
"Tetap saja Grandpa tidak setuju. Kalaupun kau tetap ingin menikahinya, boleh saja. Tapi nanti, setelah kau berhasil membuktikan kalau anak yang ia kandung adalah anakmu. Jadi tunggulah sampai perempuan itu melahirkan dan segera lakukan test DNA. Mari kita buktikan, kau atau Grandpa yang benar."
Rainero tersenyum miris. Ia kecewa kakeknya tidak mendukungnya, tapi ia pun tidak bisa marah. Ia yakin, kakeknya pun sebenarnya mengkhawatirkan dirinya.
"Aku mengerti Grandpa mengkhawatirkan ku, tapi Grandpa tidak perlu khawatir, aku yakin kalau Shenina benar-benar mengandung anak-anakku. Terserah Grandpa mau menyetujuinya atau tidak, tapi yang pasti, dalam waktu dekat aku akan menikahi Shenina."
Setelah mengucapkan itu, Rainero pun segera berdiri dan membungkukkan sedikit tubuhnya. Setelah itu, ia pun segera membalikkan badannya dan pergi dari hadapan Ranveer dan kedua orang tuanya.
Ranveer menatap tak percaya pada cucunya itu. Baru kali ini Rainero menentang keputusannya.
"Anak-anak? Apa maksudnya?" tanya Ranveer pada anak dan menantunya.
Delena pun segera menjawab, "calon anak Rain kembar, Dad. Apa Dad tidak senang mengetahui Rain ternyata tidak mandul. Akhirnya Rain bisa memiliki anak? Kembar pula. Dan ... akhirnya Rain bisa bangkit kembali dan meninggalkan kebiasaan buruknya? Sejak malam dimana ia memerkosa Shenina, sejak itu pula ia tidak pernah lagi bermain wanita. Tanpa Rainero sadari, keberadaan Shenina telah membuatnya kembali seperti Rainero yang dulu. Apa Daddy tidak menyukai itu?"
Dahi Ranveer berkerut, kemudian ia menghembuskan nafasnya kasar.
"Bukannya Daddy tidak suka, hanya saja ... bagaimana kalau perempuan itu hanya menginginkan harta Rainero? Daddy justru lebih mengkhawatirkan hal itu. Daddy tidak ingin Rain kembali terpuruk untuk kedua kalinya. Sejujurnya Daddy tidak lagi mempermasalahkan asal muasal keluarga perempuan itu. Asalkan ia tulus mencintai Rainero dan mampu membuat Rainero bahagia, Daddy akan menerimanya dengan tangan terbuka. Sudah cukup kesalahan Daddy di masa lalu yang membuat hubungan rumah tangga kalian nyaris kandas dan Daddy tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama," ungkap Ranveer membuat Delena dan Reeves saling menoleh dan melempar senyum.
"Daddy tidak perlu khawatir. Shenina bukan perempuan seperti itu. Asal Daddy tahu kenapa aku sampai berada di sini, tujuanku tentu saja untuk membantu Rain agar bisa mendapatkan cintanya. Kalau Shenina memang menginginkan harta kita, pasti sudah sejak awal Shenina menemui kita dan menuntut pertanggungjawaban atas perbuatan Rainero terhadapnya. Tapi tidak, Shenina tidak melakukannya. Ia justru melarikan diri sejauh mungkin untuk menyelamatkan dirinya, anaknya, dan harga dirinya karena sikap Rainero yang menolak keberadaan calon anak-anaknya saat Shenina pertama kali mengatakan tentang kehamilannya," papar Delena.
"Delena benar, Dad. Bahkan setelah Rainero berhasil menemukannya dan meminta maaf, serta melamarnya, Shenina tidak lantas segera memaafkan dan menerima lamaran Rainero. Rainero sampai harus tinggal di kontrakan super kecil yang bahkan besar kontrakan itu tidak lebih besar dari kamar mandi di mansionnya. Semua ia lakukan demi mendapatkan kesempatan untuk menebus kesalahannya, tapi Shenina belum juga tergugah untuk menerima lamarannya. Barulah setelah kejadian di bandara, Shenina akhirnya mau menerima lamaran Rainero. Apa Daddy tidak bisa memberikan dukungan pada cucu Daddy? Percayalah, Shenina merupakan perempuan yang tepat untuk menjadi pendamping Rainero," timpal Reeves yang juga berusaha membujuk sang ayah agar mau menerima Shenina.
Ranveer terdiam. Ia mencoba mencerna setiap kata-kata yang Delena dan Reeves paparkan.
"Bisa kalian ceritakan bagaimana Rainero sampai memerkosa perempuan itu? Kejadian itu murni Rain yang memerkosanya atau jangan-jangan perempuan itu sendiri yang menjebak Rainero? Kita tidak bisa langsung memberikan keputusan. Semua harus dipikirkan secara matang. Ingat, masa depan Rainero taruhannya. Tentu kalian tidak mau kan Rainero kembali terluka karena keputusannya yang salah?"
Delena pun dengan cepat menjawab, "tentu saja kami tidak mau. Bagi kami kebahagiaan Rainero adalah yang utama," ujar Delena. Ia menarik nafas, kemudian menghembuskannya. Lalu mengalirlah cerita bagaimana Rainero sampai memerkosa Shenina, kemudian kepergian Shenina karena pengusiran yang dilakukan Rainero yang tidak mempercayai kehamilan Shenina karena perbuatannya pada malam itu.
Ranveer terdiam lalu ia pun membuat keputusan, "baiklah kalau kalian memang begitu mempercayai perempuan itu, bawa dia bertemu dengan Daddy. Biar Daddy melihat sendiri, benarkah dia seperti yang kalian katakan itu atau ... " Ranveer mengedikkan bahunya. Delena dan Reeves tersenyum sumringah.
"Delena yakin, setelah bertemu, Daddy pun akan sependapat dengan kami."
__ADS_1
"Yah, kita lihat saja nanti," pungkas Ranveer yang belum mau mengambil keputusan.
Bagaimanapun, kedua orang tua Rainero berhak mengambil keputusan. Memang dirinya lebih tua dari Delena dan Reeves, tapi belum tentu juga keputusannya sudah benar-benar tepat. Ranveer hanya memiliki kekhawatiran berlebih. Oleh sebab itu, ia akan memberikan kesempatan untuk bertemu dengan perempuan yang Rainero cintai itu. Ia harap, perempuan itu memang yang terbaik bagi cucunya. Siapa yang tak senang saat mendapati kabar kalau ia akan segera mendapatkan cicit. Terlebih cucunya itu sebelumnya pernah divonis mandul. Ia sangat-sangat berharap, bayi yang perempuan kandung itu benar-benar anak Rainero. Ia harap, anak yang Shenina kandung memang benar-benar cicitnya. Semoga.
...***...
"Wah, jadi Mbak Bule udah dilamar Mas Bule terus Mbak Bule udah kasi jawaban bersedia, begitu?" seru Adisti heboh.
Shenina sampai melotot mendengar suara Adisti yang benar-benar heboh itu.
"Disti, bisa kecilin sedikit suara kamu?" peringat Shenina membuat Adisti nyengir kuda.
"Hehehe ... namanya juga antusias, Mbak. Ih, Disti jadi ikut bahagia akhirnya dedek bayinya akan segera berkumpul sama daddy-nya," ujar Disti tersenyum sendu.
"Kamu bilang kamu ikut bahagia, tapi kok muka kamu malah nunjukin sebaliknya?"
Adisti tersenyum getir, "Mbak Bule, Disti pernah cerita kan kalau Disti itu yatim piatu. Disti kehilangan orang tua Disti sejak Disti kecil banget. Disti dulu sering iri liat temen-temen Disti punya orang tua. Mereka ada yang diantar jemput orang tuanya. Pas ada rapat di sekolah, orang tuanya hadir. Pas bagi raport, orang tuanya datang untuk mengambilkan raport. Disti benar-benar iri. Nenek dulu nggak pernah bisa datang ke sekolah sebab nenek harus banting tulang untuk cari uang. Jadi Disti nggak pernah cerita sama sekali ke nenek. Disti nggak mau nambahin beban nenek. Saat Disti masuk SMA, nenek sakit keras terus tiba-tiba meninggal. Saat itu, Disti benar-benar merasa sendiri di dunia. Disti sekolah sambil kerja apa aja supaya bisa tetap makan. Kadang Disti bertanya-tanya sama Tuhan, kenapa Disti ditinggal sendiri. Tapi Disti pikir, mungkin karena Disti orang yang kuat. Karena itu, saat melihat Mbak Bule berjuang sendiri untuk baby mbak Bule, Disti merasa sedih. Disti bayangin gimana kehidupan baby nanti karena tumbuh tanpa seorang ayah di sisinya. Bagaimana Mbak Bule kasi penjelasan saat baby mbak Bule nanti nanya ayahnya dimana. Tapi sekarang, Disti merasa bahagia, akhirnya tak lama lagi baby akan memiliki keluarga yang utuh. Disti akan berdoa, semoga Mbak Bule bisa hidup bahagia ke depannya ya."
"Kamu memang benar-benar gadis yang kuat, Disti. Semoga kau pun bisa segera meraih kebahagiaanmu," ucap Shenina tulus.
Adisti segera menyeka air mata yang tiba-tiba saja mengalir dari pelupuk matanya, "oh iya mbak Bule, kalau mbak Bule jadi nikah sama Mas Bule, artinya Mbak Bule akan balik ke negara asal Mbak Bule dong? Yah, Disti bakal kesepian dong. Mana Gladys sering berada di toko," keluh Adisti.
Setelah Shenina pikir-pikir memang benar. Artinya kemungkinan besar ia juga akan bertemu dengan orang-orang yang berasal dari masa lalunya, baik itu keluarganya sendiri maupun Theo. Tapi tidak mungkin juga ia tetap tinggal di sini. Tapi biarlah, hal ini akan ia bahas nanti. Biarlah Rainero yang mengambil keputusan. Ia hanya akan menerima mana yang terbaik untuk mereka.
Ceklek ...
Tiba-tiba saja pintu terbuka, Rainero masuk sambil menenteng sebuah kantong.
"Hai sweety, kau belum tidur?" tanya Rainero tanpa peduli keberadaan Adisti yang sedang duduk di kursi. Adisti sampai memberengut masam karena merasa seperti makhluk tak kasat mata.
"Tidak, aku sudah tidur," sewot Shenina membuat Rainero terkekeh.
__ADS_1
"Aku bawakan kamu puding buah naga mix brownies, kamu mau?" Rainero mengangkat kantongnya ke hadapan Shenina. Mendengar kalau Rainero membawakannya makanan yang memang sedang diinginkannya, sontak saja Shenina tersenyum lebar.
"Benarkah? Kok kamu bisa tahu kalau aku pingin makan itu?"
"Hah? Benarkah? Padahal aku tidak sengaja membelinya. Tadi saat aku lewat di depan sebuah toko kue, aku langsung saja mampir. Aku pikir kau pasti ingin makan sesuatu malam nanti dan aku tidak menyangka kalau kau pun menginginkan ini," ujarnya senang.
"Itu namanya kontak batin, Mas Bule. Ih, Mas Bule emang calon ayah idaman," seru Adisti sambil mengacungkan kedua jempolnya. Lalu Adisti mengambil tasnya dan segera beranjak.
"Kau ingin pulang? Malam-malam begini?" tanya Shenina.
"Iyalah, lagian kan udah ada Mas Bule. Disti nggak mau jadi obat nyamuk diantara dua sejoli yang sedang dilanda asmara," seloroh Adisti yang membuat Shenina mendelik dengan pipi memerah.
"Kau mau pulang?" tanya Rainero.
"Yes, Mas Bule."
"Tunggu, aku panggilkan Mark untuk mengantarmu pulang."
"Eh, eh, nggak usah Mas Bule, aku nggak mau ... "
"Tak ada penolakan," tegas Rainero.
Dengan pasrah, Adisti akhirnya setuju. Akhirnya Adisti pun pulang diantar Mark. Sementara itu di ruangan rawat Shenina, tampak Rainero sedang menyuapi Shenina dengan puding yang tadi ia beli.
"Aku bisa makan sendiri, Rain," tolak Shenina saat Rainero hendak menyuapinya.
"No, aku ingin menyuapimu. Ayo, buka mulutmu! Atau kau mau aku menyuapimu dengan mulutku? Ayo, kau mau pilih yang mana?" ujar Rainero seraya memainkan alisnya.
Mendengar itu, Shenina mendelik. Ia pun terpaksa menerima suapan dari Rainero. Tapi anehnya, Shenina yang awalnya canggung kini justru menikmati. Ternyata ada enaknya juga disuapi seperti ini. Shenina merasa seperti begitu disayangi.
...***...
__ADS_1
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...