
Seminggu berselang, Axton dan Gladys pun akhirnya pulang ke negaranya. Mereka disambut Shenina dan Adisti dengan penuh suka cita.
"Aaaa ... kalian menikah kok tiba-tiba sih! Aku kan tidak bisa jadi pendamping wanitanya," seru Adisti sambil memeluk Gladys.
"Daripada jadi pendamping pengantin wanita, lebih baik sekalian jadi pengantinnya, benar begitu, Shen," sahut Gladys mengundang tawa mereka semua.
"Gladys benar, Disti. Seharusnya kau segera menikah. Jadi kau tidak tidur sendiri lagi," goda Shenina membuat bibir Adisti mengerucut. Tiba-tiba Mark lewat dan kedua netra mereka saling bersirobok. Tapi secepat kilat, Adisti mengalihkan pandangannya dari Mark yang masih saja memandanginya.
"Mereka benar. Sepertinya Jevian sudah siap bila kau membutuhkan calon suami."
Pranggg ...
"Ah, maaf," seru seorang pelayan saat ia tanpa sengaja bertabrakan dengan Mark sehingga membuat nampan berisi gelas-gelas air minum terjatuh dan pecahannya berserakan di lantai.
Semua orang pun menoleh ke sumber keributan.
"Ada apa?" tanya Rainero dengan dahi mengernyit.
"Maaf tuan, saya tidak sengaja membuat pelayan menjatuhkan gelas-gelas itu," ucap Mark sembari membungkukkan sedikit tubuhnya.
Rainero mengibaskan tangannya, "minta pelayan bersihkan pecahan gelas itu segera. Jangan sampai istriku menginjak pecahannya," tegas Rainero yang langsung dikerjakan oleh Mark.
Tak lama kemudian, beberapa pelayan pun datang membersihkan pecahan gelas itu.
Setelah itu, mereka pun saling berbincang. Mark kembali ke depan, namun netranya sambil melirik ke arah Adisti. Tangannya terkepal, apalagi saat Gladys menggoda Adisti dengan menyebutkan nama nama Jevian.
"Ya, ya, ya, yang sudah menikah. Puas sekali mengejekku yang masih sendiri ini. Tenang saja, bila sudah waktunya, aku pasti akan segera menyusul kalian. Ingat, hadiah kalian harus istimewa. Aku tak ingin yang biasa-biasa saja," tukas Adisti.
__ADS_1
"Wah, apakah ini adalah sinyal untuk Jevian!" goda Shenina.
"Sepertinya kalian sangat suka kalau aku jadian dengan Jevian."
"Tentu saja, Jevian sahabatku. Dia mapan, baik, dan yang paling penting setia."
"Baiklah, baiklah, akan aku pikirkan nanti," tutup Adisti membuat darah Mark yang berdiri di balik pintu rasa mendidih.
...***...
Sebulan telah berlalu, tak terasa telah satu bulan pula Delianza terbaring tak berdaya di atas ranjang rumah sakit. Semenjak itu pula, rumah sakit adalah rumah kedua bagi Justin.
Semenjak Delianza koma, Justin selalu tidur di rumah sakit. Ia bahkan lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah sakit. Justin mengurus semua keperluan Delianza termasuk membersihkan badannya. Seperti pagi ini, sebelum pergi bekerja, ia membersihkan tubuh Delianza terlebih dahulu dengan hati-hati.
Setiap tangannya mengusap tubuh Delianza dengan kain basah, setiap itu pula ia meneteskan air mata. Ia tak menyangka akan berada di titik terendah seperti saat ini. Ia yang selalu merasa angkuh, kini kehilangan keangkuhannya. Ia benar-benar menyesal menjadi penyebab wanita yang diam-diam telah mencuri hatinya ini menderita seperti ini.
Hatinya bergemuruh. Entah sampai kapan Delianza akan terus terbaring seperti ini.
Tring tring tring ...
Ponsel Justin berdering nyaring. Setelah melihat siapa yang menghubunginya, ia mengabaikannya. Namun si penelpon sepertinya belum menyerah untuk menghubungi Justin. Justin menghela nafas panjang, kemudian ia berjalan menuju balkon dan segera mengangkat panggilan itu.
"Ada apa?" ucap Justin datar dan dingin.
"Tuan, mengapa kau tidak kunjung menghubungiku? Bagaimana dengan rencana kita? Kapan kita akan memulai kerja sama kita?" tanya perempuan yang tak lain adalah Jessica itu.
"Aku membatalkan kerja sama itu. Aku sudah tidak berminat menjalankan rencana itu."
__ADS_1
"Apa? Bagaimana bisa? Kenapa begitu? Anda tidak bisa membatalkan kerja sama kita begitu saja," pekik Jessica tidak terima Justin membatalkan kerja sama mereka begitu saja.
"Sudahlah. Hentikan rencana busuk mu itu. Kau kira Rainero akan diam saja kita mencoba mengusik kehidupan dan ketenangan keluarganya?" sentak Justin.
Entahlah, semenjak melihat keadaan Delianza seperti ini dan setelah mendengar peringatan dari Rainero, ia jadi tidak berminat lagi mengusik kehidupan sepupunya itu. Ia sadar, ia lah yang terlalu iri dengan apa yang Rainero dapatkan selama ini. Tak dapat ia pungkiri, Rainero memang selalu berada di atasnya. Jadi wajar kalau kakeknya maupun keluarga mereka menyukai sosok Rainero.
Lagipula, setelah melihat keadaan Delianza seperti ini, ia merasa perlahan kebencian dan dendam di dalam hatinya meluruh entah kemana. Fokusnya sekarang justru hanya kepada sosok Delianza. Ia ingin memperbaiki rumah tangganya yang nyaris karam ini. Meskipun entah apakah ia masih ada kesempatan atau tidak, tapi ia sudah bertekad untuk berubah menjadi pribadi yang baik.
Tidak ia pungkiri, ada rasa iri melihat bagaimana kehidupan Rainero yang tampak begitu bahagia sekarang. Ingin rasanya ia pun seperti Rainero. Ia pikir Rainero akan hancur setelah kehilangan Delianza, tapi di luar perkiraan, Rainero akhirnya justru menemukan wanita yang tepat yang bisa mengubahnya menjadi lebih baik.
Rainero yang awalnya sosok Cassanova kini berubah menjadi laki-laki baik dan bertanggung jawab. Ia pun menjadi sosok yang setia, terbukti saat ia mengirim seorang wanita cantik pengidap Aids. Ia pikir Rainero tak mungkin berubah menjadi sosok yang benar-benar setia, tapi nyatanya Rainero tidak tergoda sedikitpun dengan wanita suruhannya itu. Ternyata cinta bisa mengubah sosok yang bajingaan seperti Rainero menjadi laki-laki setia dan bertanggung jawab.
"Tidak. Aku takkan menghentikan niatku. Jadi kau tidak bisa membatalkan rencana kita setelah apa yang aku lakukan."
"Aku katakan sekali lagi, aku sudah tidak berminat bekerja sama denganmu. Lagipula aku sudah memberikan uang yang cukup banyak padamu dan apartemen yang kau tempati pun milikku. Ambil apartemen itu untukmu dan setelah ini jangan hubungi aku lagi. Terserah kau mau berbuat apa, tapi jangan libatkan aku dalam rencana busukmu. Dan aku telah memperingatkan mu jangan macam-macam dengan Rainero, jadi bila terjadi sesuatu denganmu, jangan pernah meminta bantuanku," tegas Justin yang setelahnya segera menutup panggilan itu sepihak. Ia sudah tak berniat melanjutkan pembalasan dendamnya. Sebab kini prioritasnya adalah Delianza dan putra mereka.
Justin menarik nafas panjang, kemudian ia segera kembali masuk ke kamar rawat Delianza. Matanya seketika terbelalak saat melihat tubuh Delianza tampak kejang-kejang.
Justin pun segera menekan tombol darurat. Tak lama kemudian, para dokter dan perawat berhamburan masuk untuk memeriksa keadaan Delianza. Justin sebenarnya tak mau keluar dari ruangan itu. Ia ingin selalu mendampingi Delianza, tapi karena permintaan dokter, ia pun segera keluar.
Namun setibanya di luar, seakan cobaannya belum juga usai, seorang perawat yang bertugas menjaga ruang bayi menghubungi. Ternyata tekanan darah bayinya melemah. Justin bingung bercampur khawatir, dua-dua orang yang berarti dalam hidupnya kini sedang dalam keadaan yang benar-benar mengkhawatirkan.
"Ya Tuhan, aku tahu aku laki-laki yang penuh dosa. Bahkan mungkin aku tak pantas meminta pada-Mu, tapi aku mohon padamu Tuhan, aku mohon, tolong anak dan istriku. Selamatkan mereka, berikanlah kesembuhan pada mereka. Aku mohon Tuhan, aku mohon," melas Justin dengan air mata berderai.
...***...
...HAPPY READING 🥰🥰🥰...
__ADS_1