Benih Sang Cassanova

Benih Sang Cassanova
BSC 184 (S3 Part 27)


__ADS_3

Selesai acara, Mark lantas mengajak Rainero dan Jevian untuk minum-minum di club malam yang juga berada di hotel tersebut. Jevian pun tidak menolak. Sudah lama rasanya ia tidak berkumpul seperti ini. Beberapa tahun ini, waktunya hanya dihabiskan untuk bekerja dan mengurus Jefrey.


Saat memasuki club malam, sosok gagah mereka jelas mencuri perhatian. Apalagi mereka masih mengenakan setelan jas masing-masing. Aura bangsawan menguar begitu saja. Membuat banyak pasang mata tak bisa mengalihkan tatapan mereka. Apalagi mereka bertiga pun tampan-tampan.


Karena mereka hanya minum di club yang ada di hotel, jadi para asisten masing-masing tidak ikut. Sementara Rainero datang ke negara tersebut dengan asisten keduanya. Axton tidak ikut sebab harus menghandle pekerjaan Rainero selama kepergiannya.


Para wanita penggoda pun tak tinggal diam. Seolah tak mau melewatkan kesempatan emas. Berharap salah satu dari mereka mau menghabiskan malam dengan mereka, mereka pun maju mendekat dengan gaya sensual khas wanita penggoda.


"Hai tampan, mau aku temani malam ini?"


"Hai tampan, ayo bersenang-senang denganku! Aku janji akan memberikan pelayanan terbaik untukmu."


"Hai, Sayang, mari aku temani?"


Ucap mereka satu persatu seraya mendekatkan diri. Namun mereka tidak tahu kalau ketiga laki-laki itu bukanlah seperti yang mereka pikirkan. Mereka adalah tipe laki-laki setia. Mereka justru jijik dengan sikap para wanita penggoda itu.


"Menjauhlah dariku sebelum aku patahkan tanganmu!" desis Rainero dengan raut wajah kejam dan sorot mata tajam. Wanita penggoda itupun menelan ludahnya kasar. Tidak pernah ia mendapatkan penolakan seperti ini. Apalagi mereka termasuk wanita malam spesial karena tidak menjajakan diri di sembarang tempat.


"Minggir kalian semua!" titah Mark. Suara baritonnya yang mendominasi membuat para wanita penggoda itu pun segera menepi dan menjauh.


Sementara Jevian hanya melirik sinis, akhirnya para wanita itupun benar-benar menjauh setelah sadar kalau para laki-laki itu bukanlah seperti laki-laki pada umumnya yang masuk ke sana. Tak lama kemudian, manager club malam itupun datang untuk menyambut Rainero, Mark, dan Jevian, kemudian mengantarkannya ke salah satu ruangan private agar mereka bisa berbicara santai tanpa ada gangguan.


"Senang akhirnya bisa bertemu lagi denganmu. Apalagi kau secara diam-diam memutuskan komunikasi, kau tahu, Axton sampai marah-marah karena kesal," ujar Rainero sambil menenggak cairan berwarna merah dari gelasnya.


"Maaf," hanya satu kata itu yang mampu Jevian ucapkan.


"Apa karena masalah itu kau menghilang?" sela Mark.


Jevian tersenyum, "aku terlalu malu menghadapi kalian semua."


"Tapi itu kan bukan sepenuhnya salahmu," ujar Mark lagi. "Bahkan Adisti pun tidak pernah membencimu."

__ADS_1


"Tapi tetap saja, apa yang Adisti alami karena perbuatan mommy-ku. Rasanya aku sudah kehilangan wajah untuk bertemu kalian semua."


"Sudahlah, semua sudah menjadi masa lalu. Yang penting masa kini kau tidak boleh lagi menghindar. Kau dengar itu!" ancam Rainero dengan tatapan tajamnya. Jevian yang sejak dulu memang segan dengan Rainero pun mengangguk.


"Baiklah. Terima kasih karena masih mau berteman denganku," ucapnya dengan senyum mengembang.


Lalu Rainero pun mengangkat gelasnya yang sudah diisi oleh Mark lagi. Mark dan Jevian pun mengikuti lalu mereka mendentingkan gelas mereka sambil tersenyum lebar. Seolah-olah mereka baru saja melepas beban yang lama terpendam.


"Oh ya Jev, aku dengar Tobey menggagalkan beberapa proyekmu, apa itu benar?" tanya Rainero yang memang sudah mendengar kabar itu.


Jevian terdiam. Ingin berkilah, tapi rasanya percuma, Rainero pasti akan segera tahu kalau itu memang sebuah kebenaran.


Jevian pun mengangguk membuat Rainero mengerutkan keningnya. Sementara Mark yang memang tidak mengetahui hal tersebut hanya menyimak. Namun semenjak di negara itu, sedikit banyak Mark pun sudah tahu siapa itu Tobey.


"Kenapa? Bukankah kau adalah menantunya? Apa kalian terlibat perselisihan?"


Jevian tersenyum getir, "ia tidak terima karena aku ingin menceraikan anaknya."


"Seharusnya dulu mau menerima tawaran bantuan dariku. Jadi semua takkan menjadi seperti ini."


"Aku tahu aku salah, tapi menyesal pun tiada guna. Apalagi dari pernikahan itu aku berhasil memiliki Jefrey yang merupakan sumber semangatku. Menyesal sama artinya menyesali keberadaannya," tukas Jevian membuat Rainero dan Mark ikut membenarkan.


"Karena itu kau berusaha mendapatkan investasi ini? Apa kau tahu kalau perusahaan investasi ini milikku?"


"Ya. Seperti yang kau tahu, Tobey bukan hanya menggagalkan beberapa proyekku, tapi juga memengaruhi investor untuk kembali menarik modalnya. Kalau aku tidak segera menemukan investor baru, bisa dipastikan dalam beberapa bulan, perusahaanku hanya akan tinggal nama. Oh ya, jujur aku terkejut saat tahu kau lah pemilik Admark Investments."


Mark terkekeh, "aku pikir kau sengaja berpartisipasi untuk mencari cara mendekati Adisti lagi?" seloroh Mark.


"Hei tuan Marquez Alvernon, aku tidak segila itu untuk merebut istri orang lain," seru Jevian dengan memasang wajah sengit. Namun sedetik kemudian ia tergelak. Ia tahu, Mark hanya menggodanya saja.


"Baguslah. Karena kalau kau sampai melakukannya, aku akan mencincang mu sampai habis lalu aku akan memberikannya pada Rainero sebagai santapan Albert," selorohnya lagi.

__ADS_1


"Kau kejam," jawab Jevian membuat mereka bertiga akhirnya tergelak kencang.


"Kau tenang saja Jev, sekarang ada kami. Katakan saja kalau kau membutuhkan bantuan, dengan senang hati aku akan membantumu," ujar Rainero serius.


Jevian tersenyum lebar kemudian mengangkat gelasnya, "terima kasih. Kau memang yang terbaik," ucapnya.


"Heh, kau pikir Rainero saja yang terbaik, aku juga. Kalau dana yang kau butuhkan kurang, katakan saja, aku akan membantumu. Anggap saja sebagai ungkapan terima kasih karena sudah menjaga Adisti selama ini."


"Menjaga jodoh orang, right!" ucap Jevian seraya menaik-turunkan alisnya membuat Rainero dan Mark tergelak.


"Kau benar. Seperti aku dulu yang menjaga jodoh orang, lalu kini kau pun merasakannya," sahut Rainero yang memang pernah berada di posisi Jevian, menjaga jodoh Justin, Delianza. Mereka lantas tergelak bersama. Mereka pun saling berbagi cerita hingga tanpa sadar langit sudah kian pekat.


Sepulangnya dari club, Jevian pun segera membersihkan diri. Setelahnya, seperti biasa ia akan menghampiri sang putra yang pasti sudah tertidur lelap di kamarnya.


Jevian tersenyum saat melihat Jefrey sedang tertidur sambil memeluk Roseline. Roseline sudah seperti seorang ibu yang ikut tertidur setelah menidurkan anaknya. Perasaan Jevian menghangat. Roseline mampu memposisikan dirinya seperti seorang ibu. Sesuatu yang tidak pernah dilihatnya dari Eve. Sejak bayi, Eve tidak pernah mau tidur dengan Jefrey. Bahkan menyusui pun tidak. Ia beralasan tangisan Jefrey sangat menggangu dan ia tidak bisa tidur. Hal itu dapat berdampak bagi kesehatannya. Ia juga beralasan menyusui dapat mengubah bentuk payu daranya. Oleh sebab itulah, ia tak pernah sama sekali menyusui Jefrey.


Jevian duduk di tepi ranjang, kemudian tangannya terulur mengusap kepala Jefrey. Saat sedang mengusap puncak kepala Jefrey, tiba-tiba mata Roseline mengerjap kemudian terbuka.


"Tuan, Anda sudah pulang?" ucapnya serak seraya mendudukkan tubuhnya.


Jevian mengangguk.


"Ada yang Anda butuhkan? Maaf, saya ketiduran di sini. Tadi Jefrey menunggu Anda pulang. Jadi saya menemaninya di sini, tanpa sadar kami justru tertidur," ucapnya.


Jevian tersenyum, "aku tidak butuh apa-apa. Kau tidur saja di sini. Temani Jefrey. Terima kasih sudah menjaga putraku dengan baik," ucap Jevian dengan tulus.


Setelah itu, ia pun segera beranjak dari sana. Roseline pun mengedikkan bahunya, kemudian kembali merebahkan diri di samping Jefrey. Karena Jevian sudah mengizinkannya, Roseline pun kembali melanjutkan tidurnya di sana. Lagipula ia sudah terlampau lelah dan masih benar-benar mengantuk. Jadi ia ingin kembali melanjutkan tidurnya di samping Jefrey.


...***...


...HAPPY READING 🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2