
Bastian tergugu sendiri, meratapi penyesalan yang sudah tiada berarti lagi. Salahnya sendiri yang lebih memilih harta dan meninggalkan Roseline kala itu. Bahkan ia tak mau bersusah payah memperjuangkan Roseline. Bagaimana Roseline ingin menjaga cintanya, sementara Bastian saja tak sanggup memperjuangkan dirinya sedikit saja.
Jevian yang melihat itu pun dengan tertatih mendekati Roseline. Ia khawatir Roseline iba dan memilih bersama Bastian. Tidak. Ia tak mau sampai Roseline tersentuh dengan kesedihan yang Bastian pertontonkan di hadapan mereka. Ia tak tahu, Bastian memang benar-benar bersedih dan menyesali keputusannya di masa lalu atau hanya sekedar mencari simpati. Untuk mengantisipasi hal yang tidak ia inginkan, Jevian pun segera maju. Meskipun harus tertatih karena sakit di sekujur tubuhnya, tapi Jevian tetap berusaha berjalan mendekati Roseline.
"Baby," panggil Jevian yang langsung meraih tangan Roseline dan menggenggamnya. Roseline menoleh, kemudian tersenyum.
"Rose, apakah tak ada sisa cinta untukku sedikitpun di hatimu?" tanya Bastian dengan tatapan nelangsa. Padahal ia bisa melihat jelas binar di mata Roseline saat memandang Jevian, tapi ia masih ingin memastikan sekali lagi.
Sebenarnya ia masih sanggup melawan Roseline, tapi ia tidak ingin menyakiti perempuan itu. Bagaimanapun, ia benar-benar mencintai Roseline. Sudah terlalu banyak luka yang ia torehkan, bagaimana ia bisa kembali menyakitinya lagi.
Roseline menghela nafas panjang, lalu menggeleng.
"Maaf," ucapnya singkat, namun cukup jelas maknanya kalau Roseline sudah tidak mencintainya sama sekali. Tak lama kemudian, dua buah mobil datang secara bersamaan. Dari dalam mobil, turun pasangan paruh baya dengan wajah merah padam.
"Apa-apaan ini, Bastian? Apa kau sudah gila ingin menculik seorang perempuan?" bentak ayah mertua Bastian. "Memalukan."
"Kau sungguh memalukan," sentak ayah Bastian. "Bangun, kau anak sialan! Jangan bertingkah bodoh!" Ia menarik kasar tangan Bastian lalu memaksanya berdiri.
"Belum puaskah mau menghancurkan hidup anakmu, hah!" Raung Bastian tiba-tiba. Ia bahkan menghempaskan tangan sang ayah dengan kasar. Tatapannya nyalang, namun terlihat nanar. Ayah dan ibu Bastian sampai tertegun.
"Kau ini bodoh atau apa, hah? Apa bagusnya perempuan seperti itu? Sudah miskin, bahkan ia tidak sebanding dengan Morra sama sekali," geram ayah Bastian sambil menunjuk ke arah Roseline.
"Jangan bicara sembarangan tentang calon istriku!"
"Jangan bicara sembarangan tentang Rose!" sentak Jevian dan Bastian berbarengan.
Jevian tidak mengenal ayah Bastian sama sekali, tapi ia dapat melihat kalau ia merupakan tipe ayah yang otoriter sama seperti mendiang ayahnya dulu. Dalam penglihatannya, hidup Bastian pun tak jauh berbeda dengan dirinya. Bahkan mereka sama-sama terjebak pernikahan dengan orang yang tidak mereka cintai. Tapi entah bagaimana sifat asli istri Jevian, ia harap istrinya perempuan baik-baik tidak seperti Eve.
__ADS_1
"Apa kalian belum puas menghancurkan hidupku, hah? Apa kalian belum puas membuatku kehilangan perempuan yang aku cintai? Belum puaskah kalian menjadikanku sapi perah demi kepentingan kalian? APA KALIAN BELUM PUAS? KALAU KALIAN BELUM PUAS, BAIKLAH, AKU AKAN MEMBUAT KALIAN TERSENYUM PUAS."
Lalu Bastian menoleh ke arah Roseline, "maaf sudah menyakitimu selama ini. Semoga kau berbahagia," ujarnya dengan senyum tulus meskipun tersirat kesedihan luar biasa di matanya.
Lalu Bastian pun berlari kencang membuat semua orang terbelalak bingung. Lalu tanpa aba-aba ia melompat ke laut membuat mata semua orang kian terbelalak.
Semangat hidupnya telah hilang. Impiannya musnah. Cintanya kandas. Bukan salah Roseline, Bastian tidak menyalahkan Roseline sama sekali. Semua salahnya. Semuanya terjadi karena kebodohannya sendiri. Jadi, untuk menghapus segala luka itu pun menyelamatkan diri dari rongrongan orang tuanya, lebih baik Bastian pergi untuk selamanya.
Selamanya.
"Selamat tinggal semua."
Byurrr ...
"Bastian!" pekik Morra yang sudah berlari kencang mengejar Bastian yang sudah terjun terlebih dahulu ke dalam air.
"Lepaskan aku, Daddy! Lepaskan!" Raung Morra.
"Berhenti, Morra! Jangan lakukan itu! Kau tenang saja, Bastian pasti akan selamat," ujar ibu Morra mencoba menenangkan.
"Kalian, tunggu apa lagi, cepat terjun ke bawah, selamatkan menantuku?" perintah ayah Morra pada beberapa bodyguard yang dibawanya.
Mereka pun segera melakukan perintah itu.
Sementara itu, kedua orang tua Bastian syok. Bahkan mereka masih mematung melihat bagaimana putranya terjun begitu saja ke dalam air karena sudah tak tahan dengan segala sikap mereka.
Sementara Roseline, ia pun tak kalah syok. Namun Jevian sebisa mungkin menjaga Roseline.
__ADS_1
"Tolong segera hubungi tim penyelamat untuk membantu mencari Bastian!" pinta Jevian pada anak buah Rainero. Mereka pun segera melakukan apa yang Jevian pinta.
Tak lama kemudian, tim penyelamat pun datang untuk segera menyisir setiap area untuk menemukan Bastian.
Roseline tergugu di pelukan Jevian.
"Apa ini salahku?"
"Bukan, ini bukan kesalahanmu sama sekali. Semua sudah takdir."
"Tapi bagaimana kalau Bastian tidak selamat?"
"Percayalah, Bastian laki-laki yang kuat. Pasti ia akan selamat."
Setelah pencarian selama hampir 2 jam, akhirnya mereka menemukan Bastian yang sudah hampir tenggelam di tengah laut. Mereka pun segera membawa Bastian ke rumah sakit untuk menjalani perawatan. Morra yang melihat keadaan Bastian yang tidak baik-baik saja terus-terusan menangis. Sementara Roseline yang sudah tidak ingin terlibat lagi dengan keluarga Bastian pun segera pergi dari sana. Mereka terlebih dahulu mampir ke rumah sakit untuk merawat luka-luka Jevian. Sebenarnya Jevian harus menjalani rawat inap, tapi memikirkan tak ada yang menemani Jefrey, ia pun memilih pulang.
Roseline tidak melarang. Ia pun mencemaskan keadaan Jefrey saat ini. Bagaimana kalau ia mengalami trauma pasca melihatnya diculik. Namun sebelum Roseline masuk ke dalam mobil, tiba-tiba kedua orang tua Bastian datang dan segera bersimpuh di kaki Roseline.
"Kami tahu, kesalahan kami padamu sangat besar, tapi tidak bisakah kau tinggal di sini sampai Bastian sembuh? Saat ini ia sedang kritis. Dia sangat membutuhkanmu, kami mohon!" pinta kedua paruh baya tersebut.
Namun Roseline menggeleng, "maaf, aku tak bisa."
"Tapi bukannya kau dan Bastian saling mencintai? Kali ini kami takkan menentang hubungan kalian lagi. Kembalilah dengan Bastian, kami mohon," ujarnya lagi.
"Sekali lagi maaf, aku tidak bisa sebab aku sudah tidak mencintai Bastian lagi. Selain itu, aku sebentar lagi aku akan menikah. Maaf, aku harus pergi sekarang." Tanpa menunggu jawaban kedua orang tua Bastian, Roseline pun memilih masuk ke dalam mobil. Setelahnya, mobil pun segera meninggalkan pelataran parkir itu untuk segera pergi ke bandara.
...***...
__ADS_1
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...