa Anda tidak memanggil saya saja? Bukankah itu salah satu pekerjaan saya? Anda tidak bermaksud memecat saya kan karena sudah berani mengaku-ngaku sebagai kekasih Anda?" tanya Roseline dengan tatapan memicing yang justru membuat Jevian terkekeh.
"Berhenti berprasangka buruk. Aku tidak sekejam itu. Hanya karena masalah sepele lantas memecat mu. Bukankah aku juga sudah berani-berani mengaku sebagai kekasihmu? Bahkan aku mengakui Jefrey sebagai putra kita? Apa kau ingin memecat ku sebagai atasanmu?" seloroh Jevian membuat Roseline mendengus mendengarnya.
"Memangnya ada yang seperti itu? Yang ada justru atasan yang memecat bawahan, bukan sebaliknya."
"Kan bisa saja," jawabnya sambil tertawa renyah. Sungguh, Roseline sampai terpaku melihat tawa renyah itu.
Jevian pun tidak mengerti, sudah sekian lama ia kehilangan tawanya. Lebih tepatnya semenjak kejadian dimana ia kehilangan Adisti. Bahkan tawa terakhirnya pun saat bersama Adisti. Jevian meringis mengingat hal itu. Lalu kini, ia kembali tertawa hanya karena hal sepele seperti ini. Ternyata tidak salah ia merekrut Roseline sebagai pengasuh anaknya. Sebab selain Roseline bekerja sebagai pengasuh anaknya, Roseline pun ternyata bisa membantunya membuat proposal menjadi lebih baik lagi, dan ia juga bisa menjadi temannya mengobrol.
"Oh ya, boleh aku bertanya?"
"Ya. Apa Anda ingin bertanya tentang laki-laki tadi?"
"Hmmm, apa dia ... laki-laki itu?" terka Jevian mengingat Roseline pernah bercerita tentang mantan kekasihnya.
"Ya, Anda benar sekali."
"Kenapa kau menghindar? Apa kau masih mencintainya?"
"Entahlah. Aku hanya tidak nyaman saja. Apalagi ia sudah menikah. Aku tidak ingin dianggap pengganggu rumah tangga orang lain hanya karena mengobrol dengannya."
"Benarkah?" tanya Jevian dengan mata memicing.
"Terserah Anda mau percaya atau tidak. Itu urusan Anda. Oh ya, terima kasih untuk bantuannya tadi. Tapi apakah tidak masalah? Anda tadi bukan hanya mengaku sebagai kekasih saya, tapi juga ... "
"Sudah, tidak perlu memikirkan itu. Yang penting sekarang kau aman. Semoga dia tidak mengganggumu lagi. Tapi apakah kau tidak penasaran apa yang ingin ia bicarakan? Dan ku lihat dari ekspresinya, sepertinya ia masih mencintaimu."
Bukannya menjawab, Roseline justru mengedikkan bahunya sambil berlalu keluar dari ruangan itu.
"Saya kembali ke kamar ya, Tuan. Saya sudah benar-benar mengantuk."
Roseline pun segera berlalu dari sana. Ia enggan menjawab pertanyaan maupun pernyataan Jevian. Mengingat masa lalu hanya akan membuatnya sakit. Sedangkan kedatangannya ke kota itu untuk melupakan masa lalu dan memulai lembaran baru. Untuk apa ia pergi jauh-jauh kalau pada akhirnya ia harus kembali berkutat pada masa lalu.
Tanpa Roseline sadari, masa lalu itu akan terus membayangi. Sejauh apapun ia berlari, bila sudah saatnya, masa lalu itu akan kembali hadir. Entah untuk menjadi sumber masalah ataupun awal lembaran baru yang sebenarnya.
...***...
__ADS_1
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...