Benih Sang Cassanova

Benih Sang Cassanova
BSC 41


__ADS_3

Dokter baru saja pulang setelah memeriksa keadaan Shenina. Menurut dokter itu, Shenina hanya kelelahan dan terlalu banyak pikiran sehingga menyebabkan tekanan darahnya naik. Oleh sebab itu, dokter menyarankan agar Shenina bed rest dan tidak terlalu banyak pikiran.


Sepulang sang dokter, Rainero duduk di lantai di samping kasur busa tempat Shenina tidur selama beberapa bulan ini. Ternyata Shenina tidur hanya beralaskan kasur busa tanpa ranjangnya. Hati Rainero tak henti-hentinya dicabik oleh segala sesak dan penyesalan. Bagaimana tidak, karena ulahnya lah Shenina harus menjalani hidup yang menyedihkan ini. Di saat ia bisa tidur dengan lelap di atas kasurnya yang empuk, Shenina justru harus tidur dengan kasur yang tebalnya pun hanya 10 cm.


Pelan-pelan Rainero menggenggam tangan Shenina. Dirinya tergugu dalam diam dengan tatapan tak luput dari wajah pucat Shenina.


"Shen, aku mohon, berikanlah aku kesempatan untuk menebus segala kesalahanku. Beri aku kesempatan untuk menjadi pendampingmu. Beri aku kesempatan untuk mendampingimu kala melahirkan nanti. Beri aku kesempatan untuk membahagiakanmu. Aku berjanji, bila kau mau memberikanku kesempatan, maka aku akan berusaha membahagiakanmu dan anak kita di sisa umurku," ucap Rainero penuh kesungguhan.


Baginya, tak ada penebusan kesalahan terbaik selain mengabdikan sisa umurnya untuk membahagiakan Shenina dan anak mereka.


Rainero terus berada di sisi Shenina hingga tanpa sadar ia pun ikut terlelap dengan tubuh terduduk di lantai, sedang kepalanya ada di samping tangan Shenina yang digenggamnya.


Jarum jam sudah menunjukkan pukul 9 malam, mata Shenina pun perlahan mengerjap. Tubuhnya tersentak saat merasakan sesuatu yang hangat menggenggam erat tangannya. Kepala perempuan itu menoleh dan makin tersentak saat tahu siapa pemilik tangan tersebut.


"P-pak Rainero," gumamnya penuh keterkejutan.


"Ya, Shen, tunggu sebentar. Aku masih mengantuk," gumamnya tanpa sadar. Sebenarnya ia tengah bermimpi sedang tidur berdua dengan Shenina. Di dalam mimpinya, Shenina tengah membangunkannya seperti seorang istri sedang membangunkan suaminya agar segera mandi dan bersiap untuk bekerja.


Mata Shenina membulat, mengapa atasannya bergumam seperti itu.


"Pak, bangun! Kenapa Anda masih berada di sini?" Shenina menarik kasar tangannya yang digenggam Rainero membuat laki-laki itu terlonjak seketika.


"Shen, kau sudah sadarkan diri? Syukurlah. Aku benar-benar khawatir tadi," serunya dengan mata berbinar. Shenina benar-benar tak habis pikir, sebenarnya apa yang terjadi dengan tuannya ini? "Kau mau minum?" tawar Rainero saat melihat Shenina berusaha untuk duduk. Shenina yang memang masih merasa lemas di sekujur tubuhnya pun terpaksa mengangguk.


"Aaakh ... "


"Hati-hati," ucap Rainero khawatir saat Shenina memekik karena selang infusnya tertarik. "Kau tidak apa-apa?" Shenina mengangguk lagi.

__ADS_1


Rainero lantas segera mengambilkan air minum yang memang telah ia sediakan dan menyerahkannya pada Shenina.


Setelah selesai, Rainero pun menawarkan Shenina untuk makan. Sebelumnya, Rainero memang telah meminta Mark membelikan mereka makan malam. Rainero tinggal menyiapkannya saja.


"Tidak perlu repot-repot, terima kasih," ujar Shenina dingin saat Rainero menawarkannya makan malam.


Tak habis akal, Rainero lantas meletakkan telapak tangannya di atas perut Shenina membuat perempuan itu terkesiap.


"Baby, kau ingin makan tidak? Daddy sudah menyiapkan makan malam istimewa untukmu?" ucapnya dengan senyuman merekah. Shenina benar-benar dilanda gundah gulana, apa benar mantan atasannya ini telah mengakui keberadaan anaknya? Tapi kenapa tiba-tiba? Atau memang benar, laki-laki itu berniat mengambil anaknya.


Shenina segera menepis tangan Rainero dan memeluk perutnya erat, seolah-olah ingin melindunginya agar tidak diambil oleh Rainero.


"Daddy? Tutup mulutmu! Memangnya kau siapa, hah? Daddy, Daddy siapa? Ingat, anak ini bukan anakmu. Bukankah itu yang kau ucapkan waktu itu?" teriak Shenina dengan rahang mengeras dan nafas memburu.


Melihat emosi Shenina yang kembali naik, Rainero pun khawatir.


"Shen, tenang, aku akui aku salah. Karena itu aku kemari, aku ingin meminta maaf atas kesalahanku. Aku tahu, kesalahanku amat sangat fatal, tapi ... tolong izinkan aku membuktikan kesungguhanku. Ah, hampir saja lupa, kau makan dulu ya! Ini sudah malam, kau butuh tenaga untuk marah-marah dan baby butuh nutrisi untuk tumbuh kembangnya. Kau makan dulu ya! Sebentar, aku akan siapkan makan malam mu."


Air mata Shenina jatuh berderai. Rainero membalikkan badannya. Hatinya pun ikut merasa teriris melihat air mata Shenina yang jatuh berderai. Benar-benar sakit.


"Baiklah, aku akan segera pergi, tapi ... tolong izinkan aku menyiapkan makan malammu dulu ya! Kau harus istirahat. Tak boleh banyak bergerak. Aku mohon," lirih Rainero dengan mata yang memerah.


Shenina terpaku melihat sorot mata penuh luka di mata Rainero. Shenina sampai bertanya-tanya, sebenarnya apa yang terjadi? Sebenarnya ada rasa ingin bertanya dan mendengarkan penjelasan Rainero, tapi hatinya masih sakit, ia belum siap, dan ia belum sanggup mendengar penuturan Rainero.


Shenina bungkam. Rainero pikir, mungkin itu sebagai jawaban kalau wanita hamil itu mengizinkan. Rainero pun segera keluar dari kamar satu-satunya di kontrakan itu dan segera menyiapkan makan malam Shenina kemudian membawanya ke dalam kamar.


"Makanlah dulu. Aku akan menunggu di luar. Aku akan pulang setelah kau selesai makan dan membereskan piring kotor."

__ADS_1


"Tak perlu sok peduli. Aku tak butuh perhatianmu. Aku bisa membereskan piring kotorku sendiri. Lebih baik kau segera pergi dari sini. Pergi!" usir Shenina tanpa mau menatap wajah Rainero sedikit pun.


Rainero mengangguk. Ia tak ingin membuat Shenina kian tertekan karena dirinya.


"Baiklah. Tapi tolong dimakan ya! Aku tidak tahu seleramu. Tapi ... semoga kau suka menu yang aku belikan ini," ucapnya lirih. Tapi Shenina tak menggubris sama sekali membuat dada Rainero berdenyut nyeri.


Sebelum benar-benar keluar dari dalam kamar Shenina, Rainero kembali membalikkan badannya menatap wajah sendu Shenina.


"Shen, aku harap besok kau sudah mau berbicara denganku. Bagaimana pun, permasalahan kita harus kita selesaikan. Bukan untuk kita saja, tapi untuk anak kita."


"Anak kita? Bulshitttt!" pekik Shenina tak terima Rainero menyebut anaknya sebagai anak laki-laki itu juga. "Jangan lupa tuan Rainero yang terhormat, kau sendiri yang menolak mengakui anak ini dan sejak saat itu anak ini hanya anakku. Hanya anakku, ingat itu dan kau bukan siapa-siapa bagi kami," imbuh Shenina dengan suara meninggi.


Rainero tergugu mendengar kata-kata Shenina yang sarat akan penolakan. Rainero tidak marah ataupun tersinggung. Rainero sadar diri, di sini, dirinya lah yang salah. Dirinya lah yang bodoh. Padahal ia tahu, dirinya lah laki-laki pertama bagi perempuan itu. Bila sepanjang usianya saja Shenina mampu menjaga dirinya dengan baik, seharusnya ia pun tahu, tak mungkin Shenina akan tiba-tiba berubah menjadi perempuan jalaang yang suka menjajakan tubuhnya pada laki-laki yang bukan suaminya. Ia seharusnya percaya saat Shenina mengatakan bahwa janin yang ia kandung benar-benar berasal dari benihnya.


Tapi dirinya bodoh. Hanya karena selembar kertas, ia tidak mempercayai Shenina. Ia langsung menolak mentah-mentah saat Shenina mengatakan tengah mengandung anaknya.


Padahal seharusnya Rainero bahagia mendengar berita itu. Seharusnya Rainero merasa senang sebab itu artinya dirinya tidak lah mandul. Rainero benar-benar tersiksa dengan penyesalan ini.


Rinai air mata tanpa sadar menetes dari sudut matanya. Hatinya benar-benar hancur. Hancur karena telah membuat wanita sebaik Shenina terluka dalam. Rainero bingung, bagaimana kalau Shenina tidak pernah mau memaafkannya? Lalu ia harus apa? Ia harus melakukan apa?


"Aku memang laki-laki brengsekkk, Shen. Aku memang tak pantas mendapatkan maafmu. Tapi aku bukanlah laki-laki yang mudah menyerah. Silahkan kau benci aku sebesar apapun, tapi sebesar itu pula aku akan berusaha untuk meminta maaf dan menebus segala kesalahanku."


Mendengar itu, Shenina pun menggerakkan mulutnya untuk kembali mendebat, tapi Rainero lebih dahulu mengeluarkan suaranya membuat Shenina menelan kembali kata-katanya.


"Aku mohon tahan dulu amarahmu. Aku akan segera pergi. Aku harap, setelah aku pergi kau akan segera makan. Ingat, anak dalam kandunganmu butuh makan. Pun dirimu yang tengah tidak baik-baik saja. Dan perlu kau ingat juga, makanan itu tidak bersalah. Jadi tak baik untuk membuangnya." Entah mengapa Rainero berpikir kalau Shenina tak ingin makan makanan yang telah ia siapkan. Jadi, sebelum ia membuang makanan itu, lebih baik ia mengatakan itu dengan harapan Shenina akan memakan makanan yang telah ia siapkan.


Setelah mengucapkan itu, Rainero membalikkan badannya hendak keluar dari kamar. Tapi tiba-tiba saja Rainero membalikkan badannya dan berjalan cepat menuju Shenina. Kemudian, dengan gerakan cepat ia mengecup perut Shenina dan langsung berlari menjauh setelahnya. Meninggalkan Shenina yang terkesiap karena tindakan impulsif Rainero.

__ADS_1


...***...


...HAPPY READING 🥰🥰🥰...


__ADS_2