
Tanpa banyak banyak bicara, Eleanor segera membereskan segala urusan administrasi Adisti. Adisti bingung harus melakukan apa sebab wanita paruh baya yang masih cantik di usianya yang tak lagi muda itu telah membereskan segalanya.
"Biar aku saja, Madre yang membereskan barang-barang ku," ujar Adisti tak enak saat Eleanor mengambil sebuah tas untuk memasukkan barang-barang Adisti.
Tapi Eleanor menggeleng dengan cepat, "no, kamu istirahat saja di sana. Biarkan Madre yang membereskan semua ini. Kita akan pergi dari sini sekitar pukul 7 malam nanti," jawab Eleanor cepat. Kemudian dengan cekatan, Eleanor membereskan segalanya.
Menjelang sore, dua orang wanita cantik mengetuk pintu kamar Adisti. Eleanor pun gegas membuka pintu. Lalu ia tersenyum lebar seraya mempersilahkan dua wanita cantik itu masuk.
"Itu dia calonnya. Dandani dia yang cantik ya!" tukas Eleanor membuat dahi Adisti berkerut. Untuk apa ia didandani? Masa' pulang dari rumah sakit mesti didandani cantik-cantik sih? Kayak mau dibawa kemana aja.
"Siap, Madam. Madam serahkan saja semuanya padaku. Aku Aku pasti takkan mengecewakan Madam," tukasnya seraya mengerlingkan sebelah matanya.
Lalu wanita cantik itu menuntun Adisti duduk di sebuah kursi. Di depannya, perempuan yang Adisti yakini asisten dari wanita yang hendak mendandaninya itu sedang meletakkan sebuah cermin yang cukup besar.
"Madre, kenapa aku harus didandani? Bukankah malam ini aku akan segera pulang?"
"Kau memang akan pulang, Sayang. Tapi sebelumnya, ada yang akan kamu lakukan. Kau cukup diam dan setelah itu ikut Madam."
Adisti mengatupkan bibirnya. Ia hanya bisa pasrah saat sang MUA mulai menarikan jari-jemarinya. Mengulas berbagai macam alat make up ke wajahnya dengan begitu cekatan. Hingga beberapa saat kemudian, sang MUA pun meminta Adisti menatap dirinya di depan cermin. Mata Adisti terbelalak saat memandang dirinya sendiri yang tampak berbeda dari kesehariannya.
Setelahnya, asisten MUA memintanya berdiri sambil memegang sebuah gaun. Mata Adisti terbelalak melihat gaun cantik berwarna putih tulang tersebut.
Ingin bertanya pada Eleanor, tapi ibu dari Mark tersebut telah menghilang entah kemana. Adisti lantas bertanya pada kedua perempuan yang sedang membantunya berganti pakaian dengan gaun tersebut, tapi mereka justru tersenyum tak jelas. Ingin mengumpat, tapi rasanya malu. Adisti benar-benar bingung. Ia lupa kalau Mark kemarin menjanjikan akan menikahinya. Ia pikir Mark Anda bergurau saja. Apalagi masih dirawat di rumah sakit, tidak mungkin kan mereka akan menikah di rumah sakit?
Semburat senja kini mulai menjelaga, tapi Eleanor belum juga kembali ke ruangan itu. Adisti lantas berjalan menuju balkon. Dari sana, ia dapat melihat orang-orang yang kesana kemari sangat sibuknya. Dahinya sampai mengernyit, merasa heran. Mengapa hari ini rumah sakit itu tampak sangat sibuk.
Tak lama kemudian, pintu kamarnya dibuka. Eleanor pun masuk dengan mengenakan gaun yang begitu mewah. Mata Adisti sampai nyaris tak berkedip, merasa kagum dengan kecantikan Eleanor yang seolah tak termakan usia.
"Ayo!" Eleanor mengulurkan tangannya. Dengan sedikit ragu, Adisti pun membalas uluran tangan itu.
"Madre, kalau boleh tau, kita mau kemana?" tanya Adisti heran saat langkah kakinya justru menyusuri koridor ke arah berlawanan dari jalan keluar rumah sakit.
Bukannya menjawab, Eleanor justru tersenyum lebar membuat gadis itu benar-benar kebingungan.
__ADS_1
Hal serupa juga Mark alami. Dibantu ayah dan sepupunya, ia kini telah mengenakan tuksedo. Sedari tadi, wajahnya cemberut. Mark sudah meminta sang ayah untuk mengurus pernikahannya, tapi jawaban Alvernon hanya iya-iya saja. Padahal ia pikir, ayahnya sudah mendaftarkan pernikahannya di kantor pencatatan pernikahan. Tapi hingga sore menjelang malam, tak ada petugas yang datang untuk melegalkan pernikahannya. Andai kakinya tidak sakit, Mark sendiri lah yang akan membawa Adisti ke kantor tersebut. Terserah urusan lainnya, yang terpenting pernikahannya lebih dahulu terdaftar sehingga ia bisa segera mengklaim Adisti sebagai miliknya.
"Padre, sebenarnya kita mau kemana sih? Kenapa aku dipakaikan tuksedo seperti ini? Padre tidak ingin membawaku ke pertemuan bisnis kan? Dengan kakiku yang seperti ini?"
Kini Mark telah duduk di sebuah kursi roda. Pakaiannya pun telah diganti dengan tuksedo berwarna silver membuatnya terlihat lebih gagah meskipun ia duduk di kursi roda.
"Ck ... Sudah, tak usah cerewet. Cukup diam dan jadi anak yang patuh. Padre yakin kau akan senang dengan kejutan ini," sergah Alvernon saat sang anak memprotes dirinya.
"Senang? Justru Padre dan Madre telah menghancurkan kesenanganku. Padahal aku sudah meminta kalian mendaftarkan pernikahanku dan Adisti, tapi hingga langit menggelap, kalian tidak melakukan apa-apa sama sekali. Sungguh mengecewakan," omel Mark tanpa semangat.
Bukannya marah, Alvernon dan para sepupunya justru terkekeh.
"Sudah, ikutin saja permintaan uncle. Kami yakin, kau akan sangat menyukai kejutan ini. Kau justru akan sangat berterima kasih dengan kami semua setelah ini."
"Yea, kita lihat saja nanti," pungkas Mark ogah-ogahan.
Sepupu Mark bernama Leon itupun mendorong kursi roda Mark menyusuri koridor. Hingga akhirnya mereka sampai di taman belakang rumah sakit, dahi Mark dan Adisti yang ada di tempat berbeda mengerjap. Ia melihat ada sebuah mimbar dan deretan kursi di depan sana. Tak lupa lilin-lilin cantik berjejer di sepanjang sisi karpet merah seolah memang menunggu kedatangan mereka.
Mark dan Adisti yang saling menyadari suara masing-masing pun menoleh. Mata keduanya terbelalak. Ada keterkejutan sekaligus kekaguman di netra mereka masing-masing.
Hingga sebuah seruan membuat mereka sadar dari keterpakuan.
"Ayo, katanya mau menikah? Ayo, segera naik dan ucapkan janji suci kalian," seru Eleanor membuat kedua insan tersebut terperangah tak percaya.
"Madre ... Ini ... "
"Yes, ini pesta pernikahan kalian. Kami hanya bisa melakukannya dengan cara sederhana sebab ini area rumah sakit. Kita tidak bisa membuat keriuhan di sini. Setelah kau sembuh, baru kita akan melakukan pesta besar-besaran. Ayo, segera naik. Semua orang telah menunggu kalian."
Mata Mark dan Adisti kini telah terarah ke satu titik, yaitu ke atas mimbar. Tampak seorang pendeta telah berdiri untuk mengambil janji suci keduanya. Mata Adisti seketika berkaca-kaca saat melihat Shenina dan Gladys pun telah berdiri di depan sana dengan suami mereka masing-masing.
Dengan mata berkaca, Adisti lantas mengambil alih kursi roda Mark dan mendorongnya.
Mark sejenak mendongak menatap wajah Adisti. Kemudian ia tersenyum sambil meletakkan telapak tangannya di atas punggung tangan Adisti. Pernikahan yang ia kira hanya akan dicatat di kantor pencatatan pernikahan nyatanya dilakukan seperti pernikahan lazimnya.
__ADS_1
Adisti yang sempat mengira kalau Mark hanya bergurau saja tentang pernikahannya benar-benar terkejut. Ternyata laki-laki itu benar-benar merealisasikan ucapannya.
Janji suci telah terucap. Tepuk tangan terdengar riuh. Hingga akhirnya seruan agar Mark mencium Adisti pun bergemuruh. Keduanya tampak kebingungan sebab bagaimana Mark bisa mencium Adisti sedang ia saja tidak bisa beranjak dari kursi rodanya.
Adisti yang paham lantas berlutut di depan Mark dengan tersenyum. Bila biasanya Mark lah yang lebih dahulu mencium dirinya, namun berbeda kali ini. Di hari spesialnya hari ini, Adisti lah yang lebih dahulu memulai. Mark sempat sedikit terperangah, namun itu hanya berlangsung sepersekian detik sebab selanjutnya ia pun memejamkan matanya. Menikmati sapuan lembut di bibirnya yang dibalasnya dengan sebuah luma tan yang tak kalah lembut.
Tepuk tangan terdengar. Tampaknya semua orang berbahagia. Pesta pernikahan sederhana itu seakan menjadi hiburan tersendiri bagi semua penghuni rumah sakit itu. Meskipun secara dadakan, namun ternyata Eleanor dan Alvernon mampu menyiapkan pesta pernikahan itu sebaik mungkin. Bahkan mereka juga menyiapkan hadiah berupa bingkisan yang mereka bagikan ke seluruh penghuni rumah sakit termasuk para dokter dan suster beserta keluarga pasien di rumah sakit itu.
Katering makanan pun didatangkan langsung dari beberapa restoran mewah di kota. Semua orang menikmati pernikahan dadakan itu. Biarpun dadakan, tapi nyatanya tak menghilangkan kesakralannya.
Mark dan Adisti hanya bisa tersenyum penuh haru. Apalagi Adisti yang ternyata akhirnya bisa menikah dengan seseorang yang ia cintai dan juga memiliki sebuah keluarga lengkap seperti impiannya selama ini.
Ia bahagia. Sangat bahagia.
"Terima kasih, Mark. I love you," ujarnya dengan mata merah penuh haru dan kebahagiaan.
Mendengar kata cinta tak terduga meluncur dari bibir Adisti membuat Mark benar-benar bahagia.
"I love you, baby. Love you so much," balasnya dengan perasaan membuncah bahagia.
...***...
...Yeay, happy wedding Mark dan Adisti! πππ...
...***...
...Sebentar lagi masuk ke season Theo dan Rhea ya! Bagaimana? Setuju lanjut di sini???...
...Btw, othor lupa nama emaknya si Theo nih, siapa ya? π Ada yang ingat???...
...***...
...HAPPY READING π₯°π₯°π₯°...
__ADS_1