Benih Sang Cassanova

Benih Sang Cassanova
BSC 39


__ADS_3

Axton memandang Rainero sambil menggelengkan kepalanya, bagaimana tidak, sejak tadi mulut laki-laki itu seperti enggan berhenti untuk mengunyah. Bahkan bakso krispi gosong Shenina pun tadi ia beli dan berikan pada Rainero. Ia pikir laki-laki itu tak mau menyantapnya sebab setahunya Rainero itu pemilih kalau soal makanan.


"Heh, kau itu makan karena lapar atau kesurupan sih? Apa mulutmu tidak pegal sedari tadi tak henti-henti mengunyah?" tegur Axton sambil duduk bersantai di sofa dengan kedua tangan direntangkan di atasnya.


"Sekarang sih tidak lapar lagi, tapi aku kok nggak mau berhenti makan ya? Liat, yang gosong ini pun jadi terasa sangat nikmat. Jangan-jangan penjualnya pakai mantra supaya dagangnya laris manis," ucapnya asal. Tak tahu saja dia kalau yang membuat makanan itu adalah Shenina. Kalau Shenina mendengarnya, kira-kira bagaimana reaksinya ya?


"Coba kamu bilang itu di depan Shenina, berani nggak?"


"Emang apa hubungannya sama Shenina? Buat apa juga aku bahas ini sama dia," sahut Rainero sambil mengerutkan kening.


"Ada hubungannya. Sangat berhubungan malah."


Rainero berdecak, "kalau ngomong tuh nggak usah bertele-tele, to the point aja. Memang apa hubungannya, hah?" kesal Rainero sambil melemparkan bungkus saos sambal yang telah habis ke wajah Axton.


Axton lantas terkekeh, "kamu percaya nggak kalau yang buat makanan itu dan jualan itu adalah Shenina?" Axton memajukan tubuhnya ke depan membuat Rainero terdiam.


"Tidak. Itu tidak mungkin," sanggah Rainero tak percaya.


Axton kemudian tersenyum menyeringai, lalu mengeluarkan ponselnya dan membuka sesuatu di dalamnya. Kemudian ia menyodorkan ponselnya ke arah Rainero.


"Ambil, bodoh!" Kesal Axton saat melihat Rainero tak bergeming.


Rainero pun menyambut ponsel itu dengan kasar.


"Klik video itu dan ... saksikanlah ... kau pasti akan terkejut setelah melihatnya," seru Axton dengan menyeringai.


Rainero pun gegas menuruti perintah Axton. Matanya seketika terbelalak saat melihat video yang mana menunjukkan Shenina sedang menggoreng bakso krispi sambil melayani pembeli.


"I-ini ... "


Rainero terhenyak sendiri. Ia tak menyangka, perempuan seperti Shenina, mantan sekretarisnya harus banting tulang dengan berjualan kecil-kecilan demi menyambung hidup.


"Di-dia ... "


Rainero tak dapat melanjutkan kata-katanya. Bahkan ia sampai berhenti makan karena matanya yang sedang fokus menonton kegiatan Shenina yang sedang berjualan. Mulai dari mengambil adonan, kemudian memasukkannya ke dalam tepung kering. Lalu diambil lagi dan dimasukkan ke adonan basah sambil sedikit diremas dan ditepuk-tepuk agar membentuk sisi luar keriting. Barulah setelahnya adonan tadi dimasukkan ke dalam minyak panas.


Shenina melakukannya berulang-ulang kali. Banyak pembeli mengerumuni. Banyak pula yang sambil mengambil gambar dan video aksi Mbak Bule penjual bakso krispi tersebut. Terang saja kini wajah Shenina banyak menghiasi sosial media sebab memang sangat langka dan unik bisa menemukan seorang bule yang berjualan bakso krispi di pinggir jalan.


Mata Rainero telah berkaca-kaca. Semakin hari dirinya semakin sensitif saja. Setiap segala sesuatu yang berhubungan dengan Shenina selalu saja berhasil menyentuh relung hatinya. Rasa bersalah itu kian mencengkeram jantungnya.


Dada Rainero sesak. Dipukul-pukulnya dadanya untuk menetralkan sesak yang kini membuat nafasnya jadi tercekat. Axton sampai khawatir melihat wajah memerah Rainero yang sangat terlihat begitu tertekan.


"Rain, kau tak apa?" tanya Axton khawatir. Ia takut terjadi sesuatu pada Rainero.


"Axton, tolong antarkan aku ke sana! Aku mohon! Aku ... aku tidak bisa melihat Shenina melakukan itu. Di saat aku berleha-leha dan menikmati kemewahan, tapi di sana Shenina hidup menderita. Aku mohon, segera antarkan aku ke sana," melas Rainero dengan mata yang juga memerah.


"Tapi kondisimu sedang tidak baik-baik saja. Lebih baik kau istirahat dulu. Kita ke sana besok. Aku yakin, Shenina saat ini pun sedang tidak baik-baik saja. Biarkan ia menenangkan diri dahulu." Axton memberikan saran.


Rainero termenung kemudian mengangguk. Tapi sebelum itu, ia meminta Axton menyuruh orang-orangnya agar mengawasi tempat tinggal Shenina. Rainero hanya takut, Shenina kembali pergi dan menghilang. Cukup sekali saja ia kehilangan dan ia sangat menyesalinya. Ia tak ingin lagi melepaskan wanita yang bukan hanya berhasil mengandung benihnya, tapi juga mampu mengalihkan pikirannya dari sosok wanita masa lalunya.


Sepanjang malam, Rainero tak bisa sedikit pun memejamkan matanya. Pikirannya selalu saja tertuju pada Shenina. Hanya dia. Menurut informasi dari teman-teman Shenina yang mereka bagikan pada Axton, Shenina telah menyiapkan barang dagangannya sejak pagi-pagi sekali.


Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Rainero telah bersiap. Ia mengenakan atasan polo dan celana kargo selutut. Sebuah topi dan sepatu sneaker melekat di kakinya. Ia sengaja berpenampilan seperti itu dengan misi mendekati ibu dari calon anaknya.


Axton sampai pusing sendiri dengan tingkah Rainero sebab dini hari ia diminta mencari pakaian seperti itu. Sementara toko pakaian di negara itu rata-rata tutup sebelum tengah malam. Untung saja Mark pernah tinggal lama di Indonesia jadi ia meminta bantuan Mark untuk mencari toko yang menjual pakaian sesuai keinginan Rainero.

__ADS_1


Axton sampai geleng-geleng kepala melihat semangat Rainero untuk menemui Shenina. Ia akan datang ke tempat Shenina berjualan saat jam istirahat sekolah. Ia yakin, Shenina takkan kabur lagi bila ia datang di saat itu.


Tepat di saat jam istirahat sekolah, anak-anak keluar dari gerbang sekolah dan berhamburan ke penjual makanan yang ada di sekitar sekolah. Salah satu penjual makanan yang mereka datangi adalah Bakso Krispi Mbak Bule. Shenina pun melayani anak-anak dengan sigap meskipun sedikit kerepotan.


"Mbak Bule, bakso krispinya 5."


"Aku 3, Mbak Bule."


"Mbak Bule, aku beli 4."


"Mbak Bule, banyakin saos pedas ya."


"Mbak, kembalian yang aku mana?"


"Mbak, ini uangnya."


"Mbak ... "


"Mbak Bule ... "


"Mbak Bule ... "


Teriak anak-anak bergantian. Hari ini kondisi fisik Shenina kurang baik. Semalaman ia kesulitan untuk tidur. Perutnya sering keram membuatnya sulit memejamkan mata.


"Sebentar ya, dek."


"Ini dek. "


"Sebentar."


"Iya."


"Aaakh ... " Shenina memekik saat minyak panas tak sengaja memercik ke tangannya saat akan mencemplungkan adonan yang baru ke dalam penggorengan.


"Shenina," seru seseorang dengan wajah panik.


Lalu ia segera meraih tangan Shenina dan mengambil sebotol air mineral yang ada di atas meja, membuka botolnya, dan menyiramkannya ke tangan Shenina yang terkena minyak panas. Setelah itu, ia mengelapnya pelan dengan ujung baju kaos yang ia kenakan dan meniup-niup bekasnya yang tampak memerah.


Shenina sampai tertegun di tempatnya saat menyadari siapa yang tengah merawat luka bakarnya itu.


"Lain kali lebih hati-hati," ucapnya lirih.


Shenina masih tertegun tak percaya dengan apa yang ia lihat.


Rainero yang melihat peluh membasahi dahi Shenina pun segera mengusapnya perlahan dengan telapak tangannya. Shenina sampai tersentak dan reflek mundur ke belakang, tapi tangan Rainero dengan cepat menahan pinggang Shenina sebab di belakangnya ada penggorengan yang minyaknya terlihat sangat panas.


"Aku bilang hati-hati, Shen!" ucapnya lembut tapi penuh ketegasan.


"Kau ... kenapa kau kemari lagi? Bukankah aku bilang jangan pernah temui aku lagi," desis Shenina pelan. Ia menahan suaranya sebab saat ini suasana tampak cukup ramai.


"Kita bicarakan itu nanti, baby. Lihat, banyak pelanggan mu yang telah antri ingin membeli mahakaryamu yang luar biasa ini. Atau perlu aku membelinya semua agar kau bisa lebih cepat pulang dan bicara padaku?" ucap Rainero sambil memainkan alisnya.


Shenina mendengkus, "baby? I'm not your baby.


Shenina yang sadar kalau banyak anak-anak yang tengah memperhatikannya pun segera melayani anak-anak itu lagi.

__ADS_1


Rainero tersenyum geli, "ya, kau benar. Kau memang bukan baby ku, tapi calon ibu my baby, benarkah?" bisik Rainero tepat di samping telinga Shenina membuat perempuan itu menahan nafasnya. Rainero tersenyum kecil melihat tingkah Shenina. Lalu ia meraih spatula dan membantu membalik-balikkan bakso krispi Shenina.


"Pak Rainero, apa yang Anda lakukan?" seru Shenina panik. Bagaimana pun, Rainero seorang bos besar, mana mungkin ia membiarkan laki-laki itu membantunya berjualan. Terlebih laki-laki itu sedang berhadapan dengan minyak panas yang membuat Shenina khawatir.


"Aku? Aku sedang membantu calon istriku berjualan, kenapa? Ada yang salah?" jawab Rainero acuh tak acuh.


"Calon istri? Jajan bermimpi!" desis Shenina.


"Kenapa tak boleh? Oh, aku tahu, jangan bermimpi, tapi wujudkan dengan bukti, begitu maksudmu? Iya?" Rainero mencolek pinggang Shenina sambil tersenyum genit membuat anak-anak tertawa melihatnya sambil berseru 'ciyeeee' meskipun tak tahu apa yang Shenina dan Rainero obrolkan.


"Anda apa-apaan sih? Sepertinya lama tidak bertemu sudah membuat Anda jadi gila," ketus Shenina sambil terus melayani anak-anak yang membeli jualannya.


"Ah, benar. Kau benar sekali. Aku memang sudah gila. Gila karena mu," sahut Rainero sambil mengangkat bakso krispi menggunakan peniris.


Shenina yang kadung kesal dengan ucapan Rainero pun reflek menginjak kaki Rainero membuat tangan Rainero reflek menjatuhkan gorengnya ke tanah.


Shenina memekik. Bukan memekik karena gorengnya jatuh ke atas kaki Rainero, tapi karena gorengannya yang harus terbuang sia-sia.


"Kau ... "


"Sorry, tapi kan ini salahmu sendiri sweety," ucap Rainero dengan tampang memelas.


Shenina berdecak, "daripada mengangguk, lebih baik kau pergi sekarang!" usir Shenina.


Tapi Rainero yang keras kepala bukannya pergi, ia justru duduk dengan santai di kursi yang ada di sana. Matanya melotot tajam saat ada laki-laki yang mencuri-curi pandang pada Shenina.


"Bos, ini salepnya," ucap Mark yang tiba-tiba saja datang.


"Thanks, Mark. Kau pulang saja dulu. Aku akan menghubungimu lagi nanti."


"Baik, bos."


Tak lama kemudian, bel tanda jam istirahat berakhir, anak-anak pun berlarian untuk masuk ke kelas masing-masing. Saat suasana sudah sedikit sepi, Rainero menarik pelan tangan Shenina dan memintanya duduk. Awalnya Shenina menolak, tapi Rainero mengancam membuatnya tak bisa berkutik.


"Duduk!"


"Tidak."


"Oke, kalau kau mau aku cium di sini, silahkan. Terus saja berdiri," ancam Rainero membuat Shenina melotot tak percaya akan sikap aneh mantan atasannya ini. Sikap yang baru kali ini ia lihat. Ingin sekali Shenina mendebat Rainero, tapi ia ingat, mereka sedang di tempat umum sekarang.


"Oke, oke, aku duduk. Sekarang apa, hah? Kau mau apa, cepat katakan!" sentak Shenina kesal.


Rainero tak banyak bicara. Ia justru langsung membuka salep bakar yang ia minta belikan Mark melalui pesan singkat dan mengoleskannya di bekas cipratan minyak di tangan Shenina.


Shenina tak bergeming. Ia benar-benar bingung dengan sikap Rainero saat ini. Sikap ini mengingatkannya pada Rainero di masa lalu. Sikap yang hanya ia


tunjukkan pada mantan kekasihnya.


Yang jadi pertanyaan, kenapa Rainero memperlakukannya seperti ini? Seolah-olah dirinya adalah orang spesial bagi laki-laki itu.


'Tidak. Itu tidak mungkin. Jangan bermimpi, Shen. Mana mungkin tiba-tiba saja Pak Rainero menganggap mu spesial. Ingat, dia saja tak mau mengakui anakmu. Dia juga mengusirmu seenaknya. Jadi jangan terlalu berharap pada hal yang tak mungkin," Shenina mengingatkan dirinya untuk sadar diri dan tak terlalu berharap pada hal yang tak mungkin.


"Jangan terlalu banyak berpikir! Tidak semua yang kau pikirkan itu benar. Ingat, kau sedang hamil. Jangan terlalu banyak beban pikiran! Apa kau mengerti?" Shenina mendongakkan wajahnya membuat mata mereka saling bersirobok.


"Sok tahu," balas Shenina sambil memalingkan wajahnya membuat Rainero terkekeh dan mengusap pelan puncak kepala Shenina yang reflek membuat perutnya mengencang.

__ADS_1


...***...


...HAPPY READING 🥰🥰🥰...


__ADS_2