
Mata Mark terbelalak saat melihat mobil yang membawa Adisti terjun bebas ke tengah danau. Apalagi saat melihat mobil yang awalnya mengapung perlahan-lahan tenggelam ke dalam air. Mark yang kakinya terjepit motor pun perlahan segera mengangkat motor itu untuk menyingkirkannya.
Helikopter pun perlahan turun dan mendarat di tanah lapang yang tak jauh dari posisi Mark. Karena perputaran baling-baling, angin pun berhembus kencang membuat penglihatan Mark terganggu. Tapi ia tetap berusaha bangkit meskipun kakinya terasa begitu sakit.
Dengan terseok, Mark berjalan menuju danau. Tak peduli sekujur tubuhnya telah dipenuhi luka dan darah segar mengalir deras, ia tetap melangkah dengan tujuan ingin menyelamatkan Adisti.
Byurrrr ...
Setibanya di tepi danau, Mark pun segera bersiap untuk melompat ke dalam air.
"Mark, biarkan mereka saja yang menyelamatkan Adisti! Lihat, keadaanmu sedang tidak baik-baik saja," pekik Rainero terkejut saat baru saja turun dari helikopter dan melihat Mark ingin melompat ke dalam danau, sementara tubuhnya saja sedang tidak baik-baik saja.
Setelah helikopter yang membawa Rainero turun, disusul juga satu buah helikopter lagi dan beberapa mobil di belakangnya.
Mark menggeleng tegas, "tidak, bos. Aku harus memastikan sendiri keselamatan Adisti."
Tanpa mau menunggu respon Rainero, Mark pun langsung meluncur ke dalam danau yang airnya begitu biru tersebut.
Rainero sampai berdecak melihatnya, "cepat susul Mark, sekarang!" titahnya pada orang-orangnya.
"Baik, tuan," seru mereka.
Lalu satu persatu meluncur ke dalam air.
Mark yang melihat mobil sudah hampir mencapai dasar danau pun gegas mengayunkan tangannya, berenang secepat mungkin, khawatir terjadi sesuatu yang tak diinginkan pada Adisti. Meskipun sedikit kesulitan, sebab alah satu kakinya yang tadi terseret dan tertimpa motor terasa amat sangat menyakitkan. Belum lagi luka-luka di sekujur tubuhnya, terasa perih. Namun karena tekad yang begitu kuat membuat Mark mengabaikan segala rasa sakit itu. Yang ada dalam pikirannya saat ini hanyalah bagaimana caranya untuk menyelamatkan Adisti.
Sementara itu, di dalam mobil, Adisti gelagapan. Karena belum siap, Adisti sampai tertelan air danau. Kemudian, ia berusaha menahan nafas, tapi karena pergerakannya yang terbatas membuat pasokan udara pun makin menipis.
__ADS_1
Sama seperti sang penculik, ia pun kesulitan bernafas karena pasokan air yang telah lebih dahulu terhisap ke dalam mulut dan saluran pernafasannya membuatnya hampir kehilangan nafas.
Tak ingin berdiam diri apalagi pasrah dengan keadaan, Adisti pun berupaya membuka pintu mobil. Tapi ternyata pintu terkunci, ia pun berusaha menekan tombol pembuka kunci, tapi ternyata laki-laki itu justru mencengkeram erat tangannya. Dia dalam sana, laki-laki itu masih sempat melotot. Wajahnya sudah sangat merah. Tampak sekali kalau ia sudah nyaris kehilangan kesadarannya, tapi seakan tak mau mati seorang diri, laki-laki itu terus menahan tangan Adisti agar tidak bisa mencapai kunci pembuka pintu.
Adisti lantas meronta-ronta, terus berusaha agar bisa melepaskan diri dari cengkraman sang penculik. Di saat bersamaan, Mark datang menggedor-gedor kaca mobil. Adisti terperangah melihat keberadaan Mark. Padahal ia tahu, laki-laki itu pasti mengalami luka yang cukup parah, tapi ia tetap berusaha menyelamatkannya.
Mata Adisti memerah. Bagaimana Mark begitu bodoh mau mengorbankan dirinya untuk dirinya yang bukan siapa-siapa dan tidak berarti apa-apa baginya.
Adisti menggelengkan kepalanya. Berharap Mark segera pergi. Tapi Mark terus berupaya membuka pintu dan memukul-mukulkan jendela kaca mobil. Mark ingin mengambil sesuatu untuk memecahkan kaca mobil, tapi kembali naik ke permukaan hanya akan membuang banyak waktu.
Pasokan oksigen di paru-paru Adisti kian menipis. Adisti terus berupaya melepaskan cengkraman tangannya, tapi masih saja sulit. Padahal mata laki-laki itu sudah hampir terpejam.
Tanpa sadar air mata Adisti telah bercampur dengan birunya air danau. Adisti menggelengkan kepalanya lagi sambil membuka mulut mengisyaratkan agar Mark segera pergi, tapi Mark menggeleng. Matanya pun sudah ikut memerah saat ini. Ia tak ingin kehilangan Adisti. Ia tidak ingin kehilangan cintanya. Ia tak sanggup kehilangan wanita pujaannya.
Mark terus memukul-mukul jendela kaca. Tapi kaca itu seperti begitu tebal sehingga tidak mudah untuk dipecahkan. Mata Adisti mulai terpejam. Bagaimanapun, tekanan dari dalam air begitu besar sehingga membuat dadanya kian sesak. Adisti juga sudah tak mampu menahan nafasnya sehingga sedikit demi sedikit air danau masuk ke saluran pernafasannya.
Saat melihat tubuh Adisti yang mulai lemas, tiba-tiba ada sepasang tangan yang menarik tubuh Mark.
Rasanya Mark ingin marah dan menghajar orang tersebut. Tapi setelah mata mereka bersirobok, Mark akhirnya segera menyingkir. Mereka adalah orang-orang suruhan Rainero. Tidak seperti dirinya yang masuk begitu saja ke dalam danau tanpa persiapan, maka 3 orang yang ikut menceburkan diri itu membawa perlengkapan yang sekiranya bisa membantu membuka pintu mobil.
Dan benar saja, mereka langsung mengeluarkan peralatannya dan membuat garis di sepanjang pinggir kaca jendela.
Brakkk ...
Dalam sekali pukul, kaca itupun terdorong ke dalam. Lalu mereka pun segera menekan kunci hingga akhirnya pintu mobil pun terbuka.
Mark pun sebenarnya sudah hampir kehabisan nafas, bahkan kesadarannya pun sudah menipis, tapi ia tetap berusaha bertahan. Saat pintu belakang terbuka, Mark pun segera meraih Adisti dan membantunya keluar di bantu oleh salah seorang anak buah Rainero.
__ADS_1
Mata Adisti telah terpejam erat. Baik Adisti maupun sang penculik telah kehilangan kesadaran mereka. Mark pun segera membawa tubuh lemah Adisti naik ke permukaan. Ia tidak sendiri, ada seseorang yang membantunya dari belakang sebab tahu kalau keadaan Mark sudah hampir kehabisan tenaga.
Setelah berhasil membawa tubuh Adisti ke permukaan danau, Mark pun menarik tubuh Adisti ke tepian. Mark sudah hampir kehilangan kesadarannya. Ia sampai menggigit bibirnya sendiri hingga berdarah agar tetap sadar sebab ada nyawa Adisti yang sedang menjadi prioritasnya.
"Tuan, biar saya saja yang membawa Nona ini," tawar salah seorang anak buah Rainero.
Mark menggeleng tegas, "biar aku saja. Aku ... aku masih sanggup," jawabnya dengan suara sudah terputus-putus.
Biarpun Mark menjawab sanggup, tapi laki-laki itu tidak meninggalkan Mark seorang diri. Ia tetap menjaganya hingga mereka akhirnya sampai tepi danau. Setelah mereka berhasil mencapai daratan, tubuh Mark akhirnya ambruk ke tanah. Namun matanya belum benar-benar terpejam. Ia bahkan masih sempat mengusap wajah pucat Adisti dengan lembut.
"Bertahanlah, Sayang. Bertahanlah! Aku ... mohon," ucapnya pelan sebelum kesadarannya benar-benar hilang.
Sementara itu, mengetahui Mark dan Adisti telah tiba di tepi danau, Rainero dan Axton pun segera memerintahkan orang-orangnya membawa Mark ke dalam mobil untuk segera dibawa ke rumah sakit.
"Bersiaplah, kita ke rumah sakit sekarang!" titah Rainero
"Tuan Mark," seru seorang laki-laki mendekat. Lalu ia memeriksa denyut nadinya sambil menekan sesuatu di telinganya.
"Tuan Mark selamat, tapi kondisinya sangat lemah," lapornya pada seseorang di seberang sana.
" ... "
"Baik."
...***...
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...
__ADS_1