Benih Sang Cassanova

Benih Sang Cassanova
BSC 144 (S2 Part 13)


__ADS_3

"Bagaimana keadaan Rhea?" tanya Emery pada Theo yang sedang duduk di tepi ranjang dimana Rhea berbaring dengan jarum infus tertancap di pergelangan tangannya.


Tadi saat melihat wajah Rhea yang makin pucat sontak membuat Theo khawatir. Ia pun segera memanggil dokter untuk memeriksa keadaan Rhea.


"Tekanan darahnya rendah. Kepergian daddy secara tiba-tiba sepertinya benar-benar membuat Rhea terpukul. Namun ia tetap berusaha tegar karena tidak ingin mommy makin bersedih atas kepergian, Daddy. Namun hal tersebut justru berdampak pada psikisnya," tutur Theo pada sang ibu. "Sebenarnya apa yang terjadi? Bukankah dua hari yang lalu keadaan daddy Ben sudah membaik?"


"Tadi Daddymu bercerita, katanya perusahaan ayah mertuamu tak bisa dipertahankan lagi. Pemasukan perusahaan tidak sesuai dengan pengeluaran. Bahkan gaji karyawan pun banyak yang tidak terbayarkan. Perusahaannya benar-benar hancur. Mungkin rumah ini pun sebentar lagi akan disita. Mommy harap, kau tidak meninggalkan Rhea dalam keadaan seperti ini. Dia membutuhkanmu, Theo. Apalagi dia sedang hamil anakmu. Mommy minta maaf atas kesalahan yang pernah mommy buat. Tapi ... Waktu tidak mungkin diputar kembali. Andai bisa, mommy takkan pernah memisahkan kau dan Shenina. Tapi ... Semua telah terlanjur terjadi. Mommy harap kau menjaga Rhea baik-baik. Jangan sia-siakan dia. Jangan sampai kau menyesal tuk kedua kalinya," tukas Emery memberi nasihat pada Theo. Theo bungkam. Tak sepatah katapun keluar dari bibirnya.


Emery menghela nafas panjang, "kau pergi saja ke pemakaman. Biar Rhea mommy yang temani di sini. Sekarang, keluarga ini menjadi tanggung jawabmu. Berangkatlah!" ujar Emery memberi perintah.


Theo mengangguk, kemudian ia pun segera berlalu menuju ke pemakaman.


Sepanjang prosesi pemakaman ayah Rhea, ibu Rhea tak henti-hentinya menangis. Apalagi saat peti mati telah masuk ke dalam lubang galian. Artinya, setelah ini, ia benar-benar akan kehilangan sang suami.


"Suamiku, kenapa kau tinggalkan aku sendiri? Suamiku ... Suamiku ... " jerit July, ibunya Rhea.


"Mom," panggil Theo iba.


"Theo, panggil daddymu, katakan padanya, jangan tinggalkan mommy. Bagaimana nasib mommy bila daddymu pergi meninggalkan Mommy. Tolong Mommy, Theo. Mommy ..."


"Mom, ikhlaskan Daddy. Ingat, mommy masih memiliki Rhea. Apalagi Rhea sedang hamil saat ini. Ia pasti akan sangat sedih bila melihat mommy seperti ini," ucap Theo sambil merengkuh pundak sang ibu mertua agar segera berdiri dari atas tanah makam sang suami.


July tertegun. Terlalu terpukul membuatnya lupa ia masih memiliki Rhea yang membutuhkannya. Ia juga hampir lupa kalau tadi Rhea pingsan karena mencoba menenangkannya. Putrinya itupun sedang begitu bersedih, tapi demi dia, Rhea rela berpura-pura tegar untuk menguatkannya.


"Kau benar, Theo. Suamiku, aku akan berusaha mengikhlaskan mu. Tenanglah di dalam sana. Aku harus segera pulang. Putri kita membutuhkanku. Selamat tinggal," ujarnya dengan air mata berderai.


Sementara itu, di kediaman keluarga Ben, tampak Rhea baru sadar dari pingsannya.


"Kau sudah sadar, Rhea?" tanya Emery pada sang menantu.


"Mom, mommy ada di sini?" tanya Rhea sambil celingukan.


Seketika Rhea merasa kecewa saat tidak menemukan keberadaan suaminya.


"Kau mencari, Theo?" tanya Emery membuat Rhea tak kuasa menyembunyikan perasaannya kemudian mengangguk. Emery tersenyum lalu mengusap puncak kepala Rhea dengan penuh kasih, "Theo sedang ke pemakaman. Jadi mommy menawarkan diri menjagamu di sini."


"Pemakaman? Apa ... ?" kalimat Rhea terpaksa menggantung. Emery mengangguk, membenarkan dugaan Rhea. Tangis Rhea akhirnya pecah kembali.


Hari berlalu, tak terasa sudah seminggu semenjak kepergian ayah Rhea. Dan sesuai dugaan, rumah orang tua Rhea akhirnya disita bank karena pihak Ben tidak bisa melunasi hutang perusahaan.


"Mom, mommy ikut Rhea saja ya? Apartemen Theo itu cukup besar, jadi tak masalah kalau mommy ikut kami, benarkan Theo?" tanya Rhea pada Theo yang berdiri di sampingnya.


"Rhea benar, Mom. Kami tidak masalah kalau mommy ikut kami tinggal di apartemen."


Namun July menolak. Memang di negara mereka, para orang tua cenderung memisahkan diri dari anak-anaknya. Bahkan sejak anak mereka mulai dewasa, mereka sudah dididik untuk hidup mandiri.


Di usia senja, para orang tua seakan mengisolasi diri. Dalam prinsip mereka, mereka tak ingin merepotkan anak-anak dan menantu mereka. Bahkan tak jarang para orang tua memilih tinggal di panti jompo agar tidak merepotkan anak-anak mereka dengan alasan supaya mereka bisa bersosialisasi dengan sesama lansia dan tidak kesepian.


"Tidak perlu. Mommy telah memutuskan akan kembali ke rumah mendiang kakek dan nenekmu. Bukankah rumah itu sudah direnovasi, jadi tak masalah mommy kembali ke rumah masa kecil mommy," tolaknya yang tak ingin merepotkan Rhea dan menantunya. Ia yakin, keberadaan dirinya hanya akan membuat aura kecanggungan atau ketidaknyamanan pada keduanya. Apalagi July bisa melihat kalau menantunya itu belum benar-benar menerima kebenaran Rhea. Bila ia ada di tengah-tengah mereka, bukan tidak mungkin, hubungan mereka akan makin dingin dan canggung. Dan July tidak menginginkan itu.


"Tapi Mom ... "


Namun, July tetap teguh dengan pendiriannya. Rhea dan Theo akhirnya hanya bisa pasrah menerima. Mereka lantas mengantarkan July ke rumah peninggalan orang tua July. Tapi mereka tidak lepas tangan begitu saja. Mereka telah membayar seseorang untuk menemani July selama di sana.


Sementara itu, setelah kepergian Rhea dan Theo mengantar July, Emery pun pulang ke kediamannya. Perasaannya kini benar-benar kacau. Dulu ia memaksa Theo menikah dengan Rhea karena kekayaannya. Ia mencemooh Shenina yang hanya berasal dari kalangan biasa. Namun kini, semua seakan berbalik. Apa yang ia bangga-banggakan telah hilang. Hidup anaknya tak bahagia. Perlahan, Emery akhirnya benar-benar menyadari kesalahannya yang terlampau egois dan keras kepala.


"Aku harus meminta maaf pada Shenina. Mungkin ini adalah hukuman atas segala kesombongan dan keegoisanku. Semoga saja Shenina mau memaafkan kesalahanku. Berharap dengan begitu, hidup Theo dan Rhea akan jadi lebih baik ke depannya."


...***...

__ADS_1


"Sweety, dimana kau?" pekik Rainero saat masuk ke mansion miliknya dengan senyum lebarnya. Semenjak menikah dengan Shenina, tak ada lagi Rainero yang dingin di mansion itu. Rainero berubah 180 derajat. Ia menjadi laki-laki yang gemar tersenyum, tertawa, bahkan bercanda. Namun semua itu hanya ia lakukan di hadapan Shenina dan beberapa orang terdekatnya.


"Kau melihat istriku?" tanya Rainero pada maid di mansionnya.


"Madam sedang menyiapkan makan malam, Sir," ucap sang maid membuat mata Rainero membulat.


"Kenapa. Kau biarkan? Bukankah tugas memasak itu tugas kalian?" Rainero menatap tajam sang maid membuatnya ketakutan.


"Kami ... kami sudah mencoba melarang, Sir. Tapi ... tapi Madam tetap berkeras ingin menyiapkan makan malam sendiri," ucapnya jujur dengan suara bergetar ketakutan.


Rainero berdecak kemudian segera berlari ke arah dapur. Dapur terletak jauh dibelakang karena itu Shenina tidak tahu kalau suaminya telah pulang. Shenina sangat ingin memakan udang asam pedas manis. Resep itu ia dapatkan saat ia berada di Bali. Sudah sejak pagi ia meminta maid di mansion mencarikan udang yang ukurannya cukup besar. Karena ukurannya cukup besar, agar lebih nikmat, Shenina memanggang udang itu dulu baru dimasukkan ke dalam bumbu asam pedas manis yang sedang ia siapkan.


Saat sedang membalikkan udang yang ia panggang di atas grill, tiba-tiba ada sepasang lengan membelit pinggangnya. Mata Shenina sempat membelalak, tapi saat mencium aroma parfum yang sangat familiar di indra penciumannya, Shenina balik tersenyum.


"Kau mengejutkanku saja," ucap. Shenina sedikit cemberut.


Cup ...


Sebuah kecupan mendarat di pipi kanan Shenina membuatnya melotot. Seakan belum puas, Rainero lantas menggosok-gosokkan rahangnya yang ditumbuhi bulu halus ke pipi Shenina membuat perempuan itu kegelian.


"Udah Rain, geli," ucap Shenina seraya menahan geli.


"Kangen," bisik Rainero di telinga Shenina.


"Udah ah, aku lagi masak. Sana, buruan mandi. Kamu bau."


"Bau? Mana ada. Aku masih wangi kok. Eh, kamu mau masak udang? Kenapa tidak minta Olive saja yang memasaknya?"


Shenina menggeleng, "aku mau masak sendiri."


"Udangnya besar sekali. Tapi masih besar udang milikku," ucap Rainero ambigu.


"Iya, aku memelihara udang. Aku sudah memeliharanya sejak aku lahir."


"Hah, selama itu? Udangnya sudah tua sekali. Kok bisa masih hidup ya?"


"Udangku itu takkan pernah menua. Meskipun umurnya bertambah, tapi tenaganya makin kuat dan gagah."


Shenina bingung mendengar penuturan Rainero membuat Rainero terkekeh.


"Kau mau berkenalan dengannya?" tawar Rainero.


"Boleh, aku pun jadi penasaran. Kamu memeliharanya dimana? Apa di belakang sama seperti Albert?" tanya Shenina yang mengira udang yang Rainero sebutkan benar-benar udang sungguhan.


Mata Rainero melotot, ia pun segera meletakkan telapak tangannya di atas udang jumbo miliknya.


"Kenapa ekspresimu begitu?"


"Mana mungkin aku meletakkan udangku di sana. Bisa-bisa ia habis dan tinggal nama."


"Jadi udang mu itu ada dimana?"


"Kau benar-benar mau berkenalan dengannya?" tanya Rainero dengan senyuman jahil.


Shenina mengangguk sambil membalikkan badannya, "tapi nanti saja. Tunggu aku selesai masak. Kau mandi saja dulu. Sebentar lagi kita makan malam bersama."


"Baiklah. Aku akan memperkenalkan mu pada udangku malam nanti. Pasti kau akan senang mengenalnya."


Setelah mengucapkan itu, Rainero pun segera beranjak dari sana dengan senyum merekah di bibirnya.

__ADS_1


Malam harinya, "Sayang, katanya mau mengenalkan udang mu padaku. Tapi kenapa kau malah mengajakku ke tempat tidur?" Shenina mengerucutkan bibirnya kesal.


"Katanya mau kenalan dengan udangku, kalau begitu ayo sini. Biar aku kenalkan."


Shenina benar-benar bingung, masa' kenalan dengan udang di atas tempat tidur sih?


Namun saat melihat Rainero yang melepaskan celananya dengan cepat, lalu menarik tangan Shenina untuk memegang Rainoconda yang selalu mampu membuat istrinya terbang melayang, sontak saja Shenina membulatkan matanya.


"Rain, jangan bilang udang peliharaanmu itu maksudnya ... "


Tiba-tiba saja Rainero tergelak kencang. Shenina yang sudah kadung penasaran lantas kesal bukan main. Ia pun menarik ujung chocochips di dada Rainero dengan kencang membuat laki-laki itu menjerit kesakitan.


"Ampun, ampun, Sweety, lepas. Lepasin, sakit!" pekik Rainero saat Shenina menarik kedua chocochips miliknya.


"Sepertinya otakmu itu perlu dicuci. Pikiranmu selalu mesyum. Waktu itu pisang, sekarang udang, lalu nanti apa lagi?" sewot Shenina membuat Rainero terkekeh.


"Apa lagi ya? Terong Belanda? Lobak Jepang? Lobak Australia? Mentimun Inggris?"


Plakkk ...


Shenina memukul dadanya kencang membuat Rainero tergelak kencang. Ia sangat senang sekali mengusili istrinya seperti ini. Namun tawa mereka seketika meredup saat mendengar dering dari ponsel Rainero yang tergeletak di atas meja.


Shenina pun segera mengambil ponsel itu dan menyerahkannya pada Rainero. Rainero pun segera mengangkat panggilan yang ternyata dari Axton tersebut.


"... "


"Benarkah? Untuk apa dia ingin menemui Shenina?"


" ... "


Mendengar namanya disebut, Shenina lantas mendekat.


"Nanti aku kabari lagi."


Klik.


"Ada apa? Kenapa kau menyebut namaku tadi?"


"Tadi Axton memberi tahu kalau ia bertemu dengan ibu Theo dan ia ingin bertemu denganmu."


"Bertemu dengan ku? Untuk apa? Bukankah selama ini ia tidak menyukaiku?"


Rainero yang tidak tahu pantas mengedikkan bahunya.


"Jadi bagaimana? Apa aku harus menemuinya?"


"Terserah padamu, Sweety. Aku tidak akan melarang. Namun bila kau ingin bertemu, untuk berjaga-jaga, aku akan meminta orang menemanimu."


Shenina pun mengangguk, "ya sudah, kau atur saja, Sayang. Siapa tahu ada hal penting yang ingin ia sampaikan."


"Baiklah. Ya sudah, kalau begitu kita tidur sekarang. Mumpung Sky dan Earth sedang tertidur pulas."


Shenina mengangguk. Kemudian ia segera naik ke atas ranjang disusul Rainero. Lalu Rainero menarik selimut agar menutupi mereka berdua. Setelahnya, Rainero merentangkan tangan kanannya agar Shenina berbaring berbantalkan lengannya.


"Good night, Sweety. Sweet dream."


"Night too, Hubby."


...***...

__ADS_1


...HAPPY READING 🥰🥰🥰...


__ADS_2