
Sepanjang malam, Rainero tak mampu memejamkan matanya. Bukan karena memikirkan masalah perusahaan ataupun permasalahan lainnya, melainkan karena hatinya sedang merasa bahagia. Hati Rainero benar-benar menghangat saat melihat keberadaan Shenina yang berada satu ranjang dengannya.
Sejak melihat Shenina yang ketiduran, Rainero pun membantu Shenina agar dapat berguling dengan nyaman. Mungkin karena terlalu lelah, Shenina sampai lupa membersihkan dirinya. Setelah memastikan posisi Shenina aman, Rainero pun segera membaringkan tubuhnya tepat di samping Shenina. Dipandanginya tak jemu-jemu wajah cantik itu sampai ia lupa kalau malam kini mulai beranjak pagi. Bahkan saat Shenina membuka mata, wajah tampan Rainero lah yang menyambutnya pertama kali.
"Morning, Sweety," ucap Rainero lembut. Benar-benar lembut di rungu Shenina.
"Morning, Rain. Kau baru bangun?" tanya Shenina gugup.
Rainero menggeleng.
"Oh, jadi kau sudah lama bangun?"
Lagi-lagi Rainero menggeleng membuat Shenina bingung.
"Kau tahu, karena merasa terlalu senang bisa melihatmu bahkan satu kamar dan ranjang satu ranjang denganmu, aku sampai tidak bisa tidur. Aku terlalu bahagia dan tak ingin melewatkan kesempatan untuk memandang wajah cantikmu," ujar Rainero sungguh-sungguh.
"Gombal," ejek Shenina padahal hatinya sedang berbunga-bunga. Wanita mana sih yang tak berbunga-bunga bila mendapatkan perlakuan sedemikian manis oleh pasangannya.
Shenina pun segera beranjak dengan perlahan.
"Mau kemana?" tanya Rainero menahan.
"Mandi. Semalam aku nggak sadar ketiduran jadi sekarang baru terasa lengketnya," ujar Shenina. "Pasti aku bau ya? Karena itu kamu jadi tidak bisa tidur?" imbuhnya dengan tatapan memicing.
Huppp ...
Rainero justru menarik Shenina ke dalam pelukannya dan menciumnya dari seluruh wajah bibir hingga ke leher tanpa merasa risih sama sekali.
"Rain ... "
"Kata siapa bau? Justru aromamu ini kaya akan feromon yang mampu membuatku selalu bergairah. Lihat ... " Rainero menggestur ke arah bawah. Tampak celana boksernya menggelembung, "bahkan hanya dengan menciummu seperti ini saja bisa membangkitkan Rainoconda yang tadinya tertidur pulas," ujarnya sambil mengerucutkan bibirnya.
Mata Shenina membulat. Kemudian ia tergelak kencang.
"Astaga Rain, ternyata otakmu ini benar-benar mesyum. Hanya dengan mencium saja bisa-bisanya dia bangun," ucap Shenina sambil menggelengkan kepalanya.
"Mau bagaimana lagi, seperti kataku tadi, aromamu itu kaya akan feromon."
"Ya udah, kalau gitu kamu jauh-jauh sana! Jangan dekat-dekat supaya Rainocondamu tidak selalu terbangun." Shenina mendorong Rainero pelan agar menjauh.
__ADS_1
"Oh tidak bisa, pertama, aku tak bisa jauh darimu, dan kedua, aku yakin, twins pun pasti tak ingin jauh dari Daddy, benarkan twins?" Tiba-tiba Rainero sudah menempelkan kepalanya di perut Shenina. Ada desir halus yang membuat Rainero dan Shenina tak dapat menafsirkannya. Rasa itu ... benar-benar membuat hati keduanya bahagia.
'Apa mungkin tanpa sadar aku telah jatuh cinta padanya? Secepat itu???'
...***...
"Morning, Mom, Dad, Grandpa," seru Rainero sambil berjalan mendekat ketiga orang itu yang telah lebih dahulu duduk di meja makan.
"Morning juga, Rain, Shenina."
Rainero menghampiri satu persatu anggota keluarganya dan memeluk singkat. Shenina pun mengikuti Rainero. Ketiga tetua keluarga Sanches pun menyambutnya dengan penuh kasih.
Tampak Adisti pun telah duduk di salah satu kursi. Adisti pun memeluk Shenina singkat. Tapi ia tidak banyak bicara. Ia memilih diam. Dia masih merasa canggung berada di tengah-tengah keluarga itu.
"Ayo duduk, Shen! Kau mau sarapan apa?" tawar Delena yang ingin mengambilkan sarapan untuk Shenina.
"Terima kasih, Mom. Aku bisa sendiri," tolak Shenina. Ia merasa malu dilayani oleh Delena yang mana belum menjadi ibu mertuanya.
"No, biar aku yang melakukannya. Kau cukup diam dan menerima perhatianku," ujar Rainero yang langsung bergerak mengambilkan Shenina sarapannya.
"Aku bisa sendiri, Rain."
"Rain benar, Shen. Biarkan saja dia belajar menjadi calon suami dan ayah yang baik," ujar Delena sambil mengerlingkan sebelah matanya.
Shenina hanya bisa pasrah saat Rainero kekeh ingin melayaninya. Shenina sebenarnya merasa malu ketika dilayani oleh Rainero. Tapi ini bukan kehendaknya, bukan. Jadi ia mencoba biasa saja.
"Kau tidak makan, Rain?" tanya Shenina saat Rainero hanya memandanginya saat makan.
Rainero menggeleng, "kau lupa, aku tidak bisa makan selain masakanmu dan buah," ujarnya membuat Shenina segera meletakkan sendoknya.
"Astaga Rain, maafkan aku. Aku benar-benar lupa," ucapnya merasa bersalah. "Ya sudah, kalau begitu aku siapkan makananmu sebentar ya!" Shenina baru saja hendak berdiri, tapi Rainero langsung mencegahnya.
"No, kau makanlah lebih dulu. Sarapanku soal gampang."
Shenina menghela nafas panjang. Kemudian ia berinisiatif mengambil sandwich dan menyuapkannya pada Rainero, berharap ia bisa makan bila ia yang menyuapinya dan benar saja, Rainero pun bisa makan tanpa kendala sama sekali.
"Oh ya Shen, bagaimana dengan orang tuamu?" tanya Reeves membuat Shenina terdiam kaku. "Jangan tegang seperti itu, Shen. Daddy hanya meminta pendapatmu, apa kau ingin mengundang mereka atau bagaimana, terserah padamu. Senyaman mu saja. Daddy, mommy, dan Grandpa sudah tahu mengenai masalah pribadimu dengan keluargamu," imbuh Reeves membuat mata Shenina terbelalak. Bagaimana mungkin ketiga orang itu sudah mengetahui mengenai keluarganya.
"Kau jangan heran, Rain yang sudah menceritakan segalanya," timpal Delena membuat Shenina segera menoleh ke arah Rainero.
__ADS_1
Rainero mengangguk, "saat kau menghilang, aku mencarimu kemana-mana. Aku benar-benar menggila. Aku juga mencari ke rumah orang tuamu. Awalnya aku tak percaya saat mereka bilang kau tidak ada di sana, tapi setelah aku menyelidikinya, barulah aku mengetahui fakta kalau kau telah diusir. Maafkan aku Shen, karena aku, hidupmu jadi makin menderita. Aku benar-benar menyesal," ujar Rainero dengan tatapan penuh penyesalan.
Shenina menggigit bibirnya dengan wajah sendu, "kau tak perlu merasa bersalah, Rain, karena faktanya seperti itulah keluargaku. Tapi apakah Mommy, Daddy, dan Grandpa tidak masalah dengan itu? Aku takut, kalian tidak bisa menerima kondisi keluargaku. Aku telah dibuang oleh mereka. Kini aku benar-benar sendiri di dunia ini," ujar Shenina dengan wajah tertunduk.
Delena pun segera berdiri dan memeluk Shenina, sedangkan Rainero menggenggam tangannya.
"Kau tak perlu merasa cemas, Sayang. Kami menerimamu dengan tangan terbuka. Justru mereka lah yang bodoh membuang permata seindah dirimu. Dan ... jangan lupa, mau tidak lagi sendiri. Ada Rain, Mommy, Daddy, Grandpa, and your twins," ujar Delena menenangkan sekaligus membesarkan hati Shenina. Shenina mau tidak mau merasa bahagia. Matanya berkaca. Ia terharu bisa diterima seperti ini oleh keluarga Rainero.
Setelah sedikit berdiskusi, akhirnya Shenina memutuskan untuk menemui ayahnya untuk mengabarkan tentang pernikahannya yang akan dilakukan dua Minggu lagi.
Tidak, Shenina tidak ingin mengundang mereka. Ia justru khawatir bagaimana kalau keluarganya membuat kekacauan. Justru ide menemui ayahnya itu datang dari Rainero. Rainero hanya ingin menunjukkan pada keluarga Shenina kalau Shenina tetap bisa hidup bahagia meskipun tanpa mereka.
"Siang nanti Mark akan datang menjemputmu ke kantorku terlebih dahulu sekalian membawakan pakaian baru untukmu. Kau harus memakainya. Jangan gunakan pakaian lamamu. Ingat, sekarang kau adalah anggota keluarga Sanches. Meskipun kita belum resmi menikah, tapi kau telah masuk dalam keluarga ini dan aku ingin kau tampil memukau. Berikan tamparan telak pada mereka yang telah membuangmu, apa kau mengerti?"
Shenina tak mampu berkata-kata, ia hanya bisa mengangguk, paham apa maksud dan tujuan Rainero. Ia justru merasa bahagia sebab secara tidak langsung Rainero ingin mengangkat derajatnya agar baik ayah maupun ibu dan saudara tirinya tidak bisa merendahkannya lagi.
...***...
Rainero tampak sibuk dengan berbagai tumpukan berkas domatas mejanya. Meskipun Axton telah menggantikannya selama ia di Bali, tapi tetap saja ada beberapa hal yang harus ia tangani sendiri.
Tok tok tok ...
"Masuk," seru Rainero saat pintu diketuk.
Tak lama kemudian, pintu terbuka dan dari baliknya sekretaris Rainero masuk kemudian membungkukkan tubuhnya.
"Maaf tuan, di luar ada seorang wanita yang mencari Anda," ujar sang sekretaris.
"Siapa?" tanya Rainero tanpa mengangkat wajahnya.
"Dia ... "
"Ini aku, Rain," potong sebuah suara yang membuat rahang Rainero seketika mengeras.
"Kau ... " desis Rainero, tapi justru dibalas senyuman manis oleh perempuan itu.
...***...
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...
__ADS_1