
Jevian menegang kaku dengan mata terbelalak. Apa yang barusan ia dengar itu bagaikan sambaran petir di hari yang cerah. Matanya sampai mengerjap beberapa kali, berharap apa yang ia dengar ini merupakan sebuah kesalahan.
"Apa yang kau bilang tadi? Delena Sanches dan Shenina? Apa mereka ibu dan istri dari Rainero? Benar?" tanya Jevian mencoba memastikan kalau yang Roseline sebut itu bukanlah mereka.
"Yaz kau benar. Apa kau mengenal mereka?" tanya Roseline dengan mata membulat.
Jevian mengangguk patah-patah. Lalu ia berdiri dan beranjak dengan langkah lunglai sambil berkata, "dia ... sahabatku."
Mata Roseline terbelalak sempurna. Ia tidak pernah tahu kalau Jevian merupakan salah satu sahabat Rainero. Sebab yang ia tahu, sahabat dekat Rainero hanyalah Axton. Mungkin karena Jevian tinggal di negara berbeda dan jarang berjumpa, jadi ia tidak tahu perihal Jevian.
Jevian membaringkan tubuhnya dengan posisi meringkuk membelakangi Roseline. Lalu ia menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya. Kepalanya mendadak pening, ia bingung harus bersikap bagaimana. Apalagi setelah mengetahui orang yang dicelakai Roseline adalah ibu Rainero dan istrinya.
"Aku harus apa? Aku harus bagaimana?"
Jevian bingung. Ia terlalu banyak berhutang budi pada Rainero. Ia juga baru mengetahui dari investigator swasta sewaannya kalau Rainero lah yang membantunya menekan perusahaan-perusahaan rekanan T Company sehingga akhirnya T Company mengalami pailit. Mereka mengajak asisten pribadi Tobey bekerja sama.. Asisten pribadi Tobey yang sudah sejak lama sakit hati atas sikap Tobey yang semena-mena membuatnya rela berkhianat dan bergabung membantu Rainero menunjukkan bukti-bukti kejahatannya.
Tanpa basa-basi, tanpa banyak kata, tanpa banyak bicara apalagi mengumbar janji, Rainero membantunya tanpa mengharap pamrih sedikitpun. Bahkan hingga sekarang Rainero bersikap seolah-olah tidak tahu. Ia membantunya dalam diam, senyap, namun pergerakannya semua benar-benar luar biasa.
Jevian meremas rambutnya yang tertutup selimut. Ia bingung, bagaimana ia bisa menyampaikan pada Rainero kalau ia ingin menikahi Roseline. Sementara Roseline sudah pernah melakukan hal yang sungguh di luar dugaan.
Apa tanggapan mereka? Bagaimana kalau mereka merasa dikhianati karena ia yang sudah dibantu justru mau menikahi wanita yang hampir melenyapkan nyawa ibu dan istrinya yang tengah mengandung.
Jevian ingat. Waktu itu memang Axton pernah menghubunginya dan mengabarkan tentang percobaan pembunuhan yang menimpa nyonya besar dan nyonya muda keluarga Sanches itu. Ia tahu betapa Rainero marah dan frustasi karena hampir saja kehilangan nyawa anak dan istrinya. Rainero begitu mencintai Shenina, ia pasti begitu marah pada pelaku yang sudah hampir melenyapkan nyawa orang-orang yang ia cintai.
Namun yang tidak pernah ia duga, perempuan itu adalah Roseline. Ia sudah terlanjur jatuh hati pada perempuan itu. Ia tidak pernah tahu dibalik sikap dingin, tapi lembut terhadap Jeffrey itu terpendam sifat yang tidak terduga. Jevian paham, Roseline melakukan itu karena termakan omongan paman yang ternyata merupakan ayah biologisnya sendiri. Tapi tetap saja, fakta ini cukup mengguncangnya.
Bagaimana kalau Rainero kecewa? Bagaimana kalau Rainero yang selama ini selalu baik padanya justru berbalik membencinya? Dan bagaimana kalau hal ini berpengaruh pada kerjasamanya dengan Admark Investments? Bagaimanapun Adisti adalah sahabat Shenina. Ia pun bisa kemari karena Shenina. Bisa saja mereka semua jadi kecewa dan menarik kerja sama mereka.
__ADS_1
Jevian benar-benar bingung. Bahkan hingga dini hari pun, Jevian tak kunjung bisa memejamkan matanya.
Karena terlalu sesak terkurung di balik selimut, Jevian pun menyibak selimutnya. Lalu pandangannya ia arahkan ke sofa, ternyata Roseline masih duduk di tempat yang sama. Sama sepertinya, ia pun tidak bisa tidur.
Melihat reaksi Jevian, membuat Roseline berkecil hati. Ia paham, pasti Jevian kebingungan saat ini. Apalagi ternyata Rainero adalah sahabat Jevian.
"Mengapa dunia kecil sekali? Aku sudah berlari sejauh ini, tapi kenapa orang-orang terdekatku saat ini pun ternyata memiliki hubungan dengan mereka?" gumam Roseline pelan nyaris berbisik.
Roseline yang tadi merasa senang karena Jevian bersedia menjadi jembatan penghubung untuk dirinya meminta maaf pada Delena dan keluarganya kini justru merasa kehilangan keyakinan. Ia tahu, ini berat. Jevian pasti khawatir mengecewakan sahabatnya sendiri karena berniat menikahi dirinya yang pernah nyaris melenyapkan nyawa orang-orang terdekat sahabatnya.
Namun Roseline mau bagaimana lagi, semua sudah terjadi. Ia hanya bisa berpasrah bilamana Jevian membatalkan niatnya mempertemukan dirinya dengan keluarga Rainero pun membatalkan niatnya menikahinya.
Ingin rasanya Roseline kembali pergi, menjauh dari mereka, tapi ...
Roseline melirik Jefrey yang tertidur nyenyak, ia tak sanggup meninggalkan anak itu. Apalagi anak itu sedang dalam masa pemulihan. Kondisi perasaan yang tidak baik bisa mempengaruhi kesehatannya. Bagaimana kalau penyakitnya kambuh lagi? Bagaimana kalau jantungnya kembali bocor? Dokter memang meminta mereka berjaga-jaga sebab operasi itu belum tentu bertahan lama, kecuali Jefrey melakukan transplantasi jantung. Namun untuk saat ini, Jefrey belum bisa menjalani transplantasi jantung. Pun mereka juga belum menemukan pendonor untuk anak sekecil Jefrey.
Biarlah ia mengubur keinginan terpendamnya itu. Ia yakin, bila memang sudah saatnya, ia pasti akan kembali bertemu dengan Delena dan Shenina. Pun kalaupun memang Jevian adalah jodohnya, mau sebesar apapun masalah menghadang, mereka pasti akan tetap menikah.
...***...
Pagi ini suasana kamar rawat tampak berbeda. Hanya kicauan Jefrey yang menjadi penyemarak di ruangan yang tidak begitu besar itu.
"Mommy dan Daddy bertengkar ya?" tanya Jefrey saat melihat Jevian dan Roseline saling diam-diaman. Bahkan mereka seakan saling menghindari satu sama lain.
Jevian tersenyum sambil berjalan menuju brankar Jefrey, "tidak kok. Mungkin mommy sedang sariawan saja, kalau daddy sedang sibuk sebab daddy harus ke kantor pagi ini juga."
"Kau ingin ke kantor? Dengan keadaan seperti ini?" sela Roseline tiba-tiba.
__ADS_1
Jevian tersenyum tipis seraya mengangguk, "ada banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan. Kalau Matson ada, mungkin aku bisa beristirahat. Tapi kau tahu sendiri kan bagaimana keadaannya?"
Roseline mengangguk, "tapi apa tidak bisa ditunda setidaknya sampai beberapa hari? Kau belum benar-benar pulih. Bagaimana kalau ... "
"Aku baik-baik saja. Terima kasih sudah mengkhawatirkan ku."
Meskipun saat ini Jevian sedang bimbang harus melakukan apa, tapi ia tidak bisa bersikap dingin pada Roseline. Ia di, bukan karena marah atau kecewa. Ia hanya sedang bingung, harus melakukan apa. Namun ia sudah berjanji untuk membantu Roseline, jadi tak mungkin baginya untuk mengingkari.
Roseline terdiam, tak tahu harus berkata apa lagi. Jika Jevian sudah bersikukuh, ia tak mungkin bisa melarangnya lagi.
"Oh ya Seline, untuk masalah yang semalam, maaf karena aku tiba-tiba bersikap seperti itu. Aku tidak ... "
"Aku paham. Tak perlu kau terlalu pikirkan. Aku tidak akan memaksa. Kalau kau bisa melakukannya, aku akan sangat bersyukur dan berterima kasih padamu, tapi kalau tidak, ya aku paham. Itu pasti berat bagimu, bukan?" Roseline mengulas senyum. Senyum yang sangat manis sekali. Sampai-sampai Jevian reflek menekan dadanya yang bergemuruh.
Melihat senyum manis Roseline, entah mengapa Jevian seperti mendapatkan suntikan tenaga dan semangat baru.
"Aku tidak akan menarik ucapanku. Mungkin tidak dalam waktu dekat, tapi aku akan berusaha," Jevian mengucapkan itu sambil menggenggam tangan Roseline. Mereka terlalu terbawa suasana hingga melupakan ada bocah yang tengah memandang mereka dengan tatapan bingung.
"Mommy dan Daddy lagi bicara apa sih? Jefrey tidak mengerti," celetuk Jefrey tiba-tiba membuat keduanya kemudian menoleh ke arah Jefrey.
"Ah, mommy dan Daddy ... "
"Jef, daddy pergi dulu ya!" potong Jevian cepat. Ia lalu segera mengecup kening Jefrey. Setelahnya, ia segera beranjak hendak keluar. Saat sudah berada di samping Roseline, dengan cepat Jevian juga mengecup kening Roseline membuat perempuan itu menegang kaku di tempatnya dengan pipi yang bersemu merah. Sementara itu, Jefrey justru sibuk bersorak girang melihat ayahnya mencium kening pengasuhnya.
...***...
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...
__ADS_1