Benih Sang Cassanova

Benih Sang Cassanova
BSC 138 (S2 Part 7)


__ADS_3

Sepanjang malam Rhea tak bisa tidur. Ada desir bahagia yang memenuhi dadanya saat ini. Padahal ia tahu, Theo menerima permintaannya pasti karena ia tengah mengandung anaknya, tapi rasa bahagia itu tidak ia pungkiri.


Entah perjuangan dan pengorbanannya akan berbuah bahagia atau berpisah seperti kesepakatan mereka berdua, tapi ia berharap apapun hasil akhirnya, itu memang merupakan yang terbaik baik baginya, calon buah hatinya, maupun Theo.


Hari sudah menunjukkan hampir pukul 4 pagi, tapi mata Rhea tak kunjung terpejam. Saat baru saja hendak memejamkan mata, Rhea seketika ingat, di dalam kulkas tidak ada bahan makanan apapun. Ia bermaksud memasakkan sarapan pagi untuk Theo. Rhea pun berniat pulang ke apartemennya. Di kulkasnya masih tersedia cukup banyak bahan makanan yang memang baru dibelinya sehari sebelumnya.


Rhea pun gegas turun dari ranjang dan masuk ke kamar mandi untuk mencuci muka. Setelahnya, ia segera kembali mengenakan pakaian kerjanya kemarin. Semalam ia hanya menggunakan bathrobe. Ia tidak menyisakan satu stel pakaian pun di sana. Jadi ia terpaksa mengenakan bathrobe yang ada di lemari.


Setelah rapi, Rhea pun segera keluar dari dalam kamar. Baru saja ia menginjakkan kakinya di ruang tamu, seketika mata Rhea terbelalak. Sebab ia mendapati Theo yang sedang terduduk sambil menyandarkan kepalanya di sandaran sofa. Sebelah tangan laki-laki itu menutupi matanya. Entah Theo saat ini sedang tertidur atau tidak, tapi Rhea tidak berniat menyapanya.


Dengan mengendap-endap, Rhea berjalan menuju pintu keluar. Tapi baru saja Rhea memegang handel pintu, suara Theo sudah terdengar membuat Rhea tersentak.


"Mau kemana kau di jam seperti ini?"


Dengan perasaan gugup, Rhea pun menoleh ke arah Theo, yang ternyata baru saja menarik tangannya dari atas mata. Mata Rhea membelalak. Ia pikir Theo sedang tertidur.


"Kau ... Tidak tidur?"


"Aku bertanya, kau mau kemana?" tanya Theo lagi dengan mata memicing. Langit saja masih tampak gelap, tapi Rhea sudah ingin bepergian di hari yang masih gelap seperti ini.


"Aku ... hanya ingin pulang sebentar ke apartemen. Aku tidak menyimpan selembar pakaian pun di sini jadi aku akan pulang sebentar untuk berganti pakaian sambil membawa bahan makanan untuk sarapan. Kulkas mu kosong. Tak ada bahan makanan sama sekali. Kalaupun ada, hanya sisa yang sudah tak layak lagi," tutur Rhea sedikit gugup. Baru kali ini Theo bertanya seperti itu, jelas saja ia merasa gugup.


Theo lantas berdiri dan beranjak dari sana.


"Tunggu sebentar," ujarnya membuat dahi Rhea mengernyit.


"Hah!"


"Apa kau tuli? Kataku tunggu sebentar di sana," desis Theo dengan wajah datarnya. Sungguh, Rhea kebingungan sendiri dibuatnya.


Menunggu?


Untuk apa Theo menyuruh menunggunya?


Tak lama kemudian Theo telah keluar dari dalam kamarnya dengan mengenakan sebuah jaket kulit. Di tangannya juga ada sebuah jaket. Lalu jaket itu ia lempar pelan ke arah Rhea yang reflek ditangkap perempuan itu. Dahinya masih mengernyit. Ia benar-benar bingung saat ini.

__ADS_1


"Apa ini?"


Theo berdecak sebal, "kau belum buta kan? Itu jaket," ketus Theo.


"Iya aku tahu ini jaket. Kau pikir aku sebodoh itu sampai tidak tahu kalau ini jaket. Maksudku, kenapa kau berikan ini padaku? Untuk apa?" cecar Rhea dengan wajah sebal.


Theo menghela nafasnya, "pakai itu. Cuaca masih terasa sangat dingin. Ingat, kau itu sedang hamil," peringat Theo membuat Rhea terperangah tak percaya dengan apa yang Theo ucapkan.


Bolehkah Rhea merasa bahagia saat ini sebab Theo seakan ingin memberikan perhatian padanya. Ah, lebih tepatnya pada bayi yang ada di dalam kandungannya. Sepertinya.


Dengan kaku, Rhea pun mengangguk sambil mengenakan jaket itu. Lalu ia segera keluar apartemen yang disusul Theo di belakangnya.


Sebenarnya Rhea heran, kenapa Theo seakan mengikutinya seperti ini. Bahkan sampai ia masuk ke lift dan turun di basemen gedung apartemen itu, Theo masih mengikutinya.


"Kau mau pergi?" tanya Rhea.


Kalau memang Theo mau pergi, berarti Rhea tidak perlu repot-repot segera pulang ke apartemen itu lagi untuk membawakan bahan makanan. Daripada ia sudah repot-repot masak tapi Theo justru pergi, lebih baik tidak usah. Ia akan kembali ke apartemen itu sore hari saja. Atau menjelang makan malam jadi sore harinya ia bisa mengambil barang-barangnya terlebih dahulu.


Namun Theo tidak merespon pertanyaan Rhea sama sekali. Rhea hanya bisa menghela nafas. Apakah aslinya laki-laki itu memang begitu dingin. Rhea jadi penasaran bagaimana sikap Theo selama berpacaran dengan Shenina. Lembut, ramah, dan penuh perhatian, atau tetap dingin dan datar seperti ini? Seandainya hubungan mereka sedikit lebih baik saja, mungkin Rhea akan bertanya. Tapi sepertinya itu takkan mungkin terjadi. Kalaupun ia bertanya, apa mungkin Theo akan menjawab? Rasanya tak mungkin juga. Selain itu, apa hatinya siap mengetahui bagaimana sikap pada mantan kekasihnya dahulu.


"Heh, kau mau kemana?" tanya Theo saat melihat Rhea berjalan ke arah lain.


"Ke mobilku lah. Memangnya mau ke mana?"


"Naik!" titah Theo tanpa basa-basi.


"Apa?"


"Kau ini bodoh atau apa sih? Aku bilang naik ya naik!"


"Iya, naik. Aku juga dengar. Aku belum tuli. Yang membuatku bingung itu, kenapa aku harus naik ke mobilmu? Bukankah kau mau pergi?" sewot Rhea.


Rhea lantas menutup mulutnya. Untuk pertama kalinya ia bisa bersikap seperti itu pada Theo. Ia sendiri terkejut dengan apa yang ia lakukan.


Theo lantas mendengus, "aku akan mengantarmu. Paham!"

__ADS_1


Mata Rhea terbelalak sampai tak mampu berkedip sama sekali. Ia benar-benar terkejut dengan apa yang barusan Theo katakan.


"Aku ... tidak salah dengar kan? Kau ... ingin mengantarku?" tanya Rhea memastikan.


Bukannya menjawab, Theo justru berdecak kesal. Ia lantas berjalan mendekati Rhea membuat wanita hamil itu gelagapan seketika. Kaki Rhea sampai reflek mundur ke belakang, tapi dengan cepat Theo menahan pundak Rhea dan mendorongnya agar masuk ke dalam mobil. Theo juga memasangkan seat belt pada Rhea.


Rhea diam mematung. Mencoba mencerna apa yang telah terjadi.


Plakkkk ...


Rhea reflek menampar pipinya sendiri membuat Theo terkejut.


"Tidak mimpi," gumamnya sangat pelan, nyaris tak terdengar.


"Kenapa? Kenapa kau memukul pipimu sendiri?" tanya Theo heran.


Rhea tersenyum canggung. Ini pertama kalinya ia masuk ke mobil Theo. Baru seperti ini saja ia sudah merasa bahagia, bagaimana kalau Theo sudah benar-benar mencintainya.


"Nyamuk."


"Apa? Nyamuk?"


"Iya. Tadi ada nyamuk yang hinggap di pipiku."


Dahi Theo mengernyit. Bagaimana mungkin di mobilnya ada nyamuk? Ah, tapi sudahlah. Ia tidak mau banyak bertanya. Jadi ia pun menutup mulutnya sepanjang perjalanan.


Berbeda dengan Rhea. Ia mengalihkan wajahnya ke samping sambil tersenyum tipis. Perlakuan sederhana, tapi mampu membuat perasaannya membuncah bahagia.


Namun senyum itu seketika surut saat mengingat fakta dibaliknya.


Kesepakatan itu. Sepertinya Theo sedang berusaha bersikap baik untuk menuruti keinginannya. Sebab faktanya, kebersamaan ini takkan berjalan lama. Hanya sekitar 7 bulan saja. Setelahnya, entah apa yang akan terjadi. Bisa jadi, sesuai kesepakatan, mereka akan benar-benar berpisah untuk selamanya.


...***...


...HAPPY READING 🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2