
"Mom," panggil Rhea pelan setelah masuk ke dalam kamar rawat sang ibu.
Sang ibu pun lantas menoleh dan tersenyum, "akhirnya kau datang juga, Sayang. Bagaimana kabarmu? Kau terlihat kurusan?" ucap ibu Rhea seraya menelisik dari atas hingga ke bawah.
Rhea tersenyum lembut. Cukuplah ia sendiri yang tahu permasalahannya dan sang suami. Ia tak ingin menambah beban keluarganya dengan menceritakan permasalahan dalam pernikahannya.
"Kabarku baik, Mom. Mommy tidak perlu khawatir. Benarkah aku nampak kurusan? Sepertinya perasaan Mommy saja," kilah Rhea tak ingin mengakui.
Padahal memang berat badannya turun cukup banyak. Hampir 5 kg selama 1 bulan ini. Padahal ia sedang hamil muda, seharusnya ia menjaga kesehatan dan pola makannya. Tapi memang sebulan ini Rhea benar-benar kehilangan napsu makannya. Ia kerap melewatkan makan siang terlebih makan malam. Alhasil, berat tubuhnya turun cukup drastis.
Bukannya Rhea enggan makan. Meskipun napsu makannya berkurang, tapi kadang Rhea memaksakan diri untuk tetap makan. Namun apa daya, morning sickness yang dialaminya membuatnya kerap mual setiap berhadapan dengan makanan. Yang bisa dikonsumsinya hanyalah beberapa jenis buah-buahan seperti anggur, strawberry, dan alpukat.
"Ini Mommy-mu, Nak. Mommy yang melahirkan serta membesarkan mu jadi mommy sangat tahu kalau kau sedang tidak baik-baik saja. Apa Theo menyakitimu?" terka ibu Rhea tiba-tiba.
"Tidak. Theo sangat baik padaku," kilah Rhea yang tak mungkin menceritakan perihal sejujurnya pada sang ibu. Apalagi ayahnya sedang sakit saat ini. "Oh ya, mom, sejak kapan Daddy dirawat di sini?" tanya Rhea mencoba mengalihkan perhatian.
"Baru pagi ini. Perusahaan daddy hampir kolaps. Ada masalah dengan peluncuran produk baru. Alhasil, perusahaan daddy menanggung kerugian yang tidak main-main. Lalu berita pagi tadi, tepat setelah mommy menelpon suamimu, daddy mendapatkan kabar kalau beberapa investor menarik investasi mereka karena takut ikut menanggung kerugian akibat permasalahan peluncuran produk baru itu," papar ibu Rhea. Ia menghela nafasnya sambil menatap nanar sang suami yang terbaring lemah di atas brankar.
Rhea cukup terkejut. Ia memang tidak pernah tertarik dengan perusahaan sang ayah. Orang tuanya pun tidak memaksa dirinya untuk turun tangan mengurus perusahaan. Ia lebih suka bekerja bebas di tempat yang ia sukai termasuk di restoran tempat ia bekerja sekarang ini. Alhasil, ia tidak tahu kalau perusahaan ayahnya mengalami permasalahan seperti ini.
"Akibatnya, daddy shock dan ... Tiba-tiba saja pingsan. Mommy pun segera membawa daddy ke rumah sakit. Dan setelah diperiksa, ternyata daddy terkena serangan jantung," imbuh sang ibu sambil terisak.
Rhea tak mampu menutupi kesedihannya. Ia pun menangis tersedu-sedu melihat keadaan sang ayah yang lemah tak berdaya.
Rhea menemani sang ibu hingga sore hari. Saat senja mulai menyapa, Rhea pun segera izin pulang. Ia sudah memiliki janji akan pulang ke apartemen Theo hari ini. Entah apa yang ingin Theo sampaikan, ia harus siap dan tetap kuat dengan keputusan apapun yang Theo ambil.
Rhea telah tiba di basemen gedung apartemen. Ia berkali-kali menarik nafas panjang dan menghembuskannya. Tiba-tiba ia merasa amat sangat gugup. Pikiran buruk tiba-tiba berseliweran di benaknya. Ia lantas menggeleng cepat. Ia tidak ingin berpikir macam-macam yang mana akan berakibat fatal pada kandungannya.
Ceklek ...
Rhea masuk ke dalam apartemen yang sudah lebih dari sebulan ia tinggalkan. Meskipun kemarin malam ia sempat masuk ke dalam sana, tapi Rhea tidak sempat memperhatikan sekeliling ruangan itu. Matanya terbelalak saat menyadari kalau apartemen itu tampak sedikit berantakan. Debu-debu bertebaran. Baju kotor Theo yang terkapar di sandaran sofa. Belum lagi gelas bekas minum. Yang tidak ada hanya piring kotor. Sepertinya Theo jarang makan di rumah atau tidak pernah sama sekali sehingga tak ada piring kotor di sana.
Rhea menggelengkan kepalanya. Ia pun segera meletakkan tasnya di sofa dan mulai membersihkan seluruh ruangan termasuk kamar Theo. Meskipun sakit, sebab di dalam sana bertebaran foto-foto kebersamaan Theo dan Shenina. Bahkan ada foto candid Shenina yang Rhea yakini diambil Theo secara diam-diam, tapi Rhea tetap membersihkan ruangan itu sambil menahan sesak di dadanya.
Dipandanginya salah satu foto Shenina. Rhea akui, Shenina sangatlah cantik natural. Apalagi saat ia tersenyum. Mungkin inilah salah satu alasan yang membuat Theo sukar melupakan Shenina.
__ADS_1
Saat sedang sibuk dengan lamunannya, tiba-tiba pintu kamar Theo terbuka. Rhea yang baru tersadar dari lamunannya seketika membeliakkan matanya. Ia panik. Ia khawatir Theo marah padanya karena telah dengan lancang masuk ke dalam kamarnya.
"Apa yang kau lakukan di kamarku?" tanya Theo dingin.
"A-aku baru saja membersihkan kamarmu. Maaf, aku masuk tanpa permisi," ujar Rhea dengan kepala tertunduk.
Theo menghela nafasnya, "keluar!" ucapnya dingin.
Rhea pun dengan bergegas berjalan keluar. Namun nahas, karena terburu-buru, kaki Rhea tanpa sengaja tersangkut di karpet tebal di kamar Theo sehingga tubuhnya pun terhuyung ke depan. Rhea sudah memejamkan matanya, pasrah bila harus terjatuh. Namun setelah sepersekian detik, tubuhnya tidak kunjung jatuh. Rhea pun membuka matanya. Seketika, jantungnya bagai dipompa begitu kencang saat menyadari kalau ada sebuah lengan kekar yang melingkari perutnya sehingga ia tidak jadi terjatuh.
"Ceroboh!" desis laki-laki yang ada di belakangnya membuat sekujur tubuh Rhea menegang.
Rhea pun dengan cepat berlari setelah Theo melepaskan tangannya dari perut Rhea.
Rhea saat ini sedang menyiapkan makan malam. Makam malam itu ia pesan melalui delivery order. Di dalam kulkas Theo tidak tersedia bahan makanan apapun.
Theo keluar dari dalam kamar dengan rambut basah. Ia memakai atasan kaos dan celana selutut. Melihat penampilan Theo seperti itu saja membuat mata Rhea tak bisa berpaling. Hatinya meringis. Ingin sekali ia mendekap tubuh Theo dan menenggelamkan wajahnya di dada bidang itu, tapi semua itu hanyalah sekedar angan saja. Sesuatu yang mungkin takkan pernah terjadi.
Theo mendekat ke meja makan. Di sana sudah ada beberapa menu makan malam.
"K-kau belum makan kan? Makanlah lebih dulu, baru kita bicara. Aku baru membelinya. Makanlah selagi hangat," tutur Rhea gugup. Ia tak mampu menyembunyikan kegugupannya.
Setelah selesai, Rhea segera membereskan piring kotor dan mencucinya. Setelahnya, ia pun bergegas menyusul Theo yang sudah menunggunya di ruang tamu.
Jangan ditanya bagaimana gugupnya Rhea saat ini. Ia benar-benar gugup. Bahkan tangannya yang dingin karena baru saja selesai mencuci makin bertambah dingin. Berbanding terbalik dengan tubuhnya yang sudah berkeringat. Kedua tangan Rhea saling meremas, sungguh ia benar-benar takut saat ini.
"Kau kemana saja selama sebulan ini?" tanya Theo tiba-tiba membuat Rhea mengangkat wajahnya. Rasa takut yang sedari siang memenuhi benaknya, seketika mereda akibat pertanyaan itu. Bolehkah Rhea menganggap pertanyaan itu sebagai bentuk sebuah perhatian?
"Aku ... Tinggal di sebuah apartemen yang tak jauh dari tempat kerjaku," jawab Rhea jujur.
Theo mengangguk, "lalu kenapa kau tidak menghubungi orang tuamu?"
Rhea menghubungkan pertanyaan itu dengan kata-kata sang ibu tadi yang mengatakan kalau ayahnya mendapatkan kabar mengenai perusahaan setelah ibunya menghubunginya.
"Aku ... hanya tak ingin permasalahan kita sampai terdengar oleh orang tua kita," ucapnya dengan tertunduk lesu. Anggapan tentang perhatian Theo tadi seketika sirna setelah ia mendapatkan pertanyaan barusan. Ia merasa Theo mengajaknya bicara berhubungan dengan orang tuanya yang tidak mengetahui keberadaannya.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Theo lagi. Rhea sudah seperti sedang diinterogasi oleh petugas kepolisian saja.
"Aku hanya tak ingin membebani mereka dengan permasalahan kita," ujarnya jujur.
Theo menghela nafas berat. Lalu ia menatap Rhea yang sedari tadi mencoba menghindari tatapannya.
"Maaf."
Mata Rhea seketika terbelalak. Ia sampai memberanikan diri menatap Theo balik. Theo memang mengucapkan kata maaf, tapi sorot matanya berkesan datar dan dingin.
"A-apa? Maaf, aku sepertinya salah mendengar."
"Maaf atas kejadian malam itu. Aku sadar, tak seharusnya aku melakukan itu. Meskipun kita suami istri, tetap saja, aku tidak melakukan itu. Apalagi pernikahan kita tidak dilandasi kata cinta. Aku harap kau melupakan kejadian malam itu. Sekali lagi, maafkan aku."
Sontak saja mata Rhea membelalak. Bahkan netranya sudah memerah karena terkejut dengan kalimat terakhir yang Theo ucapkan.
"Apa kau bilang? Lupakan? Semudah itu?"
"Lantas ... Kau mau apa? Aku tidak mungkin mengembalikan keperawanan mu kan?"
"Aku tidak meminta seperti itu," tegas Rhea yang sudah berkaca-kaca.
"Lalu aku harus bagaimana? Semua sudah terlanjur terjadi. Jujur, sebenarnya aku ingin kita bertemu selain ingin meminta maaf, aku juga ingin mengajakmu berpisah secara baik-baik. Kau tahu bukan, aku tak pernah mencintaimu. Bahkan kau pun mungkin juga sama. Oleh sebab itu, daripada kita saling menyakiti, lebih baik kita berpisah. Mungkin ini jalan yang terbaik bagi kita berdua."
Jeduar ...
Langit Rhea seakan runtuh seketika. Apa yang Rhea takutkan akhirnya terucap juga dari bibir Theo.
Lalu, bagaimanakah Rhea harus menyikapinya?
Haruskah ia menerima permintaan Theo ataukah sebaliknya?
...***...
Oh ya kak, entar awal bulan othor mau bagi hadiah pulsa ke 3 Top Fans dari peringkat 1, 2, dan 3.
__ADS_1
Ditunggu dukungannya! 🥰🥰🥰
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...