
Pletak ...
"Ternyata pikiranmu mesyum juga ya!" cibir Mark membuat Adisti mendengkus.
"Mesyum? Siapa? Aku? Mana ada. Kamu tuh yang berpikiran mesyum," kilah Adisti tak mau kalah.
"Lah itu buktinya apa? Aku tahu, kamu tadi pasti mikir aku bakal ajak kamu check in hotel untuk skidiuhah sama kamu kan? Hayo, ngaku! Nggak usah bohong," pancing Mark.
"Tapi emang benar kan?"
"Kata siapa?"
"Tanpa kamu bilang pun udah keliatan dari wajah kamu kok."
Mark tergelak kencang. Lalu ia segera menutup mulutnya saat sadar dimana ia sekarang.
"Emang di wajah aku ada apa? Atau di jidad aku ada tulisan 'ayok, kita skidiuhah yok!'" ujarnya sambil tergelak.
"Mark, diem ih!" Adisti langsung menutup mulut Mark yang kembali tergelak.
"Makanya, jadi orang jangan negatif thinking melulu," ucap Mark sambil mengetuk dahi Adisti dengan ujung telunjuknya. "Memangnya di hotel hanya ada penyewaan kamar doang, apa? Nggak. Daripada berspekulasi sendiri, mending sekarang keluar terus ikut aku!" ajak Mark sambil menarik lembut lengan Adisti. Adisti pun mengikuti ajakan Mark.
"Tapi awas ya kalau macam-macam! Entar burung kamu itu aku mutilasi sampai potongan terkecil. Bahkan lebih kecil dari potongan daging sate," ancam Adisti membuat Mark reflek menutup jagoannya dengan kedua telapak tangannya.
"Astaga, kamu serem juga ya, baby! Jangan dong! Ingat, burungku ini juga sumber masa depanmu. Kamu nggak mau kan masa depanmu suram karena ulah tangan cantikmu sendiri."
Mata Adisti terbelalak mendengar penuturan seenaknya Mark.
"Dasar gila!"
"Iya, memang. Aku sudah gila. Gilanya karena kamu," ujarnya sambil terkekeh setelah memberikan kunci mobilnya pada valet parking.
Adisti hanya mendengkus. Baginya Mark adalah playboy cap kang soang karena suka sosor orang seenaknya.
Mark lantas meraih tangan Adisti ke dalam genggamannya. Adisti ingin melepaskan, tapi Mark justru menahannya. Setelah itu, Mark menarik Adisti masuk ke dalam kotak kaca yang merupakan lift hotel mewah tersebut. Mark menekan tombol di dinding. Setelah itu, pintu tertutup dan mulai bergerak ke atas.
__ADS_1
Tak butuh waktu lama, lift pun berhenti. Secara bersamaan, pintu terbuka sehingga menampakkan pemandangan malam yang indah tanpa penghalang sedikitpun.
"Ini ... "
"Selamat datang di kencan pertama kita. Semoga kau suka tempatnya," ujar Mark seraya berbisik lembut di telinga Adisti. Gadis itu sampai merinding sendiri karena bisikan yang terdengar begitu sensual di telinganya itu.
Mata Adisti terpana setibanya di rooftop hotel yang telah didekorasi dengan beraneka balon dan lilin led portabel. Belum lagi rangkaian bunga yang mempercantik suasana malam di lantai tertinggi hotel itu.
"Mark, apa ini tidak berlebihan?"
"Tak ada yang berlebihan untukmu."
"Mark ... " lirih Adisti dengan mata berkaca-kaca. Ia tak pernah melihat pemandangan seindah ini. Belum lagi keberadaan rembulan di langit yang meskipun tak bundar utuh, namun seakan tak mau melewatkan kesempatan untuk menyaksikan romantisme kedua insan tersebut
Mark lantas membimbing Adisti untuk duduk di kursi yang telah tersedia di sana. Ada sebotol wine, berikut beberapa menu pembuka yang menggugah selera. Adisti sampai tak mampu berkata-kata. Menurutnya Mark terlalu berlebihan, tapi mengapa ia merasa sangat menyukainya.
...***...
Makan malam itu barusan usai. Beruntung Mark mengerti kalau ia tidak bisa bila tidak makan nasi. Belum makan kalau belum ada nasi yang masuk ke perut. Alhasil, Adisti merasa perutnya begitu begah karena kekenyangan. Mark terkekeh melihat cara makan Adisti yang menurutnya tidak sok jaim. Adisti memang selalu apa adanya. Mungkin perjalanan hidup yang sulit dan rumit membuatnya menjadi pribadi yang apa adanya dan sederhana.
"Tenang saja, ini kadar alkoholnya sedikit. Jadi asal tidak berlebihan, tidak akan memabukkan," ujar Mark meyakinkan.
"Kamu serius? Awas ya kalau aku mabuk," ancam Adisti.
"Memang kenapa kalau kamu mabuk? Kan ada aku," ucap Mark santai.
"Justru karena ada kamu yang buat aku khawatir. Aku nggak mau kamu manfaatin saat aku sedang mabuk," ucap Adisti terang-terangan. Ia tak akan berbasa-basi bila mengenai prinsip dalam hidupnya.
Mark tersenyum lebar, "aku suka prinsipmu. Jarang ada perempuan sepertimu karena itu menurutku kau pantas menjadi istri dan ibu dari anak-anakku. So, Will you marry me, baby?" ucap Mark yang juga terang-terangan dan langsung to the point. No basa-basi apalagi nanti-nanti. Sat set sat set, sepertinya itu cara yang tepat untuk mendapatkan Adisti. Meskipun jawaban yang akan ia dapatkan belumlah pasti 'ya', tapi kalau tidak dicoba sekarang, kapan lagi? Mark tak ingin ditikung karena terlalu lambat bergerak. Yang gerak cepat saja masih bisa ditikung, apalagi terlalu slow.
Adisti tercengang dengan mulut menganga. Bahkan buah ceri yang baru saja masuk ke mulutnya sampai terjatuh karena terlalu terkejut dengan apa yang Mark barusan katakan.
"Are you kidding me?" Adisti merasa pendengarannya pasti terganggu. Adisti sebenarnya merasa kalau Mark memiliki ketertarikan padanya. Tapi untuk mendapatkan lamaran semendadak ini, jelas saja Adisti bingung sekaligus takut.
Jika ditanya apa Adisti sebenarnya menyukai Mark, maka jawabannya adalah iya. Bahkan ia mulai menyukai Mark sejak mereka masih berada di Bali. Alasan lain Adisti mau ikut dengan Shenina ke negaranya, selain ingin memperbaiki hidupnya, mencari suasana baru, dan mencari pengalaman, adalah lebih dekat dengan Mark. Tapi setelah mengetahui Mark bukan kalangan biasa seperti dirinya, mendadak Adisti merasa insecure. Ia tak lagi berharap pada Mark sebab ia khawatir keluarga Mark pun sama seperti keluarga Jevian yang akan menolaknya terang-terangan.
__ADS_1
"I'm so serious, baby. Mau ya mau ya mau ya menikah denganku?" bujuk Mark. Bahkan dia telah mengeluarkan sebuah kotak beludru berwarna merah marun dari dalam saku jasnya dan membukanya. Lalu tampaklah sebuah cincin bertahtakan berlian berwarna biru safir di atasnya.
Adisti bergeming di tempatnya. Ada rasa ingin menerima lamaran itu, tapi ia khawatir terlalu tergesa-gesa dan berakibat fatal. Ia takut keluarga Mark menolaknya mentah-mentah karena statusnya yang bukan hanya seorang gadis yatim piatu, tapi juga miskin, tak berharta sama sekali.
"Baby, kau mau kan menikah denganku?" tanya Mark sekali lagi.
Adisti menghela nafas panjang, lalu menatap tepat ke netra Mark yang berwarna coklat.
"Apa alasanmu ingin menikahiku?"
"Karena aku mencintaimu," jawab Mark lugas.
"Benarkah? Kau yakin? Kau bukan hanya sekedar ingin main-main saja denganku? Atau kau mau membuat cemburu kekasihmu tempo hari?"
Mark melotot saat mendengar dugaan Adisti yang menurutnya terlalu berlebihan, "aku serius, Baby. Aku yakin aku telah jatuh cinta padamu. Kau pikir kenapa aku sangat suka menciummu?"
"Ya, sepertinya karena kau seorang playboy."
"Enak aja. Nggak ya. Tapi aku serius, Adisti. Aku ingin menikah denganmu karena aku yakin telah jatuh cinta padamu. Dan sungguh, aku tidak berniat main-main denganmu. Apalagi seperti katamu tadi, ingin membuat cemburu mantan kekasihku? Untuk apa. Nggak guna sama sekali. Bagaimana? Kau mau kan menikah denganku?"
Terdengar helaan nafas panjang dari bibir Adisti, kemudian ia pun oun berujar, "maaf, Mark, aku tak bisa."
Mark sampai menegang di tempatnya saat mendengar jawaban Adisti.
"Kenapa? Apa karena laki-laki itu? Kau ... Menyukainya?" tebak Mark, tapi mendapat gelengan dari Adisti.
"Bukan. Aku bahkan tidak memiliki perasaan apapun padanya selain menganggapnya seperti seorang kakak."
"Lantas, apa alasanmu? Apa karena kau belum mencintaiku?"
Adisti terdiam dengan kepala menunduk, "keluargamu. Alasannya adalah keluargamu. Sudah cukup keluarga Jevian merendahkan ku dan aku tidak ingin kembali direndahkan apalagi oleh keluargamu."
...***...
...^^^HAPPY READING 🥰🥰🥰^^^...
__ADS_1