
Pesta berlangsung sampai sore hari. Menjelang sore, Jevian makin merasa tak sabar untuk menghabiskan malam dengan Roseline. Apalagi ia tidak perlu memikirkan bagaimana dengan Jefrey sebab bocah laki-laki itu memilih ikut dengan rombongan Rainero. Jefrey seakan mendapatkan saudara baru, ia begitu bahagia sampai-sampai ingin terus berkumpul bersama anak-anak Rainero, Axton, dan Mark.
Jevian yang awalnya bingung bagaimana menghabiskan waktunya dengan Roseline bila Jefrey ada di antara mereka pun merasa bagaikan mendapatkan jackpot bernilai milyaran dollar. Sepertinya para sahabatnya itu pun mengerti keadaannya dan membantunya untuk menjaga putra satu-satunya itu.
"Daddy, Jefrey nanti boleh ikut mommy?"
"Mommy?" bingung Jevian.
"Iya, mommy. Momdre nya Arquez."
Lalu Jevian menoleh ke arah Adisti yang sedang digandeng Jefrey. Sementara Arquez sedang bersama Mark.
"Jev, aku pernah bilang kan perempuan yang pernah menolong Jefrey yang dipanggilnya mommy, nah dia adalah Adisti," jelas Roseline.
"Apa? Jadi kau ... "
Adisti tersenyum tipis, "aku pun tidak menyangka anak kecil yang tiba-tiba saja memanggilku adalah putramu," jawab Adisti santai. Ia sudah melupakan kejadian di masa lalu. Apalagi yang salah bukanlah Jevian, tetapi ibunya.
"Terima kasih ya sudah menolong anakku."
"Tak masalah."
"Momdre, ayo pergi. Daddre sudah menunggu," pekik Arquez.
"Putramu sudah menunggu."
Adisti mengangguk, "putramu ikut mobilku, tak masalah kan?"
"Tidak. Terima kasih. Aku titip Jefrey. Semoga ia tidak merepotkan kalian."
"Jefrey anak yang baik. Arquez pun senang bisa berteman dengan Jefrey. Kalau begitu kami pergi, selamat bersenang-senang," ucap Adisti sambil menatap Roseline dan Jevian bergantian. Kemudian ia pun segera berlalu dari hadapan keduanya.
Melihat interaksi Jevian dan Adisti, Roseline tidak merasa curiga sama sekali sebab semuanya terlihat biasa saja. Ia tidak pernah tahu ada kisah tak biasa antara mereka berduam Meskipun Jevian pernah bercerita mengenai masa lalunya, tapi Jevian tidak pernah menyebutkan nama Adisti. Biarlah semua masa lalunya terkubur oleh waktu. Jevian rasa, tak penting menceritakan perihal Adisti pada Roseline. Masa lalu biarlah di belakang, yang penting mari songsong masa depan dengan penuh suka cita.
***
"Kita mau kemana?" tanya Roseline saat ia sudah masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
"Ke hotel," jawab Jevian sumringah. Bahkan ia tidak melepaskan genggaman tangannya sama sekali. Sesekali ia mengecup punggung tangan Roseline dengan mesra membuat perempuan yang sebenarnya usianya dua tahun di atas Jevian itu merasakan desiran luar biasa di darahnya.
"Jevian, sejak kapan kau merencanakan ini?" tanya Roseline penasaran.
"Sejak semalam."
"Hah! Jadi semua ini dipersiapkan dalam semalam?" pekik Roseline terkejut setengah mati.
Jevian mengangguk dengan santai membuat Roseline berdecak tak percaya. Sungguh ini benar-benar luar biasa.
Setibanya di hotel, Jevian langsung mengajak Roseline menuju lift. Untuk masalah check in, Matson yang sudah mengatur segalanya. Ia hanya tinggal mengambil kunci dan masuk ke kamar yang sudah dipersiapkan untuknya menghabiskan malam bersejarah.
Saat keluar dari lift, Roseline melangkah dengan pelan. Ia tidak terbiasa memakai high heels membuat setiap langkahnya sedikit tertatih. Terlalu berhati-hati. Ia tidak ingin terjatuh karena high heels yang akan membuatnya malu luar biasa.
"Aaargh ... Jevian, apa yang kau lakukan! Turunkan aku!" pekik Roseline tertahan saat tiba-tiba saja Jevian mengangkatnya di pundak. Ia sudah seperti karung beras yang dipanggul saja.
"Salah sendiri jalanmu lambat sekali seperti siput. Biasanya langkahmu sangat cepat dan panjang, tapi kenapa sekarang begitu lambat?"
"Heh, aku ini memakai high heels jadi wajar langkahku lambat. Aku kan tidak terbiasa memakai sepatu seperti ini. Ini saja rasanya sakit sekali. Sepertinya kakiku terluka," ujar Roseline yang memang merasa perih di tumit dan jari kelingkingnya.
"Apa? Kakimu terluka?" Jevian panik.
Setelah menemukan kamarnya, Jevian pun segera mengetap kunci kamar hingga pintu pun terbuka. Lalu ia segera masuk dan mendorong pintu dengan kakinya sehingga pintu itu tertutup dan terkunci secara otomatis.
Brakkk ...
Jevian membaringkan tubuh Roseline ke kasur dan segera menyingkap ujung gaunnya ke atas.
"Jev, apa yang kau lakukan?" pekik Roseline terkejut saat Jevian menyingkap ujung gaunnya dengan begitu santai. Ia lupa kalau ia sudah menjadi istri Jevian jadi tak masalah kalau ia melakukan itu pada wanitanya.
"Aku ingin memeriksa kakimu. Kau benar, kakimu terluka. Lain kali jangan gunakan high heels lagi. Aku tidak mau kakimu yang indah ini kembali terluka," ujarnya sambil mengusap sisi yang tidak terluka.
Lalu Jevian segera menghubungi pihak hotel untuk menanyakan kotak obat. Tak butuh waktu lama, petugas hotel pun mengantarkan apa yang Jevian butuhkan. Jevian pun segera mengobati luka di kaki Roseline setelah sebelumnya telah ia bersihkan dengan air yang sudah dicampur antiseptik.
"Pedih?" tanya Jevian pada Roseline yang tengah memperhatikannya lekat.
Roseline menggeleng, "setelah ku perhatikan lagi, ternyata kau sangat tampan," ucap Roseline membuat dada Jevian membuncah. Lalu ia merangkak naik ke atas tubuh Roseline membuat perempuan itu gugup seketika.
__ADS_1
"Jadi kau baru menyadarinya?"
Roseline menelan ludah saat wajah Jevian sudah nyaris tak berjarak dengan wajahnya.
"Jev, kau ... mau apa?"
"Masih bertanya? Aku mau kamu."
"Tapi aku ... bahkan belum membersihkan diri."
"Itu masalah gampang. Setelah melakukannya, kita bisa mandi bersama."
"A-apa? Mandi bersama?"
"Ya." Suara Jevian sudah terdengar parau. Roseline lagi-lagi menelan ludah saat melihat kabur gairah yang sudah memancar hebat di kedua bola mata Jevian.
Lalu Jevian membenamkan wajahnya di leher Roseline. Menghidu aromanya yang candu. Jevian mulai frustasi saat ingin membuka gaun Roseline, tapi ia tidak tahu bagaimana cara melepaskannya.
"Kancingnya di belakang?" lirih Roseline yang sudah ikut terpancing gairah.
Jevian pun membalikkan tubuh Roseline. Ia makin frustasi saya melihat jejeran kancing yang berukuran kecil-kecil memanjang sepanjang garis punggung. Padahal gairahnya sudah di ubun-ubun, tapi ia masih harus membuka kancing satu persatu. Andai ini lingerie, sudah ia robek sejak tadi. Tapi ia harus bersabar. Mana mungkin ia merobek gaun pengantin istrinya. Yang ada Roseline marah dan menggagalkan malam pertama mereka.
Hingga saat seluruh kancing itu terbuka, Jevian pun menurunkan gaun itu dengan tak sabar. Sedetik kemudian, Roseline merasakan rasa hangat menjalar di punggungnya yang terbuka. Disusul sesapan dan gigitan yang agak kasar membuat Roseline reflek mengeluarkan suaranya yang memancing gairah Jevian kian membara.
"Aku akan membuatmu berteriak kenikmatan, Baby. Bersiaplah!"
Setelah itu, Jevian membalikkan badan Roseline sehingga menampakkan sepasang gunung yang indah dengan puncak kemerahmudaan.
Jevian menelan ludahnya kasar. Keindahan ini luar biasa. Bahkan ini sangat luar biasa. Padahal ia sudah pernah menikah, tapi apa yang ia saksikan ini jauh lebih luar biasa lagi.
Jevian mulai membenamkan wajahnya di lekukan indah tersebut. Percikan-percikan gairah kian membakar keduanya hingga tibalah mereka dipuncak kegiatan yang sesungguhnya. Keduanya saling menikmati. Roseline yang baru kali ini merasakan kenikmatan bercinta, awalnya merasa perih, tapi lama-kelamaan rasa perih itu berganti nikmat. Dan seperti apa yang Jevian katakan, akhirnya Roseline pun berteriak kencang dalam kenikmatan. Sungguh, pengalaman ini takkan pernah mereka berdua lupakan. Saling menyatu dalam cinta. Sungguh indahnya luar biasa.
...***...
Sorry nggak hot hot pop. Takut kena sensor NT alias ditolak. 😂
...***...
__ADS_1
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...